Alone 16

Beberapa tahun sudah, kamar ini tak bertuan. Dan selama itu juga, setiap malam Arhan akan berdiri di depan jendela kamar tersebut sambil menatap gelapnya langit malam.

“Bang Arkan dimana? Kami disini selalu menunggu kabar dari mu Bang, kami merindukan mu....” Tanya Arhan.

Pertanyaan yang sederhana, namun selalu berhasil membuat tetesan bening dari matanya lolos begitu saja.

“Han, kau berdiri di sini lagi?” Ujar Arief ikut berdiri di samping Arhan.

“Kapan Bang Arkan akan pulang? Apa dia masih hidup atau dia sudah pergi untuk selamanya Bang?” Tanya Arhan pada Arief sambil terisak karena kerinduan yang sudah teramat dalam pada sang kakak.

“Abang juga tidak tahu, Han. Abang hanya bisa berdoa semoga Arkan baik-baik saja, dan segera pulang....” Balas Arief mendongak kan kepalanya menahan air matanya yang akan terjatuh.

“Gue takut Bang... gue takut paman Reza dan bang Rangga menyembunyikan kabar kepergian bang Arkan karena takut di salahkan oleh keluarga kita.”

“Sebab, jika bang Arkan masih hidup, tidak mungkin bang Arkan tidak memberi kabar pada kita selama ini.”

“Itu semua salahku, jika Arkan memang sudah meninggal, akulah yang telah membunuhnya.” Ujar Arief masih mendongak kan kepalanya.

“Itu semua salah Abang. Maafkan Abang Arkan, meskipun kau berpesan padaku untuk tidak menyalahkan diriku sendiri atas kepergian mu, tapi kebaikan mu itu justru membuat ku merasa semakin bersalah Arkan.”

“Bertahun-tahun kau menerima perlakuan buruk dariku sebagai balasan atas hidup yang telah kau berikan padaku. Dan kau hanya diam menerima semuanya saat kau selalu di salahkan... kau tidak pernah membela dirimu sendiri, hingga kami semakin semena-mena terhadapmu Arkan.”

“Abang sangat berharap kau masih ada Arkan... Abang sangat merindukanmu, ketulusanmu, kelembutanmu, dan senyum yang selalu kau berikan pada kami meskipun kau sedang terluka dan tersakiti oleh sikap kami.”

“Abang sangat merindukanmu, sangat merindukanmu... ingin rasanya Abang memutar waktu dan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya, namun... semua itu tidak mungkin...”

“Abang merindukan mu, Abang ingin memelukmu, melihat senyuman mu yang dulu sama sekali tak ingin Abang lihat.”

“Dan saat ini hanya tinggal kenangan yang entah itu akan bisa Abang lihat lagi atau hanya akan tertinggal dalam ingatan saja.”

Arief mengutarakan semua kesedihan dan kerinduannya pada Arkan malam ini di dalam kamar Arkan, saat mengutarakan semuanya kenangan tentang Arkan berputar layaknya sebuah film di kepalanya. Arhan yang melihat sang kakak terhanyut dalam kesedihan dan kerinduannya itu pada Arkan segera merengkuh Arief ke dalam pelukannya dan menjadikan pundaknya tempat bersandar untuk sang kakak.

“Tuhan aku mohon... berilah kami sedikit titik terang tentang keadaan saudara kami... kami sangat merindukannya Tuhan. Kami sangat merindukannya... sangat... merindukannya.” Ujar Arhan terisak.

Malam itu di dalam kamar Arkan, Arhan dan Arief saling memeluk satu sama lain dan hanyut dalam suasana haru mereka yang merindukan Arkan.

...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...

“Arkan besok apakah kita ada jadwal operasi?” Tanya Rangga saat makan bersama.

“Em....” Gumam Arkan mengingat-ingat sebelum menjawab Rangga.

“Ada! Operasi tumor jinak wanita tua yang ada di bangsal mawar.”

“Bisa tidak, jangan bicarakan pekerjaan di meja makan?” Ujar Reza.

“Terus apa? Kalau tidak membicarakan tentang pekerjaan, kita mau bicara tentang apa, Ayah?” Tanya Rangga.

“Yah, misalnya... kapan kamu mau nikah?”

“Huft, pertanyaan itu lagi... Ayah gak bosan bertanya itu mulu?” Jawab Rangga yang merasa bosan akan pertanyaan sang Ayah.

