Aldan tidak mengerti kenapa juga Alya menyuruhnya untuk bersembunyi. Tentu saja Aldan menggelengkan kepalanya, ia sudah cukup lelah menghadapi mood Alya hari ini.
“Jangan ngaco deh, Al..”
Alya kesal karna Aldan tidak percaya dan malah sekarang duduk santai menikmati udara di dalam restoran. Alya tidak ada pilihan lain, selain memaksa pria itu untuk bersembunyi. Karna teman-teman sekelas sudah melangkah lebih dekat menuju Restoran.
Tanpa permisi Alya langsung memaksa Aldan untuk bersembunyi menuju toilet. Ia tidak mau Hadzel melihat jika dirinya sedang makan bersama dengan Aldan. Kalau ada seseorang saja yang melihat, Alya yakin besok satu sekolah akan heboh.
“Apaan si?!” Aldan tidak mau, tapi Alya tetap memaksa nya untuk bersembunyi. “Alya!”
“Kau tetap disini, ada teman-teman ku. Aku tidak mau mereka curiga dengan hubungan kita, jadi tetap diam disini!” Alya memperingati Aldan yang kini hanya bisa menghela napas panjang saja.
Merasa jika Aldan sudah patuh, maka Alya langsung kembali ketempat duduknya. Kebetulan makanan yang dipesan sudah datang, Alya memakan menu yang ia pesan sambil melirik kearah jalan menuju toilet.
Alya takut sekali jika Aldan nekad keluar dan tidak mendengarkan semua perintahnya. Tapi disebalik hati Alya juga yakin jika Aldan juga tidak mau hubungan pernikahan mereka terkuak.
Hadzel menepuk bahu Alya, ia seperti tidak percaya melihat Alya di Restoran makan seorang diri. Lama berteman dengan Alya, Hadzel tidak pernah mendapati Alya bepergian seorang diri.
“Lo kok disini, Al? Sendirian aja? Tumben..” Belum apa-apa Hadzel sudah menyerang Alya dengan banyak pertanyaan.
Tidak terbayang dibenak Alya jika tadi masih ada Aldan disekitarnya, sudah pasti satu sekolah heboh akan berita dahsyat itu.
“Tadi sama Ayah dan ibu gue, tapi mereka sudah pulang lebih dulu. Biasa deh, ayah dan ibu tukang sibuk.” Alasan yang cukup pas hingga tidak memancing kecurigaan dari Hadzel.
“Ini ramen siapa?” Tanya Hadzel lagi, ia tahu sekali jika Alya tidak suka dengan makanan yang berbahan mie. “Ah lo ngedate ya, Al?” sudah pasti Hadzel jadi curiga.
Alya menggelengkan kepalanya cepat, ia menyudahi memakan semuanya. Alya memanggil pelayan untuk membayar semua yang ia pesan. Setelah selesai langsung menarik tangan Hadzel untuk pergi dari Restoran itu. Tentunya tidak lupa membawa tas belanjaannya, Alya tidak akan melupakan itu.
Hadzel bahkan tidak sempat pamit kepada teman-temannya tadi, Alya sudah main mengajaknya pergi. Alya terus membawa Hadzel menuju keluar dari Mall tersebut.
“Sebenarnya ada apa si, Al?” Tanya Hadzel yang kini sudah berada di wilayah luar Mall.
Alya merasa ini tidak tempat yang pas untuk menceritakan semuanya, ia membawa Hadzel menuju taman yang berada di dekat Mall. Hadzel merasa Alya akan mengatakan hal yang penting, ia mengikuti saja langkah Alya kali ini.
•
Dua gadis cantik itu duduk di bangku taman dengan tangan memegang eskrim. Cuaca terik sangat cocok menikmati semangkuk eskrim, membuat pikiran Alya menjadi segar.
“Sebenarnya apa si yang mau Lo bicarakan, Al?” Tanya Hadzel lagi, ia sudah mati penasaran sebenarnya. Alya menunduk, ia masih bimbang mau mengatakan hal ini atau tidak.
“Sebenarnya gue ada masalah yang sangat penting, bisa dikatakan lagi ditimpa musibah.”
“Musibah?” Hadzel semakin tidak mengerti, rasa penasaran sudah pasti semakin tinggi. Apa lagi kala melihat Alya yang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan musibah apa yang ia alami.
“Kemarin gue dipaksa nikah sama Aldan..” Alya mengakui semuanya, tapi Hadzel malah terdiam dengan sendok eskrim yang menyangkut dibibirnya. “Kemarin gue nikah sama Aldan, Zel..” Alya mengulangi lagi apa yang ia katakan tadi.
Hadzel mendengar itu hanya saja ia seperti mimpi sekarang. “Aldan sekelas kita atau Aldan adik_”
“Aldan sekelas kita, pria yang selalu saja membuatku sebal setiap pagi. Pria yang selalu membuatku menangis karna kodok, pria nakal yang selalu menganggu ketenangan hidupku!” Alya menjelaskan secara terperinci membuat Hadzel ter pelongo.
