Setelah keanehan yang terjadi pada Jingga hari itu, Airlangga dan Delima belum datang lagi ke rumah nenek Rumi dalam tiga hari ini. Ada rasa tenang di hati Jingga tapi juga ia merasa bersalah karena dia tanpa sadar sudah membentak dan mengusir mereka hari itu.
Jingga merasa dirinya semakin kembali peka dengan kehadiran mereka yang tak kasat mata, suara - suara bisikan aneh kembali terdengar, bahkan sekelebat bayangan pun sudah Jingga rasakan, tapi dia mencoba acuh dan tak menggubris mereka.
Jingga menjalani hari - harinya seperti biasanya, tapi malam ini.. Jingga merasa sangat gelisah sampai tak bisa tidur. Dia berguling kesana kemari untuk mencari posisi yang nyaman tapi tetap tidak bisa.
"Sshhh Astaghfirullah!! Kenapa susah banget mau tidur." Ujar Jingga, dia kesal lalu bangun dan duduk.
Jingga lantas turun dari kasur dan berjalan keluar menuju ke kamar nenek Rumi, kamar Jingga berada di depan sementara nenek Rumi di belakang, di dekat dapur. Jingga berjalan sambil menggaruk - garuk tangan nya tapi langkah nya terhenti saat di ambang pintu kamar nenek Rumi.
Dari ekor mata Jingga ia melihat perempuan bergaun merah sedang berdiri menatap nya di arah dapur, Jingga pun menoleh kearah dapur tapi rupanya tidak ada siapapun di sana.
"Ti!?" Panggil Jingga, ia pikir itu uti nya, tapi tidak ada sahutan sama sekali.
"Hm, kenapa nak?" Sahut nenek Rumi dari dalam kamar.
Jingga tertegun, berarti perempuan yang dirinya lihat itu bukan uti nya. Jingga pun akhirnya masuk kedalam kamar nenek Rumi dan terlihat nenek Rumi yang masih belum tidur juga.
"Kenapa, nak?" Tanya nenek Rumi lagi, sambil duduk di tepian ranjang.
"Jingga tidur sama uti, boleh?" Tanya Jingga, nenek Rumi pun tersenyum mendengar nya.
"Ya boleh, masa nggak. (sambil terkekeh) Sini, uti juga susah tidur dari tadi, serasa sumuk." Ujar nenek Rumi.
Jingga langsung naik ke ranjang uti nya dan langsung memasang badan di sana, entah mengapa saat berada di ranjang uti nya ia merasa sangat nyaman dan damai, ada aroma khas yang Jingga tidak tahu dan itu yang membuat nya betah.
"Makasih, ti. Jingga susah sekali mau tidur sejak tadi, padahal besok mau ke kebon." Ujar Jingga.
"Ya sudah, tidur disini sama uti." Ujar nenek Rumi, ia lantas mengusap - usap kepala Jingga sambil bersenandung lagu jawa.
"Tak lelo, lelo, lelo ledung. Cep meneng ojo pijer nangis, anakku sing ayu rupane, yen nangis ndak ilang ayune."
Bagai di sihir, Jingga lantas menguap dan matanya mulai berkedip - kedip mengantuk. Usapan tangan uti nya di tambah merdu suara utinya menyanyikan lagu jawa membuat nya terhipnotis dan melupakan kesumukan yang dia rasakan.
"Jingga kan nggak nangis, ti.." Ujar Jingga sambil terkekeh dalam kantuk nya.
"Nggak apa - apa, uti nggak bisa nyanyi lagu lain." Sahut nenek Rumi.
"Jingga baru tahu uti bisa nyanyi. Jingga tidur ya, ti?" Ujar Jingga.
"Iya, nak." Sahut nenek Rumi.
"Tak lelo, lelo, lelo, ledung.."
Entah Jingga sadar atau tidak, tangan nenek Rumi yang membelai kepalanya itu perlahan berubah menjadi hitam dan berdarah - darah, Jingga terlelap begitu saja ke alam mimpi dengan tembang lagu jawa yang baru dia dengar dari nenek nya.
Dan ternyata itu di saksikan oleh nenek Rumi yang ternyata mengintip di balik pintu kamar nya sendiri. Ya, yang membelai rambut Jingga bukanlah nenek Rumi asli, nenek Rumi menutup mulut nya sendiri sambil menangis terkejut sekaligus ketakutan, karena melihat Jingga tidur di belai - belai sosok berbaju putih dengan wajah mengerikan.
Apalagi sosok itu menyanyikan lagu jawa yang tidak pernah sekalipun nenek Rumi nyanyikan pada Jingga. Dari wajah sosok itu menetes darah di kepala Jingga, dan darah nya semakin rata ke seluruh tangan dan tubuh Jingga karena sosok itu mengusap - usap tubuh Jingga.
"Astaghfirullah.." Nenek Rumi, sampai lemas melihat nya.
Nenek Rumi memalingkan pandangan nya untuk menetralkan dirinya, tubuh tua renta nya begitu lemas melihat hal mengerikan yang ada di hadapan nya. Setelah nenek Rumi menetralkan dirinya dan sudah berniat masuk untuk mengusir makhluk itu, ternyata sosoknya sudah berdiri di samping nenek Rumi.
"Allahu Akbar!" Nenek Rumi spontan terkejut sampai pias, sosok itu pun menghilang.
