Alone 11

“Kita jalan-jalan yuk! Abang pingin nonton ke bioskop, udah lamakan gak nonton.” Ajak Arief pada Arhan yang sedang duduk santai di sofa.

“Nonton ke bioskop ya? Kemarin Arhan udah dari sana.” Jawab Arhan sedikit ragu-ragu.

“Em, gitu ya. Kalau begitu kita jalan ke tempat lain saja, Abang butuh refreshing nih.” Ajak Arief lagi.

“Kapan Bang?”

“Sekaranglah, masak iya tahun depan.” Ujar Arief.

“Duh gimana ngomongnya ya?” Ujar Arhan pelan, seraya meremas-remas jari jemarinya.

“Ayo, Han kita berangkat. Abang sudah siap.” Ujar Arkan yang melangkah turun dari kamarnya.

“Kalian mau kemana?” Tanya Arief dengan sorot matanya yang tajam.

“Kita mau- hmmbbb.” Ujar Arkan kurang jelas sebab Arhan tiba-tiba membekap mulutnya.

“Kita mau keluar jalan-jalan sebentar cari angin Bang.” Sela Arhan cepat.

“Oh begitu. Abang sekarang mengerti pergilah. Selamat bersenang-senang Han!” Ujar Arief dan memalingkan wajahnya saat melihat Arkan.

“Kenapa emangnya kalau Bang Arief tau kalau kita mau pergi-.”

“Ssttt!” Desis Arhan menghentikan perkataan Arkan.

“Kalau Bang Arief tahu. Dia pasti mengejek gue terus-terusan.” Ujar Arhan.

“Baiklah. Ayo kita pergi sekarang.”

Sebenarnya Arhan ingin pergi mencari hadiah ulang tahun untuk kekasihnya, Shalwa. Arhan mengajak Arkan pergi ke pusat perbelanjaan. Dia meminta Arkan untuk membantunya memilihkan hadiah untuk Shalwa, karena menurutnya selama ini pilihan Arkan selalu tepat dan tidak pernah mengecewakan buat Shalwa.

"Makasih ya, Bang. Sudah mau bantuin gue." Ujar Arhan.

"Iya, sama-sama. Semoga saja pacarmu itu suka dengan hadiah ini." Ujar Arkan dengan hati yang terasa sakit karena luka yang dia rasakan belum kering.

"Pasti! Pasti dia suka Bang. Pilihan Abang selama ini selalu tepat dan tidak mengecewakan." Ujar Arhan.

"Informasi yang Abang dapat dari bang Ikhsan selalu akurat." Lanjutnya.

Arkan mengiyakan saja perkataan dari sang adik. Padahal dirinya tahu semua tentang Shalwa, karena sudah menjalani hubungan dengan Shalwa selama 4 tahun. Semenjak dirinya melihat Shalwa pertama kali waktu dia datang ke rumah Ikhsan untuk mengerjakan tugas kuliah di tahun pertama ia menjadi mahasiswa dan Shalwa masih duduk di kelas 2 SMA.

"Ayo kita cari makan dulu sebelum pulang Bang. Gue udah lapar banget." Ajak Arhan.

"Baiklah, tapi Abang ke toilet sebentar ya...." Ujar Arkan dan bergegas pergi meninggalkan Arhan.

"Ya udah, tapi cepat ya. Gue tunggu di sini." Balas Arhan, Arkan hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh.

Skip Toilet.

Arkan memasuki toilet, segera mencuci tangannya dan membasuh wajahnya. Namun saat membasuh wajahnya Arkan terkejut dengan darah yang mengalir keluar dari lubang hidungnya.

Arkan segera membersihkan darah yang mengalir tersebut, dan segera mencari obat miliknya.

Disisi lain Arhan yang menunggu Arkan memilih untuk menyusul Arkan yang telah lama pergi ke toilet namun belum kembali juga.

"Kenapa perasaanku gak enak ya? Gue nyusul Abang sajalah." Ujarnya pergi menuju toilet.

Saat akan masuk ke dalam toilet, Arhan langsung berpapasan dengan Arkan.

"Apa semua baik-baik saja, Bang?" Tanya Arhan melihat wajah Arkan yang pucat pasih.

"Iya, Abang hanya sedikit flu saja." Bohong Arkan.

"Abang jangan bohong, kalau Abang sakit bilang Bang. Jangan diam saja!"

"Iya, Abang baik-baik saja kok. Ayo katanya tadi mau cari makan?" Ujar Arkan mengalihkan.

"Baiklah.... Tapi tolong jangan sembunyikan sesuatu dariku Bang!"

Arkan hanya tersenyum dan tidak menanggapi Arhan.

Setelah makan, mereka berdua akhirnya pulang.

"Bang ini gue punya sate ayam buat Abang." Ujar Arkan yang melihat Arief di ruang tamu.

"Gue gak mau!" Jawab Arief ketus.

"Tapi gue beli ini buat Abang."

