Dengan sepeda motornya Aldan melaju dengan kecepatan tinggi untuk menuju Rumah Sakit. Sepeda motor kawasaki ninja termahal itu melaju cepat menyusuri jalan raya, bahkan saat ini Aldan tidak memikirkan nyawanya lagi. Telpon dari Ibunda benar-benar membuat nya menjadi kalang kabut.
Bahkan sesampainya di Rumah Sakit, Aldan langsung berlari dengan meletakkan helm nya sembarangan arah. Ia menyusuri koridor Rumah Sakit dengan sedikit berlari, ingin cepat-cepat melihat keadaan sang ayah.
Kala sampai di pintu ruangan, tangan Aldan mendadak ragu untuk membuka pintu. Ia menarik napas dalam-dalam mengumpulkan keberanian yang cukup banyak. Aldan tidak mau terlihat lemah dihadapan ayah dan bundanya, ia harus kuat untuk mereka.
"Aldan datang, Bunda, Ayah.." Ucap Aldan yang langsung membuat Aslan terbangun dari tidurnya. Pelan-pelan Aldan melangkah menuju sang ayah yang tengah berbaring bed pasien.
"Bagaimana sekolah mu, Nak?" Tanya Aslan sambil memegang wajah tampan Aldan.
"Semua lancar, Ayah.. Ayah harus sehat, masih banyak waktu yang Aldan butuhkan bersama dengan Ayah." Ucap Aldan dengan suara yang melemah.
Claudia yang melihat interaksi antara anak dan suaminya itu langsung menangis. Ia tidak kuasa menahan segala rasa sedih, mengingat usia Aldan yang masih cukup muda harus menanggung beban yang cukup berat.
"Maafkan Ayah, Nak.. Lagi lagi Ayah selalu saja merepotkan dirimu, Ayah merasa tidak berguna sebagai seorang kepala keluarga." Ucap Aslan sambil menangis.
Tangan Aldan menghapus air mata Aslan, ia tidak pernah menyalahkan semua posisinya saat ini kepada kedua orang tuanya. Sebagai anak yang paling besar harus bisa menjadi penampung segala masalah. Aldan tidak pernah keberatan untuk selalu direpotkan, ia memeluk Aslan sangat erat.
Sekuat mungkin Aldan tidak mau menangis, ia tidak mau terlihat rapuh dihadapan ayah dan bundanya serta adik yang setia menunggu di Mansion.
"Ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan padamu, Nak.." Perkataan Aslan membuat Aldan langsung melepas pelukan nya.
"Hal penting?" Aldan menjadi penasaran, ntah kenapa kali ini perasaan nya tidak enak. Aldan merasa sesuatu yang tidak diinginkan serta dibayangkan sebelumnya akan terjadi sebentar lagi.
"Berjanjilah untuk menerima permintaan ayah ini, hanya ini yang Ayah inginkan." Ucap Aslan yang langsung membuat Aldan menatap ke arah Claudia.
"Dalam hal apa, Ayah?"
"Mau menerima tidak?" Aslan malah bertanya membuat Aldan mati kata. Ia menatap kearah sang bunda yang tersenyum manis, seperti semua tebak-tebakan ayah nya tidak akan berbahaya. Aldan percaya dengan senyuman sang bunda, ia harus berpikir positif.
"Baiklah, Ayah.. Apapun itu Aldan akan setuju dengan semua permintaan kalian. Aldan tidak akan memberontak, akan menerima semuanya dengan lapang dada." Bahkan Aldan mengatakan itu penuh dengan keyakinan.
"Menikahlah besok dengan wanita pilihan ayah, wanita anak dari sahabat ayah." Sungguh bagaikan petir di siang bolong Aldan mendengar permintaan itu. Bahkan Tas yang ia pegang jatuh ke lantai, ia masih menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya.
"Menikah? Besok? Dengan wanita anak dari sahabat ayah?" Aldan menyerang Aslan dengan pertanyaan beruntun.
~
Aslan mengangguk mantap sembari tersenyum manis, ia yakin jika Aldan akan setuju dengan semua permintaannya. Seperti saat ini Aldan masih menatap tak percaya Aslan lalu menatap kearah sang Bunda.
