Dua hari sudah Arkan berada di rumah sakit dan belum membuka matanya. Pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi keluarga Arkan, karena tidak menemukan ponsel ataupun kartu pengenal pada Arkan. Orang yang mengantarkan Arkan pun ke rumah sakit tidak mengenalinya.
Desahan kecil dan pergerakan jari dari Arkan, mengalihkan perhatian perawat yang sedang mengganti cairan infus di samping Arkan.
"Selamat malam tuan. Apa yang anda rasakan saat ini?" Tanya perawat saat melihat Arkan membuka matanya.
Arkan masih terdiam dan terlihat kebingungan bola matanya bergerak mencerna apa yang ada di sekelilingnya.
"Tuan saya periksa dulu ya." Ujar sang perawat dengan ramah yang kemudian memakai stetoskopnya.
"Suster, saya di rumah sakit ya?" Tanya Arkan lemah.
"Iya, tuan sedang di rawat di rumah sakit." Jawab sang perawat.
"Dan keadaan anda juga sudah mulai membaik." Lanjutnya sambil melepas stetoskop dari telinganya.
"Suster, dimana keluarga saja?" Tanya Arkan,
berharap ada salah seorang keluarganya yang mencarinya. Karena dirinya tidak ada kabar selama beberapa hari. Namun jawaban dari perawat itu membuatnya sadar bahwa itu hanya keinginan dirinya belaka.
"Itu juga yang kami ingin tanyakan pada anda. Karena orang yang membawa anda kemari tidak mengenal anda dan mereka langsung pergi begitu saja."
"Sudah dua hari anda dirawat di sini. Namun, pihak rumah sakit tidak tahu harus menghubungi siapa. Karena tidak ada ponsel ataupun kartu pengenal yang anda bawa." Jelas sang perawat.
"Ah, iya. Karena terburu-buru Aku lupa membawa ponsel dan dompet ku." Ujar Arkan masih lemah.
Lantas sang perawat meminta Arkan untuk mengisi formulir registrasi rumah sakit dan meminta Arkan menghubungi keluarganya.
Pertama, Arkan menghubungi Arief. Karena Arkan tahu jika Ayah dan ibunya masih berada diluar kota. Namun Arief tidak mengangkat panggilan darinya.
Lalu Arkan menghubungi sang adik, dan Arhan pun menjawab panggilan darinya.
📱 "Ya halo, ini siapa?"
📱"Ini Abang, dek."
📱"Abang yang mana? Lu penipu ya? Ini bukan nomor Abang gue."
📱"Abang meminjam ponsel seseorang, Abang sekarang ada di-"
Tut...Tut...Tut....
Arhan mematikan telponnya secara sepihak, sebelum Arkan menyelesaikan kalimatnya.
"Bagaimana, apa anda sudah selesai?" Tanya sang perawat yang ponselnya di pinjam Arkan.
"Sebentar Sus... ada satu orang lagi yang akan saya hubungi."
Arkan memutuskan untuk menghubungi Pamannya.
📱"Baiklah, paman akan segera kesana." Jawab sang paman, dan segera mematikan panggilan dan bergegas pergi menjemput Arkan.
Untung saja pamannya dapat dihubungi dan bersedia menjemput Arkan keluar dari rumah sakit.
Reza Pratama adalah paman Arkan. Kakak dari Azel. Yang berprofesi sebagai dosen di universitas tempat Arhan dan Arkan kuliah saat ini. Reza Pratama juga adalah seorang duda dengan satu putra yang bekerja sebagai dokter yaitu Rangga.
Di sisi lain, tepatnya di mansion Arkan.
"Bang orang-orang kenapa belum ada yang pulang ya?" Tanya Arhan.
"Kan bunda dan ayah masih ada kerjaan di luar kota." Sahut Arief.
"Bang Arkan juga gak kelihatan dua hari ini, baik di rumah ataupun di kampus. Dia kemana ya?"
"Mana Abang tahu. Nginep di rumah temannya kali. Itu si siapa, namanya Abang lupa."
"Ikhsan." Jawab Arhan cepat.
"Nah, iya Ikhsan."
"Ah, benar juga. Kemarin bang Arkan bilang kalau mau membantuku untuk mendekati Shalwa. Mungkin dia nginep di sana untuk mendapatkan informasi tentang Shalwa." Pikir Arhan.
"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Mending kamu tidur sana, ini sudah malam dan besok pagi kita akan bersepeda." Ujar Arief.
Arhan pun menuruti ucapan Arief. Dan bergegas naik menuju kamar tidurnya.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
Disi lain Mansion Reza.
"Terimakasih, Arkan sudah merepotkan paman dan Bang Rangga." Ujar Arkan saat sedang menyantap makan malam bersama paman dan kakak sepupunya.
"Arkan, tubuhmu itu lemah. Jangan terlalu lelah atau banyak pikiran dan jangan telat makan." Ujar Rangga.
"Penyakit maag kamu itu sudah akut, meningitis. Belum lagi kau yang hanya hidup dengan satu ginjal. Jadi Abang minta, tolong jaga pola makan dan pola hidupmu." Lanjut Rangga.
"Tuh, dengerin kata Dokter Rangga, jangan manggut-manggut saja seperti anak ayam. Tapi telinganya itu di buka lebar-lebar." Celetuk Sang paman.
"Iya, tapi... Arkan tidak janji." Ujar Arkan tersenyum tipis.
"Namun Arkan akan berusaha melakukan apa yang dikatakan Dokter Rangga." Lanjut Arkan cepat sebelum di sembur oleh ceramah sang paman dan kakak sepupunya itu.
"Bagus, Abang berangkat ke rumah sakit dulu." Ujar Rangga.
"Ayah nanti mungkin Aku akan pulang telat karena ada beberapa operasi berat yang harus saya lakukan." Ujarnya lagi.
"Baiklah Pak Dokter. Semangat, semoga operasinya semua lancar." Jawab Reza.
"Paman, Arkan ingin menjadi seperti Bang Rangga, jadi orang yang berguna dan bisa menolong banyak orang."
"Makanya jaga kesehatanmu. Jangan sampai yang ada Dokternya penyakitan." Ujar Reza sambil menaruh potongan daging di piring Arkan.
"Baik paman. Kadang Aku heran pada diriku sendiri, ada kalanya aku semangat banget ingin sehat dan belajar dengan giat. Namun, sering juga Arkan merasa malas dan berpikir untuk ah...." Arkan tidak melanjutkan lagi ucapannya dan menundukkan pandangannya.
"Berpikir untuk apa?" Tanya Reza yang penasaran dengan perkataan Arkan.
"Bukan apa-apa." Jawab Arkan menyunggingkan senyumnya.
...ℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱℱ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Rӊᷩуͦηᷠιͤєᷜ Kαⷼzⷻυⷿмꚟι
jangan menyerah .. pasti sembuh kok.. semngat sja untuk sembuh. ok Arkan
2024-07-11
0
Leo Suparman6
namanya juga sakit, pasti sebagai anak ttp ada yg menjenguk atau dirawat dr keluarga sndiri
2024-07-11
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
jangan menyerah Akan tetap semangat dan kuat untuk dirimu sendiri. Tetaplah waras meski keadaan sering kali membuatmu down dan dipukul secara mentah mentah seakan ingin menghancurkan kewarasanmu. Tapi yakinlah akan ada pelangi selepas badai. akan indah pada waktunya. Sabar Yaa.. walau sulit dan berat. serasa ingin menyerah.. kamu hebat Arkan. 🤧🤧🤧
2024-07-11
0