Tengah malam Alya terbangun dari tidurnya karna mendengar suara yang aneh. Ini malam kedua Alya tinggal di Mansion Matthew, tentu saja Alya belum bisa tertidur lelap karna masih belum merasa nyaman. Alya melihat sekeliling kamar yang sepi, ia baru sadar jika Aldan belum pulang sampai seluruh malam ini.
“Tu orang main kemana? Jam segini belum pulang, sebaiknya aku aduin sama Ayah dan bunda.” Ucap Alya sembari menyanggul rambut panjang nya.
Perlahan Alya turun dari atas tempat tidur, menghabiskan satu gelas minum yang sengaja ia bawa tadi malam. Alya berjalan perlahan menuju luar kamar, kala membuka pintu pandangan Alya tertuju kepada salah satu ruangan yang lampunya menyala.
Kedua alis Alya mengernyit, ia merasa aneh dengan itu. “Bukannya itu ruangan kosong, kok lampunya nyala?” Alya bertanya-tanya sendiri. Untuk memecahkan rasa penasaran, Alya memberanikan diri menuju ruangan itu.
Semakin dekat langkah Alya ke ruangan itu, telinga Alya mendengar suara ketikkan. Seperti seseorang yang sedang mengetik, Alya semakin penasaran. Kebetulan pintu ruangan tidak terkunci, malah terdapat celah yang bisa membuat Alya melihat ada apa di ruangan itu.
Ternyata di ruangan itu ada Aldan dan Aslan yang seperti sedang mengerjakan sesuatu.
“Kamu ini bagaimana si Aldan? Ayah sudah bilang, tinggalkan hobi kamu itu.. Fokus sama Perusahaan, karna ini masa depan kamu.” Hardik Aslan sembari melempar pulpen kearah Aldan yang menunduk.
Ntah kenapa Alya menjadi merasa kasihan melihat Aldan diperlakukan seperti itu.
“Ayah malu tahu, semua anak teman ayah sudah bisa melalukan tugas saham Ayahnya. Kalau kamu, taunya malah buat ulah dengan genk motor kamu itu.” Omel Aslan lagi yang membuat Aldan kini mendongak menatap sang ayah.
“Ayah.. Aldan juga ingin menjalankan hobi dan juga tanggungjawab. Selama ini, Aldan hanya baru melakukan kesalahan ini saja. Tapi, ayah berbicara seolah Aldan sering melakukan kesalahan.” Aldan protes, ia menatap tajam sang ayah yang juga menatapnya tak kala tajam.
“Aku kesulitan membagi waktu, Ayah.. Banyak hal yang harus Aldan tanggungjawabi padahal sudah jelas itu bukan tanggungjawab Aldan!” Protes nya lagi.
Aslan terdiam. “Ayah tidak tahu seperti apa usaha Aldan selama ini, ayah hanya tau ngungkit dan menyalahkan_”
“Diam kamu! Kamu berhak apa berbicara seperti itu kepadaku, ha?!” Sela Aslan diselingi bentakkan membuat Alya langsung tersentak.
“Kamu yang salah, kamu yang tidak bisa menerima situasi. Sekarang ayah mau kamu tetap ada kelas dengan Farid, setiap kinerja kamu akan ayah perhatikan.” Perintah Aslan seperti enggan terbantahkan.
Aldan hanya diam, kediaman itu dianggap persetujuan oleh Aslan. Alya dapat melihat Aslan yang mau keluar dari ruangan itu, ia langsung bersembunyi dibalik lemari yang kebetulan ada didekat sana. Lemari kaca yang berisi berbagai perabotan mahal.
Kepergian Aslan membuat Alya menghela napas lega, ia melihat Aldan yang juga keluar dari ruangan itu. Terlihat sekali raut wajah Aldan seperti seseorang yang tidak mau diganggu, Alya jadi ragu untuk menyapa pria itu.
•
Sesampainya di kamar, Aldan langsung duduk disofa. Ia melempar dokumen yang ia bacakan tadi dengan Aslan. Mata tajam Aldan menatap dokumen itu, ia menghela napas panjang kala mengingat setiap perkataan sang ayah tadi.
