“Dokter Ara, sudah berapa lama tuh rambut gak di cuci dah mirip rambut singa saja.” Ujar Arkan.
“Yak! Tutup toples, cari kaca sana, ngaca! Pagi-pagi dah cari ribut aja. Huh.” Balas Ara.
“Gue malas ngaca, soalnya kaca pun akan terpesona dengan aura ketampanan ku.” Narsis Arkan.
“Cih... yang ada tuh kaca bakalan retak kalau kamu ngaca!”
“Kalian berdua jangan ribut mulu, nanti jodoh loh.” Ujar Rangga yang hampir tiap hari melihat pertengkaran dua Dokter muda itu.
Ara Putri Salsabila, salah satu dokter lulusan terbaik dari Universitas Kedokteran Negara M. Menjadi Dokter magang di bawah arahan Arkan setahun yang lalu. kini dirinya resmi menjadi Dokter junior Arkan di rumah sakit tersebut. Karena hampir dua tahun Arkan dan dirinya saling mengenal mereka pun sering adu mulut.
Dan Rangga adalah saksi di tiap pertengkaran mereka. Pasalnya ke dua Dokter tersebut sering berpapasan saat memberikan laporan pasien pada Rangga di ruangannya.
“Dih amit-amit... punya jodoh modelan kayak dia!” Ujar Ara menaikan pundaknya.
“Emang Gue mau sama kamu, amit-amit deh... punya jodoh kayak singa betina gitu, yang galaknya gak ada lawan.” Balas Arkan sambil terkekeh.
“Yak! Mana ada singa betina secantik ini, sepertinya Dokter David harus periksa ke Dokter Revan deh, dia kan dokter spesialis mata.”
“Hadeh.... Aku adalah batu, abaikan saja Rangga.” Ujar Rangga menghela napas.
“Justru Dokter Ara yang sepertinya perlu buat janji sama Dokter Revan. Ya kali Dokter tampan seperti ku di samain sama tutup toples.”
“Aku doain semoga kalian berdua berjodoh, biar tau rasa kalian.” Ujar Rangga dan hendak pergi meninggalkan ke dua Dokter muda itu.
“Pasti rumah tangga kalian akan sangat harmonis.” Tambahnya sambil sambil tersenyum smirk.
“Ogah banget nikah ama tutup toples.” Ujar Ara.
“Di pikir gue mau kali punya istri singa betina... bisa-bisa gue di cakar tiap hari.”
“Hah.... Lanjutkan saja pertengkaran kalian.” Ujar Rangga menghela napas panjang.
“Saya mau keliling ngecek pasien saja, daripada panas nih telinga dengan ocehan kalian berdua.” Ujarnya lagi melangkah pergi.
“Tunggu! Saya ikut Dokter Rangga saja, malas banget aku berdebat sama tutup toples, blew.” Ujar Ara menjulurkan lidahnya dan membuntuti Rangga.
“Yak! Gue bukan tutup toples! Gue Dokter David, Dokter terbaik di rumah sakit ini, ishhh... dasar singa betina!” Teriak Arkan.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
Arkan kembali ke ruangannya dengan perasaan dongkol.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.” Ujar Arkan yang mendengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“Dokter David... ada yang ingin bertemu dengan anda.” Ujar Ikhsan yang membuka pintu.
“Ya, suruh masuk saja.” Ujar Arkan namun tetap melihat ke tumpukan berkas di mejanya.
“Arkan...”
Deg! Arkan terkejut ada yang mengetahui nama tersebut. Seharusnya di rumah sakit ini tidak ada yang mengetahui nama “Arkan” ini. Arkan segera menaikan pandangannya melihat siapa tamunya kali ini. Meski dirinya sudah menebak siapa mereka....
“Bang Arkan...”
“Mengapa kau tidak pernah mengabari kami selama ini, Nak?”
“Nak... Ayah sangat senang, bisa melihatmu lagi...”
“Arkan... maafkan Abang, Arkan.” Ujar Arief dan langsung memeluk Arkan.
Yah... tebakan Arkan benar. Tamunya kali ini sangat spesial... mereka adalah keluarganya, yang dulu pernah memberikan luka yang sangat dalam padanya. Namun, mau bagaimana pun sikap keluarganya dulu padanya, Arkan tetap saja merindukan mereka...
