Setelah keluarga Farhat pergi, keluarga besar itu melanjutkan menikmati makan siang yang tertunda.
Sementara itu, bi Ina mengantar Anabelle ke jalan lewat pintu samping, Anabelle hanya memberikan alamat sembarangan ke pada bi Ina agar tidak terjadi apapun di kemudian hari, kepada bi Ina.
Saat Anabelle hendak masuk mobil, Farhat bergegas mencegat taksi itu.
"Nak, kamu mau kemana, kenalkan Nama Om adalah Farhat, termasuk Paman mu, tadi Paman berdebat Sebastian, dan keluar dari sana setelah mendengar penjelasan mereka, Paman putuskan untuk tidak bergabung dengan mereka, kalau kamu mau, mari ikut dengan kami, ucap Farhat.
"Terimakasih tawaran nya, saya masih bisa hidup sendiri, dan tidak akan pernah muncul di hadapan keluarga kalian, aku sudah putus hubungan dengan kalian, jika andaikan darah ibuku tidak bercampur dengan ayahku, sudah pasti aku akan membuangnya.
"Tenang saja, kelak aku akan ingat tawaran anda Tuan, jika waktu pembalasan ku datang kamu dan keluargamu tidak akan ku ganggu, tapi besok pagi, perusahaan Samuel akan rata sebelum makan siang.
Berikan nomor telpon kamu, kelak saya akan menghubungi Anda, terimakasih, ucap Anabelle.
"BI Ina terimakasih banyak, kalau mbok Ijah tanya, bilang aku sudah pergi dari sini, ucap Anabelle.
"Pak sopir silahkan antar saya sesuai alamat, ucap Anabelle.
Mobil taksi itu mundur kemudian bergerak maju, dan 30 menit kemudian, Anabelle meminta sopir berhenti di depan gedung yang menjulang tinggi, padahal di aplikasi menunjukkan ke arah PIK 2, dari Pondok indah.
"Dek, ini masih jauh, Ucap sopir taksi on-line.
"Tidak apa-apa, turunkan saja saya didepan gedung itu, tapi masuk dalam pelataran nya, saya bayar sesuai pesanan, ucap Anabelle.
Dia memberikan uang 300 ribu dan bergegas turun, kemudian lanjut memesan taksi online lain lagi, dan hanya 5 menit, taksi itu datang.
Dengan Tujuan blok M, Rumah sederhana yang dimaksud Nenek Arimbi adalah Rumah di Menteng Jakarta Pusat, rumah tersebut di tempati 1 sepasang suami istri, mereka telah turun temurun menjaga rumah itu dari sejak Nenek Arimbi membeli nya yang saat itu zaman kolonial Belanda.
Model rumah tidak pernah di rubah, karena terus terawat, hingga membuat rumah itu tetap kuat, hanya atap dan plafon yang di ganti, begitu ada beberapa kali di plester ulang, bisa di katakan rumah itu 60% masih asli.
Nama pemilik Rumah itu hingga saat ini, masih sama, bahkan yang menjaga rumah itu masih sama, tinggal beda generasi, namun sekarang mereka sudah di beritahu bahwa bahwa rumah itu akan ditempati oleh pewaris nenek Arimbi.
Beberapa orang kemarin datang dengan membawa pakaian, kasur baru baru dan gorden baru, bahkan AC juga di ganti yang baru.
Dirumah Sebastian sudah tidak mengingat perbuatannya, begitu juga dengan Samuel, mereka makan dan bercanda, seolah dunia ini hanya mereka.
Para pelayan juga sudah bersiap mereka sudah memesan Tiket kereta api untuk keberangkatan besok hari, mereka tidak tahu Anabelle pergi kemana.
Setelah semua seluruh Sepupu Sebastian pulang, kini tinggal dia dan saudara kandungnya bersama ayah ibunya, mereka kemudian memanggil seluruh pelayan yang selama ini merawat Anabelle, para pelayan itu sudah siap apapun yang terjadi.
"Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian ? ujar Sebastian.
"Tidak tahu Tuan besar, jawab bi Ina.
"Saya harap kalian tidak berbicara masalah ini lagi, kepada siapapun, dan kesalahan kalian adalah kenapa anak itu bisa masuk keruangan ini? Ucap Sebastian.