Hadzel melempar mangkuk yang sudah kosong itu ke dalam tempat sampah.
“Al, sumpah ya.. Bercanda Lo itu kali ini nggak asik dan nggak seru.” Hadzel tidak percaya begitu saja.
“Gue serius, Zel. Gue benar-benar nikah kemarin sama Aldan, gue dipaksa sama orang tua gue. Begitu pula Aldan, kami sama-sama terpaksa.” Alya berusaha menyakinkan membuat kepala Hadzel semakin sakit.
“Bagaimana bisa?” Hadzel ingin penjelasan lagi, ia belum mengerti sama sekali. Semua ini sungguh mengejutkan, Hadzel seakan mimpi tapi seakan nyata. Ia jadi bingung sendiri dengan semuanya, ia tidak tahu kehidupan Alya selanjutnya.
Alya menjelaskan semua secara detail dari mulai kejadian terjadi. Hadzel jadi mengerti sekarang, ia memeluk erat Alya yang kini menangis.
“Gue ikut sedih deh, Al.. Gue nggak bisa apa-apa kecuali nguatin Lo untuk kali ini.” Ucap Hadzel yang mendapatkan anggukan mantap dari Alya.
“Apapun itu yang terpenting semua ini harus rahasia dari pihak sekolah, ya sekalipun suami Lo ini anak pemilik sekolah.. Tetap saja semua ada aturannya.” Saran dari Hadzel sangat dibenarkan Alya.
Alya menghela napas lega, rasanya sudah damai sekali membagi cerita dengan sahabat terbaiknya dari kecil.
“Tapi, Lucu juga kalian selalu bertengkar tiba-tiba saja harus menikah..” Ejek Hadzel disertai tawanya kala mendapatkan tatapan super tajam dari Alya.
“Gimana rasanya Aldan? Gitu-gitu hampir semua wanita di sekolah tergila-gila sama suami, Lo.” Kata Hadzel lagi, Alya memang membenarkan itu.
Jujur, Alya tidak tahu alasan apa yang membuat para wanita cinta mati dengan pesona dari Aldan. Jelas-jelas Aldan hanya menang difisik yang tampan serta kekar, lainnya semua minus bagi Alya. Tapi seperti kata Hadzel, bahwa Aldan menampilkan sisi menyebalkannnya hanya kepada Alya seorang.
Alya merasa semua waktu bersantai cukup sudah, ia mengajak Hadzel untuk pulang bersama. Kebetulan Hadzel bersama pak supir, Alya bisa menumpang sekalian. Alya meminta berhenti di tempat yang sedikit jauh dari pagar utama Mansion keluarga Matthew, gimana pun ia harus menjaga yang namanya privasi.
“Gue turun disini aja deh, Zel..”
“Lo, yakin?” Hadzel merasa kasihan karna pastinya Alya akan berjalan sedikit jauh dari Mansion.
“Yakin, gue aman kok.” Alya menyakinkan, hingga Hadzel bisa pergi dengan tenang.
Kepergian mobil Hadzel, Alya langsung melanjutkan langkahnya. Dengan menenteng tas belanja Alya berjalan dengan bernyanyi, ia sangat bahagia hari ini. Alya bahkan tidak ingat dengan sesuatu yang telah ia lupakan.
Hingga sekarang Alya memasuki Mansion, ia tersenyum manis kepada Claudia serta Aslan. Kedua orang tua Alya sudah pulang ke rumah mereka selesai sarapan bersama tadi.
“Alya pulang, ayah.. Ibu..”
Aslan dan Claudia senang melihat Alya yang ceria, mereka lega sekali karna Alya tidak terlalu menangisi takdir nya. Alya menyerahkan barang belanjaan nya kepada pelayan, ia duduk disamping Zea yang sedang menikmati cemilannya.
“Loh, kamu pulang sendirian aja, sayang?” Tanya Claudia, ia mencari keberadaan Aldan karna jelas-jelas mereka pergi bersama.
Alya yang loading lama belum ngeh juga dengan hal yang telah ia lakukan. “Iya, Bun..” Jawaban Alya membuat semua orang terkejut apa lagi Aslan.
“Jadi, Aldan ninggalin kamu di Mall?” Tanya Aslan, hal itu membuat Alya seketika duduk tegak. Ia baru ingat dengan Aldan yang masih ia sembunyikan di Toilet, Alya bingung harus apa sekarang.
“Emm, sebenarnya.. Aldan ketinggalan di toilet, Ayah.. Bunda..” Alya mengakui kesalahannya. Sontak Claudia dan Aslan saling pandang satu sama lain, apa lagi Zea yang tersedak cemilan yang ia makan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Zhen
lanjut thor
2024-08-06
0
Delvyana Mirza
Lanjut thor,
2024-06-10
1