Al Faroby Family

Rumah Sakit adalah rumah kedua bagi Zifa. Tak ada hal yang membuatnya mangkir dari tugas maupun aroma obat rumah sakit. Zifa memang bukan dokter spesialis seperti senior - seniornya. Dia terbiasa dengan kemandirian. Kali ini dia ingin melanjutkan spesialis jika memungkinkan.

" Zifa ... Sudah ada pemetaan dokter pribadi ada rollingan terbaru. Dokter sebelumnya sudah banyak yang pensiun," ucap salah satu teman Zifa.

" Ehem ... Lalu? Apakah khawatir dengan hal baru?" tanya Zifa dengan masih fokus mengecek laporannya.

" Ck. Menyebalkan," jawab dokter Diandra sambil memukulkan map di tangannya pada lengan Zifa.

" Kamu yang menyebalkan sudah lihat aku sedang sibuk masih saja menganggu. Huft ... Sana keluarlah Diandra! Aku sudah pusing dengan pernikahan," jawab Zifa tiba - tiba. Sontak saja temannya Diandra itu langsung menatap Ziva intens.

" Seriously beib!?" tanya Diandra terkejut. Zifa kini menatapnya nyalang.

" Seriuslah ... Capek aku Diandra ketika mereka membahas hijab. Aku juga ingin seperti mereka yang islami cara berpakaiannya. Tapi aku masih belum siap. Huft .... " keluh Zifa yang sejatinya selalu tak peduli akan hal itu. Nampaknya saat ini mulai berpengaruh pada dirinya. Sudah bertahun - tahun Zifa di terpa nasehat akan hal itu. Tapi hingga detik ini dia tetap saja masih yang sama.

" Menikah dengan siapa coba??" tanya Diandra langsung berubah jadi bloon seketika.

" Putra Kyai teman Abi," jawabnya singkat dengan nada kurang enak di dengar.

" Yakin???? Langsung pake hijab dong ya," goda diandra. Zifa menatap temannya itu secara horor.

" Bisa diam tidak! Aku pusing .... Aku masih memikirkannya," jawab Zifa dengan kesal. Diandra pun tertawa.

Hahahahhahaha.

" Pikirkan matang - matang! Bisa jadi kamu langsung pake cadar cantik hahahah," tawa diandra menggema di ruangan Zifa. Sebelum kena amukan temannya Diandra kabur dan menutup pintu dengan cepat.

Astaga anak ini! Masih saja sama.

Beda Zifa Beda lagi dengan Diandra. Keluarga diandra memang tak bernuansa islami kental. Jadi, keluarganya bebas mau berpakaian seperti asalkan dalam taraf sopan. Namun Diandra sedaei kecil cenderung berhijab jadi hal itu tak jadi masalah bagi keluarga besarnya.

Zifa yang menutup ruang prakteknya itu. Dia istirahat sejenak. Dia ingat bahwa hari ini keluarga besar akan kembali bertandang ke rumah Abinya. Dia malas sekali jika harus berdebat kembali masalah hijab.

Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa selalu memberontak kala mereka menanyakan hijab. Hmmmm ... Kenapa jadi seperti ini???

Hari ini mungkin berat bagi Zifa untuk beranjak pulang tapi apapun itu dia harus pulang. Zifa yang telah bersiap pulang itu mendapatkan telpon dari seseorang.

" Ya ... Dengan Dokter Zifa di sini?!" tanya Zifa di sambungan selulernya.

" Dokter ... Maaf mengganggu. Saya tahu dokter baru hari ini resmi menjadi dokter keluarga kami. Tapi keluarga saya ada yang sakit bisakah dokter berkunjung ke rumah kami??? Kami sungguh butuh bantuan," suara panik sangat terdengar jelas dalam irama suaranya. Zifa pun lagi - lagi tak bisa mangkir begitu saja.

" Kirimkan alamat rumah kalian! Saya berangkat," jawab Zifa dengan tegas tanpa banyak alasan ke sana kemari.

