“Arkan sebentar lagi ambulance datang, kamu tangani dulu. Juga akan ada dokter di dalam ambulance yang akan membantumu nanti, Abang akan tangani meja operasi dengan dokter Ara.”
“Baik Bang!” Ujar Arkan.
Arkan dan beberapa tenaga medis, segera berlari ke depan pintu rumah sakit menunggu ambulance yang akan datang. Ambulance tiba begitu Arkan dan yang lainnya tiba di depan pintu rumah sakit. Pintu ambulance terbuka dan turunlah beberapa tenaga medis dan juga seorang pasien dari dalam sana.
“Cidera apa saja yang di alami oleh pasien?” Tanya Arkan cepat.
“Pasien mengalami patah tulang rusuk dan sepertinya tulang belikatnya juga patah.” Sahut seseorang yang turun dari ambulance.
“Apa anda dokter yang membantu menyelamatkan pasien ini?” Tanya Arkan.
Arkan tidak tahu siapa yang menjadi lawan bicaranya kini karena lawan bicaranya itu masih dalam posisi gelap, hingga dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut.
“Iya... Arkan ini sungguh kau?!”
“Jangan diam saja kita harus cepat membawa pasien ke ruang ICU.”
“Bai-baiklah!” Ujar Ikhsan dan dengan cepat membantu Arkan mendorong brankar pasien ke ruang ICU.
Selama di ruang ICU, Ikhsan tak henti-hentinya memandangi wajah sahabatnya itu, hingga akhirnya mereka selesai menyelamatkan pasien yang mereka tangani bersama.
“Gue tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi, Arkan.” Ujar Ikhsan.
“Maaf, Anda pasti salah orang, saya bukan orang yang anda maksud. Perkenalkan nama saya Dokter Davidson Albert.” Ujar Arkan memperlihatkan tanda pengenal di pakaiannya.
Ikhsan tertegun setelah melihat tanda pengenal yang Arkan perlihatkan padanya.
“Maaf Dokter... tapi Anda benar-benar sangat mirip dengan sahabatku waktu kuliah....” Ujar Ikhsan agak canggung.
“Ya tidak masalah. Tapi saya belum mengenal Anda, apa Anda adalah dokter baru yang baru saja di mutasi dari rumah sakit kota S?”
“Benar itu saya. Perkenalkan nama saya Ikhsan Aditama, senang bisa bertemu dengan Anda Dokter Davidson...” Ujar Ikhsan memperkenalkan dirinya.
“Panggil saja ya Dokter David, semoga Anda betah bekerja di rumah sakit ini. Saya harus pergi, ada pasien yang harus saya cek permisi....” Ujar Arkan berlalu pergi.
“Kenapa dia sangat mirip dengan Arkan? Apa Arkan memiliki saudara kembar?” Pikir Ikhsan bingung.
“Gue harus memberitahu Arhan tentang hal ini.” Ujarnya dan segera pergi ke mansion keluarga Arhan karena pekerjaannya telah selesai.
Di sisi lain Arkan berjalan menuju ruang rawat inap, dengan pikiran yang berkecamuk.
“Maafkan aku Ikhsan... tapi Arkan yang kau maksud sudah mati bertahun-tahun yang lalu....” Batin Arkan.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
“Ada apa Bang, malam begini datang kesini? Aku sudah mengantar Shalwa pulang, sepulang dari kantor tadi. Apa dia tidak ada di rumah?” Ujar Arhan.
“Abang kemari bukan karena masalah Shalwa, tapi tentang Abang mu Arkan Pratama.” Ujar Ikhsan.
“Bang Arkan?” Ujar Arhan bingung dan membiarkan Ikhsan masuk ke dalam.
“Ya, apakah Arkan memiliki kembaran yang bernama Davidson?” Tanya Ikhsan sambil mendudukkan dirinya di sofa.
“Kembaran?” Arhan mengernyitkan dahinya sambil menatap Ikhsan bingung.
“Tidak. Arkan tidak memiliki kembaran.” Sahut Azel dari lantai atas.
“Itu Aneh...? Karena tadi di tempat kerjaku yang baru, aku bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan Arkan namanya Davidson Albert.” Ujar Ikhsan.
“Apa Bang Ikhsan tidak salah lihat?”
“Bagaiman Abang bisa salah lihat, dia berdiri jelas di depan mata Abang Arhan.” Tegas Ikhsan.
“Siapa?” Sahut Arief yang keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.
“Bang Ikhsan bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Bang Arkan.” Jawab Arhan.
“Itu pasti Arkan kita Ayah... ayo kita pergi ke sana, kita harus bertemu dengannya secara langsung untuk memastikannya.” Ujar Arief dengan mata yang mulai berkabut.
“Dimana tempat kerja mu itu, Ikhsan?” Tanya Azel.
“Mungkin sekarang dia sudah pulang, aku bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit Kota D.” Ujar Ikhsan.
Mansion Reza 🏠
Arkan memberitahu Rangga tentang pertemuannya dengan Ikhsan, sahabatnya dulu.
“Pasti sekarang Ikhsan sudah memberi tahu keluargaku, Bang...”
“Sebaiknya mulai sekarang kau tinggallah sendiri diluar, agar mereka tidak curiga jika kau adalah Arkan.” Saran Rangga.
“Aku tidak yakin bisa mengendalikan perasaan rinduku pada mereka, jika mereka datang padaku Bang.” Ujar Arkan terlihat bimbang.
“Mereka bukan lagi keluargamu Arkan.... Mereka sudah menyiksamu, bahkan kau pernah bilang jika Arief ingin kau pergi dari hidupnya untuk selamanya, kan? Dan juga dia sudah berusaha meracuni mu hanya agar kau pergi dari dunia ini!” Ujar Rangga mengingatkan.
“Kau sudah berjanji pada kami sebelum kita kembali ke Negara M, jika kau akan melupakan masa lalu mu dan memulai hidup yang baru, tanpa orang-orang yang sudah menyakiti mental dan fisikmu....” Reza menambahkan.
“Jika dulu kami tidak menyelamatkanmu waktu itu kau pasti sudah tiada Arkan....” Ujar Rangga.
“Meskipun ayahmu adalah adikku, tapi perlakuannya yang tidak adil dan kejam seperti iblis pada keponakan ku... paman tidak akan pernah bisa memaafkannya, Arkan...”
“Iya, kalian benar... jika Bang Ranga tidak menyelamatkan ku waktu itu, pasti Arkan mereka sudah beristirahat dengan tenang di pemakaman sekarang.” Ujar Arkan.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf❦DέȽΜɑɌ❦•§¢• ⍣⃝ꉣꉣ🍉
arkan tidak lupa sama keluarganya masih lembut hatinya karna ngak berdendam dan tetap merindui mereka tp yg dikata rangga benar biar mereka menyesali perbuatannya dan anggap nie sebagai hukuman yaa.
2024-07-11
0
❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸
apakah Arkan akan mempunyai sifat pendendam, tapi emang ini balasan untuk mereka sih karena sudah menyiksa Arkan, bahkan menginginkan Arkan pergi dari kehidupan mereka
2024-07-09
0
❤️⃟Wᵃf🕊️⃝ᥴͨᏼᷛAna
Baik banget paman Arkan.. bener kata Pamanmu Arkan menjauh lah..dari mereka yg menyiksamu agar km ga tersakiti lagi... tapi sampai kapan Arkan jadi pelarian :'(
2024-06-08
2