Dan kini Alya ditemani oleh Zea untuk mencari keberadaan Aldan yang mungkin masih bersembunyi di toilet. Alya terlihat biasa saja lain dengan Zea yang kelihatan panik melebihi apapun.
“Kok bisa si, Kakak lupa sama Kak Aldan? Nanti kalau dia mati didalam toilet sana gimana?” Tanya Zea penuh histeris.
Alya ingin tertawa sebenarnya melihat kekhawatiran Zea kepada Aldan. Tapi, ia tidak tega. “Nggak mungkin Kakak kamu mati, Zea.. Dia sudah dewasa dan juga anak yang sehat, bukan anak spesial.” Perkataan Alya dibenarkan oleh Zea. Seketika kekhawatiran itu hilang, tergantikan dengan senyuman manis.
Wajar saja, Zea masih anak SMP yang labil sekali. Mood nya terkadang membuat Alya yang baru saja beberapa jam bertemu, sudah kewalahan. Alya terus membawa Zea memasuki area toilet dimana ia menyembunyikan Aldan tadi.
Kala berada di lorong tiba-tiba saja tangan Alya ditarik seseorang. Alya menjerit kecil, bibirnya dibungkam oleh tangan. Alya merasa telah diculik, ia memejamkan matanya karna takut dengan kejadian buruk yang menimpa.
Tapi, kala membuka mata Alya melihat Aldan yang tersenyum sinis padanya. Kedua tangan Aldan memenjarakan nya, hingga Alya terkurung tidak bisa kemanapun.
“Aldan!”
“Apa ha?! Hampir aja aku mati digebukin cewek-cewek tadi. Bisa-bisanya sembunyi di toilet wanita, Emang rada gila ni anak!” Aldan terus mengomel kepada Alya yang terkekeh.
Sementara Zea hanya diam berdiri menyaksikan pasangan itu adu tatapan siapa paling tajam. Terlihat sekali Aldan seperti tidak terima semua atas perlakuan Alya, ia terlihat sedang memikirkan balas dendam yang akan membuat Alya jera mengerjai nya.
“Aku tidak ada maksud mengerjai mu tadi, seriusan!” Alya menyakinkan Aldan yang terlihat tidak percaya sama sekali dengan apa yang ia katakan.
Alya tidak perduli, ia terus menjelaskan semuanya kepada Aldan. Bibirnya terus mengomel hingga membuat Aldan pusing sendiri. Aldan memikirkan cara Alya berhenti bicara, telinganya sudah panas seharian ini mendengar ocehan Alya Dexter.
Tanpa permisi tangan Aldan mendarat pada bibir Alya, mengunci bibir Alya agar tidak bicara lagi.
“Ya masa berhentiin nya dengan cara itu, Kak? Kalau Zea sering nonton di drama Korea, dicium gitu..” Celetuk Zea yang langsung membuat Aldan dan Alya saling tatap satu sama lain.
Ntah apa maksud tatapan itu, hanya saja Alya tidak terima dengan saran Zea. Tangan Aldan masih membungkam bibirnya, bahkan Aldan masih menatapnya. Alya geram sendiri, ia menggigit tangan Aldan hingga pria itu menjerit kesakitan.
“Awwwwsesss, sakit..” Tangan Aldan memerah tentunya, ia menatap tajam Alya yang terlihat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Bahkan bercermin memastikan penampilannya masih rapi.
“Gadis gila tukang tantrum!” Ejek Aldan sembari menyempatkan mengusap usap pucuk kepala Alya hingga rambut yang rapi itu berantakan.
“Ihhh.. Aldan!” Alya kesal, ia ingin menginjak kaki Aldan. Tapi, pria itu sudah berlalu pergi dengan sedikit berlari.
“Kakak mau kemana?” Tanya Zea, Aldan menghentikan langkahnya. “Mau ke Markas, kamu bawa gadis gila itu pulang. Nanti dia gigit orang, bahaya bisa rebies!” Aldan menjawab dengan sedikit berteriak.
Dikatakan seperti itu pria kecoa membuat emosi Alya naik menjadi lebih tinggi.
“Dasar kau, kecoa! Cowok sarap!” Teriak Alya tidak perduli dengan orang-orang yang menatap kearah nya.