"Sudah gue bilang gak mau! Gue GAK MAU!!" Bentak Arief seraya melempar makanan yang Arkan berikan.

"Sampai kapan?" Ujar Arkan pelan.

"Mau sampai kapan Abang akan bersikap seperti ini padaku?"

"Gue gak mau mati dengan membawa kebencian dari semua orang."

"Katakan apa salah ku Bang!!" Ujarnya lagi sembari meraih lengan Arief.

"Kau mau tahu apa salah Lo?" Heh." Ujar Arief tersenyum sinis.

"Ya, katakan Bang salahku apa?" Ujar Arkan.

"Sebelumnya gue gak pernah bedain Lo sama Arhan, gue sayang kalian berdua." Ujar Arief mulai menjelaskan.

"Tapi saat gue sakit dan hampir mati, Lo menghilang dan gak peduli sama gue! Hanya Arhan yang selalu ada dan memberikan semangat ke gue!" Jelasnya.

"Dan Lo... jangankan memberikan semangat, menjenguk gue aja Lo nggak ada bangsat!!" Bentak Arief menarik kerah baju yang Arkan kenakan.

"Lepasin Bang." Ujar Arkan pelan.

Flashback on.

7 tahun lalu.

"Arief, bunda tahu kamu anak yang kuat jadi bertahanlah. Kamu harus sembuh nak." Ujar Renata sedih.

Karena sudah tidak sanggup melihat keadaan anak sulungnya. Yang telah berbaring begitu lama di ranjang rumah sakit.

"Arief, ayah pasti akan segera mendapatkan pendonor untukmu. Jadi bertahanlah sedikit lagi, demi kami semua." Ujar Azel tidak kalah sedih.

Di sisi lain.

"Bang kapan operasinya akan dilakukan? Aku tidak mau ayah dan bunda terus menangis." Tanya Arkan di ruangan Rangga.

"Abang tanya sekali lagi, kamu yakin akan mendonorkan ginjal mu untuk Arief?"

"Tentu saja! Aku juga sudah melakukan pemeriksaan dan semuanya cocok. Bang Rangga masih nunggu apa lagi?"

"Tapi... Abang khawatir dengan kondisimu Arkan." Ujar Rangga.

"Aku akan baik-baik saja Bang." Ujar Arkan menyakinkan.

"Dan satu hal lagi, Arkan minta tolong sama Bang Rangga. Arkan mohon jangan beritahu hal ini pada siapapun. Arkan tidak mau Bunda dan Ayah ataupun yang lainnya semakin sedih dan khawatir." Ujar Arkan.

"Baiklah. Abang mengerti, tapi kamu juga harus janji. Kamu harus baik-baik saja."

"Iya Arkan janji."

Karena melihat keyakinan dari Arkan. Dan mengingat kondisi Arief yang kritis Rangga segera mempersiapkan ruang operasi transplantasi ginjal untuk Arief dan Arkan.

Hampir 6 jam lamanya Rangga di ruang ICU. 1 jam lebih lama dari pada perkiraan waktu operasi transplantasi. Karena ada saat, dekat jantung Arkan melemah dan berhenti saat prosedur berlangsung.

Saat itu, tanpa pikir panjang Rangga segera melakukan pertolongan pada Arkan.

"Arkan Pratama! Kembalilah kau sudah berjanji akan baik-baik saja padaku!" Ujar Rangga sambil terus melakukan CPR pada Arkan.

*CPR adalah teknik penyelamatan nyawa yang berguna dalam banyak keadaan darurat ketika pernapasan atau detak jantung seseorang terhenti.*

"Kau tidak boleh mengingkari janjimu!"

Sepertinya Arkan mendengarkan perkataan Rangga dan menepati janji nya. Detak jantung Arkan mulai berdetak kembali. Meskipun nyawanya kini tidak dalam bahaya lagi. Namun dirinya harus koma selama 1 bulan lamanya.

Flashback off.

...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...

Terpopuler

Comments

ℛᵉˣℱᵅᵐⁱⳑʸAdel❤️⃟Wᵃf●⑅⃝ᷟ◌ͩ

ℛᵉˣℱᵅᵐⁱⳑʸAdel❤️⃟Wᵃf●⑅⃝ᷟ◌ͩ

kalah cepet sama Arkan ya buat ngajakin Arhan nya, kenapa gak ikut aja sekalian biar rame

2024-07-11

0

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

🪐🦁§͜¢◌ᷟ⑅⃝ͩ●ⁿᶦᵗᵃᴸᵉᵉ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🍁❣️

cieeee abang cemburu adek lebih milih arkan... ga enak kan bang ya begitulah Arkan bang sama sedih dan kecewa juga...

2024-07-11

0

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

owh ternyata kakak nya arkan berubah di karenakan hal itu , arkan gak mau nengok padahal arkan sedang dalam keadaan koma sama lagi di rumah sakit kesalah pahaman ternyata, padahal arkan yang donor ginjal nya buat kamu arif😤

2024-07-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!