" Terima kasih dokter," ucapnya sebelum mengakhiri perbincangan.

Zifa pun segera meluncur dimana mereka tinggal sesuai dengan alamat yang di kirim. Diandra yang melihat sahabatnya terburu - buru sampai tidak menegurnya. Jika Zifa bersikap begitu maka ada urgent.

Dalam perjalanan ...

" Assalamualaikum ... Bi Zifa pulang terlambat ya!? Ada pasien penting yang harus di tangani. Salam pada Ummi ... " pamit Zifa.

" Hati - Hati Zifa," jawab Abinya.

Saat Abinya itu menutup ponsel. Ummi sudah menatap lekat suaminya itu. El tahu bahwa Alia tidak suka putrinya itu mangkir dari pertemuan keluarga. Selalu saja alasannya pasien.

" Tidak bisa datang lagi??" tanya Ummi nampak tidak bahagia. El pun langsung merangkulnya dengan penuh kasih sayang.

" Dia datang hanya saja dia bilang terlambat. Jangan terlalu menghakimi anak itu sayang. Bisa - bisa dia jauh darimu. Walau bagaimana keadaannya dia putri kita kan?? Jangan lelah mengingatkannya. Jangan bandingkan dia dengan siapapun! Jika tidak kita akan benar - benar kehilangan dia," nasehat El pada Alia.

Alia selama ini mendidik putrinya dengan keras harus ke jalur A, B,C,D tanpa melihat apa yang di ingini putrinya itu. Namun keadaan itulah yang membuat Zifa sampai pada titik di mana dia ingin menjadi diri sendiri tanpa ada bayangan background keluarga besarnya.

" Bukan itu maksud Alia mas ... " lirihnya sedih.

" Tapi putrimu memahami itulah yang Umminya lakukan. Menjadi apa yang Ummi-nya mau. Sayang ... Kadang anak kita itu tidak harus menjadi seperti yang kita inginkan. Tapi, tetap kita berikan wawasan keagamaan yang baik dan menasehatinya. Sudahlah ... Doakan saja Zifa kembali pada hal yang baik dan benar," jawab El tanpa ingin menyakiti hati Alia.

Di kediaman pasien Zifa ....

" Apa rumah ini?" tanya Zifa pada dirinya sendiri. Akan tetapi sebelum bertanya pada satpam Zifa sudah melihat nama pemilik di Dinding Gerbang rumah.

Al Faroby Family.

" Permisi pak! Saya Dokter Zifa ... " ucap Zifa pada satpam depan.

" Silahkan dokter .... Semua orang sudah menunggu anda!" jawab satpam dan langsunh membuka gerbangnya lebar - lebar. Zifa tersenyum dan kembali mengendarai mobilnya ke halaman luas di sana.

Rumah megah nampak sangat indah sekali bahkan estetik. Halaman luas dan rapi menunjukkan bahwa mereka orang berada. Zifa merasa baru kali ini menjadi dokter keluarga kaya. Ini kali pertama baginya.

Belum mengetuk pintu sudah ada yang membuka pintu membuat Zifa melongo.

" Silahkan dok! Tuan sudah menunggu anda di dalam," ucap pelayan rumah ini. Lagi - lagi ziva hanya mengulas senyum padanya.

Sesampainya di dalam rumah ...

" Permisi pak! Saya dokter Zifa ... " ucap Zifa pada laki - laki paruh baya dengan wajah tampan dan nampak familiar baginya. Dia tersenyum dan hal itu membuat Zifa seperti mengenal wajah itu.

" Dokter silahkan masuk! Cucu saya sakit entah tadi makan apa tenggorokannya sakit. Saya takut jika dia harus di operasi sebab dia masih berusia 3 tahun!" keluh kakek dan laki - laki paruh baya yang nampak tak asing.

" Baik ... Saya periksa dulu ya pak. Permisi!" ucap Zifa tanpa mengurangi rasa sopannya.

" Hallo sayang ... Apa kabar hari ini???? Mana yang sakit coba tunjukkan sama tante Zifa? Aaaa ... " ucap Zifa pada anak itu.