"Aku bahkan masih terlalu muda untuk menjadi seorang kepala keluarga, Ayah.." Aldan mencoba mencari alasan yang tepat. Karna menikah diusia yang masih belasan tahun sungguh membuat Aldan sakit kepala. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya.
"Ayah dan Bunda juga dulu menikah disaat seusia mu, Hanya saja kami tidak mau memiliki anak lebih cepat. Hingga pernikahan berjalan 3 tahun, barulah Ibu mu hamil kamu." Ucap Aslan yang langsung membuat kaki Aldan lemas seketika.
"Itu jaman Belanda, Ayah.." Aldan protes, ia menatap Aslan yang terbaring. "Ini sudah jaman milenial, menikah cepat juga bukan semboyan hidupku." Lanjutnya.
Claudia melangkah mendekati Aldan, ia mengelus tangan Aldan agar sang putra lebih menahan emosinya.
"Sembarangan! Itu tidak jaman Belanda, kau ini!" Sanggah Aslan, ia menarik napas dalam-dalam lalu menatap intens Aldan yang terlihat kesal.
"Ayah hanya khawatir dengan kehidupan yang kau jalani, Al.. Kau pemimpin geng motor, selalu saja berkelahi dengan siapapun yang menganggu hidupmu." Ucapan Aslan membuat Aldan menjadi terdiam.
"Tidak mudah bagi Aldan meninggalkan semua ini, Ayah.."
"Maka menikahlah, menikah bukan berarti menghalangi setiap tujuan dan Cita-cita mu. Lagian kau juga sebentar lagi lulus SMA, memasuki fase kuliah. Menjalani pernikahan tidak akan menganggu mu, apakah kau mengerti?"
Aldan tidak bisa berkata-kata, ia menatap ke arah Claudia yang sepertinya sama tidak berdaya.
"Yayasan milik kita, untuk mempertahankan sampai kau lulus SMA masih mudah dilakukan." Kata Aslan lagi, membuat Aldan tidak ada kesempatan untuk menolak semua perintah tidak masuk akal itu.
"Baiklah, terserah Ayah saja.." Aldan tersenyum manis kepada Aslan dan juga Claudia. Ia duduk di sofa sembari memijat pelipis nya, Aldan memikirkan kehidupan besok yang mana akan dekat dengan malapetaka.
Aslan lega sekali mendengar sang putra menyetujui semua keinginan nya. Aslan meminta Claudia untuk segera menghubungi Farid, asisten pribadinya. Dari situlah Aldan melihat keceriaan diwajah sang ayah, membuat Aldan tidak sanggup jika melakukan sesuatu hal yang bisa membatalkan pernikahan.
"Kau tidak mau melihat pengantin wanita nya?" Tanya Claudia diselingi tawa kecil, ia masih tidak menyangka jika putra kecilnya sudah akan menikah besok.
Aldan menghela napas panjang, "Tidak perlu, pilihan ayah dan bunda pasti jelek." Aldan menolak.
Aslan dan Claudia saling pandang satu sama lain, mereka ingin tertawa sebenarnya.
"Sembarangan kamu! Jelas cantik dong, Bunda yakin.. Kamu akan terpesona melihat kecantikan dan keimutan nya." Ucap Claudia sembari mengusap gemas rambut Aldan.
Aldan seakan bodoamat, ia pasrah dengan semua yang terjadi besok. Siapapun yang akan ia nikahi besok, ia juga tidak mau perduli dengan itu semua. Semua sudah diluar kendali, Aldan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti semua kemauan sang ayah.
Kala Aldan akan bangkit, "Kau mau kemana lagi?" Tanya Aslan yang sedang dibantu Claudia untuk duduk diatas bed pasien.
"Mau ke markas, kan sudah tidak ada kelas sama Paman Farid." jawab Aldan sembari mengambil tasnya yang tergeletak di lantai.
Aslan menghela napas panjang melihat kelakuan putranya sendiri, yang sempat sempat nya memikirkan markas di saat genting begini.
"Tidak bisa, Al.. Kamu harus tetap berada di ruangan Ayah sampai pernikahan besok!"
Tentu saja Aldan terkejut, "Ayah, pliese.. Aldan juga tidak akan kabur, aku akan tetap menikah besok." Berusaha menyakinkan sang ayah.
"Tidak, Aldan! Tetap diam disini, ayah tidak mau kau melakukan hal yang tidak tidak malam ini." Aslan mempertegas perintahnya, sudah pasti Aldan tidak memiliki kekuatan untuk membantah. Akhirnya Aldan pasrah, ia berbaring di sofa dengan tatapan super tajam kearah langit-langit ruangan.
•
•
Alya tertawa kala menonton acara drama Korea terfavorit nya, ia merasa mood malam ini cukup bagus. Ia terus menonton drama hingga suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya. Alya bangkit untuk membuka pintu sembari mengikat rambut panjang nya.
Kala membuka pintu, Alya langsung tersenyum kala melihat Ayah dan Ibunya yang datang.
"Loh, ada apa ini datang berbarengan begini?" Tanya Alya sembari mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk.
Reygan dan Dara masuk kedalam kamar putri mereka, terlihat Reygan seperti sedang ingin mengatakan sesuatu.
"Alya sedang sibuk tidak?" Tanya Reygan sembari duduk di pinggir ranjang.
Alya duduk di sofa berhadapan dengan kedua orang tuanya. Ia sebenarnya merasakan sesuatu yang penting yang akan dibahas, ia berharap semoga itu tidak tentang kepergian mereka menuju Perusahaan yang ada di luar negeri.
Ya, Alya selalu di tinggal pergi oleh Reygan dan Dara. Orangtua nya selalu sibuk bekerja hingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk Alya. Sering kali Alya menangis kesepian, tapi Alya tidak pernah memperlihatkan hal itu kepada kedua orang tua yang sangat Alya sayangi.
Segala fasilitas mewah disediakan Reygan dan Dara untuk Alya seorang, hanya saja sebenarnya yang paling Alya butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang mereka. Bukan meninggalkan setiap bulan kepada Bibi, hingga membuat Alya lupa dengan peran orang tua didalam hidup nya.
"Tidak, Ayah.. Alya senang kalian ada waktu untuk berbicara, sudah lama sekali bukan kita tidak seperti ini?" Alya berusaha bercanda sekalipun sebenarnya ia ingin menangis.
Alya terharu karena keinginan nya selama ini telah terwujud, Alya ingin selalu seperti ini dengan kedua orang tuanya.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Alya terlihat sangat excited.
"Sebelum ayah mengatakan nya, Ayah dan Ibu ingin Alya berjanji untuk tidak marah akan permintaan kami ini." Perkataan Reygan membuat senyuman Alya memudar seketika.
"Sahabat ayah sakit, jadi dia ingin anak laki-laki nya segera menikah. Jadi, kami merencanakan perjodohan mu dengan anak beliau." Ujar Reygan tanpa beban sama sekali.
Alya terpelongo bahkan seperti bingung harus mengatakan apa, "Semua sudah disiapkan, sebenarnya bukan meminta persetujuan mu.. Hanya memberi tahu saja bahwasannya kau besok akan menikah dengan anak teman ayah." jelas Reygan lagi.
Dara hanya diam menatap Alya yang masih menganga seakan tidak percaya.
"Menikah besok? Yang benar aja, Ayah, Ibu.. Alya masih terlalu muda untuk melakukan pernikahan, kalian bercanda yaa?" Alya masih belum percaya dengan semua perkataan Reygan.
"Tidak, Nak.. usia mu sudah cukup matang untuk menikah. Kau akan menikah dengan keluarga kaya raya, masa depan akan lebih terjamin." Dara menimpali.
Alya terkekeh mendengar nya, tidak dipungkiri selama ini yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya hanyalah harta kekayaan saja. Hingga nekad mengambil keputusan untuk menikahkannya dengan seorang yang bahkan Alya tidak tahu siapa pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Noh noh noh...
2024-09-24
0
Qaisaa Nazarudin
Noh kan kan kan..PERJODOHAN..🤣🤣
2024-09-24
0
Qaisaa Nazarudin
Apa kah ini benaran sakit? Atau sekadar drama untuk Alden menerima PERJODOHAN,Seperti yg ku baca di novel2 sebelah...🤭🤭
2024-09-24
0