"Nyonya Amara yang memerintahkan Nona Muda Anna, untuk kesini, saya dan yang lain sudah bilang bahwa Nona Muda Anna dilarang masuk ke sini, tapi Nona Amara membentak Nona Muda Anna dan kami, akhirnya Nona Muda Anna masuk, jawab bi Ina.
"Heh babu, aku mana tau ada aturan seperti itu, kalian saja yang bodoh hingga tidak bisa menjelaskan secara detil, sanggah Amara sekalian menghina para Pelayan.
"Sudahlah, bi Ina dan kalian semua, saya mempertahankan kalian karena masih ada anak itu dan saya hanya menghargai omongan terakhir ibunya anak itu, ini gaji kalian dan besok pagi silahkan pergi dari sini, Ucap Sebastian.
"Terimakasih Tuan, kami juga tau diri, Nyonya sudah meninggal dan juga Nona Muda Anabelle juga sudah pergi dengan tulang patah, jadi kami juga sudah memutuskan untuk berhenti, tidak usah berikan pesangon, besok pagi kami berempat pergi dari sini.
Nona Muda, tidak pernah protes dengan aturan kalian, dia juga tidak pernah berharap kalian mengakuinya sebagai anak atau saudara, dia juga tidak pernah mengutuk kalian, nama kedua kakaknya hingga dia pergi, dia tidak tahu, dia tidak pernah berkeinginan untuk masuk melewati pagar yang anda buat, dia selalu lewat samping jika mau jajan ke warung, jalan kaki lewat pos Security.
Dia tidak pernah bertanya kenapa dia tidak di sekolahkan, dia menuruti semua aturan yang ada, dia bahkan melarang kami menyebut dia Nona Muda, dan asal anda tau, dia selalu membantu memasak untuk kalian, menggosok baju kalian.
Tega anda sebagai ayahnya walaupun kamu menolaknya, setidaknya jangan di pukul seperti binatang, kami yang membesarkan nya, dia tidak pernah kami perlakukan kasar walau dulu dia sangat aktif.
Dan kalian berdua, semoga anak gadis anda tidak di perlakukan secara biadab oleh suaminya, ini ada uang 3 juta, jatah Sebastian, Nona Muda saya bilang ini untuk ganti bajumu.
Dan anda Sebastian yang terhormat, mungkin besok atau lusa, Nona Muda kami berkata, akan mengganti seluruh biaya yang anda berikan untuknya, dan sekantong darahnya, dan rambut nya, dia akan kirim, setelah itu, semuanya selesai, jikapun suatu saat dia jadi pengemis, dia tidak pernah datang menemui mu
Sebaliknya jika dia menjadi orang sukses, hancur nya keluarga ini di depan matanya dia tidak bergeming.
Kedua kakaknya yang tidak di kenalnya pun, di depan mata mau bunuh orang pun atau sarah di perkosa pun, dihadapan matanya, dia tidak akan menolongnya, karena tidak kenal.
Kalian berdua Gerpad dan Sarah, tak ada sedikitpun kalian memikirkan adik kalian itu? Tanya Bi Inah.
"Kami lupa kalau punya adik, dan kalaupun dia ada, dia hanya akan menjadi benalu di rumah ini, jadi untuk apa memikirkan nya, ucap Gerald yang juga di setujui Sarah.
"Baguslah, berarti Nona Muda ku tidak salah bertindak, saya yakin suatu saat kalian akan menyesal dengan. Apa yang kalian buat, permisi, malam ini juga kami keluar dari sini, ucap bi Ina.
"Baguslah jika kalian tau diri, dan jika ketemu dengan anak itu, bilang aku Samuel tidak pernah butuh uang receh seperti ini, dan kalian babu rendahan, pergilah dari rumah kakak ku, usir Samuel.
"Samuel, saya memang pembantu disini, tapi kamu punya anak haram dengan pelayan, dan bahkan 2 pelayan hamil secara bersamaan, istrimu juga tahu itu, tapi karena hartamu istrimu diam, jadi sembarangan menghina saya, karena kamu tidak pernah membayar tenaga saya.
"Ayo kita berangkat, ucap bi Ina dan kembali ke belakang, dan mengangkat koper mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
kok pembantunya berani ngomong bgitu ke bos nya???? kok masih aman kan keluarga biadab
2025-03-15
0
Sutono jijien 1976 Sugeng
belagu amat keluarga biadab
2025-02-18
0
Fifid Dwi Ariyani
trussemangst
2025-02-14
0