Sandiwara Denis

"Selamat datang di rumahku! Maaf, hanya rumah kecil saja," ucap Larisa setelah membuka pintu rumahnya lebar-lebar.

Denis tercenung, melongo ke dalam sebelum membawa masuk tubuhnya. Ia melihat-lihat ke sekeliling, rumah yang bersih dan rapi.

"Kau pasti rajin membersihkannya," ujar Denis setelah menelisik setiap sisi ruang tamu tersebut.

"Ah, tidak juga. Oya, ini kamarku dan itu kamarmu. Kau boleh menggunakannya sesuka hatimu," ucap Larisa lagi sembari menunjuk pintu di bagian kanan rumah, dan pintu yang lain di bagian kiri.

Denis mengangkat alis, menatap Larisa dengan kepala yang dimiringkan.

"Ada apa?" Larisa mengernyit bingung melihat sikap Denis.

"Kenapa kita tidak satu kamar?" tanya Denis ambigu.

Larisa mematung, napasnya tercekat di tenggorokan. Beberapa saat kehilangan udara membuat rongga dada merasakan sesak yang nyata. Ia terbatuk, tiba-tiba saja salah tingkah dengan pertanyaan dari Denis.

"I-itu ... i-itu ...."

Duh, bagaimana mengatakannya, ya. Aku belum siap untuk berada satu kamar dengannya. Bagaimanapun kami belum saling mengenal satu sama lain.

Di tengah kebingungan itu, suara tawa Denis yang menggema membuat Larisa semakin bingung.

"Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius. Jadi, ini kamarku, dan di sini aku akan tidur," ucap Denis sembari melihat pintu kamar yang masih tertutup.

Larisa menghela napas lega, tapi rasa hangat di pipi masih terasa olehnya. Ia mengusap tengkuk, mencari alasan untuk pergi.

"Aku akan menyiapkan sarapan. Kau masuklah dan beristirahat," pamitnya yang segera pergi dari hadapan Denis tanpa menunggu jawabannya.

Denis tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri di saat gadis itu tersipu olehnya. Ia kemudian berbalik membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Hanya ada sebuah ranjang single, lemari kecil, dan tidak ada kamar mandi di dalam sana.

"Lumayan nyaman," gumamnya seraya menjatuhkan tubuh di atas ranjang tersebut.

Tidak senyaman miliknya, kasur besar lagi empuk. Lebih nyaman tinggal di apartemen sendiri. Denis meletakkan tangan kanannya sebagai tumpuan di belakang kepala. Menatap langit-langit kamar, membayangkan jadi orang biasa saja. Sepertinya seru.

Dering ponsel menghentikan lamunannya, ia merogoh saku dan menjawab panggilan.

"Halo," ucapnya dengan malas.

"Tuan, bukankah Anda akan datang berkunjung ke perusahaan hari ini? Kami sudah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan Anda," jawab suara di seberang sana dengan nada takzim.

Denis menjauhkan ponsel, menatap si penelpon. Rupanya salah satu direktur di perusahaan, ia kira Haris.

"Mana Haris? Minta dia menghubungiku sekarang juga!" titah Denis yang segera menutup sambungan telepon.

Benar, hari itu adalah hari di mana dia akan datang ke perusahaan sebagai direktur utama dan menduduki kursi CEO. Namun, sepertinya dia malas untuk pergi, dan ingin tetap berada di rumah. Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering.

"Batalkan kedatanganku. Aku malas pergi hari ini," titahnya pada Haris.

"Tunggu, Tuan. Ada banyak dokumen laporan yang harus Anda tandatangani hari ini. Semuanya menumpuk di atas meja kerja Anda," ucap Haris melirik jam yang menggantung di dinding. Ia masih berada di rumah, sengaja menunggu kedatangan Denis.

"Biasanya kau bawa ke rumah, kenapa sekarang ditumpuk di sana?" protes Denis geram.

Haris berdecak, dia hanya ingin Denis datang ke perusahaan meninjau sendiri kantor miliknya.

"Mulai saat ini dokumen tidak bisa keluar kantor, Tuan. Silahkan datang ke perusahaan hari ini," ujar Haris sambil tersenyum puas.

Denis mendesah, kesal dengan sikap Haris yang menyebalkan pagi itu.

"Turun, bawakan aku pakaian. Aku di lantai tujuh gedung ini." Denis mematikan sambungan telepon beranjak dari tempat tidur dengan malas.

Secara kebetulan Larisa muncul dari dapur membawa dua piring makanan. Nasi goreng yang sudah lama sekali tak pernah singgah lagi di lidahnya. Niat hendak pamit akan pergi, urung.

