Bahkan Aldan yang baru saja memasukkan seragam sekolahnya ke keranjang pakaian kotor seketika pergerakannya terhenti. Tangan Aldan berkacak pinggang, matanya mengelilingi kamar tapi tidak juga menemukan keberadaan Alya.
“Sepertinya tadi benar-benar suara si tikus?” Aldan bertanya-tanya sendiri.
Aldan melemparkan baju seragamnya begitu saja, ia melangkah maju menuju pintu kamar yang masih terbuka. Hampir saja Aldan bertelanjang tidak menutup pintu, ia takut kalau tiba-tiba saja Alya atau yang lain masuk. Tapi, kala tangan Aldan mendarat pada knop pintu untuk menutupnya ada sesuatu beban yang membuatnya tidak bisa melakukan itu.
“Heih.. Kenapa dengan pintu ini?” Aldan tidak menyerah, ia mengerahkan seluruh tenaga hingga akhirnya pintu kamar itu tertutup.
Mata Aldan membola sempurna kala melihat Alya yang berdiri disana dengan wajah cengengesan.
“Kau mengintip?” Tanya Aldan disertai wajah histeris nya bahkan tangannya menunjuk kearah Alya yang menggelengkan kepala.
“Sudah, Alya..” Tangan Aldan berkacak pinggang, ia terkekeh melihat Alya yang seperti kalah malu. “Kau sudah ketangkap basah, kau benar-benar mengintip ku berganti baju. Ck, kau benar-benar genit ternyata.” Sambungnya.
Sontak mata Alya langsung membola sempurna, ia tidak terima dengan penghinaan Aldan itu. Bahkan pria itu seperti tidak merasa bersalah dengan memfitnah Alya, malah sekarang terlihat santai melangkah menuju ruang ganti.
“Heh, kecoa!” Panggil Alya yang langsung membuat Aldan berbalik badan. Dengan tangan bersedekap didada, Aldan menatap Alya intens.
“Aku tidak ada mengintip..”
“Tapi, tadi kau mengatakan bahwa indah sekali tubuhku. Ayolah, Alya.. Jangan ngeles, kau sudah ketahuan.”
Alya semakin tidak terima, sekalipun memang benar kenyataannya ia mengagumi keindahan tubuh Aldan tadi. Tapi, bagi Alya ini merupakan harga diri yang bertaruh besar diatas segala-galanya.
“Aku memang ada mengatakan indah, tapi itu bukan tubuhmu. Melainkan..” Mata Alya berkeliling mencari alasan. Bahkan Aldan terlihat excited menantikan alasan apa yang akan Alya gunakan. “Itu… ha itu..” Tangan Alya menunjuk kearah cicak.
“Cicak?”
“Iya! Tadi cicaknya melakukan atraksi yang membuatku kagum. Bukan karna tubuhmu, jangan perasaan deh.” Alya tersenyum puas karna sudah menemukan alasan yang pas.
Tapi, Aldan Matthew tidak akan percaya begitu saja. Ia menatap Alya dari atas sampai bawah sembari melangkah maju mendekati Alya yang perlahan-lahan mundur kebelakang. Terus saja seperti itu hingga Alya mentok di dinding, Alya memegang jantungnya yang berdebar kencang.
Tangan Aldan memenjarakan Alya, hingga kemungkinan Alya tidak akan bisa kemana-mana lagi. Alya memejamkan matanya kala wajah Aldan berada tepat di samping nya. Aldan seperti mengendus aroma Alya, ia merasakan aroma vanilla yang cukup menyegarkan sarap pikiranya yang lelah.
“Hem.. Dia wangi sekali..” Gumam Aldan didalam hati. Ia beralih menatap Alya yang juga menatapnya, mata Aldan tertuju pada bibir merah delima itu.
“Aldan, ayo cium bibir itu!” Perintah jin putih.
“Jangan, tuh anak kodok. Nanti bibir kamu alergi cium gadis itu, Aldan. Sadarlah, dia musuhmu!” Timpal jin merah.
Aldan menggelengkan kepalanya menghilangkan semua perkataan jin itu. Ia kembali menatap tajam Alya yang menatapnya sendu. Hemburan napas mereka saling bertemu, Alya dapat merasakan aroma mint dari napas Aldan.
Ntah mendapatkan angin topan dari mana, tiba-tiba saja Aldan mengecup bibir Alya sekalipun hanya sekilas. Tapi, berhasil membuat Alya terdiam membeku. Alya tidak bisa berkata kata, ia hanya diam menatap Aldan yang sudah berlalu pergi sedikit menjauh darinya.
Tangan Alya mencari sesuatu, ia menemukan dompetnya di nakas yang ada di dekat nya. Tanpa banyak berpikir lagi, Alya melempar dompet itu hingga mengenai kepala Aldan.
“Awwwwsssss, sakit bocah!” Aldan melempar dompet itu balik tapi cepat-cepat Alya menghindar.
Alya hanya diam, ia mengepalkan tangannya erat sembari berdiri berhadapan dengan Aldan. Ia menatap tajam Aldan yang seperti sadar dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
“Yaelah, satu… Dua.. Tiga..” Dan ya.. Aldan menghitung.
Alya nangis kencang, ia bahkan terduduk di lantai dengan posisi kaki yang bergerak kesana-kemari. “Aldan.. Kenapa kau cium aku? Kenapa? Itu ciuman pertama khusus untuk suamiku nanti, kenapa malah kau ambil!” Alya tantrum.
Aldan tertawa kecil. “Udah lama juga kau tidak tantrum, lagian Alya Dexter.. Sadarlah, aku ini suamimu sekarang. Kau sudah tepat memberikan ciuman itu kepadaku, tidak salah sasaran.” Ucapan Aldan membuat Alya semakin menangis. Ia mengamuk tentunya, melempar barang-barang kearah Aldan yang terus saja menghindar.
•
Terus saja seperti itu hingga akhirnya Alya tenang sendiri, ia ngos-ngosan sambil menatap Aldan yang baru saja mandi. Sudah pasti tatapan Alya sungguh penuh permusuhan kepada Aldan yang merasa tidak bersalah.
“Sudahlah, cepat ganti baju. Sekarang makan biar semua ini pelayan yang bereskan.” Perintah Aldan tidak digubris oleh Alya.
“Alya, denger tidak? Kau ini tidak pernah patuh kepada suamimu.”
“Ck, suami macam apa?” Alya malah bertanya seperti meremehkan seorang Aldan. “Kau suami terpaksa ku!”
“Bodoamat! Intinya tetap suami mu, mau dunia ini dibalik balik juga.. Aku tetap suamimu, jangankan ciuman.. Lama lama juga seluruh tubuhmu itu milikku.” Ucap Aldan dengan sangat tegas.
Karna Alya tidak menjawab apapun, Aldan berlalu pergi keluar kamar. Ia harus melanjutkan pelajaran nya, membiarkan Alya seorang diri di kamar dengan barang-barang yang berantakan itu.
Kepergian Aldan membuat Alya menangis kencang, ia belum menerima takdir ini sebenarnya. Alya masih menyayangkan ciuman pertamanya yang direnggut oleh Aldan tanpa permisi.
“Padahal aku membayangkan jika memberikan ciuman pertama ini untuk pria yang aku cinta.. Bukan yang aku benci.” Alya terus mengatakan itu sedari tadi.
•
•
Jika Alya terus tantrum menangisi ciuman pertamanya, lain dengan Aldan yang terus saja tersenyum manis sedari tadi. Bahkan Fahdi saja sampai heran melihat Aldan yang terlihat semangat sekali hari ini.
“Hem, tuan muda.. Hari ini suasana hatimu cukup baik ya.” Tanya nya.
Tatapan Aldan yang tadinya fokus dengan laptop, seketika menatap penuh kearah Fahdi yang terlihat penasaran. “Lagi semangat, jangan banyak tanya.” Respon Aldan membuat Fahdi tertawa kecil.
“Thena anakku, dia akan pulang sebentar lagi.” Ucapan Fahdi membuat aktivitas Aldan terhenti. Ia langsung menutup laptopnya begitu saja, ia meletakkan laptop di meja.
“Kapan?”
“Saat kalian lulus nanti, sekarang dia lagi menekuni beasiswa.” Jawab Fahdi cepat, ia tidak menyangka kalau Aldan masih ingat dengan putrinya.
Aldan terlihat berpikir sebentar, ekspresi nya tidak tertebak. Aldan kembali fokus dengan laptopnya, ia tidak mau berpikir macam-macam mengingat sudah ada Alya didalam hidupnya sekarang.
“Masalalu biar masa lalu, Aldan. Ingatlah, seperti apa cara Thena menyakiti hidupmu.” Gumam Aldan didalam hati.
“Kak..” Panggil Zea, ia datang bersama dengan Alya yang sudah berpakaian rapi dengan dress berwarna biru muda. Tatapan Aldan tertuju kepada Alya bukan kepada sang adik.
“Ada apa?” Aldan merespon sembari meletakkan laptopnya dan mengambil satu buku tebal.
“Masih lama belajar nya?” Tanya Zea dengan tangan menggandeng tangan Alya erat. “Kelihatannya masih lama ya? Kami mau minta antar ke Mall, ada yang mau Zea cari di toko buku.”
“Pergi sama pak supir aja deh, Kakak sibuk. Tapi, kalian jangan centil disana. Pulang sebelum malam, kalau terlambat..” Jantung Zea dan Alya dagdigdug menantikan ancaman apa yang akan Aldan katakan.
“Kalau terlambat apa? Aisss, kau ini lama sekali!” Celetuk Alya yang langsung membuat Aldan tersenyum puas, memang itu yang ia nanti. Yaitu, omelan Alya.
“Kalau terlambat aku akan mengajak Liam untuk memporak-porandakan Mall yang kalian datangi.” Ancaman Aldan berhasil membuat nyali Alya dan Zea menciut.
“Kalian paham tidak?”
“Paham, bos!” Jawab Zea dan Alya secara bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Nayla dwi Dwi
seruùu
2024-06-18
0
Yuni Sbyi
wah gawat niih..,ada yang mau main main niih sama aldan, mau mengganggu wanita nya aldan,jadi aldan udah ngaku in kalo Alya wanitanya🥰🙄
2024-06-18
2