Dia menurut dan membuka mulutnya. Ziva menemukan duri di tenggorokannya dan itu belum Fatal.

" Tante bantu sulap buat sembuhin ya!??? Anak pinter tahan sakitnya sedikit ya??! Boleh kok sayang kalau mau cubit tante. Gimana? Boleh tante bantu .... " tanya Zifa pada anak perempuan itu. Dia nampak mengangguk dan Zifa segera membantunya mengeluarkan duri.

Selama hampir 1 jam karena sulitnya pengambilan akhirnya sukses. Meskipum harus ada drama menangis dan lain sebagainya.

" Pak ... Resep ini tolong di tebus. Untuk ke depannya makan gadis kecil ini tolong di perhatikan!" pinta Zifa. Namun saat Zifa hendak mengambil tasnya tiba - tiba tangannya di tarik seseorang yang tak lain adalah Nyonya besar keluarga Faroby.

" Dokter ... Ikut makan bersama kami! Jangan menolak loh ya .... " ajaknya sambil mengapit tangan Zifa.

Eh .... Ini Emak siapa??? Kenapa begitu hamble.

Semua orang yang melihat kejadian itu hanya terkekeh saja. Sedangkan Zifa tersenyum bingung serta kikuk.

Dalam perjalanan ke ruang makan agaknya pendengaran Zifa agak berkurang. Sebab dia mendnegar sesuatu yang aneh baginya.

Jika masih single menikahlah dengan putraku dok! Dia tampan kok ... Tapi sayang anaknya lagi tugas.

Terpopuler

Comments

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

emak "ini calon ibu mertuamu dokter zifaa

2025-01-11

1

Susanty

Susanty

sejauh ini cukup menarik......

