Diana menatap Pantulan dirinya di cermin saat ia sudah berada di dalam kamar. sesekali Diana menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya yang seperti genderang.
"Tuhan, apa yang aku lakukan? Dia sudah beristri, dia juga sudah memiliki seorang anak. Apa kesalahanku Tuhan, kenapa Pria itu tidak menolak pernikahan ini padahal dia sudah memiliki keluarga. " ucap Diana dengan wajah gusar.
"apa keluarganya tidak tahu? " tanya Diana pada dirinya sendiri.
Saat fikiran Diana sedang berperang Seorang membuka pintu kamarnya. Pria yang baru saja sah menjadi suaminya masuk kedalam kamar dengan wajah tenang dan Dingin.
Sekilas tatapan keduanya bertemu, Hati Diana semakin kacau. Bayangan seorang perempuan cantik dan anaknya bergelayut di fikiran Diana. sementara Prabu hanya bersikap biasa saja.
"Kau tidak turun? "
Pertanyaan Prabu membuat Diana terkejut, ia pikir Prabu akan diam dan bersikap dingin padanya.
"em-itu"
"Kenapa? kau sangat gugup! Aku menakutimu? " tanya Prabu sambil melepas jasnya dan meletakkannya di tempat biasa.
"Eh tidak. " jawab Diana cepat. " Aku hanya belum terbiasa di tempat yang baru. " ucap Diana dengan tangan meremas satu sama lain karena gugup.
"Kau harus membiasakan diri karena kau tinggal disini tidak hanya setahun dua tahun. Tapi seumur hidupmu. " ucap Prabu dengan santai.
Diana menatap Prabu yang sedang membuka sepatunya. bahasa tubuhnya tidak menampakkan keberatan seperti cerita Di Novel yang sering Diana baca. Mungkin Diana terlalu banyak larut dalam cerita.
"Kau-kau tidak Keberatan kita di jodohkan? "
pertanyaan Diana membuat Prabu menghentikan kegiatannya. Kepala pria itu terangkat lalu memandang Diana.
"Kenapa? Kau berharap aku keberatan?" Prabu terkekeh pelan. "Tidak usah terlalu serius, kau sudah tahu aku kan. bahkan kita pernah bertemu sebelumnya, hanya saja saat itu aku belum tahu Kau calon istriku. "
Diana melebarkan matanya, tidak menyangka jika Prabu juga memperhatikannya saat itu.
"Kau sudah berhenti dari pekerjaanmu? " tanya Prabu saat Diana tidak merespon ucapannya tadi, mungkin Diana Fikir Dirinya orang yang cuek dan dingin. makanya ia terlihat syok saat tahu Prabu mengetahui tentang dirinya
"Belum." jawab Diana
"Kau harus segera berhenti. Keluarga Wijaya akan marah jika tahu Istri Dari seorang Prabu bekerja di minimarket. " ucap Prabu halus tapi tegas.
Diana menunduk dalam. Prabu seperti sedang menghinanya.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun. "
"Kau sudah menjadi istriku, tidak ada kata merepotkan karena kau memang sudah menjadi tanggung jawabku." Prabu berdiri lalu mengikis jarak antara dirinya dan Diana.
"ini." Prabu menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam. "Gunakan ini untuk keperluanmu. Dan maaf setelah ini aku harus pergi, ada urusan yang mendesak dan mungkin tidak pulang selama seminggu. "
Diana menatap pria di depannya agak mendongak karena tinggi Prabu jauh diatasnya. Diana mencoba tersenyum meski tahu kenyataan yang ada.
Sedikit mendorong tangan Prabu yang memegang kartu, Diana menolak pemberian Prabu karena ia tidak membutuhkan itu. "Aku masih punya tabungan. Tidak perlu itu. "tolak Diana.
Prabu tidak menerima penolakan, ia menarik tangan Diana lalu meletakan kartu itu di tangan Diana. " Ini nafkah untuk mu, jadi jangan di tolak. itu kewajiban ku sebagai seorang suami. tapi kau jangan terlalu banyak berharap padaku, Karena status kita hanya di atas kertas. "
setelah mengatakan itu Prabu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Diana masih mematung menatap kartu di tangannya, harga dirinya seakan sudah di injak. Ucapan Prabu menegaskan jika Dania tidak ada apa-apa nya. Menikah dengannya hanya sebuah lelucon.
"kau sudah memiliki istri, tapi kau masih mau menikah denganku. Pria macam apa kau ini Prabu. " tangan Diana mengepal. "Baiklah Prabu, akan aku ikuti permainanmu."
Diana yang tadinya merasa bersalah kini berubah fikiran. Diana mengambil kopernya lalu mengeluarkan barang-barang bawaannya. tadi pelayan sudah memberitahunya lemari yang kosong untuk pakaiannya. sembari menunggu Prabu selesai Diana membersihkan wajahnya dari make-up yang menempel. Riasan di wajahnya sedikit tebal padahal Diana sudah meminta agar make-upnya tipis saja.
Setelah selesai menghapus make-up Diana mencoba membuka gaunnya. Hanya saja tidak bisa karena resletingnya jauh di atas. Beberapa kali Diana mencoba tetap tidak bisa, sampai Prabu keluar dan melihat itu.
Prabu mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. Tangannya dengan santai terulur membantu Diana. Diana yang tidak tahu kedatangan Prabu berjingkrak kaget.
"ahhh, apa yang kau lakukan. " jerit Diana sambil mundur dan menutup bagian depan dadanya.
Prabu terkekeh melihat tingkah Diana yang konyol. "Kenapa kau berteriak? Kau fikir aku akan meminta Hakku? tidak. Aku hanya ingin membantumu, cepatlah sini. aku buru-buru. " ucap Prabu santai.
Diana masih waspada, takut jika Prabu berbohong.
"Baiklah jika kau tidak mau. " Prabu membalik badan lalu membuka lemarinya mengambil pakain yang akan ia kenakan.
"Aku akan panggilkan pelayan, tunggulah. " Prabu membawa pakaian ganti ke kamar sebelah, setelah siap dia memanggil pelayan untuk membantu Diana.
"kenapa Kamu tidak membantu Diana, Anan, kenapa menyuruh pelayan? "tanya Ratih. Anan adalah nama panggilan Prabu sejak kecil, dan hanya Ratih yang memanggilnya seperti itu.
Prabu menghela nafas panjang, pertanyaan mommy nya sangat aneh. " Mom, Diana dan aku kalian jodohkan. Kami masih canggung Mom, Lagi pula Diana seperti tidak tertarik. maaf Mom, tapi aku harus pergi. " jawab Prabu
"Menemui dia lagi? " tanya Ratih dengan tatapan sendu.
Prabu tersenyum, ia melingkar kan tangannya ke leher Ratih. "Mom, aku hanya membantunya. Dia bukan beban. " jawab Prabu
"Tapi kamu sudah menikah nak. " ucap Ratih. Tujuan utama Ratih menikahkan Prabu adalah untuk memisahkan putranya itu dari Clarissa. wanita itu dan anaknya bukan tanggung jawab Prabu, dan yang Ratih Tau Clarissa selalu memanfaatkan kebaikan putranya.
"Anan tau tanggung jawab Anan Mom, tidak usah khawatir. lagipula kami tidak saling mencintai, Butuh waktu lama untuk itu terjadi."jelas Prabu.
Ratih hanya bisa menghela nafas panjang, sangat sulit memberi pengertian pada putranya itu.
" Anan pergi ya Mom. "Prabu berpamitan. Ratih mengangguk.
*
Di sisi lain Diana menatap keluar jendela melihat kepergian Prabu di malam pertama mereka. Diana hanya bisa tersenyum miris melihat nasibnya yang seperti ini. Tapi Diana sudah berjanji pada dirinya jika dia tidak akan sakit hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments