Alya masih terbelalak melihat foto genk motor dimana Aldan menjadi ketua disana. Baru Alya ingin bertanya Aldan sudah muncul dengan tangan memegang ponsel. Alya menjadi ragu untuk bertanya dengan Aldan, mengingat pria itu pasti tidak akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaannya.
Alasan Alya menduga jika Aldan sedang berbohong karna selama masa sekolah Aldan selalu saja merampas apapun yang ada ditangan Alya. Hingga Alya mengambil sebuah kesimpulan bahwa keluarga Aldan sangat susah, hingga Aldan kesulitan untuk membeli sesuatu.
Alya melihat kearah Aldan yang tengah melamun, seperti ada masalah yang sangat besar.
"Lo kenapa?" Tanya Alya sok pura-pura peduli dengan kehidupan pria menyebalkan di samping nya itu.
"Sepertinya banyak banget tu masalah, Lo hamilin anak orang ya?" Alya menuduh yang langsung membuat Aldan melayangkan jitakan maut di kepalanya. "Aduhhh.. sakit Aldan!"
"Makannya jangan asal bicara! Enak aja ngomong Gue hamilin anak orang, jelas enggak dong!" Pertegas Aldan yang mana Alya sibuk mengelus dahinya. "Lagian kalau gue hamilin anak orang, nggak Elo yang gue nikahin sekarang."
Alya terkekeh saja mendengar semua ucapan Aldan, banyak hal yang ingin ditanyakan Alya sebenarnya. Tapi, kala melihat ekspresi wajah Aldan semua sirna sudah. Alya merasa Aldan seperti memikirkan sesuatu yang berat, tidak sepatutnya menanyakan semua nya sekarang.
"Gue mau mandi, Lo tidur dulu aja." Kata Aldan yang berhasil mendapat anggukan mantap dari Alya. Mata Alya terus mengekori Aldan yang sudah pergi menuju Bathroom. Ntah kenapa kala kepergian Aldan, Alya menjadi bisa menghela napas lega. Pasokan oksigen terasa banyak, membuat Alya bisa lebih bernapas dengan baik.
••
Alya masih melihat satu persatu foto yang terpajang didinding, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini. Sudah pasti seakan mimpi bagi Alya, bagaimana bisa Aldan adalah ketua genk motor terbesar dan terbadas di kota Jakarta?
Tidak cukup hanya dengan melihat foto didinding saja, Alya membuka lemari kecil yang berada di dekat ranjang. Alya melihat ada kotak kecil disana, kala tangan Alya ingin memegang benda itu. Suara gemericik air sudah tidak terdengar, Alya mengurungkan niatnya.
Cepat-cepat Alya duduk di pinggir ranjang, pura-pura bermain dengan ponselnya. Aroma sabun yang sama tercium di indra Alya, ia memberanikan diri menatap kearah Aldan yang baru saja keluar dari bathroom.
"Lo nggak tidur?" Tanya Aldan sembari membuka pintu ruang ganti, ia heran melihat Alya yang tadi mengeluh mengantuk mala kali ini tidak kunjung tidur.
Alya kagum dengan bentuk tubuh Aldan yang sangat bagus, lengan kekar serta dada bidang. Rahang itu dipahat oleh sang malaikat dengan cukup baik, sehingga terbentuk ketampanan Aldan yang sempurna.
Mata Alya memicing kala melihat ada satu simbol di lengan sebelah kanan Aldan. Dan itu simbol Matthew Angel, Alya semakin yakin jika Aldan adalah ketua dari genk motor badas itu.
"Kenapa lo liatin gue begitu?" Tanya Aldan dengan nada tak suka. Alya langsung tersadar, ia menggelengkan kepala lalu langsung terbaring di tempat tidur.
Aldan menghela napas panjang melihat tingkah Alya, ia kembali masuk kedalam ruang ganti. Sepanjang berganti pakaian Aldan teringat dengan semua nasehat para orang tua tadi. Aldan tidak tahu hal apa yang harus dilakukan sebagai seorang suami, jujur.. Aldan merasa dirinya tidak sanggup menjalani pernikahan ini dengan Alya.
Tapi, kala mengingat Aslan yang langsung bangkit dari penyakitnya hanya karna pernikahannya membuat Aldan semakin yakin dengan keputusannya.
"Huh, merepotkan sekali.." Keluh Aldan.
Sudah selesai memakai pakaian Aldan langsung keluar dari ruang ganti. Ia melihat Alya yang masih juga belum tertidur, gadis itu terlihat gerak kesana-kemari. Pikiran nakal terlintas dibenak Aldan, ia tersenyum sinis.
"Kau tidak bisa tidur?" Pertanyaan Aldan membuat Alya terkejut. Ia langsung terduduk begitu saja, menatap tak suka Aldan yang kini melangkah ke arah nya.
"Tidak, aku merasa tidak nyaman sekalipun kasur ini lebih luas dari kasur ku." Jawab Alya apa adanya. Kedua alis Aldan mengernyit kala Alyaa menyebut dirinya sebagai aku kepadanya.