“Ma-maaf... kalian pasti salah orang.” Ujar Arkan dengan dada yang penuh sesak.
“Saya Dav-“
Grap! Ucapan Arkan terpotong karena Arhan, adiknya itu ikut memeluk dirinya dengan erat.
“Bang, Abang pulang ya. Kami sangat merindukan mu...” Tutur Arhan dengan terisak dan mengeratkan pelukannya.
“Tolong kendalikan diri kalian... Ikhsan siapa mereka?” Ujar Arkan dan melepaskan pelukan kedua saudaranya.
“Bang... aku Arhan, adikmu.”
“Abang tahu kesalahan yang sudah Abang lakukan sudah sangat keterlaluan. Abang minta maaf dan tolong beri Abang kesempatan untuk memperbaiki semuanya Arkan....” Ujar Arief sambil terisak.
“Abang mohon...”
“Ayo pulang Bang... kita mulai semua dari awal lagi...”
“Maafkan Bunda, Nak.... Benar yang adikmu katakan mari kita mulai keluarga kita dari awal lagi.”
“Pulang lah, Nak.... Kami sangat merindukan mu.” Ujar Azel.
“Anda bisa melihat papan nama di meja Saya?” Ujar Arkan menunjuk papan namanya.
“Jika ada keluhan kesehatan mungkin saya bisa membantu, saya dokter di sini....” Ujar Arkan menjeda ucapannya.
“Maaf saya permisi, banyak pasien yang harus saya periksa.” Lanjutnya dan beranjak pergi dari ruangannya.
“Bang Arkan, tolong jangan seperti ini....” Ujar Arhan sambil menahan tangan Arkan.
“Bertahun-tahun kami menunggumu Bang... Aku mohon pulang lah Bang.” Ujar Arhan lagi kini dengan dirinya berlutut pada sang kakak.
“Aku sangat menyesal Arkan.... Abang minta maaf... apapun akan Bang Arief lakukan supaya kamu mau memaafkan Abang....” Ujar Arief dan mengikuti Arhan, berlutut pada Arkan.
“Cukup...! Kalian sangat menggangu... saya sama sekali tidak mengenal kalian.” Ujar Arkan menghempaskan tangan Arhan dan berlalu pergi.
“Bang...”
Arkan pergi dan tak lagi berbalik ke belakang, dirinya terus berjalan ke dapan dan menghiraukan semua panggilan dari Arhan.
"Apa dia benar-benar bukan Arkan kita?” Ujar Arief penuh tanya.
“Berdiri Han... dia bukan Arkan, dia Dokter David.” Ujar Ikhsan mengangkat tubuh Arhan yang masih duduk bersimpuh di lantai.
“Tidak! Aku yakin jika dia Bang Arkan. Dia bukan David... dia Abang ku!”
“Bang Arkan.... Kami sangat merindukan mu, tolong kembalilah Bang!” Ujar Arhan sedikit berteriak.
Di koridor rumah sakit, Arkan yang berjalan di sana kini memikirkan tentang pertemuannya tadi dengan keluarganya di ruangan pribadi miliknya.
“Sebenarnya Abang juga sangat merindukan kalian... maafkan Abang, Arhan. Abang tidak bisa kembali...”
“Abang bisa dengan muda memaafkan semuanya... tapi bekas luka yang kalian berikan sangat menyakitkan dan sampai saat ini hal itu masih membekas, dan karenanya juga Abang takut untuk kembali... maaf.”
“Aku takut kalian akan membuka luka lama ataupun mungkin memberikan luka baru padaku seperti dulu. Dan Aku tidak ingin mengecewakan orang yang selama ini merawat dan menyembuhkan lukaku...”
Arkan terus berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan pikiran yang tengelam di masa lalu hingga masa kini.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf❦DέȽΜɑɌ❦•§¢• ⍣⃝ꉣꉣ🍉
noh lama2 berjodoh ara sama arkan udah kayak anjing sama kucing huhu, wahh berat sekali rasanya punya keluarga tp udah tak diharapkan kehadirannya karna luka yg ditoreh masih berbekas.
2024-07-11
0
❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸
mempunyai keluarga bukannya menjadi tempat untuk bersandar, mengadu, malah menjadi trauma terberat
2024-07-09
0
Nunu Hasan
biarturasa kelurga itu
2024-06-22
0