Bab 17 - Foto Bersama

"APA !!" pekik Manda.

Seketika ia pun terkejut mendengar penuturan seseorang di seberang sana.

"Aku segera pulang ke Jakarta. Kamu tungguin Bapak di sana sampai aku pulang," perintah Manda.

Bip...

Sambungan telepon pun terputus.

"Dasar tua bangka nyusahin mulu! Baru juga ditinggal pergi sebentar, eh sekarang harus siap-siap deh jadi suster. Jalan pakai dengkul sih, jadi keseleo tuh kaki. Enggak suka banget lihat aku seneng sebentar ketemu anakku. Huft !!" gerutu Manda.

Ya, baru saja asisten rumah tangganya yang bernama Narti terpaksa menghubunginya. Ponsel Narti sedang mati daya. Alhasil cara cepat menghubungi Manda, wanita yang berusia 30 tahun ini pun memakai ponsel milik suami majikannya. Itu pun Narti disuruh oleh Gani yang tengah diperiksa dokter pribadi.

Gani terpleset dan jatuh di kamar mandi ketika berada di kediaman Manda. Beruntung ia masih sadar sehingga langsung berteriak kencang dan didengar oleh Narti, pembantu Manda. Namun Gani enggan dibawa ke rumah sakit. Ia meminta Narti menghubungi dokter pribadinya saja untuk datang ke rumah Manda.

☘️☘️

Sore hari, keluarga kecil Mayor Seno bergegas menuju bandara untuk mengantarkan Aldo. Kali ini Mayor Seno sendiri yang mengemudikan mobil pribadinya. Setibanya di terminal keberangkatan domestik tepatnya di depan pintu masuk, Aya tiba-tiba meminta untuk foto bersama. Sebab fotonya berdua dengan Dokter Heni sudah cukup banyak di ponselnya. Yang belum ada yakni foto keluarga yang berisikan dirinya, Papa, Bunda dan Kak Aldo.

"Ayolah, Pa. Kita belum ada foto bersama," rengek Aya.

"Foto kita bersama di rumah kan sudah banyak Nak," kilah Mayor Seno dengan nada yang lembut pada Aya.

"Kan itu cuma bertiga doang. Papa, aku dan Kak Aldo. Bunda belum ada. Aya mau foto yang ada kita berempat bersama. Titik !!"

"Kalau soal itu, kita bisa foto sama-sama di studio saat berkunjung di kota besar. Hasilnya pasti lebih bagus," jawab Mayor Seno berusaha menolak secara halus permintaan Aya saat ini.

"Kalau di studio kan harus bayar. Enak di sini, Pa. Cuma pakai hp, enggak perlu bayar, dan mumpung Kak Aldo ada. Kalau sudah sekolah di asrama, pasti Kak Aldo sibuk dan jarang bisa pulang ke sini. Lama nunggunya buat kumpul berempat lagi. Aya maunya sekarang," rengek Aya dengan nada sendu dan mata yang sudah tampak berembun.

"Ayo kita foto bersama," ajak Aldo tiba-tiba bersuara.

Semua mata seketika tertuju pada Aldo.

"Kasihan Aya, Pa. Daripada tantrum di bandara. Lagi pula benar kata Aya, nanti Aldo pasti sibuk di Akmil. Terlebih Aldo masih siswa baru juga. Mungkin kita nantinya lebih banyak bertemu lewat udara melalui ponsel dan mimpi jika aku rindu sekali dengan Papa dan Aya di sini," jelas Aldo.

"Bunda kok enggak disebut juga. Kak Aldo enggak rindu, Bunda?" tanya Aya seraya mengerucutkan bibirnya ke depan dan terlihat semakin lucu serta menggemaskan.

Deg...

Dokter Heni dan Aldo seketika saling berpandangan lalu menoleh ke arah lainnya. Keduanya pun merasa kikuk. Keheningan pun tercipta di antara mereka semua.

"Ya sudah, ayo foto." Mayor Seno pun akhirnya bersuara dan memutuskan bersedia melakukan permintaan Aya untuk foto bersama. Dikarenakan Aldo sebentar lagi sudah waktunya boarding. Jika tidak segera diberi keputusan, maka Aya akan terus merengek hingga menangis. Bahkan parahnya bisa tantrum.

"Yeiiyyy..." teriak Aya kegirangan.

Aldo pun langsung meminta bantuan pada orang yang ada di sekitar mereka untuk memotret keluarga kecilnya yang baru.

Cekrek...

Cekrek...

Cekrek...

Beberapa jepretan sudah berhasil diabadikan dengan sangat apik. Terdapat foto mereka berempat di mana para lelaki ada di pinggir kanan dan kiri yang tengah mengapit Dokter Heni dan Aya. Bahkan Aya meminta juga foto berdua antara Bunda dengan Papanya serta dirinya bersama sang kakak.

Mayor Seno dan Dokter Heni tak kuasa menolak permintaan si bintang kejora di hati mereka itu. Pesona Aya berhasil meruntuhkan sedikit ego Papanya. Terlebih saat ini mereka tengah berada di tempat umum.

Di luar sana orang lain jika melihat foto keluarga kecil mereka, pasti beranggapan keluarga tersebut terlihat sangat bahagia dan akrab. Sebab, senyum ceria tampak jelas di wajah mereka berempat. Tentu saja Aya yang memaksa Papa dan kakaknya untuk tersenyum saat di foto. Sebab, kedua laki-laki itu selalu tidak bisa tersenyum jika sehari-hari maupun saat di foto.

Saat perpisahan seperti ini selalu menyayat hati. Hidup LDR an antara seorang ayah dengan putranya serta seorang kakak dengan adiknya. Sungguh penuh haru saat melepas kepergian salah satu buah hatinya guna menuntut ilmu. Pelukan erat ketiganya terus dilakukan. Air mata seketika menetes di pipi gadis mungil ini. Dokter Heni hanya mampu berdiri memandang keharuan yang terjadi. Matanya pun mulai tampak ikut bekaca-kaca.

"Nanti ulang tahun Aya, Kak Aldo janji datang ya. Hiks...hiks...hiks..." ucap Aya terisak pilu seraya memeluk Aldo.

"Dasar bawel! Kan masih lama beberapa bulan lagi acaranya,"

"Biarin! Aku ingetin terus. Biar enggak lupa. Huhu..."

"Kak Aldo usahakan datang. Kalau enggak bisa, kamu enggak boleh sedih atau nangis ya."

Aya pun menganggukkan kepalanya.

"Janji?"

"Iya, Kak. Aya janji enggak jadi anak cengeng lagi," ucap Aya seraya adik-kakak ini saling mengaitkan jari kelingking mereka berdua sejenak dengan makna bahwa mereka saling berjanji satu sama lain.

"Pinter. Itu baru namanya Aya, adiknya Kak Aldo." Ia pun mengusak rambut Aya dengan gemas.

"Haisshh !! Poniku jadi rusak kan. Ini tadi Bunda yang merapikan. Eh malah sekarang diberantakin sama kakak. Huh !" gerutu Aya pada Aldo seraya tangan mungilnya membetulkan poni rambutnya kembali.

"Sudah, jangan berantem. Hati-hati di jalan, Nak. Kalau ada apa-apa segera hubungi Papa," ucap Mayor Seno seraya melerai keduanya.

"Iya, Pa. Siap laksanakan, Komandan."

Mayor Seno pun melebarkan kedua tangannya lalu Aldo pun masuk ke dalam pelukan hangat sang ayah. Mayor Seno menepuk-nepuk punggung dan pundak Aldo guna memberi semangat. Dokter Heni hanya mampu memberikan senyum hangatnya pada Aldo tanpa banyak bersuara.

Ia sadar diri jika Aldo dan Seno masih menjaga jarak dengannya. Ia tetap berusaha di batas koridor posisinya saat ini seperti permintaan Seno, suaminya. Namun hati manusia tidak ada yang tahu pada akhirnya akan berlabuh ke mana. Karena garis takdir setiap manusia hanya Tuhan yang tahu. Hanya Tuhan juga lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

Lambaian tangan ketiganya pada Aldo menutup perpisahan ini dengan manis dan penuh haru. Tak berselang lama, pesawat Aldo pun lepas landas. Sederet tugas berat sedang menantinya sebagai siswa baru di Akmil. Belum lagi kejutan yang tak diduga olehnya terkait kedatangan ibu kandungnya setelah sekian lama tak berjumpa.

Entah bagaimana nanti reaksi Aldo jika sampai bertemu Manda kembali ?

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Priskha

Priskha

ealah pak Gani sdh tua kok kakean polah selingkuh juga mmgnya msh kuat, org jatuh aja sdh ndak bs jln

2024-12-14

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

serapuh itukah fisik pak Gani...pdhl masih dinas....gmn klo sdh pensiun...tmbh jompo nt ..

2025-02-18

1

Neno Arya

Neno Arya

aldo paling males ketemu ibu kandung nya yg tukang selinkuh

2025-01-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Niat Menolong Jadi Petaka
2 Bab 2 - Luka Masa Lalu (Selingkuh)
3 Bab 3 - Siapkan Dirimu
4 Bab 4 - Puisi Untuk Ibu
5 Bab 5 - Bunda Dokter
6 Bab 6 - Kuasa Putri Mahkota Menyala
7 Bab 7 - Tamu di Larut Malam
8 Bab 8 - Anak Yang Menjadi Korban
9 Bab 9 - Bunda, Kenapa Nangis ?
10 Bab 10 - Pikiran Masing-Masing
11 Bab 11 - Empat Sehat Lima Sempurna
12 Bab 12 - Dunia Terasa Sempit
13 Bab 13 - Semakin Penasaran
14 Bab 14 - Cinta Pertama Dokter Heni
15 Bab 15 - Pertemuan Pertama
16 Bab 16 - Sebuah Penjelasan
17 Bab 17 - Foto Bersama
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-unek
19 Bab 19 - Awal Mula
20 Bab 20 - Rekaman Rahasia
21 Bab 21 - Hak dan Kewajiban
22 Bab 22 - Pillow Talk
23 Bab 23 - Panas Hati dan Kedengkian
24 Bab 24 - Riuh di Pagi Hari
25 Bab 25 - Bertukar Pesan
26 Bab 26 - Perkara Jodoh
27 Bab 27 - Tentang Adik Bayi
28 Bab 28 - Tidur Bertiga
29 Bab 29 - Tersesat
30 Bab 30 - Cinta Luar Biasa
31 Bab 31 - Kejar Setoran
32 Bab 32 - Sebutan "Mandul"
33 Bab 33 - Penolakan
34 Bab 34 - Kecewa dan Amarah
35 Bab 35 - Pelantikan
36 Bab 36 - Mendadak Aneh
37 Bab 37 - Kedatangan Tamu
38 Bab 38 - Mantan Istri
39 Bab 39 - Terus Menyudutkan
40 Bab 40 - Pesona Mantan Suami
41 Bab 41 - Pamer Kemesraan
42 Bab 42 - Bunda Sakit ?
43 Bab 43 - Suara Isi Hati Aya
44 Bab 44 - Istri vs Mantan Istri
45 Bab 45 - Pingsan
46 Bab 46 - Rencana Manda
47 Bab 47 - Status Pernikahan ?
48 Bab 48 - Pentingnya Komunikasi Dalam Sebuah Pernikahan
49 Bab 49 - Test Pack
50 Bab 50 - Adik Bayi Pesanan Aya
51 Bab 51 - Keceplosan
52 Bab 52 - Hasil Pemeriksaan
53 Bab 53 - Rencana Kejutan
54 Bab 54 - Akhir Pekan Tiba
55 Bab 55 - Trauma Masa Lalu Hadir Kembali
56 Bab 56 - Hitam Pekat Luka
57 Bab 57 - Kecelakaan
58 Bab 58 - Bunda Ke Mana ?
59 Bab 59 - Sepucuk Surat
60 Bab 60 - Penyesalan
61 Bab 61 - Aku Yang Salah (Seno)
62 Bab 62 - Kepergian Aldo
63 Bab 63 - Gelayut Mendung
64 Bab 64 - Aku mencintai Istriku (Seno)
65 Bab 65 - Pergi Dari Tapal Batas
66 Bab 66 - Perusak Kesenangan
67 Bab 67 - Tilik Bayi
68 Bab 68 - Putraku
69 Bab 69 - Bicara Dari Hati Ke Hati
70 Bab 70 - Jogja "Kota Penuh Kenangan"
71 Bab 71 - Makasih Bunda (Aldo)
72 Bab 72 - Berkat Doa dan Ketulusan Cinta
73 Bab 73 - Kenyataan Pahit
74 Bab 74 - Meminta Cerai
75 Bab 75 - Di Ujung Tanduk Perceraian
76 Bab 76 - Menangis Bersama
77 Bab 77 - Adu Mulut
78 Bab 78 - Perjuangan Sang Komandan
79 Bab 79 - Pelukan Hangat
80 Bab 80 - Mas Mau Ke Mana ?
81 Bab 81 - Membersihkan Aroma Mantan
82 Bab 82 - Cemburu Mode On
83 Bab 83 - Sudah Dimaafkan
84 Bab 84 - Wujud Cinta Sang Komandan
85 Bab 85 - Temani Aku Sehari Lagi (Dokter Heni)
86 Bab 86 - Pergi Ke Rumah Sakit
87 Bab 87 - Hasil Pemeriksaan Yang Mengejutkan (Manda)
88 Bab 88 - Benar-Benar Terpuruk
89 Bab 89 - Sebuah Firasat
90 Bab 90 - Karma
91 Bab 91 - Bersimbah Darah
92 Bab 92 - Bertemu Di Rutan
93 Bab 93 - Permohonan Maaf
94 Bab 94 - Bundanya Aya Is The Best
95 Bab 95 - Kunjungan Seseorang
96 Bab 96 - Hanya Cinta Yang Bisa
97 Bab 97 - Romantis Manis (Jatuh Cinta Itu Indah)
98 Bab 98 - Kejutan Manis
99 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
100 Bab 100 - Takdir Cinta
101 Bonus Chapter (TAMAT)
102 JUST INFO
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO KARYA BARU
106 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bab 1 - Niat Menolong Jadi Petaka
2
Bab 2 - Luka Masa Lalu (Selingkuh)
3
Bab 3 - Siapkan Dirimu
4
Bab 4 - Puisi Untuk Ibu
5
Bab 5 - Bunda Dokter
6
Bab 6 - Kuasa Putri Mahkota Menyala
7
Bab 7 - Tamu di Larut Malam
8
Bab 8 - Anak Yang Menjadi Korban
9
Bab 9 - Bunda, Kenapa Nangis ?
10
Bab 10 - Pikiran Masing-Masing
11
Bab 11 - Empat Sehat Lima Sempurna
12
Bab 12 - Dunia Terasa Sempit
13
Bab 13 - Semakin Penasaran
14
Bab 14 - Cinta Pertama Dokter Heni
15
Bab 15 - Pertemuan Pertama
16
Bab 16 - Sebuah Penjelasan
17
Bab 17 - Foto Bersama
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-unek
19
Bab 19 - Awal Mula
20
Bab 20 - Rekaman Rahasia
21
Bab 21 - Hak dan Kewajiban
22
Bab 22 - Pillow Talk
23
Bab 23 - Panas Hati dan Kedengkian
24
Bab 24 - Riuh di Pagi Hari
25
Bab 25 - Bertukar Pesan
26
Bab 26 - Perkara Jodoh
27
Bab 27 - Tentang Adik Bayi
28
Bab 28 - Tidur Bertiga
29
Bab 29 - Tersesat
30
Bab 30 - Cinta Luar Biasa
31
Bab 31 - Kejar Setoran
32
Bab 32 - Sebutan "Mandul"
33
Bab 33 - Penolakan
34
Bab 34 - Kecewa dan Amarah
35
Bab 35 - Pelantikan
36
Bab 36 - Mendadak Aneh
37
Bab 37 - Kedatangan Tamu
38
Bab 38 - Mantan Istri
39
Bab 39 - Terus Menyudutkan
40
Bab 40 - Pesona Mantan Suami
41
Bab 41 - Pamer Kemesraan
42
Bab 42 - Bunda Sakit ?
43
Bab 43 - Suara Isi Hati Aya
44
Bab 44 - Istri vs Mantan Istri
45
Bab 45 - Pingsan
46
Bab 46 - Rencana Manda
47
Bab 47 - Status Pernikahan ?
48
Bab 48 - Pentingnya Komunikasi Dalam Sebuah Pernikahan
49
Bab 49 - Test Pack
50
Bab 50 - Adik Bayi Pesanan Aya
51
Bab 51 - Keceplosan
52
Bab 52 - Hasil Pemeriksaan
53
Bab 53 - Rencana Kejutan
54
Bab 54 - Akhir Pekan Tiba
55
Bab 55 - Trauma Masa Lalu Hadir Kembali
56
Bab 56 - Hitam Pekat Luka
57
Bab 57 - Kecelakaan
58
Bab 58 - Bunda Ke Mana ?
59
Bab 59 - Sepucuk Surat
60
Bab 60 - Penyesalan
61
Bab 61 - Aku Yang Salah (Seno)
62
Bab 62 - Kepergian Aldo
63
Bab 63 - Gelayut Mendung
64
Bab 64 - Aku mencintai Istriku (Seno)
65
Bab 65 - Pergi Dari Tapal Batas
66
Bab 66 - Perusak Kesenangan
67
Bab 67 - Tilik Bayi
68
Bab 68 - Putraku
69
Bab 69 - Bicara Dari Hati Ke Hati
70
Bab 70 - Jogja "Kota Penuh Kenangan"
71
Bab 71 - Makasih Bunda (Aldo)
72
Bab 72 - Berkat Doa dan Ketulusan Cinta
73
Bab 73 - Kenyataan Pahit
74
Bab 74 - Meminta Cerai
75
Bab 75 - Di Ujung Tanduk Perceraian
76
Bab 76 - Menangis Bersama
77
Bab 77 - Adu Mulut
78
Bab 78 - Perjuangan Sang Komandan
79
Bab 79 - Pelukan Hangat
80
Bab 80 - Mas Mau Ke Mana ?
81
Bab 81 - Membersihkan Aroma Mantan
82
Bab 82 - Cemburu Mode On
83
Bab 83 - Sudah Dimaafkan
84
Bab 84 - Wujud Cinta Sang Komandan
85
Bab 85 - Temani Aku Sehari Lagi (Dokter Heni)
86
Bab 86 - Pergi Ke Rumah Sakit
87
Bab 87 - Hasil Pemeriksaan Yang Mengejutkan (Manda)
88
Bab 88 - Benar-Benar Terpuruk
89
Bab 89 - Sebuah Firasat
90
Bab 90 - Karma
91
Bab 91 - Bersimbah Darah
92
Bab 92 - Bertemu Di Rutan
93
Bab 93 - Permohonan Maaf
94
Bab 94 - Bundanya Aya Is The Best
95
Bab 95 - Kunjungan Seseorang
96
Bab 96 - Hanya Cinta Yang Bisa
97
Bab 97 - Romantis Manis (Jatuh Cinta Itu Indah)
98
Bab 98 - Kejutan Manis
99
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
100
Bab 100 - Takdir Cinta
101
Bonus Chapter (TAMAT)
102
JUST INFO
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO KARYA BARU
106
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!