Keesokan pagi sesuai yang dikatakan Reygan dan Dara, kini Alya sedang dalam perjalanan menuju kediaman yang mana pernikahan akan berlangsung disana. Jujur Alya sedikit bingung, seharusnya pernikahan dilakukan di pihak wanita. Tapi, kali ini mengapa berbeda?
Mata Alya melirik kearah Dara yang hanya diam menunduk sedari tadi. Bahkan tidak ada bicara sama sekali dengan Reygan yang juga sama-sama diam.
"Ibu, rumah calon ku masih jauh?" Tanya Alya untuk memecahkan keheningan.
"Tidak, sayang.. Sebentar lagi juga sampai." Dara menjawab sambil mengelus rambut panjang Alya. Ia menatap Alya penuh rasa kasih sayang yang teramat dalam, dicampur dengan rasa bersalah yang cukup besar.
Reygan menggenggam erat tangan Alya, ia mencoba menguatkan sang putri dari genggaman tangan itu. Alya tidak dendam atau bahkan benci dengan segala keputusan sepihak kedua orang tuanya. Ia yakin, orang tuanya tau mana yang terbaik untuk kehidupannya.
Mobil berhenti di Mansion mewah, bahkan seharusnya lebih pantas disebut sebagai Istana. Mata Alya membola sempurna kala melihat interior bangunan yang sungguh menawan. Serta suasana Mansion yang sungguh nyaman, ada banyak pelayan yang berlalu lalang.
"Ini rumah calon aku, Ayah?" Tanya Alya kepada Reygan yang tertawa kecil. Reygan mengangguk mantap, Alya langsung tersenyum senang.
"Selamat datang, Tuan Dexter. Silahkan masuk, semua orang sudah menunggu kedatangan kalian." Ucap Farid kepada keluarga Alya yang tersenyum.
Lain dengan Alya yang masih jalan kesana kemari melihat Mansion mewah milik calon suaminya.
"Sebenarnya pria seperti apa yang akan aku nikahi? Apa seperti pangeran william? What?!" Alya histeris sendiri.
"Kalau aku tahu calon ku akan sekaya ini, maka aku tidak perlu menangis seperti orang gila tadi malam. Cukup diam dan tertawa aja, Hihihi.." Alya bermonolog sendiri di dalam hati.
Keluarga Dexter langsung diantar menuju ruang tamu dimana semua orang sudah menunggu kedatangan mereka. Mata Alya mendongak sempurna dan tiada henti mengucapkan kata kagum kala melewati interior yang sangat mewah untuknya.
"Selamat datang besan, silahkan duduk.." Sapa Aslan, Keluarga Dexter duduk bersama. Aslan tersenyum manis kepada Alya yang baru tersenyum kepadanya.
"Sepertinya acara pernikahan sudah bisa dilaksanakan.." Kata Farid yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari semua orang. Padahal yang sebenarnya Alya masih terlalu terkejut dan belum siap tentunya untuk segera melaksanakan pernikahan.
Jantung Alya berdegup kencang menantikan jodoh seperti apa yang sudah disiapkan oleh kedua orang tuanya. Hingga suara langkah kaki membuat Alya semakin gugup, ia memberanikan diri untuk berbalik badan. Mata Alya langsung membola sempurna kala melihat pria yang selama ini menjadi musuhnya perlahan berjalan kearahnya.
Sebenarnya bukan hanya Alya yang terkejut, Aldan lebih terkejut juga. Bahkan ia sampai mengucek matanya sendiri untuk memastikan semuanya. Aldan sungguh tidak menyangka jika orang tuanya akan menikahkan dirinya dengan Alya yang ber notabene musuh abadinya.
Aldan dan Alya hanya saling terdiam satu sama lain, apa lagi Aldan yang tidak berani protes lagi.
"Hem, pernikahan sudah siap Aldan laksanakan, Ayah, Bunda.. Paman, Tante, Aldan sudah siap." Ucap Aldan dengan sangat tegas, ia berusaha untuk tersenyum agar lebih berani mengambil keputusan yang cukup berat ini.
Alya ingin protes, tapi tangan Alya digenggam erat oleh Dara. Tatapan mata Dara seperti mengatakan kepada Alya untuk tetap tenang, terima semua yang sudah terjadi. Seperti yang dilakukan Aldan. Maka sudah pasti, mau tidak mau Alya menerima semua itu.
~~
Aldan yang kini sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu dan Ayah dari Alya. Aldan berusaha mencubit tangannya sendiri menyadarkan apa ia sedang bermimpi atau tidak. Aldan menatap kearah Aslan yang terlihat bahagia, bahkan langsung terlihat sembuh hanya karna Aldan mau menikah.
"Acara sudah bisa dimulai, apakah kau siap Nak Aldan?" Tanya Pak penghulu kepada Aldan yang sedari tadi hanya diam. Aldan menghela napas panjang, ia yakin dengan semua keadaan ini.
"Siapa, Pak!" Sungguh tegas Aldan mengatakan itu. Bahkan Reygan saja kagum dengan ketegasan yang Aldan miliki. Itu tidak heran karna Aldan juga merupakan sosok ketua genk motor besar di kota Jakarta.
