Aldan terbangun dari tidurnya kala merasakan cipratan air diwajahnya. Dengan mata yang masih sangat mengantuk Aldan membuka matanya perlahan. Pertama kali yang ia tatap adalah Alya yang sudah rapi memakai pakaian sekolah.
“Bangun..”
Sontak Aldan langsung tersadar, ia duduk tegak karna terkejut. Mata Aldan menyeluruh kamar, ia baru sadar jika sekarang Alya adalah istrinya.
“Kenapa?” Tanya Alya sembari melempar handuk kepada Aldan yang terlihat terengah-engah. Pria itu seperti habis bermimpi buruk kalau dilihat dari ekspresi wajahnya.
Aldan hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alya, malah termenung menatap lantai.
“Aldan, cepatan! Ini hari senin, ada upacara. Aku nggak mau terlambat seperti yang biasa kau lakukan!” Alya terus mengoceh kepada Aldan yang masih termenung.
“Aldan!” Alya geram karna Aldan seperti tidak mendengar apa yang dia oceh kan. Tidak ada pilihan lain, Alya menarik tangan Aldan untuk bangkit dari duduknya.
“Ihh.. Apaan si, bocah?!”
“Apaan? Lihat, sudah hampir jam tengah delapan. Nanti terlambat, aku nggak mau ketinggalan upacara.” Ocehan Alya membuat Aldan sakit kepala.
“Cepat Aldan, mandi sana..” Alya mendorong tubuh jangkung Aldan menuju bathroom. Aldan pasrah saja, padahal seperti biasanya ia akan berangkat sekolah lebih lama lagi. Semenjak ada Alya, ternyata ia harus secepat ini bersiap-siap sekolah.
Sang suami lagi mandi, maka Alya sibuk bebenah hal lain. Ia menyusun buku di tasnya sendiri dan juga tas Aldan, tak lupa pula membawakan minum untuknya dan juga untuk Aldan. Ia menyiapkan hal yang sama seperti kebutuhan nya, tanpa izin sama sekali dengan pria itu.
Alya turun dengan tangan menenteng tas nya dan juga Tas Aldan. Ia ingin sarapan pagi bersama dengan mertua dan adik ipar.
“Sayang, ayo cepat sarapan..” Ajak Claudia sembari menata kebutuhan Zea.
Jujur, Alya iri melihat Claudia yang sangat perhatian kepada Zea. Karna ia tidak mendapatkan hal seperti itu dari Dara, sang ibu selalu sibuk dengan aktivitas sebagai wanita karir hingga Alya terlahir mandiri mengurus semuanya sendiri.
~
Alya duduk disebelah Zea, baru saja mendaratkan bokongnya piring Alya sudah disajikan roti selai oleh Claudia.
“Terimakasih, Bunda..” Ucap Alya sembari menikmati roti selai itu. Claudia mengangguk, ia menata bekal yang sama untuk Alya juga.
“Ini kamu makan saat jam pelajaran kosong, mana tau kamu mager mau ke kantin.” Kata Claudia, jujur ini pertama kalinya Alya diperhatikan seperti ini.
“Bunda, tidak perlu repot-repot sebenarnya..”
“Nggak ada yang repot, kamu itu anak bunda sama seperti Zea dan Aldan. Jadi, jangan segan dengan bunda ya, sayang..” Ucap Claudia sembari mengecup pucuk kepala Alya dengan penuh kasih.
Alya tersenyum manis, ia sambil makan memperhatikan Claudia yang menaruh bekal itu di tasnya. Hingga tatapan mata Alya tertuju pada Aldan yang menuruni tangga sembari memakai dasi sekolah.
“Heh, bocah tantrum. Sudah selesai belum?” Tanya nya, malah terlihat heboh seperti seseorang yang menunggu sedari tadi.
“Kamu nggak sarapan, kak?” Tanya Claudia, sebenarnya sudah hal biasa jika Aldan tidak menyempatkan waktu untuk sarapan.
“Nggak, Bun.. Sudah nggak keburu lagi.” Jawab Aldan sembari mengambil tas nya yang tergeletak tidak jauh dari meja makan. Kedua alis Aldan mengernyit karna beban tas yang tidak seperti biasanya. “Kok berat banget?”
“Ayo, kecoa.. Yaelah, lama banget loh.” Alya menarik tangan Aldan untuk segera berangkat. Hingga Aldan tidak sempat memeriksa apa isi tas nya, ia tidak mau Alya me ngomel jika terlambat nanti.
•
Alya saling tatapan tajam dengan Aldan, pria itu sudah naik ke sepeda motor dengan tangan memegang helm.
“Apa lagi, Alya.. Cepatan naik, nggak ada waktu lagi.” Sudah beberapa kali Aldan mengatakan itu. Tapi, Alya tak kunjung juga naik ke sepeda motor nya.
Mata Alya memicing melihat sepeda motor Aldan, ia tidak terbayang akan duduk disana selama menuju perjalanan sekolah.
“Kenapa nggak naik mobil aja si?” Tanya Alya dengan tangan bersedekap didada.
Aldan menghela napas panjang. “Aku ada kegiatan nanti sepulang sekolah, tidak sempat kalau harus bawa mobil.” Jawab Aldan jujur apa adanya.
“Lagian nggak usah lebay gitu, kalau gunung kembar mu nempel.. Aku nggak akan tergoda!” Aldan mempertegas semuanya membuat Alya langsung melengos tak suka.
Kenapa juga Aldan mengerti kebimbangan hatinya, issssss.. Alya jadi kesal sendiri.
“Sudah, cepatan naik! Nanti terlambat ngomel sama aku, padahal dia yang lelet.”
Alya pasrah, ia merebut helm dari tangan Aldan. Lalu, naik dengan memegang pundak Aldan. “Aku bisa pegangan sama pinggang mu tidak? Aku takut jatuh..” Alya permisi karna tidak mau dianggap lancang.
“Terserah, aku juga suamimu. Kenapa juga harus permisi, kaya sama siapa aja.” Jawaban Aldan membuat Alya tanpa sadar tersenyum tipis. Pelan-pelan tangannya memegang pinggang Aldan, barulah Aldan menyalakan sepeda motornya.
Aldan melaju dengan kecepatan sedang, ia takut Alya malah ketakutan nantinya. Karna Aldan yakin jika ini pertama kalinya Alya merasakan naik sepeda motor memasuki area jalan raya. Sepanjang perjalanan Alya terus memerhatikan jalanan yang terlewati, jujur ia menikmati perjalanan pagi ini.
Hingga sepeda motor Aldan berhenti di pagar belakang, Alya heran dengan itu. Ia turun sembari melepas helmnya, memberikan helm itu kepada Aldan.
“Kenapa kita turun disini?” Tanya Alya sembari melihat Aldan yang memarkirkan sepeda motornya di antara sepeda motor yang sama seperti milik nya.
“Aku kalau parkir memang disini, dalam pagar itu ada kantin markas ku.” Jawab Aldan jujur apaadanya. “Kalau dari depan, kita sudah terlambat. Tidak akan bisa masuk, jadi kita harus dari belakang.”
Alya sadar akan itu, hanya saja ia tidak melihat pintu yang bisa membuat mereka masuk kedalam sekolah.
“Dengan cara?”
“Manjat pagarlah, apa lagi..” Jawab Aldan cepat, sontak Alya ternganga. Tidak pernah terbayangkan dibenaknya memanjat pagar, Alya tidak pernah melakukan itu seumur hidup nya.
Seolah tidak perduli, Aldan mengarahkan Alya untuk segera manjat.
“Cepetan!” Aldan sudah tidak sabar melihat pergerakan Alya yang lambat.
Alya seperti kebingungan, ia kesulitan karna tubuhnya yang pendek. Aldan yang berkacak pinggang hanya bisa menghela napas panjang saja. Mau tidak mau ia harus menggendong Alya.
“Nyusahin tau nggak!”
Dikatain seperti itu oleh sang suami, Alya hanya menunduk pasrah. Hingga tiba-tiba saja Alya dikejutkan dengan tangan Aldan yang melingkar di pinggang nya. Dengan begitu mudahnya Aldan membawa Alya melompat pagar. Hingga Alya kini memeluk erat Aldan, ia takut sekali terjatuh atau tersungkur nantinya.
“Sudah, gitu aja nggak bisa.” Aldan melepaskan rangkulannya. Ia menatap kearah Alya yang terlihat masih tidak menyangka akan apa yang telah ia lakukan.
“Ayo cepetan anak tikus, keburu upacara selesai.” Ajak Aldan sembari melangkah terlebih dahulu, Alya mengikuti langkah cepat Aldan dari belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
merry jen
lucuu bgtt dechh lkii bini mshh PD sklhh ,,tp Al dwsaaa wlpun jail SM Alya hehehe
2024-08-08
0
Siti Khoyimah
ank tatrum,ank kecoa,ank tikus ,nnti ank hewan apa lgi yg di sebutin untk alya
2024-07-05
1
Nurwana
makanya Aldan... jangan jahat jahat sama Alya. jadi jodoh mu kan....
2024-06-24
3