2024-07-12

1

lihat semua
Episodes
1 Siapa Zifa?
2 Al Faroby Family
3 Mom Rasyi
4 Amarah Zifa
5 Berdamai dengan Ummi
6 Pertemuan Calon Pengantin
7 obrolan
8 Persiapan Pernikahan
9 Satu Almamater
10 Tidak Sengaja
11 Kanebo Kering
12 Tidak Utuh
13 Cinta?
14 Khawatir
15 Mendadak??
16 Lamaran dan Akad
17 Sah
18 Kena Mental
19 Pernahkah jatuh cinta???
20 Peka
21 Teras
22 Perhatian
23 Mafaza Syakir Malik
24 Perhelatan Resepsi
25 Kembali Ke Batalyon
26 Letda A. Sulaiman A.F.
27 Kagum
28 di Ratukan
29 Paper Bag
30 Kedatangan Tamu
31 Tamu adalah Raja
32 Kocak
33 Keluarga Besar Faroby
34 Nona Polwan
35 Hatinya
36 Obat Penawar
37 Perbatasan Selatan
38 Positif
39 Izin di Kantongi
40 Narendra Kusuma Al Faroby
41 Rindu
42 Bahagia Vs Emosi
43 Menghapus Rasa Rindu
44 Ikhlas
45 Nelangsa
46 Minta Maaf
47 Perbincangan keluarga Besar
48 Mama Dokter
49 Klarifikasi
50 Se- Cemburu itu?
51 Drama Perjodohan
52 Drama 2
53 Malam itu ...
54 Prahara Hati
55 Tangisan Nara
56 Sanggahan
57 Kecewanya Abi
58 Jujur
59 Drop
60 Rumah Sakit
61 Marah
62 Ke- Ambiguan Zifa
63 Di permainkan
64 Kejelasan
65 Ahmad Now
66 Menikahlah denganku
67 Tingkah Nara
68 Kaffa
69 Rasa yang Berbeda
70 Keluarga Zakaria
71 Zayyan Life
72 Selesai
73 Urusan Hati
74 Sakit
75 Marwah Zania
76 kehidupan
77 Kasih Sayang Faroby
78 Cemburu
79 Maaf
80 Salah Paham
81 Sedikit cerita
82 Zifa - Marwah
83 Abimanyu Ahmad Sulaiman
84 Kelahiran AbiManyu
85 Aunty - Uncle
86 Perasaan
87 Kata Hati
88 Undangan
89 Hasrat Lelaki
90 Gejolak hati
91 Pernikahan
92 Suasana Pesantren
93 Bilqis El Khumairoh
94 sadar
95 PROMO - NOVEL BARU
96 pernikahan
97 Cengar - Cengir
98 Pertemuan
99 Gejolak Batin
100 Perdamaian
101 Permintaan Maaf
102 Kelahiran baby Gold
103 Makin Tua Makin Muda
104 Kenangan
105 Reoni Keluarga Part. 1
106 Reoni Part 2
107 Rindu
108 Romansa di usia matang
109 Rumah Baru
110 Rahasia Lukman
111 Masa Lalu
112 Menyesal
113 Berdiam diri
114 Bahagia Selamanya
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Siapa Zifa?
2
Al Faroby Family
3
Mom Rasyi
4
Amarah Zifa
5
Berdamai dengan Ummi
6
Pertemuan Calon Pengantin
7
obrolan
8
Persiapan Pernikahan
9
Satu Almamater
10
Tidak Sengaja
11
Kanebo Kering
12
Tidak Utuh
13
Cinta?
14
Khawatir
15
Mendadak??
16
Lamaran dan Akad
17
Sah
18
Kena Mental
19
Pernahkah jatuh cinta???
20
Peka
21
Teras
22
Perhatian
23
Mafaza Syakir Malik
24
Perhelatan Resepsi
25
Kembali Ke Batalyon
26
Letda A. Sulaiman A.F.
27
Kagum
28
di Ratukan
29
Paper Bag
30
Kedatangan Tamu
31
Tamu adalah Raja
32
Kocak
33
Keluarga Besar Faroby
34
Nona Polwan
35
Hatinya
36
Obat Penawar
37
Perbatasan Selatan
38
Positif
39
Izin di Kantongi
40
Narendra Kusuma Al Faroby
41
Rindu
42
Bahagia Vs Emosi
43
Menghapus Rasa Rindu
44
Ikhlas
45
Nelangsa
46
Minta Maaf
47
Perbincangan keluarga Besar
48
Mama Dokter
49
Klarifikasi
50
Se- Cemburu itu?
51
Drama Perjodohan
52
Drama 2
53
Malam itu ...
54
Prahara Hati
55
Tangisan Nara
56
Sanggahan
57
Kecewanya Abi
58
Jujur
59
Drop
60
Rumah Sakit
61
Marah
62
Ke- Ambiguan Zifa
63
Di permainkan
64
Kejelasan
65
Ahmad Now
66
Menikahlah denganku
67
Tingkah Nara
68
Kaffa
69
Rasa yang Berbeda
70
Keluarga Zakaria
71
Zayyan Life
72
Selesai
73
Urusan Hati
74
Sakit
75
Marwah Zania
76
kehidupan
77
Kasih Sayang Faroby
78
Cemburu
79
Maaf
80
Salah Paham
81
Sedikit cerita
82
Zifa - Marwah
83
Abimanyu Ahmad Sulaiman
84
Kelahiran AbiManyu
85
Aunty - Uncle
86
Perasaan
87
Kata Hati
88
Undangan
89
Hasrat Lelaki
90
Gejolak hati
91
Pernikahan
92
Suasana Pesantren
93
Bilqis El Khumairoh
94
sadar
95
PROMO - NOVEL BARU
96
pernikahan
97
Cengar - Cengir
98
Pertemuan
99
Gejolak Batin
100
Perdamaian
101
Permintaan Maaf
102
Kelahiran baby Gold
103
Makin Tua Makin Muda
104
Kenangan
105
Reoni Keluarga Part. 1
106
Reoni Part 2
107
Rindu
108
Romansa di usia matang
109
Rumah Baru
110
Rahasia Lukman
111
Masa Lalu
112
Menyesal
113
Berdiam diri
114
Bahagia Selamanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!