Lepaskan salah satunya!

"Benar apa yang istrimu katakan tadi?" Tanya kembali Logan pada putranya.

"Ya, aku tidak lagi bisa menutupinya bukan?" Jawab Alva dengan santai.

Keduanya kini berada di kafe depan rumah sakit, Logan mengajak Alva mengobrol tentang permasalahan yang baru saja Dayana ungkapkan. Pria itu kecewa dengan putranya yang menutupi masalah besar seperti ini darinya.

"Dengar, Daddy tidak melarangmu berbuat hal yang kamu suka. Kamu punya uang, kamu bisa melakukan apapun dengan uangmu. Tapi, tidak dengan menyakiti seseorang. Apa saat kamu menikahi istri keduamu, dia tahu jika kamu telah memiliki istri?"

Alva menggeleng, "Belum, makanya dia pergi setelah tahu aku memiliki istri." Jawab Alva yang mana membuat Logan menepuk pelan keningnya.

"Apa kamu sudah memastikan dia tidak sedang dalam keadaan hamil?" Pertanyaan Logan membuat raut wajah Alva berubah pias.

"Aku ... belum memastikannya." Lirih ALva dengan membuang pandangannya ke samping.

"Bagaimana jika dia pergi dalam keadaan hamil? Kamu mengorbankan wanita lain demi kebahagiaan istrimu Alva. Apa kamu lupa? Keluarga kita menentang keras soal perselingkuhan!" Sentak Ligan.

"Aku tidak selingkuh! Dayana mengizinkanku menikahi Yara!" Seru Alva.

Logan menghela nafas pelan, dia menatap putranya yang terlihat lesu karena banyaknya beban pikiran. "Yah, Yara yang kamu sebut itu, tetap istri keduamu. Keluarga kita hanya memperbolehkan seorang penerus memiliki satu istri. Jika Yara kembali, apa kamu akan tetap mempertahankan Dayana? Atau ... Sebenarnya selama ini kamu diam-diam telah menaruh hati pada istri keduamu itu?"

Degh!

Pertanyaan Logan membuat Alva terdiam seribu bahasa, pria itu tak berani menatap sang daddy. Dia meraih cangkir kopinya dan menyesapnya sedikit. Melihat ekspresi wajah putranya, Logan menyeringai tipis.

"Cinta tumbuh karena terbiasa, sekarang ... apa keputusanmu? Apa kamu sudah berusaha mencari istri keduamu itu? Jangan jadi pria peng3cut Alva, lepas kan salah satunya!" Ujar Logan dengan tatapan tajam yang mana membuat Alva terdiam tak mampu menjawab.

.

.

Hari ini dokter kembali mengecek keadaan luka Vara, gadis kecil itu terlihat sangat antusias karena mengira dokter akan mengizinkannya pulang. Namun, dokter berkata jika Vara akan pulang nanti setelah infusannya habis. Tentunya, gadis kecil itu kesal.

"Buang aja aelna lah bunda, ngapain tunggu habis." Omel Vara dengan kesal.

"Nanti gak di bolehin pulang sama dokternya, udah nurut aja!" Balas Yara.

Vara mengerucutkan bibirnya sebal, "Abang nda jenguk Vala? Tega kali abang itu, nanti Vala pecat jadi abang." Tanya Vara ketika teringat akan kembarannya.

"Abang bentar lagi kesini kok sama nenek, tunggu yah." Jawab Yara seraya mengelus lembut kepala putrinya.

Raut wajah Yara berubah, matanya memandang ke arah Vara yang kembali memainkan ponsel miliknya. Hiburan bocah menggemaskan itu disini hanya ponsel, karena Yara melarangnya untuk banyak bergerak.

"Kak, aku pergi dulu." Pamit Azka yang sudah mengenakan jaketnya kembali.

"Kamu mau kemana?" Tanya Yara dengan heran.

"Kerja, kak. Kebetulan, aku jadi karyawan di perusahaan besar." Jawab Azka.

Yara mengerutkan dalam keningnya, "Kamu enggak kuliah?" Tanya Yara dengan heran.

Azka menggelengkan seraya tersenyum, dia tak lagi memikirkan kuliah. "Kalau aku kuliah, biaya hidup kami gimana? Aku dan ibu sepakat tidak lagi menerima uang yang bang Alva kirimkan. Jadi, aku memutuskan untuk bekerja saja." Terang Azka.

Yara menganggukkan kepalanya, dia paham akan keputusan ibu dan adiknya. Gaji Azka walau tidak besar, Yara rasa cukup. Apalagi, sebagai karyawan. "Ehm ... bisa kamu carikan kakak pekerjaan?" Yara berniat akan kembali bekerja, dia tak mungkin hanya mengandalkan sang adik.

Azka menggelengkan kepalanya, "Kakak fokus saja merawat si kembar, biar aku yang bekerja."

"Jangan! Kakak tidak mau hanya mengandalkanmu saja. Kebutuhan kita banyak, kamu pasti akan tertekan. Si kembar juga bisa di tinggal bersama ibu, jadi kakak bisa bekerja dan membantu kamu." Tolak Yara.

Azka menghela nafas pelan, dia selalu kalah jika kakaknya sudah punya keinginan. Akhirnya, Azka mengangguk, dia akan membantu sang kakak mencari pekerjaan. "Yasudah, nanti aku carikan." Pasrah Azka.

Yara tersenyum, tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada adiknya itu. Tiba-tiba saja, Owen datang dan membawakan mereka sarapan. Vara yang melihat makanan langsung menaruh ponsel sang bunda dan ingin meraih bungkusan yang Owen bawakan untuknya.

"Kemaliii anakku cayang, macuklah ke pelukan mamakmu ini." Seru Vara seraya menggerakkan tangannya serta jari-jemarinya.

"Makanan pun di bilang anak, dasar c4del." Ledek Owen.

"Diem dulu om bulung hantu, kemalikan naci bungkusna. Ada ayam cemulna kan? Tadi Vala minta loh." Seru Vara dengan kesal.

"Ada cerewet" Balas Owen. Yara tertawa kecil melihat putrinya yang menekuk wajahnya kesal. Syukurlah, dagu Vara tak terlalu terasa sakit lagi sekarang. Sehingga, bocah menggemaskan itu mau makan sarapan pagi saat ini.

Senyuman Yara luntur saat mengingat kembali kejadian semalam. Dimana, dia bertemu dengan Alva. Jauh-jauh dia pergi untuk menjauhi Alva, malah bertemu kembali disini. Yara segera memegang lengan Azka, tatapan matanya terlihat khawatir.

"Azka, Mas Alva ada disini. Istrinya sakit, dan mungkin di rawat disini." Jelas Yara dengan suara bergetar.

"Pantas saja aku bertemu dengannya kemarin. Begini saja kak, kakak jangan keluar sampai dokter mengizinkan Vara untuk pulang. Nanti, Vara pulang bersama dengan Owen. Kita belakangan saja," Usul Azka. Yara mengangguk setuju, dia sedikit tenang dengan saran dari Azka.

.

.

.

Jovan dan Salma menyusul ke rumah sakit, keduanya baru saja turun dari taksi yang mereka tumpangi. Sejenak, Salma menatap ke arah rumah sakit tempat Vara di rawat. Sementara Jovan, dia sibuk memegang tas kecil berisikan makanan untuk sang adik.

"Nenek, ayo masuk." Ajak Jovan.

"Sebentar pintar, nenek telpon bundamu dulu. Kita tidak tahu dimana kamarnya." Ujar Salma seraya membuka tasnya dan mengambil ponselnya dari dalam sana.

Jovan menghela nafas pelan, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang adik. Tatapan mata anak itu jatuh pada sebuah jepit rambut yang tergeletak di tengah jalan. Jepit rambut itu sangat cantik, membuat Jovan tak sadar melangkahkan kakinya mendekat ke arah benda tersebut. Salma tak menyadari jika cucunya berjalan pergi, dia sibuk menghubungi putrinya yang belum kunjung mengangkat telpon nya.

Langkah Jovan terhenti, anak itu berjongkok dan meraih jepit rambut itu. Di saat bersamaan, sebuah mobil melaju ke arahnya. Jovan berdiri, membuat pengendara mobil terkejut mendapati Jovan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

CKIITT!

BRUGH!

Salma mengalihkan tatapannya, matanya membulat sempurna saat melihat cucunya jatuh di depan sebuah mobil. "JOVAAN!" Teriak Salma dengan panik.

Salma berlari, dia mendekat ke arah cucunya dan memeriksa keadaannya. Jovan tampak baik-baik saja, hanya saja telapak tangannya lecet karena gesekan aspal. Selainnya, tidak ada hal yang serius. "Gak papa Nek, cuman luka dikit." Ujar Jovan menenangkan neneknya itu. Dia mengambil kembali tasnya yang sempat terjatuh tadi.

"Adeknya gak papa?!" Salma dan Jovan menoleh, keduanya menatap ke arah pria paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya.

Salma menggeleng, "Tidak apa Pak, maaf saya teledor jaga cucu saya." Ujar Salma tak enak hati.

Pria itu menggeleng, "Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah. Oh ya, apa lukanya mau di obati sekalian?" Sahut pria paruh baya itu.

Salma menggeleng, "Tidak usah, kami juga ingin menjenguk kembaran cucu saya ini. Kebetulan, dia di rawat disini." Tolak Salma dengan halus.

Pria paruh baya itu mengangguk paham, dia menatap ke arah Jovan yang sedang menatap ke arahnya. Sejenak, pria itu terdiam. Raut wajahnya terlihat memikirkan sesuatu. Matanya menatap lekat wajah Jovan yang tidak asing baginya.

"Mirip siapa yah anak ini, rasa familiar sama wajahnya." Gumam pria paruh baya itu.

"Kalau begitu, kami duluan." Pamit Salma dan segera membawa Jovan masuk ke dalam rumah sakit.

Pria itu masih berdiri di posisinya, dia mengamati Jovan dan Salma yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya. "Anak itu, mirip sekali dengan Alva." Gumamnya.

____

Jangan lupa dukungannya🥰🥰

Bentar lagi niiih, ... bentar lagi apa coba🥶🥶

Terpopuler

Comments

Alistalita

Alistalita

Kak typo beberap nama Azka harusnya Jovan...

Papahnya Alva memang bijak dan tegas tapi kenapa analnya oleng..Wkwkwk
Hayoo siapa yang akan Alva pilih, apalagi kalau tahu ada sikembar bisa2 Alva pilih Yara karena ada sikembar, tapi Alva mencintai Dayana dengan tulus.. kalau Dayana ditinggalkan gak mungkin karena lagi sakit parah..
Ini aku mau Alva kena karma juga kak author, coba hadirkan laki2 tampan and mapan yang bisa memporakparikan hatinya siAlva.. ke enakan tuh lakii🤦‍♀️

