Setelah mendapatkan kabar buruk itu dari Zea tanpa berpikir panjang lagi, Aldan memberi perintah kepada seluruh anggotanya untuk segera mencari markas genk motor Rio. Kini Aldan ditemani Liam mencari disalah satu tempat yang dicurigai mereka jika ada Rio disana.
“Aku sudah duga, jika pasti ada hubungan yang tidak biasa antara Alya dan Rio.” Ucap Aldan kepada Liam yang saat ini sedang memeriksa kertas-kertas berserakan dimeja.
Liam tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Aldan, ia merasa seperti markas ini baru saja di tinggalkan. “Aku yakin, mereka baru saja meninggalkan tempat ini.” Ucap Liam yang langsung membuat tangan Aldan mengepal erat.
Baru Aldan ingin bicara, ponsel Liam berbunyi. Dimana salah satu anggota mengatakan jika menemukan keberadaan genk motor Rio Gengster. Sontak Aldan dan Liam langsung menuju lokasi yang ditunjukkan. Sudah pasti sepanjang perjalanan Aldan merasa khawatir, ia takut terjadi hal buruk kepada Alya yang sekarang telah menjadi tanggungjawab nya.
•
Di jalan yang sepi, Aldan menghentikan sepeda motornya kala melihat Alya yang duduk dipinggir jalan. Hanya seorang diri, gadis itu menunduk dengan menutupi wajahnya. Mata Aldan mengelilingi jalan yang sepi, ia tidak ada melihat pasukan Rio satupun.
Alya bangkit kala mendengar suara sepeda motor, ia melihat Aldan yang menatapnya sangat tajam. Dengan sedikit pincang, Alya berjalan kearah Aldan. Dan tentu saja cara Alya berjalan membuat darah Aldan mendidih.
“Apa yang terjadi padamu?!” Tanya Aldan dengan intonasi yang tinggi. Suasana yang sepi membuat suara Aldan terdengar nyaring. Bahkan anggota yang lain pergi untuk mencari keberadaan Rio, mereka yakin kalau Rio pergi belum jauh.
Aldan turun dari sepeda motornya, hatinya merasa sakit kala melihat darah dilutut Alya. Sekalipun Aldan selalu suka membuat Alya menangis, tapi ia tidak pernah suka melihat Alya terluka seperti ini.
“Kau kenapa, Al?” Tanya Aldan kala Alya sudah berada tepat di hadapan nya.
Alya terduduk, ia menangis kencang membuat Aldan semakin emosi. Tangan Alya memegang luka di lututnya, lalu disekitar siku tangannya.
“Katakan, apa ini semua perbuatan bajinga* Rio itu?” Tanya Aldan penuh menahan emosi.
Tidak menjawab, Alya hanya diam dengan isak tangisnya. “A-ak-aku.. Ha-hampir di-di_” Suara Alya tercekat, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Alya berlutut di kaki Aldan, membuat Aldan langsung terkejut.
“Maafkan aku, Aldan.. Maafkan aku..” Alya memeluk kaki Aldan yang berusaha membuatnya bangkit. Jujur, Aldan belum mengerti dengan semua tangis dan arti kata maaf yang Alya maksud. Semakin Aldan bertanya maka Alya semakin menangis.
Aldan berusaha membuat Alya untuk bangkit, ia menghapus air mata Alya yang terus mengalir. “Tenanglah, jangan menangis lagi..” Aldan menenangkan Alya.
Tatapan matanya bertemu pada Liam. “Bawa Alya menuju markas, pastikan semua aman. Aku akan cari keberadaan bajinga* itu.”
“Baik, Bos.” Sahut Liam, Aldan menyerahkan Alya kepada Liam orang yang paling ia percaya. Tangan Alya tidak mau terlepas dari Aldan, ia terus menarik tangan Aldan untuk jangan pergi.
“Jangan pergi, tetaplah disini. Jangan pergi, aku mohon..” Pinta Alya disertai tangis histeris, ia memeluk Aldan sangat erat. Kemungkinan Aldan tidak akan bisa pergi, ia tidak mungkin meninggalkan Alya dalam keadaan seperti ini.
Bahkan tangis Alya semakin kencang dalam pelukan Aldan, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Aldan terkejut tentunya, ia langsung menggendong tubuh Alya yang sudah lemas tidak berdaya. Rasa dendam semakin besar di hati Aldan, ia akan memberi pelajaran tidak terlupakan kepada Rio yang telah berani bermain dengan emosinya.
“Cari dimana pria bajinga* itu berada, kalau tidak kalian temukan malam ini.. Jangan harap kalian bisa melihat besok pagi!” Perintah Aldan penuh ancaman, sontak anggota yang tersisa langsung melakukan tugasnya.
~
Aldan tidak mau mengambil resiko dengan membawa Alya pulang ke Mansion, ia membawa Alya menuju markas utama. Aldan telaten mengurus Alya, memberikan wangi-wangian sebanyak-banyaknya agar Alya segera tersadar dari pingsan nya.
“Apa Alya hampir saja diperkosa oleh mereka?” Tanya Aldan kepada Liam yang duduk tidak jauh darinya. Ntahlah, Liam tidak berani membawa apapun. Hanya diam menatap kasihan Alya yang masih juga belum sadarkan diri.
“Aku tidak pernah tahu seperti apa masalah pribadi, Alya. Aku mau besok bawa Hadzel menjelaskan semua ini.” Kata Aldan lagi yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari Liam.
Aldan menatap intens kepada Alya yang masih belum sadarkan diri. Ada begitu banyak pertanyaan dibenak Aldan kepada sang istri, apapun yang terjadi. Aldan berjanji tidak akan meninggalkan Alya, ia menerima semuanya kekurangan yang Alya punya.
Mata Alya perlahan terbuka, Alya langsung bangkit dari tidurnya. Ia menatap sekeliling dengan penuh ketakutan, hingga tatapan matanya bertemu dengan mata Aldan. Sontak Alya langsung memeluk Aldan, ia lega bertemu dengan pria yang merupakan suaminya.
“Katakan kepada ku, Alya. Apa yang sudah Rio lakukan kepadamu?” Aldan terus menuntut jawaban itu, ia tidak akan tenang sebelum Alya menjelaskan semuanya.
“Dia hampir memperkosa ku, aku kabur.. Aku dipukul Rio, dia selalu kasar kepadaku.” Alya mengadu kepada Aldan yang masih mencerna semua aduan itu dengan baik.
“Selalu kasar?”
“Sebenarnya Rio adalah mantanku, dia toxic, Aldan. Dia selalu memukul dan menyakiti tubuh dan juga hatiku. Dia tidak pernah puas melihatku bahagia, dia selalu menyakiti hidupku.” Alya jujur semuanya kepada Aldan, menurutnya tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.
Mata Aldan tertuju pada kancing dress Alya yang hilang sebanyak 3 kancing. Aldan langsung berdecak, ia membayangkan jika Rio telah melakukan hal yang tidak tidak.
“Aku minta maaf, tapi aku benar-benar belum disentuh oleh pria itu. Aku berhasil kabur, sekalipun tanganku terkena senjata tajam kala memberontak.” Alya menjelaskan yang sebenarnya. Ia tidak yakin apakah Aldan akan percaya atau tidak, ia pasrah saat ini.
“Aku masih suci, Rio tidak melihat seinci pun bagian tubuhku yang seharusnya milikmu, Aldan. Aku mengatakan yang sebenarnya, aku menjaga dengan baik tubuhku karna kau adalah suamiku.” Jelas Alya lagi.
“Tapi, yang kau lakukan bisa membuat mu mati, Alya!”
“Lebih baik aku mati, dari pada aku harus kehilangan mahkota ku dengan cara seperti tadi, Aldan..” Ucap Alya disertai isak tangisnya, ia tegas menyakinkan Aldan dengan segala perjuangan nya tadi.
“Aku percaya padamu, terimakasih sudah memperjuangkan itu untukku.” Ucapan Aldan membuat Alya menunduk, ia terkejut kala Aldan memasangkan jaket ditubuhnya.
“Tetap disini, aku akan beri pelajaran kepada pria tidak berguna itu.”
Alya ingin menghentikan langkah sang suami, tapi Aldan sudah berlalu pergi dengan langkah kaki yang sangat cepat. Tatapan mata Aldan tadi sungguh tajam, jujur Alya takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Aldan.
“Tenanglah, Alya. Aldan akan baik-baik saja, dia pandai menjaga diri. Malah dia tidak akan baik-baik saja jika membiarkan Rio tetap tenang, kau tetaplah disini.” Ucap Liam sembari bangkit meninggalkan Alya seorang diri.
Tatapan mata Alya penuh tertuju pada bayangan Aldan yang sudah tidak terlihat lagi. Disebalik hati Alya menyadari sifat Aldan yang cukup manly dalam menjaganya. Alya memegang jaket Aldan yang ada pada tubuhnya, ia tersenyum tipis kala mengingat semua yang telah Aldan lakukan untuk hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
😘Rahma_wjy😉 IG @rwati964021
🤣🤣🤣🤣🤣
hello guys mampir di novel ku juga ya😊😊
2024-06-28
2