EPS. 7. Jingga bukan Jingga?

Esok harinya, Jingga sedang mengantar jahe yang dia panen dari kebun pada pembelinya. Pembelinya sangat suka dengan jahe yang Jingga antar karena selalu segar dan besar - besar, Jingga pun mendapatkan uang dari hasil menjual jahe itu.

"Terimakasih, bi." Ujar Jingga senang, karena mendapat hasil yang memuaskan.

"Ya, sama - sama. Salam buat uti mu ya, Ngga?" Ujar pembeli nya.

"Iya, bi. Pamit dulu ya, Assalamualaikum." Ujar Jingga. Wanita itu membalas salam Jingga sambil tersenyum.

Ironis nya, Jingga lebih di senangi oleh orang - orang lain kampung, tapi di kampung nya sendiri dia di anggap aneh. Jingga mengayuh sepedanya dengan hati bahagia karena penjualan hari ini tidak mengecewakan, rasa tak sabar ingin segera memberikan uang hasil nya pada sang nenek.

Saking semangatnya sampai dia terkejut ketika sebuah suara berteriak memanggil namanya.

"Jingga!" Panggil seseorang, Jingga menengok ke arah suara yang dia kenal.

"Gani?? Ngapain kamu di situ?" Tanya Jingga, ia melihat Gani yang membawa banyak kantong di seberang jalan.

"Nganter bunda, tapi bunda nya mampir di warung mie sama temen nya, tuh! ( sambil melirik ke arah warung mie ayam) Aduh, untuk ketemu kamu, nebeng boleh??" Tanya Gani.

"Ya boleh, ayo." Ujar Jingga.

Gani langsung sumringah, ia lantas menaruh kantong - kantong yang dia bawa di keranjang Jingga, lalu dirinya menggendong keranjang itu sambil duduk di boncengan sepeda.

"Ongkos, ya?" Ujar Jingga, sambil ia mulai menggowes sepeda nya.

"Serius!?" Gani terkejut, Jingga pun terbahak.

"Kamu percaya?? Dasar gundul." Ledek Jingga, Gani pun menggelitiki Jingga.

"Dasar tukang ngibul." Ujar Gani sambil menggelitiki perut Jingga.

"Eh! Eh! Nanti jatuh, Gani!" Jingga panik sampai sepedanya oleng kekanan dan kekiri.

Dua anak itu tertawa bahagia, tak heran lagi jika di kampung Jingga dan kampung Gani. Kedua anak itu memang selalu dekat dulu, sampai banyak yang mengira keduanya di jodohkan.

Singkat cerita akhirnya mereka sampai di depan rumah Jingga, Gani terpaksa hanya sampai di sana karena arah rumah nya lebih jauh dari pada rumah Jingga. Gani terkejut ketika melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah Jingga.

"Mobil siapa itu?" Tanya Gani pada Jingga.

"Majikan nya almarhum ayah, Ni." Sahut Jingga, sembari turun dari sepeda.

"Kamu bawa aja sepedanya, kamu balikin besok juga boleh." Ujar Jingga.

"Serius??" Gani sumringah, karena tak harus jalan kaki.

"Nggak jadi kalau begitu." Ujar Jingga, Gani langsung gerak cepat duduk di depan.

"Kalo berbuat baik jangan tanggung - tanggung dong, nanti Malaikatnya bingung mau nyatet pahala dulu apa dosa dulu." Ujar Gani, Jingga pun terkekeh.

"Dadah.." Ujar Gani.

Gani lantas membawa pergi sepeda beserta keranjang - keranjang nya, sementara Jingga menggeleng kan kepalanya lalu dia berbalik dan menatap mobil hitam yang terparkir di sana.

"Bagaimana cara bilang ke mereka kalau aku tidak mau ikut, aku tidak mau pisah dari uti." Gumam Jingga.

Jingga kemudian berjalan lewat samping rumah sampai merambat di bawah jendela, ia tak mau kepulangan nya di lihat oleh nenek atau majikan mendiang ayah nya. Dari samping rumah Jingga bisa mendengar Airlangga dan Delima masih saja membujuk nenek Rumi agar Jingga ikut dengan mereka ke Jakarta.

Terdengar nenek Rumi seakan pasrah dan menyerahkan jawaban nya pada Jingga, Jingga bisa mengerti kekhawatiran nenek nya akan masa depan nya, tapi dia sungguh tidak mau meninggalkan nenek nya seorang diri, apalagi nenek nya hanya memiliki dia seorang.

"Atau Jingga kami bawa paksa saja? Jawab nya pasti menolak, bu." Terdengar Delima memberikan usul, Jingga pun terkejut mendengar nya tatapan nya langsung menjadi tajam sekarang.

"Aku tidak mau!!" Teriak Jingga.

Jingga marah mendengar usulan itu, dia yang sebelumnya diam - diam di bawah jendela langsung berdiri sampai mengejutkan semua oang yang ada di dalam.

"Jingga!? Kenapa kamu di situ nak?" Tanya nenek Rumi.

"Uti, aku tidak mau ikut dengan mereka. Yang mau sekolah kan aku, aku yang menjalani nya dan aku tidak mau, kenapa mereka memaksa!" Ujar Jingga, tatapan nya tak lagi ramah.

"Jingga! Yang sopan, nak." Ujar nenek Rumi.

"Mereka yang tidak sopan! Aku tahu mereka berniat baik, tapi niat baik mereka seolah mau memisahkan kita, Uti!" Ujar Jingga.

Jingga seolah bukan Jingga sekarang, tatapan matanya tegas seperti orang dewasa dan ia tak tanggung - tanggung menatap Airlangga dan Delima dengan tajam. Airlangga dan Delima juga tertegun dengan keberanian Jingga, mereka sampai saling tatap sekarang.

Nenek Rumi pun panik dan langsung berusaha bangun untuk menghampiri Jingga yang berdiri di luar jendela, tapi sebelum nenek Rumi keluar, Jingga lebih dulu sampai kedalam dan menatap tajam kearah Airlangga dan Delima.

"Pergi kalian! Aku tidak akan ikut kalian! Pergi!!" Usir Jingga berteriak dengan tatapan menyalak.

"Kenapa kamu berbicara kasar sekali, nak. Kami hanya ingin membantumu menempuh pendidikan yang lebih baik, seperti mimpi ayahmu, Jingga." Ujar Delima.

"Pembohong!! Kau pikir aku tidak tahu niat aslimu!? Pergi ku bilang! PERGI!!!!" Teriak Jingga, dan setelah nya Jingga jatuh pingsan.

Nenek Rumi langsung memeluk Jingga erat - erat sambil menangis, sementara Airlangga dan Delima terlihat sedikit pias dan terkejut mendengar ucapan Jingga.

"Pak, bu. Maafkan Jingga, tolong jangan di masukan kehati apa yang Jingga ucapkan. Saya akan membujuk Jingga nanti, tapi tolong untuk hari ini bapak dan ibu pulang dulu saja, kasihan Jingga kelelahan." Ujar nenek Rumi.

"Kalau begitu kami pulang dulu, kami akan datang lagi nanti lusa." Ujar Airlangga.

"Iya, pak." Sahut nenek Rumi.

Airlangga menggandeng istrinya lalu berjalan pergi dari sana, sementara nenek Rumi mengusap - usap wajah Jingga yang basah dengan keringat setelah pingsan.

"Kenapa kamu, Jingga.." Gumam nenek Rumi sambil sesenggukan.

Sementara itu di dalam mobil, Delima dan Airlangga menatap rumah nenek Rumi dengan tatapan bertanya - tanya.

"Ayo, pa." Ujar Delima, dan Airlangga menyalakan mobilnya lalu pergi dari sana.

Singkat cerita, Jingga masih belum sadar dan kini ia berbaring di atas kursi setelah nenek Rumi keluar untuk meminta tolong pada warga sekitar yang terlihat. Untung nya ada warga yang lewat tak jauh dari rumah nenek Rumi dan bersedia membantu menggotong Jingga ke kursi.

Nenek Rumi dengan telaten mengelap tangan Jingga setelah sebelumnya dia mengelap tubuh Jingga dan menggantikan pakaian Jingga dengan susah payah sendirian.

"Uti harus bagaimana, nak.. Uti tidak mau kamu hidup sendirian, nanti." Gumam nenek Rumi.

"Uti sayaaang sekali dengamu, tapi sayang nya uti tidak bisa membahagiakanmu dan memberikanmu kehidupan yang layak karena uti sudah tua." Gumam nya lagi dengan air mata menetes.

Jingga perlahan sadar dari tidur nya, entah dia pingsan atau tidur tapi sudah tiga jam sejak Jingga jatuh pingsan dan kini dia baru sadar. Nenek Rumi penghapus air matanya ketika ia melihat pergerakan Jingga, lalu tersenyum senang.

"Uti.." Gumam Jingga.

"Iya nak, kamu butuh sesuatu??" Tanya nenek Rumi.

"Jingga kenapa, ti??" Tanya Jingga, dia bingung karena nenek Rumi memperlakukan nya seperti orang sakit.

Nenek Rumi sendiri juga bingung dengan pertanyaan Jingga, kenapa Jingga lupa dengan apa yang terjadi beberapa jam lalu, padahal sebelumnya Jingga sangat ber api - api.

"Kamu tidak ingat, nak? Kamu pingsan setelah kamu marah - marah sama majikan ayahmu, dan mengusir mereka." Ujar nenek Rumi, Jingga terkejut mendengar nya.

"Astaghfirullah.. Jingga marah - marah!?" Ujar Jingga terkejut.

"Kamu tidak ingat, nak? Kamu berteriak - teriak dan berkata hal yang tidak masuk akal." Ujar nenek Rumi, Jingga hanya kebingungan sambil berpikir karena dia sungguh tidak ingat.

Nenek Rumi jadi kepikiran sekarang, kemarin Jingga nyaris lompat ke kali dan sekarang Jingga tampak sangat berapi - api mengusir majikan mendiang ayah nya dan Jingga bilang dia tidak sadar melakukan itu.

'Kenapa dengan Jingga ya Allah..' Batin nenek Rumi.

"Ti, Jingga rasa Jingga kembali bisa merasakan kehadiran mereka." Ujar Jingga tiba - tiba.

"Maksudmu, nak?" Tanya nenek Rumi.

"Jingga.. Mendengar suara yang terus memanggil nama Jingga." Sahut Jingga.

DEGG!!!

BERSAMBUNG..

Terpopuler

Comments

Menteng Jaya

Menteng Jaya

jangan " jingga mau dijadikan tumbal nih

2025-02-04

1

evi

evi

yang ngerasuki jingga itu ibunya bukan ya

2024-11-06

1

pioo

pioo

siapa nih yg merasuki jingga

2024-10-15

1

lihat semua
Episodes
1 EPS. 1. PEMAKAMAN.
2 EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3 EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4 EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5 EPS. 5. Majikan ayah.
6 EPS. 6. Majikan ayah 2.
7 EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8 EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9 EPS. 9. Kecelakaan.
10 EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11 EPS. 11. Mencekam.
12 EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13 EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14 EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15 EPS. 15 Delima datang lagi.
16 EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17 EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18 EPS. 18. Kamar Raka.
19 EPS. 19. Adik Raka.
20 EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21 EPS. 21. Kemarahan Delima.
22 EPS. 22. Jingga Sekolah.
23 ESP. 23. Raka tukang marah.
24 EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25 EPS. 25. Ika Meninggal.
26 EPS. 26. Adiknya Delima.
27 EPS. 27. Sosok perempuan
28 EPS. 28. Curhatan Sari.
29 EPS. 29. Jingga sakit perut.
30 EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31 EPS.31. Jingga di Jaga.
32 EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33 EPS.33. Banyak keanehan.
34 EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35 EPS. 35. Riki yang aneh.
36 EPS. 36. Ketegangan.
37 EPS. 37. Mimpi Raka.
38 EPS. 38. Rasa penasaran.
39 EPS. 39. Sudah takdirnya.
40 EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41 EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42 EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43 EPS. 43. Firasat Raka.
44 EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45 EPS. 45. Pesugihan
46 EPS. 46. Delima di serang.
47 EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48 EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49 EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50 EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51 EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52 EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53 EPS. 53. Tulah..
54 EPS. 54. Sangat menjijikan.
55 EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56 EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57 EPS. 57. Maaf Raka.
58 EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59 EPS. 59. Teror
60 EPS. 60. Airlangga Depresi.
61 EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62 EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63 EPS. 63. Membayar hukuman.
64 EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65 EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66 EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67 EPS. 67. Hantu Stela.
68 EPS. 68. Gani
69 EPS. 69. Mengantar Stela..
70 EPS. 70. Akhirnya..
71 PENGUMUMAN!
Episodes

Updated 71 Episodes

1
EPS. 1. PEMAKAMAN.
2
EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3
EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4
EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5
EPS. 5. Majikan ayah.
6
EPS. 6. Majikan ayah 2.
7
EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8
EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9
EPS. 9. Kecelakaan.
10
EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11
EPS. 11. Mencekam.
12
EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13
EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14
EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15
EPS. 15 Delima datang lagi.
16
EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17
EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18
EPS. 18. Kamar Raka.
19
EPS. 19. Adik Raka.
20
EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21
EPS. 21. Kemarahan Delima.
22
EPS. 22. Jingga Sekolah.
23
ESP. 23. Raka tukang marah.
24
EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25
EPS. 25. Ika Meninggal.
26
EPS. 26. Adiknya Delima.
27
EPS. 27. Sosok perempuan
28
EPS. 28. Curhatan Sari.
29
EPS. 29. Jingga sakit perut.
30
EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31
EPS.31. Jingga di Jaga.
32
EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33
EPS.33. Banyak keanehan.
34
EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35
EPS. 35. Riki yang aneh.
36
EPS. 36. Ketegangan.
37
EPS. 37. Mimpi Raka.
38
EPS. 38. Rasa penasaran.
39
EPS. 39. Sudah takdirnya.
40
EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41
EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42
EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43
EPS. 43. Firasat Raka.
44
EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45
EPS. 45. Pesugihan
46
EPS. 46. Delima di serang.
47
EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48
EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49
EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50
EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51
EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52
EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53
EPS. 53. Tulah..
54
EPS. 54. Sangat menjijikan.
55
EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56
EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57
EPS. 57. Maaf Raka.
58
EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59
EPS. 59. Teror
60
EPS. 60. Airlangga Depresi.
61
EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62
EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63
EPS. 63. Membayar hukuman.
64
EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65
EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66
EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67
EPS. 67. Hantu Stela.
68
EPS. 68. Gani
69
EPS. 69. Mengantar Stela..
70
EPS. 70. Akhirnya..
71
PENGUMUMAN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!