Nenek Rumi mengusap dada dan masuk ke dalam dengan susah payah menghampiri Jingga, tapi rupanya Jingga hanya tertidur lelap seperti biasanya. Darah yang sebelumnya ia lihat tidak ada sama sekali, ia pun menangis dalam diam setelah nya.
'Kenapa ini ya Allah, setelah anakku Raden, apa sekarang cucuku juga di incar makhluk ghoib?' Batin nenek Rumi.
KE ESOKAN HARINYA..
Ke esokan harinya Jingga sudah siap dengan parang dan sudah berpakaian lengkap ke kebun, tapi sebuah mobil mewah berwarna putih tiba - tiba berhenti di halaman rumah nya. Jingga pun kebingungan dan bertanya - tanya siapa gerangan orang yang datang dengan mobil mewah itu.
Pintu sledding mobil putih itu perlahan terbuka, lalu turun Delima dari dalam mobil itu. Jingga terkejut melihat nya, dia pikir setelah kejadian hari itu Delima tidak mau lagi datang, tapi ternyata masih datang dengan mobil lain bahkan kini di supiri oleh sopir.
"Jingga, mau kemana nak?" Tanya Delima.
Jingga mengeratkan pegangan nya pada parang yang ada di tangan, lalu menjawab.
"Wa'alaikumsalam." Ujar Jingga, karena Delima bahkan tak mengucap salam.
Delima pun kikuk sendiri mendengar ucapan Jingga, tapi tak sampai beberapa detik wajah nya kembali biasa.
"Hehe, Jingga memang anak pinter." Ujar Delima, Jingga pun menyalimi tangan Delima.
Nenek Rumi terlihat keluar dari rumah nya, Delima pun tersenyum pada nenek Rumi, tapi nenek Rumi jadi kehilangan senyum nya.
"Bu, apa kabar?" Tanya Delima, nenek Rumi pun kemudian tersenyum.
"Saya baik, mari silahkan masuk, bu." Ujar nenek Rumi pada Delima.
"Jingga, ke kebun nya nanti saja nak, tolong uti buatkan minuman untuk bu Delima." Ujar nenek Rumi.
"Iya, ti." Sahut Jingga.
Mereka kini berada di ruang tamu, untuk sekian kalinya Delima duduk di kursi tua itu dan masih belum mendapatkan hati Jingga. Jingga tampak keluar membawa baki berisi teh manis hangat untuk Delima dan nenek nya, lalu menyajikan nya. Setelah nya Jingga duduk di sebelah nenek Rumi, di depan Delima.
"Bagaimana Jingga? Apa kamu sudah memikirkan tawaran ibu?" Tanya Delima spontan.
"Sebelumnya Jingga mau minta maaf atas apa yang Jingga lakukan lusa lalu pada ibu." Ujar Jingga dengan merasa bersalah, Delima pun tersenyum mendengar nya.
"Tidak apa - apa, mungkin hari itu ibu dan suami ibu yang sedikit keterlaluan." Ujar Delima.
"Tapi sekali lagi Jingga juga minta maaf, Jingga tidak mau sekolah lagi, bu. Tanpa mengurangi rasa hormat Jingga, Jingga minta maaf karena tidak bisa ikut ibu ke Jakarta." Ujar Jingga, senyum Delima perlahan pudar.
"Kenapa?? Padahal di Jakarta hidupmu bisa lebih terjamin, pendidikan juga bagus di sana, nak." Ujar Delima.
"Karena Jingga tidak mau meninggalkan uti sendirian." Sahut Jingga, Delima pun menatap ke arah nenek Rumi.
"Uti mu pun ingin kamu menempuh pendidikan yang layak, nak. Uti mu ingin kamu menjadi orang sukses, yang hidup berkecukupan.."
"Tapi semuanya tidak berarti jika uti tidak bersama Jingga." Potong Jingga.
"Jingga menghargai niat baik ibu yang ingin membantu Jingga kembali sekolah, tapi maaf Jingga menolak. Ayah Jingga pasti bangga memiliki majikan seperti ibu, tapi ibu tidak harus sebegitunya membalas bakti ayah Jingga." Ujar Jingga.
Sebagai anak remaja berusia 11 tahun, apa yang keluar dari mulut Jingga sangatlah sopan dan tertata. Delima sampai kehabisan kata - kata di tempat dan bingung harus dengan cara apa lagi dia membujuk Jingga.
Nenek Rumi pun juga hanya diam dan membiarkan Jingga berbicara untuk mengambil keputusan nya sendiri, apa yang Jingga pilih maka nenek Rumi akan setuju.
Karena tak membuahkan hasil, Delima akhir nya pulang dari sana dengan tangan kosong. Nenek Rumi dan Jingga melihat kepergian Delima yang mobilnya perlahan keluar dari pekarangan rumah nya.
"Semoga setelah ini bu Delima tidak datang lagi kemari." Gumam Jingga.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Liani purnafasary☺
sosok yg menjelma jd nenek itu siapa ya, trs majikan ayh x jingga ngotot bngt ya ingin mmbawa jingga tambah mencurigakan mereka.
2024-12-20
1
Shyfa Andira Rahmi
kasian...mana ngga ada yg bisa dimintai tolong lagi setelah meninggalnya ustadz Ali
2025-01-31
1
niex
itu ibu nya jingga kali ya...bapak sama ibuknya jd tumbal majikan trs skr anaknya diincer gt...oh...masa sich...hmmm...entahlah
2024-08-10
1