Alone 13

Di dalam ruang ICU, Rangga memeriksa denyut Arkan.

Suster siapkan defibrillator. Ujar Rangga.

AED (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang berfungsi untuk menganalisis dan memberikan kejutan listrik secara otomatis kepada seseorang yang mengalami henti jantung.

Beberapa saat kemudian Rangga keluar dari Ruangan, dan melihat itu Arhan segera mencecar Rangga dengan pertanyaan.

"Bang Rangga, bagaimana keadaaan Bang Arkan?"

"Dia baik-baik saja, kan?"

Rangga tidak menjawab Arhan melainkan berbalik bertanya pada semua orang di depannya.

"Apa yang kalian lakukan pada Arkan. Hingga banyak luka di tubuhnya?" Tanya Rangga.

"Nanti akan saya jelaskan... sekarang bagaimana keadaan Arkan, Rangga?" Ujar Azel.

"Maaf Paman...." Ujar Rangga.

"Dengan sangat terpaksa Rangga harus menyampaikan jika Arkan sudah meninggal." Lanjutnya dengan nada sedih.

Setelah dengan berat hati menyampaikan berita soal kematian Arkan, Rangga membuka pintu ruang ICU. Azel dan yang lainnya segera ikut masuk ke dalam. Mereka pun melihat Arkan sudah terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi tubuhnya.

Suster yang melihat keluarga Arkan masuk ke ruang ICU, segera menurunkan kain putih di sekitar wajah Arkan, agar Azel dan yang lainnya bisa melihat wajah Arkan untuk yang terakhir kalinya.

"Arkan bangun nak, ayah minta maaf...."

"Tolong beri ayah kesempatan ke dua."

"Ayah relakan saja Arkan pergi. Ayah menangis pun Arkan tidak akan bangun." Ujar Arief menenangkan sang ayah.

"Mudah bagi Bang Arief berkata seperti itu... karena Abang benci sama Bang Arkan, kan." Sindir Arhan.

"Bang Arief dan Ayah itu sama kalian jahat sama Bang Arkan! Pergi kalian dari sini!" Ujar Arhan sedikit berteriak.

"Jangan sentuh Bang Arkan!" Teriaknya lagi.

"Arkan bangun nak.... Maafkan Bunda yang tidak bisa menyelamatkan mu dari kebrutalan ayahmu...." Ujar Renata pelan.

"Bangun sayang.... Bunda mohon." Ujarnya lagi makin pelan.

"Bang Arkan bangun Bang....*

"Arkan... maafkan ayah. Ayah sangat menyesal...."

"Buka matamu, tolong beri Ayah kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

"Ayah tidak akan bersikap kasar lagi padamu Arkan..."

"Bangun Nak... bangun... kau ingin Ayah memelukmu, bukan? Baiklah ayah akan memelukmu. Jadi bangunlah...." Ujar Azel mendekati tubuh Arkan yang terbaring kaku di depannya.

"Tidak!"

"Ayah tidak boleh menyentuh Bang Arkan." Ujar Arhan menghentikan Azel yang mendekat ke arah Arkan.

"Bang Arkan seperti ini semua karena perbuatan Ayah!" Tegas Arhan.

"Arhan gak bakal izinin ayah buat nyentuh Bang Arkan!"

"Ayah itu pembunuh! Seorang pembunuh!" Bentak Arhan.

"ARHAN PRATAMA!" Teriak Arief.

"Dimana sopan santun mu? Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Ayah!" Ujar Arief.

"Kenapa tidak boleh?"

"Apa Abang lupa apa yang sudah ayah lakukan pada Bang Arkan semalam, hah?"

"Apa Bang Arief sudah pikun? Atau Abang pura-pura lupa?" Ujar Arhan tersenyum sinis.

"Mengapa kalian malah bertengkar?" Ujar Renata yang lelah mendengar pertengkaran ke dua putranya di situasi ini.

Rangga yang sedari tadi hanya diam. Mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada Arkan melalui perkataan Arhan.

"Jadi luka di tubuh Arkan itu perbuatan Paman?" Tanya Rangga memastikan.

Azel hanya bisa menangis mendengar pertanyaan dari keponakannya itu. Dirinya kembali mengingat apa yang semalam telah dia lakukan pada Arkan.

"Apa salah Arkan paman? Mengapa paman sampai hati menyakiti anak sebaik dirinya?" Tanya Rangga lagi yang sudah yakin bahwa pamannya lah penyebab lebam di seluruh tubuh Arkan.

"JAWAB PAMAN! JANGAN DIAM SAJA!" Bentak Rangga.

Karena bentakan dari Rangga, Azel yang sejak tadi hanya diam dan terus menangis mengingat kejadian semalam, angkat bicara dan menjawab pertanyaan sang ponakan.

"Paman sangat menyesal... paman tidak bisa mengontrol emosi dan paman tidak menyangka akan berakhir seperti ini Rangga...."

"BOHONG!" Bantah Arhan.

"Aku sudah meminta Ayah untuk berhenti memukul Bang Arkan. Tapi Ayah tidak mendengarkan perkataanku!" Jelas Arhan.

"Ayah sengaja kan ingin membunuh Bang Arkan?" Tuduh Arhan.

"Kau sangat keterlaluan paman. Aku tidak menyangka selama ini Arkan tinggal bersama Ayah berhati iblis sepertimu!"

"Pergi Ayah dari sini! Jangan tunjukkan air mata buaya Ayah di depan jasad Bang Arkan." Ujar Arhan melarang.

"Ayah minta maaf Han... Ayah sangat menyesal, ayah juga tidak mau Abang mu meninggal Nak...."

"Sudahlah Ayah ayo kita pergi.... "Ujar Arief menarik lengan Ayahnya.

"Tidak! Ayah masih ingin bersama anak ayah...." Ujar Azel berusaha memeluk jasad Arkan.

"PERGI!" Bentak Arhan dengan mendorong tubuh Azel hingga terjatuh di lantai.

"Arkan...."

"Arkan...."

"Apa ini hanya mimpi?" Ujar Azel yang baru saja membuka matanya.

"Tapi mengapa semua itu terasa begitu nyata?" Pikir Azel dan langsung melompat turun dari tempat tidurnya.

...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...

Terpopuler

Comments

ℛᵉˣℱᵅᵐⁱⳑʸAdel❤️⃟Wᵃf●⑅⃝ᷟ◌ͩ

ℛᵉˣℱᵅᵐⁱⳑʸAdel❤️⃟Wᵃf●⑅⃝ᷟ◌ͩ

ada Arhan yang menjadi bukti atas semua perbuatan ayahnya terhadap Arkan

2024-07-11

0

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

mumpung mimpi pak berubah sifatmu sayangi anakmu... jangan kamu sakiti atau kamu siksa lagi...

2024-07-11

0

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

huaaaaaa beneran nangis aku bacanya apalagi soal kematian ga sanggup aku... /Sob//Sob/

2024-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!