••
Dikamar Aldan heran melihat Alya yang mondar-mandir ntah mencari apa. Sedari tadi Aldan tanya juga enggan menjawab, hanya mondar-mandir membongkar semua barang.
“Heh, Tikus. Sebenarnya apa yang kau cari?” Tanya Aldan ntah yang sudah keberapa kalinya.
Sontak langkah Alya langsung terhenti, ia tersenyum tipis kepada Aldan yang menatapnya aneh. “Apa itu kaki sudah tidak sakit?” Tanya Aldan kala Alya duduk disamping nya.
Alya menggelengkan kepalanya, ia merasa kakinya sudah lebih baik. “Baguslah, sekarang tidur. Besok ada ujian akhir, hanya tinggal beberapa hari aja sekolah.” Ucap Aldan sembari mengobati lukanya sendiri disekitar wajah.
“Aku takut, kalau Rio dendam kepadamu.” Kata Alya disela Aldan sedang memberi obat luka disekitar area bibirnya. Pergerakan Aldan langsung terhenti, ia tersenyum tipis melihat wajah Alya yang kelihatan panik.
“Biarkan saja kalau dia dendam, aku selalu siap menghajar anak itu.” Respon Aldan cukup angkuh, tidak membuat Alya merasa tenang. Tapi, disebalik hati Alya yakin dengan kekuatan Aldan. Hanya saja Alya merasa tidak enak selalu merepotkan pria itu, mengingat banyaknya tanggung jawab yang harus Aldan kerjakan.
“Tapi, apakah tidak ada yang mau terimakasih denganku?” Tanya Aldan yang langsung membuat Alya terdiam. Alya mengerti dengan maksud pria itu, hanya saja Aldan mengartikan lain dari ucapan terimakasih.
“Sudah!”
“Ah masa hanya ucapan, tidak adil!”
“Jadi, maumu seperti apa, kecoa?” Tanya Alya yang kini saling tatap dengan Aldan. Tangan pria itu menunjuk pada bibirnya, Alya pura-pura tidak melihatnya.
“Apa?” Alya malah bertanya, membuat Aldan langsung berdecak kesal. “Bibirmu kenapa?”
“Minta di kokop,” Jawab Aldan cepat bahkan berhasil membuat Alya memukul lengan Aldan dengan sangat kuat. “Kenapa dipukul si? Benar minta kokop loh ini..”
Alya bangkit dari duduknya, ia tidak menanggapi semua permintaan Aldan yang aneh. Alya merangkak naik keatas kasur, berusaha mengabaikan semua ucapan Aldan yang aneh.
“Hem, Alya..” Panggil Aldan yang kini duduk berhadapan dengan Alya yang berbaring. “Aku ingin tanya satu hal padamu, sebenarnya banyak yang membuatku penasaran.”
“Tanya apa?”
“Apa kau pernah dicium Rio?” Pertanyaan Aldan membuat Alya langsung duduk. Tangannya bersedekap didada, ia menatap tajam Aldan yang seperti tidak merasa bersalah dengan pertanyaan anehnya.
“Menurut tuan muda Aldan bagaimana?” Alya malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan balik.
Aldan menatap intens Alya. “Sudah pasti belum, kalau sudah.. Rio tidak akan mengambil tindakan seperti itu.” jawab Aldan sembari menatap intens Alya yang saat ini menunduk.
“Al.. Kokop ya, bentar aja deh..” Pinta Aldan lagi, kali ini merengek membuat Alya sakit kepala.
•
•
Alya duduk di bangku kelas dengan wajah yang ditekuk serta rambut yang berantakan. Hadzel saja sampai terkejut melihatnya, ketahuilah keadaan Alya sungguh memprihatinkan saat ini.
“Astaga, itu rambut kenapa?” Tanya Hadzel sembari memberikan sisir yang selalu saja ia bawa kemana-mana.
Dengan bibir yang masih cemberut, Alya mengambil sisir itu dari tangan Hadzel. Didalam hati Alya tiada henti mengumpat Aldan yang sudah iseng saat berangkat sekolah tadi dengannya.
••** FLASHBACK AlYA **••
Alya tetap kekeh tidak mau naik sepeda motor bersama Aldan, karna bisa dikatakan Alya mengalami trauma tentang kemarin sore. Aldan terus memaksa Alya, bahkan sudah mau terlambat tapi Alya tetap kekeh tidak mau.
“Heh, tikus got!” Panggil Aldan yang langsung membuat Alya menatap kearahnya. “Cepetan, apa lagi, ha? Nanti terlambat ngomel lagi sama aku!” Omelan Aldan hanya mendapatkan helaan napas dari Alya.
Alya melengos saja, dengan tangan bersedekap didada Alya menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau naik sepeda motor jengat itu! Pinggang aku sakit, belum lagi kau ngebut bawanya.”
“Yaelah, sok cantik banget. Heh, tikus got. Jangan banyak drama deh, cepetan naik!” Perintah Aldan yang tak kunjung Alya patuhi.
Aldan memikirkan cara agar Alya segera naik, sebenarnya banyak mobil yang dimiliki keluarga Matthew. Hanya saja Aldan lebih merasa enak kalau naik sepeda motor, bisa pergi sebesas apapun.
“Alya anak yang manis..” Panggil Aldan dengan suara yang sangat lembut.
Sontak Alya langsung menatap kearah Aldan. “Aku janji, tidak akan ngebut. Sekarang cepetan naik, kita nanti terlambat.” Aldan menampilkan wajah yang bisa membuat seorang Alya Dexter yakin.
“Awas ya kalau bohong!”
“Iya tikus got, nggak akan deh.” Aldan memberikan helm kepada Alya. Dengan lugunya Alya memakai helm itu tanpa menaruh rasa curiga kepada Aldan.
Setelah memakai helm, Aldan membantu Alya untuk naik ke sepeda motornya. Lalu Aldan menyalakan mesin sambil melirik Alya yang tengah pegangan dengan pundak nya.
“Oke, sudah siap ini ya?”
“Hem, sudah.” Jawab Alya cepat, ia merasa yakin sekali jika Aldan tidak akan ngebut kali ini. Tapi, semua kepercayaan Alya hilang kala sepeda motor Aldan sudah melaju ke luar dari pagar utama.
Aldan menambahkan kecepatannya hingga membuat Alya serasa ingin terbang. Ia memeluk erat Aldan karna takut sekali jatuh, bahkan Alya memejamkan mata karna Aldan benar-benar gila mengemudikan motornya.
Hingga hanya memerlukan waktu yang singkat bisa sampai disekolah. Aldan tersenyum puas kala sudah parkir dipagar belakang. Alya turun dari sepeda motor dengan sempoyongan, Aldan tertawa melihat nya.
“Kau mabuk, tikus?” Tanya Aldan tanpa merasa bersalah.
Dengan perasaan yang sudah kesal Alya membuka helm itu, ia melempar helm itu kepada Aldan yang langsung menangkapnya. Hingga rambut Alya berantakan akibat tidak berhati-hati melepas helm.
“Aku salah telah mempercayai kecoa seperti mu!” Hardik Alya yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Aldan yang tertawa kencang.
••** FLASHBACK ALYA OFF **••
Alya menyisir rambutnya dengan bibir yang komat kamit membuat Hadzel tertawa. Sudah pasti sahabat nya mulai dari orok tahu siapa penyebab keadaan Alya seperti itu.
“Sudah deh nikmati aja, lagian sudah suami juga.” Ejek Hadzel yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alya.
Suara bel berbunyi, disaat itulah Aldan masuk bersama dengan Aldan. Aldan duduk di belakang Alya, ia sempat terkekeh kala melihat rambut Alya sudah rapi kembali.
Guru yang mengawasi ujian sudah masuk, guru itu tersenyum kepada seluruh anak murid. “Pagi.. Sekarang kita akan melanjutkan ujian terakhir, besok akan sebagai hari terakhir kalian di sekolah ini.” Ucap guru wanita tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Yuni Sbyi
waah mbacanya jadi tegang bingit ya ampun,,," ceritanya seru lanjut up kak/Good/💪💪
2024-06-20
2