"Udah aku, kamu aja nih?" Tanya Aldan yang kini sudah duduk berhadapan dengan Alya. "Kamu? Hahaha canggung sekali.."
Alya baru menyadari itu, tapi ia seakan tidak perduli. Karna Dara sempat menasehati, untuk saling aku dan kamu kala berbicara dengan Aldan. Maka mau tidak mau Alya merasa harus melakukan perintah sang Ibu.
"Ehem!" Aldan berdehem, ia terlihat seperti ingin bicara serius kepada Alya. "Aku ingin bicara hal penting kepadamu, dan ini katanya adalah kewajiban yang paling penting dalam pernikahan." Ucapan Aldan membuat Alya langsung duduk lebih dekat dengan sang suami.
"Kewajiban?"
"Yes, girl. Aku sudah menjalankan tugasku, seharusnya kau juga menjalankan tugasmu bukan?" Tanya Aldan dengan tangan bersedekap didada. Dengan ragu-ragu Alya mengangguk, ia menjadi ngeri dengan kewajiban yang akan dimaksud Aldan ini.
"Aku tidak akan meminta hal lebih, hanya meminta kau untuk melakukan tugas selayaknya istri saja." Raut wajah Alya seakan tidak mengerti dengan apa yang Aldan katakan. Malah seperti menunggu penjelasan lebih detail, Aldan sadar bahwa memang Alya loading lama.
"Aisss.. Kenapa sulit sekali bicara dengan anak ini?" Keluh Aldan di dalam hati, ia menghela napas panjang kala ingin menjelaskan lebih detail kepada Alya yang masih menatap nya penasaran.
"Kau harus melakukan tugas sebagai seorang istri, seperti mengurus segala kebutuhan ku. Tidak jauh-jauh, dimulai dari urusan sekolah. Atau makan dan menyiapkan ganti pakaian." Aldan menjelaskan sudah sangat detail, ia yakin kali ini Alya juga akan mengerti.
Alya bersorak senang di dalam hati, ia takut sekali jika Aldan mengajak nya melakukan ehem ehem. Ketahuilah Alya merasa tidak akan pernah siap dengan itu, ia belum sanggup melakukan nya.
"Hanya itu?" Tanya Alya, ia seperti sanggup dengan smua tugas yang Aldan minta itu. Bahkan Alya seperti tidak curiga dengan Aldan, dengan cepat ia menyetujui semua permintaan sang suami.
Aldan cukup senang, segala urusan kehidupan yang selama ini selalu merepotkan nya kini sudah ada Alya yang membantu.
"Gampang juga ni bocah dikibulin.." Gumam Aldan di dalam hati.
Lama saling terdiam dengan pikiran masing-masing, Aldan langsung cepat-cepat mengambil posisi tempat tidur. Alya panik, ia melihat Aldan yang sudah menguasai tempat tidur.
"Kau tahu, aku paling tidak bisa berbagi tempat tidur." Ucap Aldan dengan tidur menyamping, tangan nya sebagai penyanggah wajah tampannya.
"Maksud mu apa? Aku adalah istrimu, bisa tidak bisa kau harus berbagi tempat tidur dengan ku." Alya protes, segala alasan Aldan tidak akan membuat nya mengambil keputusan untuk tidur dilantai.
Aldan kembali duduk diatas kasur, ia memegang guling kesayangan nya sambil menatap tak suka Alya yang sepertinya masih ingin protes lagi.
"Jadi orang jangan serakah! Tempat tidur ini masih sangat luas kalau berbagi, jangan banyak alasan." Alya mengobrol kepada Aldan yang kini menutup telinga nya dengan kedua tangan.
Alya geram sendiri, ia menurunkan tangan Aldan.
"Begini saja, bagaimana kalau kita adu suit?" Alya mencoba mengambil jalan tengah di antara masalah yang ada. "Kertas, batu, gunting.."
Aldan merasa Alya memang anak-anak dalam bentuk remaja SMA. Tapi, Aldan merasa ini cukup menarik. Ia mau dengan ajakan Alya, karna ia yakin akan menang.
"Oke.. Kertas.. batu.. gunting.."
Tangan Aldan menunjukkan kertas, tangan Alya gunting. Sudah pasti Alya pemenangnya, gadis itu bersorak senang. Tanpa babibu, Alya merebut guling itu dari tangan Aldan. Lalu mendorong Aldan hingga pria itu terjatuh dari tempat tidur.
"Awwwwwwssssss!" Rintih Aldan kesakitan, ia mengelus bokong nya yang mendarat pertama kali mencium lantai. Alya malah tertawa kencang, dan itu berhasil membuat Aldan kesal.
"Hei, gadis tantrum!" Aldan protes, ia bangkit dengan tangan berkacak pinggang. Tapi, Alya malah sudah berbaring cantik dengan memeluk guling.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Delvyana Mirza
Dah terima aja Aldan ntar lama lama kan tumbuh rasa cinta juga,
2024-06-07
3