“Enggak! Jadi kapan kamu mau kenalin calon kamu sama Ayah?”

“Ayah sendiri kapan mau kenalin calon Ayah sama kita?” Tanya Rangga balik.

“Huhff.” Arkan membuang nafasnya kasar.

“Mulai lagi perdebatan pernikahan yang tidak pernah terwujud ini...” Gumam Arkan yang sudah terbiasa melihat Rangga dan Reza selalu seperti itu.

“Tahu tuh Ayah, selalu nanya kapan nikah padaku, sekali-kali Arkan giti yang di tanya, jangan aku mulu.” Runtuk Rangga.

“Baiklah, Arkan kapan kamu nikah?” Tanya Reza mengalihkan pandangannya pada Arkan.

“Arkan nikah besok pagi aja gimana, Paman?” Ujar Arkan.

“Uwah! Sat set sat set banget ni bocah.” Celetuk Rangga.

“Besok pagi? Yak! Tidak secepat itu juga Arkan.” Ujar Reza Kaget.

Arkan malah tertawa mendengar tanggapan paman dan kakak sepupunya.

“Ya sudah, bagaimana kalau hari Rabu saja? Sekarang masih hari Jumat, jadi masih ada waktu 4 hari lagi.” Ujar Arkan bercanda.

“Hari Rabu? Paman tidak bisa. Bagaimana kalau hari Sabtu saja?”

“Jangan hari Sabtu, Paman. Aku ada janji sama dokter mimpi.” Balas Arkan.

“Tapi, memangnya kamu sudah ada calonnya, Arkan?” Tanya Reza.

“Tentu saja...”

Arkan menjeda ucapanya membuat paman dan kakak sepupunya makin penasaran.

“Belum punya, hehehe.” Ujar Arkan terkekeh.

“Tapi di rumah sakit banyak Dokter dan Perawat cantik naksir sama kamu loh, hampir tiap hari mereka nanya mulu soal kamu ke Abang.” Ujar Rangga.

Rangga yang sebagai salah satu Dokter Senior di rumah sakit tempatnya berkerja, bersama Arkan. Menjadi tempat terbaik untuk mencari informasi bagi bagi para Dokter dan para Perawat di sana. Dirinya yang hampir tiap hari di tanya oleh rekan kerja wanitanya baik itu para senior maupun juniornya soal Arkan mengetahui hal tersebut dengan baik.

“Nanya doang itu mah Bang. Kan Arkan selalu ngutang sama mereka, hehehe.” Ujar Arkan terkekeh.

“Kalau kamu belum punya calon terus kamu mau nikah sama siapa, Arkan?”

“Ya paman bantu cariin dong pengantin wanitanya mudah kan?”

“Yak! Jadi kamu belum ada calon istri, dan nyuruh paman yang cari pengantin wanitanya untuk mu? Bukannya kata Rangga di rumah sakit banyak Dokter dan Perawat cantik yang naksir sama kamu, kenapa kamu tidak nikahi saja salah satu dari mereka, kamu juga Rangga tinggal tunjuk saja apa susahnya sih, hah!” Semprot Reza pada mereka berdua.

Arkan dan Rangga yang mendapat ceramah dari reza itu hanya bisa meneriakkan nama satu sama lain.

"Arkan!"

"Ahh! Tidak lagi." Teriak Arkan.

...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...

Terpopuler

Comments

™βτ$💜𝐀⃝®M¥🌹Ara⑨⑺

™βτ$💜𝐀⃝®M¥🌹Ara⑨⑺

Wah, kamu benar-benar, Arkan. Orang paman mu itu serius nanya. Malah kamu jahili seperti itu🤣

2024-07-11

0

❤️⃟Wᵃf❦DέȽΜɑɌ❦•§¢• ⍣⃝ꉣꉣ🍉

❤️⃟Wᵃf❦DέȽΜɑɌ❦•§¢• ⍣⃝ꉣꉣ🍉

Arkan udah bahagia ngak mau ingat masa lalu meski keluarganya udah menyadari kesalahan masing2 tp yaa terlambat hurmm.

2024-07-11

0

❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸

❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸

Arkan bahagia hidup bersama paman dan abang sepupunya, sedangkan keluarga nya sendiri sedang sedih karena merasa kehilangan Arkan🤭

2024-07-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!