Terimakasih upnya kak, semangatt lanjut nulisnya💪

2024-05-18

74

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

logan sudah bertemu penerus nya

2025-02-07

3

🌹Erna 2 🌹

🌹Erna 2 🌹

si kakek udah ketemu dgn cucunya tapi masih belm ngeh yaa

2024-12-03

0

lihat semua
Episodes
1 Buku nikah di ruang kerja Mas Alva
2 Keputusan Yara
3 Si kembar yang menggemaskan
4 Hampir bertemu
5 Kerinduan si kembar
6 Kedatangan Azka
7 Keputusan Azka
8 Kembali pulang
9 Tragedi
10 Pertemuan yang tak terduga
11 Hubungan kita belum selesai
12 Hubungan kita selesai, Mas!
13 Lepaskan salah satunya!
14 Tingkah si kembar
15 Pertemuan pertama Alva dan Jovan
16 Keputusan Yara
17 Di luar rencana
18 Berduka
19 OM ALPAAA!
20 Terungkapnya keberadaan si kembar
21 Balasan kecil dari Azka
22 Rindu Ayah
23 Lujaaaaakk!
24 Bertemu cucu
25 Kehebohan Grace
26 Kelakuan Alva yang meresahkan
27 Kita paloan yah
28 Kecemburuan Alva
29 Jangan buat Bunda menangis, Ayah
30 Kediaman Elgard
31 Dua puluh tujuh hari sebagai syarat
32 Perdebatan Azka dan Alva
33 Perjanjian
34 Ajakan makan malam
35 Tak pantas mencintainya
36 Tamparan tak di sengaja
37 Kelakuan keluarga Elgard
38 akta si kembar
39 Ku cemburu
40 Pergi bersama
41 Suasana yang hangat dan haru
42 Keadaan hati
43 Jovan sakit
44 Selalu dengan kehebohan
45 Tangisan tanpa suara
46 Kepasrahan Alva
47 Rekam hati seorang anak
48 Andaikan
49 Kembali ke rumah lama
50 Akhir dari persyaratan
51 Jenguk cucu
52 Tidak siap berpisah
53 Kejutan di hari sidang
54 Bukan perpisahan yang diinginkan
55 Tak ingin kehilangan
56 Ingin bertemu ayah
57 Masih mencintainya
58 Hati yang terluka
59 Takut
60 Hanya ketakutan
61 Si kompor meleduk
62 Rindu yang tak bisa di jelaskan
63 Terbayang akan penyesalan
64 Mulai membaik
65 Bertemu lagi
66 Onty cama angkel ngapain?
67 Kebahagiaan yang di inginkan
68 Rumah baruuu
69 Dia yang sangat menggemaskan
70 Pertemuan tak sengaja
71 Aku percaya dengan Istriku
72 Pesanan Oma
73 Aku ingin kejutanku sayang
74 Akhirnya ....
75 Wajah berseri Alva
76 Kedatangan Tuan Arlo
77 Respon si kembar
78 Tentang Tuan Arlo
79 Tidak kalah pedas
80 Kejutan di luar Kejutan
81 Pilihan Alva
82 Ingin bertemu
83 Lebih takut kehilangan kalian
84 Ego Tuan Arlo
85 kelakuan si kecil
86 Mual~
87 Calon adik si kembar
88 Vara yang merajuk
89 Ketegasan Alva
90 Calon debay~
91 Keanehan Malven
92 Lindunya nanti dulu, Vala lapal
93 Tendangan calon baby
94 Gara-gara si Owen
95 Copan kah begitu?
96 Pertama masuk sekolah
97 Mengidam
98 Paksu merajuk
99 Diresmikan
100 Gara gara Pr
101 Tuan Arlo
102 Obrolan santai
103 Jujur dan percaya kunci segalanya
104 Keposesifan Alva
105 Kehamilan Fanny
106 Gara gara kambing
107 Kehangatan keluarga
108 Penyesalan Tuan Arlo
109 Mencintaimu
110 Lahiran mendadak
111 Ezhar Zeroun Elgard
112 Ekstra part 1
113 Ekstra part 2
114 Ekstra Part 3
115 Ekstra part 4
116 Ekstra part 5
117 Ekstra part end
118 KARYA BARU: BERONDONG PILIHAN SINGLE MOM
119 Bonchap
120 Bonchaaap
121 Bonchap MalVa
122 Bonchap MalVa
123 Bonchap MalVa
124 Bonchap MalVa
125 Bonchap MalVa
126 Bonchap MalVa
127 Bonchap MalVa
128 Bonchap MalVa
129 Bonchap MalVa
130 Bonchap MalVa
131 Bonchap MalVa
132 Bomchaap MalVa
133 Bonchap Malva
134 Bonchap MalVa
135 IF YOU COME BACK
136 KARYA BARU!
137 Cinta Yang Kamu Pilih (Promosi)
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Buku nikah di ruang kerja Mas Alva
2
Keputusan Yara
3
Si kembar yang menggemaskan
4
Hampir bertemu
5
Kerinduan si kembar
6
Kedatangan Azka
7
Keputusan Azka
8
Kembali pulang
9
Tragedi
10
Pertemuan yang tak terduga
11
Hubungan kita belum selesai
12
Hubungan kita selesai, Mas!
13
Lepaskan salah satunya!
14
Tingkah si kembar
15
Pertemuan pertama Alva dan Jovan
16
Keputusan Yara
17
Di luar rencana
18
Berduka
19
OM ALPAAA!
20
Terungkapnya keberadaan si kembar
21
Balasan kecil dari Azka
22
Rindu Ayah
23
Lujaaaaakk!
24
Bertemu cucu
25
Kehebohan Grace
26
Kelakuan Alva yang meresahkan
27
Kita paloan yah
28
Kecemburuan Alva
29
Jangan buat Bunda menangis, Ayah
30
Kediaman Elgard
31
Dua puluh tujuh hari sebagai syarat
32
Perdebatan Azka dan Alva
33
Perjanjian
34
Ajakan makan malam
35
Tak pantas mencintainya
36
Tamparan tak di sengaja
37
Kelakuan keluarga Elgard
38
akta si kembar
39
Ku cemburu
40
Pergi bersama
41
Suasana yang hangat dan haru
42
Keadaan hati
43
Jovan sakit
44
Selalu dengan kehebohan
45
Tangisan tanpa suara
46
Kepasrahan Alva
47
Rekam hati seorang anak
48
Andaikan
49
Kembali ke rumah lama
50
Akhir dari persyaratan
51
Jenguk cucu
52
Tidak siap berpisah
53
Kejutan di hari sidang
54
Bukan perpisahan yang diinginkan
55
Tak ingin kehilangan
56
Ingin bertemu ayah
57
Masih mencintainya
58
Hati yang terluka
59
Takut
60
Hanya ketakutan
61
Si kompor meleduk
62
Rindu yang tak bisa di jelaskan
63
Terbayang akan penyesalan
64
Mulai membaik
65
Bertemu lagi
66
Onty cama angkel ngapain?
67
Kebahagiaan yang di inginkan
68
Rumah baruuu
69
Dia yang sangat menggemaskan
70
Pertemuan tak sengaja
71
Aku percaya dengan Istriku
72
Pesanan Oma
73
Aku ingin kejutanku sayang
74
Akhirnya ....
75
Wajah berseri Alva
76
Kedatangan Tuan Arlo
77
Respon si kembar
78
Tentang Tuan Arlo
79
Tidak kalah pedas
80
Kejutan di luar Kejutan
81
Pilihan Alva
82
Ingin bertemu
83
Lebih takut kehilangan kalian
84
Ego Tuan Arlo
85
kelakuan si kecil
86
Mual~
87
Calon adik si kembar
88
Vara yang merajuk
89
Ketegasan Alva
90
Calon debay~
91
Keanehan Malven
92
Lindunya nanti dulu, Vala lapal
93
Tendangan calon baby
94
Gara-gara si Owen
95
Copan kah begitu?
96
Pertama masuk sekolah
97
Mengidam
98
Paksu merajuk
99
Diresmikan
100
Gara gara Pr
101
Tuan Arlo
102
Obrolan santai
103
Jujur dan percaya kunci segalanya
104
Keposesifan Alva
105
Kehamilan Fanny
106
Gara gara kambing
107
Kehangatan keluarga
108
Penyesalan Tuan Arlo
109
Mencintaimu
110
Lahiran mendadak
111
Ezhar Zeroun Elgard
112
Ekstra part 1
113
Ekstra part 2
114
Ekstra Part 3
115
Ekstra part 4
116
Ekstra part 5
117
Ekstra part end
118
KARYA BARU: BERONDONG PILIHAN SINGLE MOM
119
Bonchap
120
Bonchaaap
121
Bonchap MalVa
122
Bonchap MalVa
123
Bonchap MalVa
124
Bonchap MalVa
125
Bonchap MalVa
126
Bonchap MalVa
127
Bonchap MalVa
128
Bonchap MalVa
129
Bonchap MalVa
130
Bonchap MalVa
131
Bonchap MalVa
132
Bomchaap MalVa
133
Bonchap Malva
134
Bonchap MalVa
135
IF YOU COME BACK
136
KARYA BARU!
137
Cinta Yang Kamu Pilih (Promosi)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!