Sah

Zifa agaknya gugup.

Dia menatap dirinya di kaca rias. Wajah cantiknya berbalut gamis akad dan hijab itu membuatnya berkaca - kaca. Bagaimana bisa dia secantik ini saat menggunakan hijab.

" Subhanallah .... Cantiknya putri Ummi," puji Ummi pada Zifa. Zifa pun memeluk Umminya.

" Maafin Zifa ya mik .... Udah bikin Ummi kecewa. Seharusnya Zifa dengarkan perihal hijab ini," sesal Zifa. Ummi malah menangis mendengar putrinya itu meminta Maaf.

" Tidak sayang ... Maafin Ummi yang selalu saja memaksakan kehendak," ucapnya dengan mencium pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.

Saat mereka berdua mengobrol. Suara SAH menggema di kediaman Ustadz El Kautsar. Akhirnya Zifa pun di bawa keluar oleh Umminya. Pandangan mata Ahmad tak sekali pun tertunduk. Dia kagum akan kecantikan sang istri.

Ya Allah ... Dia sungguh cantik parasnya. Nikmat mana yang kau dustakan Ahmad saat mendapatkan putri dari ustadz Adam El Kautsar.

Semenjak tadi El menahan tangisnya. Dia memberikan khutbah nikah pada menantunya yang sejatinya adalah calon mempelai itu sendiri.

" Nak ... Aku berikan tanggung jawab besar kepadamu. Yakni putri pertama kami. Kami rawat dia dengan baik dan penuh kasih sayang. Kami Lindungi dia dengan segenap hati. Namun sekarang Abi titipkan Padamu putri kesayangan Abi. Nak ... Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi .... Tolong jangan sakiti dia, jangan rusak hati dan mentalnya. Dengan sisa cinta yang kamu miliki kembalikanlah dia pada kami dengan baik. Akan tetapi terlepas dari itu Abi berharap Nak Ahmad sanggup membahagiakan dia dan mendidik dia sesuai ajaran Rosulullah. Sekali lagi Abi Titip Putri Abi untuk di bahagiakan dan di didik sebaik mungkin sebagai istri dan calon ibu anak - anakmu kelak. Tapi ... Semoga pernikahanmu langgeng selamanya," ujar Abinya dengan serius sekali. Air mata El tak bisa di bendung semuanya menetes begitu saja. Sudah dia serahkan putri kesayangan pada Ahmad dengan sepenuh hati. Dengan ini maka berpindahlah tanggung jawab itu kepada menantunya.

Semua orang yang menyaksikan pernikahan itu ikut menangis. Zifa yang cantik jelita pun tak kuasa sàat Abinya memberikan wejangan demikian pada Ahmad. Sungguh berdosa dirinya ini tak memakai hijab selama menjadi anaknya dan tinggal di rumah ini. Abi sudah mendidiknya dengan baik namun dia tak mengindahkannya. Ahmad menatap istrinya dengan penuh rasa hormat. Gadis itu masih menangis sesenggukan. Abinya mendekat dan memeluk Zifa.

" Cukup nak ... Jangan menangis Ini hari bahagiamu. Zifa cantik sekali dengan kebaya modern ini. Lihatlah putri Abi dia saat ini menggunakan hijab! Zifa cantik sekali .... " puji Abi membuatnya makin manangis.

" Maafkan Zifa Abi .... Zifa sayang Abii ... " bisiknya dengan sangat kalut. Abi hanya mengusap punggung putrinya itu.

" Ummi ... Bawa mereka ke kamar dulu! Biarkan istirahat .... " ujar Abi diikuti anggukan kepala sang istri. Abi memberikan tangan Zifa pada Ahmad.

" Istirahatlah nak! Besok baru kita gelar resepsinya," ucap sang Abi. Ahmad mengangguk setuju. Ahmad menggandeng Zifa ke kamar mereka.

Sesampainya di depan kamar Zifa ...

" Masuklah! Ummi temui keluarga dulu," Zifa hanya mengangguk tak mampu menjawab. Hatinya bergejolak hebat kala Abinya menyerahkan pada Ahmad. Mereka kemudian masuk tanpa menunggu siapa pun lagi.

Dengan pakaian pengantin lengkap dan wajah memerah karena menangis itulah Zifa saat ini. Ahmad memberikannya minum agar lebih rileks.

" Tidak ... " jawabnya lirih.

" Ada apa? Tidak mau menerimaku sebagai suami? Apa ingin selalu bersama Abi?" tanya Ahmad. Sontak saja Zifa memegang pergelangan tangan Ahmad dan menggelengkan kepala.

" Bukan seperti itu ... " jawab Zifa dengan suara rendah dan dia menangis lagi. Ahmad menghela nafas dan memeluknya.

Halal dong ya! Boleh peluk boleh cium. Khilaf banyak pun tak masalah kan heheh. Udah sah jadi Nyonya Zifa Ahmad. Ahmad kini menenangkannya.

" Jangan meninggalkanku suatu hari apabila aku berbuat salah. Ingatkan aku saja jika kelewat batas. Aku tidak mau Abi menangis lagi mas. Cukup aku yang membuatnya sedih, jangan mas Ahmad ... " di dalam tangisannya Zifa mengatakan hal itu. Ahmad bahagia kala mendengar bahwa dia begitu menyayangi Abinya. Hatinya juga berbunga - bunga tatkala Zifa memanggilnya mas untuk kedua kalinya.

" Apakah sudah mulai mencintaiku? Sampai tidak mau di tinggalkan olehku?" goda Ahmad membuat Zifa melerai pelukannya. Dia malu saat ini karena terbawa Emosi jadi mengatakan hal demikian yang membuat Ahmad berbunga - bunga.

" Aku tidak tahu .... " jawabnya sambil menunduk. Ahmad tersenyum dan mulai mengangkat dagu Zifa. Paras ayu-nya siapa yang tidak tertarik. Ahmad membuka hijab itu beserta hiasan kepala sang istri. Ahmad gerai rambut sang istri yang hitam pekat lurus dan halus itu.

" Mahkota ini ... Harusnya aku seorang yang melihatnya Nyonya Ahmad Sulaiman. Sanggupkah kamu menjaga milik suamimu hanya untuknya??!!! Tidak untuk di bagikan untuk lelaki di luar sana??? Aku cemburu tatkala milikku dapat di lihat orang lain di luaran sana," ujar Ahmad sambil membelai rambut itu.

Menangislah Zifa di sana. Dia menyesal seharusnya hal yang dia jaga untuk suaminya malah dia umbar di sana. Abi dan Umminya benar bahwa seharusnya dia menjaga semua ini. Ahmad mengusap air mata itu. Tidak tega dia kala melihat Zifa terus menangis. Dia pun tak memaksa jawaban itu. Ahmad berdiri dari yang awalnya jongkok. Namun kala Ahmad hendak melangkah zifa menggenggam jemari Ahmad.

" Zifa milik mas bukan??? Apapun yang mas Ahmad katakan akan Zifa indahkan," jawabannya itu membuat Ahmad bangga pada gadis itu. Sekali lagi Ahmad memeluknya dengan antusias dan bahagia.

Greppp.

" Terima kasih sayang ... " ujar Ahmad. Dia melontarkan kata sayang membuat hati Zifa itu dag dig dug tidak jelas.

Degh.

Degh.

Degh.

Ahmad menatap manik ayu itu. Dia membantu istrinya membuka baju kebayanya. Zifa jadi gugup sebab di balik kebaya itu hanya tersisa kemben saja. Kulit dan gundukan itu akan terekspos jelas. Ahmad merengkuh pinggang gadisnya dengan erat dan penuh kasih sayang.

" Jangan takut .... Kita sudah halal sayang," bisik Ahmad dan menjatuhkan kebaya itu ke ranjang. Kulit putih, halus nan sehat milik Zifa begitu membuat Ahmad ingin melompat - lompat. Bagaimana tidak? Kulit kenyal itu dia rawat dengan baik. Tanpa sengaja Ahmad tertarik dan mencium pundak tanpa kain itu.

Bismillah ...

Cup.

Kecupan lama di pundak itu membuat Ahmad yang sejatinya tak pernah menyentuh perempuan jadi bangga. Aroma kulit Zifa yang begitu harum membuat Ahmad tertarik dan terbawa suasana. Dia mengecup area di atas dada yang leher pun jadi sasarannya.

Cup.

Cup.

Meremang itulah yang di rasakan Zifa. Tanpa ada aba - aba Ahmad membarikan Zifa di ranjang. Ahmad memegangi tangan Zifa dengan erat sambari dia menikmati Ciuman itu. Dadanya bergemuruh karena ini yang pertama.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Ahmad dan meminta istrinya itu ke kamar mandi untuk berganti baju.

" Astaga kebablasan .... Maaf sayang terbawa suasana! Pergilah ke kamar mandi ... Mas yang akan lihat siapa yang datang," ujar Ahmad yang merasakan malu luar biasa karena sudah menjamah kulit Zifa dan begitu menikmatinya. Zifa tak menjawab apapun dia segera beranjak ke kamar mandi. Ahmad menghela nafas dan segera membuka pintu.

Ceklek!

( Weh, kira - kira siapa ya yang ganggu kelakuan mas Ahmad. Duh ... Lagi nikmat - nikmatnya pengantin baru ada yang ketuk pintu 😆😆😆)

Terpopuler

Comments

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

duh koacian siapa ya ketok pintu yaaa😅😅

2025-01-11

0

Anis Mawati

Anis Mawati

main sosor aja si ahmad

2025-02-17

0

Rahma Inayah

Rahma Inayah

gk.sabr sdh mau unboxing aja

2024-10-22

0

lihat semua
Episodes
1 Siapa Zifa?
2 Al Faroby Family
3 Mom Rasyi
4 Amarah Zifa
5 Berdamai dengan Ummi
6 Pertemuan Calon Pengantin
7 obrolan
8 Persiapan Pernikahan
9 Satu Almamater
10 Tidak Sengaja
11 Kanebo Kering
12 Tidak Utuh
13 Cinta?
14 Khawatir
15 Mendadak??
16 Lamaran dan Akad
17 Sah
18 Kena Mental
19 Pernahkah jatuh cinta???
20 Peka
21 Teras
22 Perhatian
23 Mafaza Syakir Malik
24 Perhelatan Resepsi
25 Kembali Ke Batalyon
26 Letda A. Sulaiman A.F.
27 Kagum
28 di Ratukan
29 Paper Bag
30 Kedatangan Tamu
31 Tamu adalah Raja
32 Kocak
33 Keluarga Besar Faroby
34 Nona Polwan
35 Hatinya
36 Obat Penawar
37 Perbatasan Selatan
38 Positif
39 Izin di Kantongi
40 Narendra Kusuma Al Faroby
41 Rindu
42 Bahagia Vs Emosi
43 Menghapus Rasa Rindu
44 Ikhlas
45 Nelangsa
46 Minta Maaf
47 Perbincangan keluarga Besar
48 Mama Dokter
49 Klarifikasi
50 Se- Cemburu itu?
51 Drama Perjodohan
52 Drama 2
53 Malam itu ...
54 Prahara Hati
55 Tangisan Nara
56 Sanggahan
57 Kecewanya Abi
58 Jujur
59 Drop
60 Rumah Sakit
61 Marah
62 Ke- Ambiguan Zifa
63 Di permainkan
64 Kejelasan
65 Ahmad Now
66 Menikahlah denganku
67 Tingkah Nara
68 Kaffa
69 Rasa yang Berbeda
70 Keluarga Zakaria
71 Zayyan Life
72 Selesai
73 Urusan Hati
74 Sakit
75 Marwah Zania
76 kehidupan
77 Kasih Sayang Faroby
78 Cemburu
79 Maaf
80 Salah Paham
81 Sedikit cerita
82 Zifa - Marwah
83 Abimanyu Ahmad Sulaiman
84 Kelahiran AbiManyu
85 Aunty - Uncle
86 Perasaan
87 Kata Hati
88 Undangan
89 Hasrat Lelaki
90 Gejolak hati
91 Pernikahan
92 Suasana Pesantren
93 Bilqis El Khumairoh
94 sadar
95 PROMO - NOVEL BARU
96 pernikahan
97 Cengar - Cengir
98 Pertemuan
99 Gejolak Batin
100 Perdamaian
101 Permintaan Maaf
102 Kelahiran baby Gold
103 Makin Tua Makin Muda
104 Kenangan
105 Reoni Keluarga Part. 1
106 Reoni Part 2
107 Rindu
108 Romansa di usia matang
109 Rumah Baru
110 Rahasia Lukman
111 Masa Lalu
112 Menyesal
113 Berdiam diri
114 Bahagia Selamanya
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Siapa Zifa?
2
Al Faroby Family
3
Mom Rasyi
4
Amarah Zifa
5
Berdamai dengan Ummi
6
Pertemuan Calon Pengantin
7
obrolan
8
Persiapan Pernikahan
9
Satu Almamater
10
Tidak Sengaja
11
Kanebo Kering
12
Tidak Utuh
13
Cinta?
14
Khawatir
15
Mendadak??
16
Lamaran dan Akad
17
Sah
18
Kena Mental
19
Pernahkah jatuh cinta???
20
Peka
21
Teras
22
Perhatian
23
Mafaza Syakir Malik
24
Perhelatan Resepsi
25
Kembali Ke Batalyon
26
Letda A. Sulaiman A.F.
27
Kagum
28
di Ratukan
29
Paper Bag
30
Kedatangan Tamu
31
Tamu adalah Raja
32
Kocak
33
Keluarga Besar Faroby
34
Nona Polwan
35
Hatinya
36
Obat Penawar
37
Perbatasan Selatan
38
Positif
39
Izin di Kantongi
40
Narendra Kusuma Al Faroby
41
Rindu
42
Bahagia Vs Emosi
43
Menghapus Rasa Rindu
44
Ikhlas
45
Nelangsa
46
Minta Maaf
47
Perbincangan keluarga Besar
48
Mama Dokter
49
Klarifikasi
50
Se- Cemburu itu?
51
Drama Perjodohan
52
Drama 2
53
Malam itu ...
54
Prahara Hati
55
Tangisan Nara
56
Sanggahan
57
Kecewanya Abi
58
Jujur
59
Drop
60
Rumah Sakit
61
Marah
62
Ke- Ambiguan Zifa
63
Di permainkan
64
Kejelasan
65
Ahmad Now
66
Menikahlah denganku
67
Tingkah Nara
68
Kaffa
69
Rasa yang Berbeda
70
Keluarga Zakaria
71
Zayyan Life
72
Selesai
73
Urusan Hati
74
Sakit
75
Marwah Zania
76
kehidupan
77
Kasih Sayang Faroby
78
Cemburu
79
Maaf
80
Salah Paham
81
Sedikit cerita
82
Zifa - Marwah
83
Abimanyu Ahmad Sulaiman
84
Kelahiran AbiManyu
85
Aunty - Uncle
86
Perasaan
87
Kata Hati
88
Undangan
89
Hasrat Lelaki
90
Gejolak hati
91
Pernikahan
92
Suasana Pesantren
93
Bilqis El Khumairoh
94
sadar
95
PROMO - NOVEL BARU
96
pernikahan
97
Cengar - Cengir
98
Pertemuan
99
Gejolak Batin
100
Perdamaian
101
Permintaan Maaf
102
Kelahiran baby Gold
103
Makin Tua Makin Muda
104
Kenangan
105
Reoni Keluarga Part. 1
106
Reoni Part 2
107
Rindu
108
Romansa di usia matang
109
Rumah Baru
110
Rahasia Lukman
111
Masa Lalu
112
Menyesal
113
Berdiam diri
114
Bahagia Selamanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!