Acara ijab qabul dimulai, dengan lantang serta fasih Aldan mengucapkan kata sakral itu. Hingga suara SAH dari semua orang terdengar. Aldan menghela napas lega, ia sudah menjadi suami dari Alya Dexter. Tidak tahu kehidupan nya besok, Aldan memasrahkan semuanya kepada sang Pencipta.
Aslan menepuk punggung Aldan dengan perasaan bangga, bahkan menangis terharu. Aldan telah melakukan keinginan yang sangat diinginkan oleh Aslan.
"Terimakasih sudah mewujudkan keinginan Ayah, Nak.. Hiduplah bahagia bersama dengan Alya selamanya, Ayah menginginkan itu." Ucapan Aslan membuat semua orang terharu.
Apa lagi Aldan, ia tidak menyangka jika pernikahan tidak diinginkan ini akan menjadi sumber kebahagiaan terbesar ayah nya. Sementara Aldan ragu dengan dirinya sendiri, apa ia bisa menjalani pernikahan ini dengan Alya?
Pandangan mata Aldan langsung tertuju kepada Alya yang kini menuruni tangga bersama dengan Zea. Alya sungguh cantik dengan memakai pakaian panjang berwarna putih itu. Aldan terpesona, tapi itu hanya sebentar. Alam sadarnya membuat Aldan sadar, ia tidak mau terlihat terpesona dengan Alya.
Zea membawa Alya untuk duduk di samping Aldan, tentu saja Alya menjadi bingung sendiri. Tapi, Claudia membantu nya untuk duduk bahkan membuat Aldan dan Alya menjadi lebih dekat. Aldan menjadi tidak suka, ia tidak suka dengan posisi ini.
"Sekarang ambil gambar untuk mereka, kita harus mengabadikannya momen ini dengan sebaik-baiknya." Perintah Aslan kepada Farid, dengan senang hati Farid melakukan keinginan tuan besar nya.
Aldan dan Alya tersenyum secara terpaksa di depan kamera, apa lagi Alya yang harus mencium tangan Aldan.
"Nggak mau, tangan Aldan bau terasi!" Tolak Alya mentah-mentah hingga membuat semua orang tertawa.
Aldan menatap tajam Alya yang seperti tidak merasa bersalah, ia saja benci dan jijik sebenarnya mencium kening Alya tadi. Tapi, bagaimana lagi? Aslan memaksanya, Aldan juga segan dengan Reygan yang selalu saja memerhatikan segala tingkahnya.
"Jangan ngajak ribut deh, Lo!" Aldan nyolot, kemungkinan kesabaran nya sudah habis.
Dara mencubit kecil lengan sang putri, ia melotot kearah Alya hingga membuat Alya menjadi patuh. Ia mencium punggung tangan Aldan, itupun hanya pucuk nya saja. Aldan tidak Terima tentunya, ia sengaja mengarahkan tangannya secara paksa kearah bibir Alya. Barulah semua orang bertepuk tangan, lain dengan Alya yang memaki Aldan didalam hati.
Banyak sekali wejangan yang harus Aldan dan Alya dengar, tentang kewajiban sebagai seorang istri dan suami. Apa lagi Alya yang harus mendapatkan kenyataan bahwa ia tidak akan tinggal bersama orang tuanya lagi.
Saat mengetahui itu, Alya langsung duduk disamping kedua orang tuanya. Alya menangis sambil memeluk Dara, ia belum siap dengan semua kehidupan ini.
"Jangan menangis, sayang.. Ayah dan Ibu kan tidak jauh darimu, Aldan akan mengantarkan mu jika kau rindu dengan Ayah dan Ibu." Ucap Dara sembari mengelus punggung belakang Alya yang terus saja menangis.
Aldan yang duduk disamping Aslan, ntah kenapa menjadi kasihan dengan Alya. Diusia muda harus sudah menjauh dari orang tua karna sudah menikah, Aldan sungguh kasihan dengan Alya.
"Sekarang kamu adalah tanggung jawab Aldan, semuanya akan diurus oleh Aldan. Sebelum melaporkan semua masalah hidupmu dengan Ayah, kau harus sudah melaporkan semua itu kepada Aldan dulu." Nasehat Reygan itu membuat Alya langsung melepas pelukan sang ibu.
"Bagaimana bisa seperti itu, Ayah? Sementara yang selalu saja membuat Alya dalam masalah ya, Aldan! Kecoa itu!" Sungguh tanpa beban Alya mengatakan itu.
Semua orang langsung menatap kearah Aldan yang sedang tertuduh sekarang. Aldan menunjuk dirinya sendiri, bahkan dirinya sedari tadi hanya diam kena getahnya juga.
"Aku tidak akan ganggu Alya lagi.." Ucap Aldan membuat semua orang lega lain dengan Alya yang tidak akan mempercayai semua itu.
"Apapun itu, pernikahan ini sakral. Kalian tidak boleh memainkan nya.. Kedewasaan seseorang tidak dilihat dari umur, melainkan dari sikap. Ayah harap, semoga pernikahan kalian akan langgeng selama-lamanya." Harapan Aslan membuat semua orang terharu.
Alya hanya diam menunduk, jangankan selamanya.. satu minggu Alya saja ragu dengan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
pecinta keju
pliss, lagi nikah loh ini😭🙏
2025-01-09
0
Shenaylin..😌😌
🤦😂😂😂
2024-06-29
2
Delvyana Mirza
Lanjuut kak,,,,,,,
2024-06-06
1