“Kak, beneran?” Tanya Zea dengan takut-takut. Dengan berkacak pinggang Alya menatap kearah adik iparnya, “Beneran kalau Kakak itu rebies?”
Alya ingin pingsan tentu saja, bisa-bisanya Zea percaya dengan semua omong kosong Aldan. “Nggak, Zea.. Rebies hanya untuk binatang, apa kamu kira aku ini binatang? Apa menurut mu aku ini mirip binatang?” Tanya Alya dengan nada yang sedikit dipaksakan untuk berbicara lembut.
Zea menggelengkan kepala, ia menjadi merasa bersalah. Akibatnya Zea menunduk, ia takut juga kalau Alya marah.
Alya menghela napas panjang, ia benci kalah telak dari Aldan Matthew. Alya bersumpah akan balas dendam, apapun Aldan harus mendapatkan ganjarannya.
“Jangan panggil aku, Alya Dexter.. Kalau nggak bisa membuat tu kecoa.. Pingsan, lihat aja!” Gumam Alya didalam hati.
Zea takut sendiri melihat ekspresi Alya yang tertawa dan bahkan tersenyum sendiri. Ia membenarkan ucapan Aldan, jika Alya sedikit memiliki gangguan.
“Ihhhh mengerikan, kalau mereka punya anak.. Jadi apa anak Kak Aldan dan Kak Alya yaaa?” Zea malah bertanya tanya sendiri.
•
Aldan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin menenangkan diri dari semua masalah yang datang bertubi-tubi. Dimulai dari kewajiban nya sekarang yang harus memahami soal saham, tidak hanya itu tapi juga menikah dengan musuh abadinya.
Kepala Aldan semakin sakit memikirkan itu semua, ia ingin bersantai dengan teman-temannya. Mobil Aldan berhenti di sebuah Markas, dimana anak-anak anggota genk Matthew Angel beristirahat serta berkumpul ditempat itu.
“Dari mana aja, Pak ketua?” Sapa Liam yang tengah menikmati batang rokok dengan penuh penghayatan. Pria itu duduk di bawah pohon dengan bangku dari berbahan kayu.
Dengan tangan menenteng kunci mobil, Aldan menuju Liam. Merebut bungkus rokok dari pria itu, lalu ikut merokok di samping Liam yang terus menatap nya.
“Anak-anak pada kemana?” Tanya Aldan, ia heran melihat Markas yang sepi.
“Mereka lagi nggak datang, mungkin besok. Jangan bilang Lo lupa, kalau besok ada tanding balap dengan sekolah lain?”
Sontak Aldan langsung membuang batang rokok itu, bahkan Aldan baru ingat dengan hal sepenting itu.
“Ini ketua melawan ketua, Aldan. Lo jangan sampai kalah, malu genk motor kita..” Ucapan Liam dibenarkan oleh Aldan.
“Tenang aja, datang gue besok. Siapin aja motor untuk eksekusi nanti, nggak akan ada yang bisa mengalahkan Aldan Matthew.” Ucap Aldan diselingi senyuman bangga nya.
Liam tersenyum setuju, Aldan memang selalu menang. Tidak ada yang bisa mengalahkan Aldan selama ini, kekuatannya cukup diakui di era anak SMA.
“Besok gue cari kodok tidak?” Tanya Liam kepada Aldan yang tengah memakan gorengan yang Liam beli tadi.
Aldan baru ingat, ia memang sengaja menyuruh Liam dan anak-anak untuk mencari kodok. Sengaja untuk mengerjai Alya, itu adalah aktivitas pagi yang harus ia lakukan setiap hari.
“Tentu aja Lo harus cari kodok, kalau perlu dua bijik. Gue mau balas dendam sama tu orang, sebel banget sumpah!”
Liam mengangguk mengerti, dengan senang hati Liam akan melakukan semua permintaan Aldan. “Hati-hati, sering nangisin anak orang.. Nanti malah jadi jodoh.” Ucap Liam diselingi tawa nya.
Aldan yang tengah menikmati bakwan langsung terdiam, susah payah ia menelan kunyahan bakwan itu. Yang dikatakan Liam itu benar, sekarang Alya benar-benar telah menjadi istri nya.
“Ck, aku benar-benar sudah terkutuk.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments