Jingga masuk kedalam kamarnya dan duduk di ranjang sambil menangis, ia tidak menyangka nenek nya justru mendorongnya pergi ke Jakarta. Nenek Rumi membujuk Jingga agar Jingga mau ke Jakarta bersama majikan mendiang Raden, tapi Jingga kukuh menolak dan tidak mau.
"Bu, saya dan suami saya memiliki niat baik untuk menyekolahkan anak dari mendiang Raden, tolong kerja sama nya agar Jingga mau sekolah di Jakarta." Ujar Delima.
"Tapi bu.. Saya juga tidak rela melepasnya." Ujar nenek Rumi.
"Keputusan di tangan ibu sendiri, ibu ingin Jingga tumbuh menjadi gadis pintar dan sukses atau hanya menjadi gadis penjual kayu bakar selamanya." Ujar Delima.
"Saya sangat menyayangkan atas kematian Raden, dia adalah pekerja yang ulet di perkebunan kami. Sebagai tanda jasa untuknya, kami berniat menyekolahkan putri nya Raden, tapi dengan catatan dia ikut kami ke Jakarta." Timpal Delima.
Airlangga dan Delima pun akhirnya pulang dari rumah nenek Rumi, nenek Rumi kembali terduduk lesu di depan rumah nya. Dia tidak tega melepas Jingga pergi jauh, dia tidak mau terpisah dari satu - satunya cucunya. tapi jika ia tidak melakukan itu, masa depan Jingga yang akan jadi taruhan nya.
Nenek Rumi diam - diam menghapus air matanya. Jika saja dirinya masih muda, dia tidak akan pernah melepaskan Jingga pergi kemanapun. Jika dirinya masih mampu bekerja, Jingga pasti melanjutkan sekolah nya tanpa harus banting tulang di kebun untuk membiayai hidup mereka berdua.
"Ya Allah.. Aku harus bagaimana.." Gumam nenek Rumi sambil menatap foto yang terdapat Raden di dalam nya.
Kembali ke sisi Jingga, Jingga sedang menelungkupkan wajah nya diantara kedua lengan nya yang memeluk lutut. Ia sedang menangis karena tak bisa membayangkan dirinya akan meninggalkan nenek nya sendirian di rumah itu, dia sangat menyayangi nenek nya.
"Jinggaaa.."
DEG!!!
Jingga terdiam dari tangisnya dan mendongak menatap sekitar, ia yakin ia mendengar suara itu lagi.
"Siapa kamu!?" Teriak Jingga, dia muak terus di ikuti suara menyeramkan itu.
Tapi tidak ada apapun di kamar itu, yang ada nenek Rumi masuk dengan panik ke dalam kamar Jingga.
"Kenapa, nak?" Tanya nenek Rumi.
"Uti, Jingga dengar suara - suara aneh lagi." Ujar Jingga, dia ketakutan dan berlari memeluk nenek Rumi.
Nenek Rumi terkejut, karena Jingga sudah di tutup mata batin nya tapi mengapa Jingga bisa mendengar suara ghoib lagi.
"Tidak mungkin, nak. Almarhum Ustad Ali kan sudah menutup mata batinmu." Ujar nenek Rumi.
"Ya, tapi Jingga dengar lagi suara - suara itu." Ujar Jingga, kini nenek Rumi pun ikut ketakutan.
"Baca selalu doa di dalam hati ya, nak. InshaAllah kamu akan selalu terlindungi dari mereka." Ujar nenek Rumi.
Sementara itu di tempat lain..
Airlangga dan Delima sedang cekcok di dalam mobil mereka. Menurut Airlangga, Jingga tidak perlu ikut ke Jakarta, cukup di angkat anak saja dan di sekolahkan sesuai ucapan nya pada Jingga. Tapi Delima kukuh ingin membawa Jingga ke Jakarta dan di sekolahkan di sana.
"Sudahlah papa diam saja, mama lebih tau apa yang harus mama lakukan." Ujar Delima.
"Jangan sampai setelah ini mama jadi ragu dengan apa yang kita tuju di awal." Ujar Airlangga, memperingati istrinya.
"Tidak akan, mama bisa jamin itu." Ujar Delima.
"Ya sudah, Telpon Raka untuk menjaga adiknya, kita mungkin masih lumayan lama di sini." Ujar Airlangga. Raka adalah anak pertama Airlangga dan Delima yang sudah duduk di bangku SMA.
"Iya pa.. ya ampun." Ujar Delima, dia kesal karena suaminya itu sering kali berbeda pendapat dengan nya.
................
Hari berganti malam, Jingga sedang menikmati rengginang buatan nenek Rumi yang rasanya tidak ada dua nya. Ia tak berlama - lama kesal dengan tawaran dari Airlangga dan Delima, baginya tidak sekolah juga tidak apa - apa.
Penerangan di rumah Jingga sangat remang - remang karena hanya menggunakan 1 lampu kecil yang menerangi seluruh ruangan, jadi Jingga suka duduk bersama nenek nya untuk mengobrol hal - hal yang terjadi hari ini atau kemarin.
"Ti, besok Jingga akan panen jahe, jahe nya sudah besar - besar." Ujar Jingga.
"Memang sudah ada yang mau beli, nak?" Tanya nenek Rumi sambil meminum teh manis di gelas tua nya.
"Sudah dong, bibi penjual jamu selalu menanyakan pada Jingga, tapi Jingga pikir untuk menunggu sedikit lebih besar lagi agar lebih tua jahe nya." Ujar Jingga.
"Anak pintar." Ujar nenek Rumi sangat bangga.
"Jingga tidur ya, ti. Besok pagi - pagi harus ke kebun." Pamit Jingga.
"Iya, jangan lupa berdoa.." Ujar nenek Rumi, Jingga tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.
Jingga pun masuk kedalam kamar dan bersiap tidur, ia membuka kain jarit yang ia jadikan selimut lalu menyelimuti dirinya dengan nyaman. Perlahan matanya mulai terpejam karena mengantuk, tidak menunggu waktu lama untuk Jingga pergi ke alam mimpi karena Jingga adalah tipikal pelor ( nempel bantal molor) Tapi baru juga Jingga hendak terlelap, tiba - tiba Jingga mendengar suara bisikan..
"Jinggaaa.."
DEG!!!
Jingga spontan membuka matanya, karena tubuhnya menjadi meremang setelah mendengar suara itu. Jingga melihat sekelilingnya tapi tidak ada siapapun.
"Siapapun kamu, tolong jangan ganggu aku." Ujar Jingga, dan suara itu pun hilang.
Jingga membenarkan posisi nya lalu dia memejamkan matanya lagi untuk tidur, hanya saja Jingga merasa dirinya sedang di awasi oleh seseorang, tapi dia tak ambil pusing dan membaca doa lalu tidur.
"Tak! Tak! Tak!" Suara jam dinding tua yang berdetik memutar.
Jam menunjukan pukul 1 dini hari dan nenek Rumi juga sudah tidur di kamarnya, Jingga dan nenek Rumi tidak tidur di dalam satu kamar, Jingga tidur di kamarnya sendiri, bekas mendiang ayah nya.
Jingga terlihat gelisah dalam tidurnya, tubuhnya berkeringat sangat banyak dan bibirnya terus bergumam menyebut sesuatu..
"Ayah.." Jingga bergumam memanggil ayah nya.
"Jangan sakiti ayah!" Gumam Jingga lagi, kini tangan nya bergerak seolah meraih sesuatu.
Tiba - tiba Jingga terhenyak dan dadanya membusung keatas, Jingga membuka matanya secara tiba - tiba tapi tatapan nya lain, seolah itu bukan Jingga..
"Jinggaaa.. Ikut aku, Jingga.." Tiba - tiba sebuah suara terdengar.
Bagai robot yang di stel oleh pemiliknya, tiba - tiba Jingga patuh. Jingga bangun dan berjalan dengan tatapan kosong, ia mengikuti suara yang memandu nya dan keluar dari rumah.
"Jinggaaa.." Suara itu menuntun Jingga berjalan jauh dari rumah nya menuju ke jembatan yang terbuat dari susunan bambu.
Jingga terus berjalan di atas jembatan itu yang di bawah nya ada kali yang sangat luas dengan air yang deras dan keruh, tiba - tiba Jingga berhenti di tengah - tengah jembatan dan berbelok menghadap kali.
"Lompat Jinggaaa.." Bisik suara itu. Tapi tubuh Jingga diam tak bergeming.
"Lompat.."
"Lompat.."
Suara itu terus menyuruh Jingga untuk lompat dari atas jembatan tapi Jingga tak bergeming.
"Lompat!!" Tiba - tiba suara itu berubah menjadi keras.
Tubuh Jingga tiba - tiba bergerak maju dan hendak lompat tapi sebuah tangan menarik Jingga sampai Jingga jatuh dan tersadar.
"Nak! Apa yang kamu lakukan!?" Rupanya itu adalah nenek Rumi.
"Uti??" Jingga pun kebingungan mengapa dirinya berada di tengah jembatan malam - malam.
"Uti, kenapa kita di sini??" Tanya Jingga bingung.
"Istigfar, nak.. kamu hampir lompat ke bawah tadi." Ujar nenek Rumi, Jingga pun terkejut.
"Astaghfirullah.." Jingga terkejut, ia lantas masuk kedalam dekapan sang nenek.
Nenek Rumi melihat ke sekitaran jembatan itu, dan dia melihat wanita menggunakan gaun merah panjang yang berdiri di ujung jembatan yang juga menatapnya dengan tatapan sadis. Bola matanya hitam legam dan kedua sudut bibirnya seakan robek sampai ke telinga, dan tiba - tiba sosok itu membuka mulutnya dan terlihat mengerikan.
'Tidak akan aku biarkan kau membawa cucuku!' Batin nenek Rumi sambil menatap makhluk itu.
"Ayo nak, kita pulang." Ujar nenek Rumi, ia dengan susah payah berjalan sambil memeluk Jingga.
Nenek Rumi takut sosok itu mengejar nya tapi ternyata tidak, mereka selamat sampai di rumah walau dengan nafas nenek Rumi yang tersenggal - senggal.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
kalo emang beneran niat baik kenapa ngga sekalian sama si Utinya aja dibawa...kan tau si Uti udah tua tinggal juga cuman ber 2 sama cucunya...
2025-01-31
1
Liani purnafasary☺
untung ada yg nolongin yaitu nenek nya, coba klo gak, pasti ga kebayang deh😔
2024-12-20
2
Shyfa Andira Rahmi
ko nyesek yaaa denger jingga ngomong gtu😭😭kasian kamu nak dewasa sebelum waktunya...
2025-01-31
1