Dosen sedang menerangkan di depan podium, tapi Arkan tidak bisa fokus pada pelajarannya. Dia menahan napas dan memejamkan mata, sembari berdesis lirih melawan rasa sakit. Yang mengganas menyerang tubuhnya tanpa belas kasihan.
“Mengapa rasa sakit ini tidak hilang meski Gue sudah minum obat, malah makin terasa sakit sekali?” Batin Arkan, sambil berusaha mengumpulkan oksigen di sekitarnya yang seakan semakin menipis.
Beberapa saat kemudian kelas pun berakhir. Arkan menaruh kepalanya di atas meja dan berusaha tidur, berharap agar rasa sakitnya akan berkurang karena masih ada dua mata kuliah lagi.
“Arkan, Arkan.” Panggil Ikhsan menepuk pelan lengan Arkan.
“Hmm.” Sahut Arkan.
“Kau pucat sekali, apa tidak sebaiknya kau pulang saja dan istirahat di rumah.” Ujar Ikhsan yang khawatir dengan kondisi sahabatnya.
“Istirahat bukan solusi buat gue, Ikhsan.” Jawab Arkan.
“Terus apa? Apa perlu gue antar Lu ke rumah sakit?” Tanya Ikhsan.
“Beri gue 10 lembar uang pecahan 100.000 ribu, di jamin gue gak akan pucat lagi.” Sahut Arkan.
“Yaishh, dasar mata duitan.” Ujar Ikhsan menyentil jidat Arkan.
Arkan tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
“Ketawa Lu, orang gue lagi khawatir juga.” Dengus Ikhsan.
“Kalau Lo khawatir, sini kasih gue 10 lembar uang pecahan 100.000 ribu. Di jamin sehat bugar gue.” Ujar Arkan.
“Gue juga bakal sehat bugar kalau punya tuh duit. Ngadi-ngadi Lu!” Rutuk Ikhsan.
“Apalagi kalau punya satu koper, bisa jalan sambil salto gue. Hahaha.” Balas Arkan tertawa terbahak-bahak.
“Enggak sekalian jungkir balik juga? Hehehe.” Sambung Ikhsan terkekeh.
Mereka berdua akhirnya tertawa besama-sama. Dan Arkan mengalihkan pembicaraan agar sahabatnya itu tidak khawatir padanya.
“Lu kenal adik Gue, gak?” Alih Arkan
“Emang Lu punya adik? Elu kan gak pernah cerita tentang keluarga Lo ke Gue. Meskipun Gue sudah sering bongkar aib keluarga Gue ke Elu.” Cecar Ikhsan.
Sebelumnya Arhan melarang Arkan untuk berdekatan dengannya saat di kampus, apalagi mengatakan jika mereka berdua adalah kakak adik. Alhasil di kampus tidak ada yang tahu ataupun menyangka bahwa mereka berdua adalah saudara.
“Lu kenal Arhan, gak?”
“Arhan? Arhan teman adik gue Shalwa?” Tanya Ikhsan.
“Benar, dia adik Gue.”
“Serius? Kalau Arhan itu gue kenal karena dia sering antar jemput adik gue.”
“Menurut Lu adik gue bagaimana?”
“Hm, sepertinya dia anak baik-baik.” Jawab Ikhsan.
“Kalau mereka berdua pacaran, boleh kan?” Tanya Arkan.
“Apa?! Enggak boleh adik gue masih kecil. Berani adik lu macarin adik gue... gue botakin rambut Lu.”
“Loh, kok jadi gue yang di botakin?” Ujar Arkan bingung.
“Kan Lu Abangnya!” Tegas Ikhsan.
“Shalwa itu sudah dewasa, dia berhak untuk hidupnya sendiri. Lu gak boleh ngatur dia terus, kasihan.” Ujar Arkan.
“Gue ngatur juga demi kebaikannya sendiri. Gue gak mau adik gue kenapa-kenapa.”
“Kalau sama adik gue, Shalwa pasti aman kok. Arhan gak mungkin macam-macam.”
“Gak bisa, adik gue masih KECIL!” Ujar Ikhsan menegaskan kata kecil.
“Iya, jarinya yang kecil. Sampai kapan Lo mau anggap Shlawa anak kecil? Sampai dia jadi nenek-nenek?” Ujar Arkan.
“Iya kenapa?” Ujar Ikhsan.
“Jangan egois gitu, emang lu gak pingin Shalwa bahagia?”
“Abang mana sih yang gak pingin adiknya bahagia.” Ujar Ikhsan yang mengerti maksud Arkan.
“Sama gue juga, pingin adik gue bahagia. Dan kebahagiaan adik gue itu adalah adik lo, begitu pula sebaliknya.” Ujar Arkan pada poin utama yang ingin disampaikannya pada Ikhsan.
“Sok tahu lu! Adik lu aja kali yang tergila-gila sama adik gue yang cantik dan baik hati seperti Abangnya.” Balas Ikhsan.
“Jangankan adik gue, gue aja tergila-gila sama adik lu. Hehehe.”
Ujar Arkan terkekeh, sambil menutupi fakta seolah yang ia ucapkan hanya gurauan semata.
“Kalau adik gue sama Lo, Gue bakalan setuju. Karena gue yakin Lu gak bakal macam-macam.”
“Sungguh? Tapi adik lu yang gak mau sama gue.” Balas Arkan tertawa.
“Yah, Lo usaha dong buat dapatin hati adik gue.”
“Telat! Adik lu udah keburu suka sama adik gue. Gue sama adik gue sama aja kok, jadi restuin aja hubungan mereka.” Ujar Arkan.
“Daripada mereka main kucing-kucingan di belakang lo, yang ada lo malah tambah gak bisa mantau mereka.”
“Kalau lo restuin mereka, nanti gue bantu mantau juga deh. Kalau sampai adik gue macam-macam, kita botakin dia sama-sama.” Jelas Arkan terkekeh.
“Hem... benar juga. Boleh lah kalau sama adik lo. Kelihatannya dia juga baik.” Setuju Ikhsan.
“Nah! Gitu dong bro. Selain jadi sahabat, kita juga bakal jadi keluarga.”
“Akhirnya tugas terakhir gue sudah selesai.” Bisik Arkan dalam hati.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf Zeno Bachtiar◌ᷟ⑅⃝ͩ●
semua menjadi rumit. knp hrs menyembunyikan status mu sebagai adek kakak.
2024-06-06
0
❤️⃟Wᵃf🍁Νeͷg Aͷjaᴳ᯳ᷢ🐰❣
kamu punya hati terbuat dari apa sih Arkan sampai segitunya perjuangan mu biar arhan direstui ikhsan buat pacaran sama shalwa
2024-06-06
2
❤️⃟Wᵃfᴍ᭄ꦿⁱˢˢᴤᷭʜͧɜͤіͤιιᷠа ツ
Arkan benar2 cowok yang baik walaupun keada'annya gak baik-baik aja tapi dia masih bisa bikin orang lain tertawa
2024-06-06
2