Aslan memang cukup tegas dan keras dalam mendidik nya. Semua ini semakin lebih keras kala Aslan diagnosis sakit jantung parah, mau tidak mau Aldan yang masih berusia muda harus terjun memahami saham yang cukup sulit bagi anak seusianya.
Mata Aldan tertuju kepada tempat tidur, ia heran karna tidak ada Alya disana.
“Lah, kemana tu bocah?” Aldan ingat sekali jika tadi sebelum membicarakan soal pekerjaan ia sempat melihat Alya tertidur pulas.
Tentu saja Aldan menjadi panik, ia bangkit untuk mencari keberadaan Alya. Tapi, baru melangkah satu langkah.. Pintu kamar terbuka, terlihat Alya yang masuk kedalam kamar dengan tangan membawa segelas susu.
“Kau dari mana?” Tanya Aldan dengan tangan berkacak pinggang. Ia menatap Alya dari atas sampai bawah, ia benci karna Alya sudah membuat nya sempat panik tadi.
“Aku dari bawah buat susu, lagi nggak bisa tidur.” Tentu saja jawaban Alya bohong, ia tidak mau memberitahu Aldan apa yang ia lihat tadi.
Aldan kembali duduk di sofa, ia terlalu lelah untuk menanggapi Alya lagi. Dan disaat itulah Alya menyusul ikut duduk disebelah Aldan, ia merasa kasihan dengan pria yang ber notabene suaminya itu.
“Hem, Kau belum ada tidur ya?” Tanya Alya sambil melihat jam yang menunjukkan pukul 04:00 pagi.
“Aku jarang tidur malam, insomnia.” Jawab Aldan cepat yang tentunya itu bohong. Sebenarnya Aldan ingin sekali tidur cepat, tapi semua tanggungjawab ini membuat jatah tidurnya berkurang.
Alya menjadi kasihan dengan sang suami, ia tahu kalau Aldan lagi berperang dengan rasa ngantuk. Wajar saja Aldan selalu tertidur dikelas, ya karna kurangnya waktu tidur malam.
Bahkan posisi duduk saja Aldan tertidur pulas, dengan tangan menopang wajah tampannya. Alya merasakan kedamaian kala melihat Aldan tertidur, wajah tampan yang ngeselin itu terasa menghangatkan hati Alya.
Pelan-pelan Alya bangkit dari duduknya, ia tidak mau ada satu pergerakan nya yang bisa membangunkan Aldan dari tidurnya. Alya mengambil selimut kecil, ia menyelimuti tubuh Aldan agar tidak merasa kedinginan.
“Sudah..” Alya tersenyum manis kala selimut itu sudah terpasang rapi. Tiba-tiba senyum itu memudar kala Alya menyadari kepedulian nya terhadap Aldan. “Apa yang kau lakukan, Alya?!!” Alya mengumpat dirinya sendiri.
Dengan sedikit bergidik Alya melangkah cepat menjauhi Aldan, ia merasa geli karna sudah perhatian kepada pria itu.
“Ck, kalau dia tahu.. Bisa mati malu aku.”
Suara pintu diketuk membuat Alya terkejut, ia langsung cepat-cepat membuka pintu takut kalau suara pintu diketuk bisa membangunkan Aldan dari tidurnya.
“Ada apa?” Tanya Alya kepada seorang pelayan yang terlihat membawa pakaian.
“Tadi saya melihat nona sudah bangun, jadi ini mau memberikan seragam sekolah yang sudah saya siapkan.” Ucap pelayan itu, Alya menerima lipatan seragam itu dengan senyuman terbaiknya.
“Terimakasih, Bi..” Pelayan itu berlalu pergi.
Alya menutup pintu penuh hati-hati, ia melihat seragam nya dengan seragam Aldan yang berada di lipatan yang sama. Senyuman tipis terbit di wajah Alya, ia tidak menyangka akan berada di posisi ini dengan Aldan, pria nakal serta jahil yang pernah ia temui seumur hidup nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Adit monmon
🤣🤣
2024-06-12
3