"Ayo, duduk dulu! Maaf, hari ini aku hanya punya ini saja karena uangku sudah habis, tapi kau tenang saja besok setelah aku menerima uang gajiku aku akan menyediakan makanan enak di atas meja ini," ucap Larisa dengan ceria.

Bagaimana mungkin Denis menyia-nyiakan hal baik seperti itu. Larisa sudah dengan susah payah membuatkannya makanan, harus ia makan.

"Kau jangan terlalu repot seperti ini. Aku sudah terbiasa menyiapkan segala sesuatu sendiri, tapi terima kasih. Aku akan memakannya," ujar Denis yang kemudian duduk berhadapan dengan Larisa.

Sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap, baunya harum dan begitu menggugah selera. Air liur berkumpul dengan cepat di bawah lidah, tak sabar ingin segera memakannya. Kebetulan, dia belum sempat sarapan pagi itu.

"Maaf, hanya ada telur di atasnya. Apa kau tidak apa-apa?" Lagi-lagi Larisa merasa bersalah. Hal tersebut membuat Denis berpikir dia adalah seorang yang bertanggungjawab.

"Tidak masalah, ini sangat enak. Sudah lama sekali aku tidak memakan nasi goreng seperti ini. Kau makanlah," sahut Denis yang sudah menghabiskan beberapa suapan.

Sepertinya aku menyukai masakan gadis ini.

"Oya, ini kartu yang kau berikan waktu itu. Ambillah jika kau membutuhkannya, aku belum menggunakannya sama sekali," ucap Denis seraya meletakkan kartu yang waktu itu diberikan Larisa untuknya.

Gadis itu mendelik, menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Tidak-tidak! Itu untuk peganganmu." Larisa mengembalikan kartu tersebut kepada Denis. Merasa laki-laki itu lebih membutuhkan uang dari pada dirinya.

Denis tertegun, tak percaya istrinya itu masih memikirkan dia padahal baru saja mengatakan bahwa uangnya sudah habis. Denis menggaruk kepala yang tak terasa gatal sama sekali, memasukan kembali kartu itu ke dalam sakunya.

"Oya, hari ini aku harus pergi," ucap Denis setelah menenggak segelas air yang juga disiapkan Larisa.

"Kau akan pergi ke mana?" tanya gadis itu sembari menatap Denis.

"Aku ada wawancara pekerjaan di perusahaan Agata grup," jawab Denis sambil tersenyum.

Larisa membulatkan mata, kedua bibirnya terbuka lebar. Siapa yang tidak tahu perusahaan besar itu. Dengan seleksi yang ketat, tidak sembarangan menerima karyawan.

"Kau wawancara di perusahaan besar itu? Perusahaan terbesar di kota Metro ini?" pekiknya tak percaya.

Denis hanya menganggukkan kepala.

"Aku tak percaya. Perusahaan besar itu sangat ketat dalam memilih karyawan. Bisa masuk dan wawancara di sana itu sudah bagus. Aku do'akan semoga kau diterima di sana. Semangat!" Larisa terlihat bahagia, tangan kanannya mengepal memberi semangat kepada Denis.

Pemuda itu menggelengkan kepala, sungguh tak menduga reaksi sang istri akan sangat histeris.

"Kau sendiri bagaimana!" tanya Denis memperhatikan wajah Larisa.

Wajah gadis itu langsung muram seketika, menghela napas dalam seolah-olah beban di pundaknya begitu berat.

"Aku akan mengambil gaji terakhirku hari ini. Setelah itu aku akan mengundurkan diri dari perusahaan Mahendra. Aku sudah tak ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi dan akan mencari pekerjaan baru," jawab Larisa seketika wajahnya berubah sendu, tapi kemudian kembali tersenyum.

Denis tidak nyaman, dia merasa harus membantunya.

"Aku akan berbicara pada temanku di perusahaan itu untuk menerimamu di sana. Bagaimana?" tawar Denis.

Larisa kembali terbelalak, rasanya tak mungkin.

"Apa bisa?" pekiknya.

"Tentu saja. Serahkan padaku!" Denis menepuk dadanya.

"Baik. Terima kasih banyak."

"Jangan sungkan."

Terpopuler

Comments

Ari Kuswati

Ari Kuswati

adehhhhh ternyata nantinya.... bos q adalah suami q nih 😀😀😀

2025-02-15

0

riiina

riiina

gampang Larissa... serahkan pada bossnya...

2024-07-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!