EPS. 4. 2 Tahun berlalu..

Ke esokan harinya, banyak orang yang menangisi kepergian Ustad Ali. Jingga, dan nenek Rumi sangat tidak menyangka bahwa Ustad Ali akan pergi untuk selamanya, padahal semalam bahkan masih membantu mereka untuk menutup mata batin Jingga dan membentengi rumah mereka.

"Kasihan pak Ustad, padahal masih sangat muda." Ujar warga.

"Orang baik biasanya cepet berpulang nya, karena Allah sayang dengan mereka. Ustad Ali pasti sudah bahagia di sana." Ujar yang lain.

Tidak ada yang menyangka kematian akan datang secepat itu pada Ustad Ali, pasalnya dia adalah pemuka agama dan juga orang yang tergolong hebat. Tapi sehebat apapun manusia, dia tetap hanya ciptaan Allah. Jika Allah sudah memanggilnya maka sehebat apapun dia, pasti akan meninggal.

Warga pun pergi setelah pemakaman selesai, hanya Jingga dan nenek Rumi saja yang masih berada di sana. Jingga kembali menaburkan bunga di atas makam ustad Ali dengan wajah sedih, karena dia kembali kehilangan orang dekat nya.

"Pak de, kok pak de pergi juga.." Gumam Jingga.

Nenek Rumi bahkan kembali menangis, ia menyesal tidak menahan Ustad Ali pulang. Jika saja Ustad Ali menginap di rumah nya, mungkin Ustad Ali masih hidup sekarang.

"Ayo pulang, nak." Ajak nenek Rumi. Jingga pun bangun dari duduknya lalu berdiri.

"Terimakasih pak de, Jingga pulang dulu.. selamat tinggal." Ujar Jingga. Jingga dan nenek Rumi pun pulang kerumah.

Jingga yang sudah tidak bisa melihat hal ghoib tidak merasakan apa yang dia rasa biasanya, kini sekelilingnya tampak sepi dan dia lebih fokus dengan kegiatan nya. Setelah mata batin nya di tutup, Jingga mulai bisa memiliki teman di sekolahnya.

2 TAHUN BERLALU, Tahun 2017.

(Jingga berusia 11 tahun)

Hari - hari berlalu dan tanpa terasa dua tahun sudah kejadian itu terlewatkan. Jingga sudah lulus sekolah dasar tapi dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena kendala biaya, di tambah lagi kondisi nenek Rumi yang semakin sepuh dan semakin sulit berjalan.

Untuk menyambung hidup, sehari - hari Jingga mencari kayu bakar yang lantas di jual pada warga sekitar. Jingga juga berkebun dengan menanam pohon pisang, kunyit, jahe, kencur, dan lain - lain di pekarangan belakang rumah, hasil panen nya pun Jingga jual.

Anak sekecil Jingga harus berpikir keras untuk mencari uang agar dirinya dan sang nenek tetap bisa makan. Hari ini Jingga sudah siap dengan parang di tangan nya dan hendak menebang pohon pisang yang sudah siap panen, Jingga tersenyum saat melihat buah pisang nya yang besar - besar akhirnya matang.

"Alhamdulillah, pisang yang baik.. aku ijin menebang pohonmu ya, aku akan memanen buahmu dan akan aku jual untuk beli obatnya uti, semoga kamu ikhlas ya." Ujar Jingga, sambil menepuk pohon pisang itu.

Jingga selalu mengajak tanaman nya bicara, agak lain memang. Tapi Jingga percaya mereka juga bisa mendengar ucapan nya, sama hal nya saat dulu Jingga belum di tutup mata batin nya, pohon - pohon itu juga menjadi rumah bagi mereka yang tak terlihat.

Dengan gerakan cekatan Jingga menebang pohon pisang itu, dia sudah terampil dalam menebang pohon karena sudah terbiasa. Dengan mudah dia memotong sesisir demi sesisir pisang miliknya dan setelah di hitung rupanya total nya ada 14 sisir.

"Banyak nya, terimakasih pohon pisang." Gumam Jingga.

Ia mulai mengumpul kan semua pisang nya lalu dia bawa ke rumah, Jingga meraba pinggang nya karena tak mendapati parang nya akhir nya dia balik ke kebun untuk mencarinya. Dengan sekali lirik parang itu terlihat, tapi saat Jingga hendak mengambil nya tangan nya tak sengaja terbeset parang yang tajam itu.

"Aw!" Jingga langsung mengemut jari tangan nya yang berdarah.

Jingga meludahkan darahnya lalu ia berjalan pergi sambil membawa parang itu. Tapi tiba - tiba setelah Jingga pergi, sesuatu mengerumuni darah yang Jingga ludah kan. Seperti asap hitam yang serupa yang mengelilingi makam mendiang Raden dulu.

"Hhhhhhhhhhhhh.."

"Jinggaaa."

Asap hitam itu mendiami darah Jingga lalu setelah nya darah itu tak lagi ada di sana.

Jingga sampai di rumah dan melihat nenek nya yang sedang menata pisang hasil panen nya, tapi nenek Rumi terlihat bersedih.

"Uti, kenapa uti keluar? Uti istirahat saja di dalam." Ujar Jingga.

"Uti mau bantu kamu, nak. (Sambil tersenyum) Alhamdulillah pisang nya berbuah banyak, ya?" Ujar nenek Rumi.

"Iya Uti, kemarin ayah nya Gani mau beli katanya, Jingga antar ke rumah ayah nya Gani dulu ya, ti." Ujar Jingga.

"Iya nak, hati - hati ya." Ujar nenek Rumi.

"Iya ti." Sahut Jingga.

Jingga memasukan buah pisang nya kedalam bakul bambu besar yang sudah terpasang di sepedanya sebanyak 12 sisir sesuai pesanan, tapi nenek Rumi memasukan satu sisir lagi kedalam nya jadi total 13 sisir kini pisan nya pun hanya tinggal 1 sisir untuk Jingga dan nenek Rumi makan sendiri.

"Bonus untuk ayah nya Gani." Ujar nenek Rumi, Jingga tersenyum karena nenek nya selalu baik pada orang lain.

"Jingga berangkat ti, Assalamualaikum." Ujar Jingga, lalu melaju dengan sepedanya.

"Wa'alaikumsalam.." Sahut nenek Rumi sambil tersenyum.

'Jika uti pergi nanti, kamu dengan siapa nak.. Ya Allah, malang sekali nasib cucuku, dia masih sangat kecil untuk menanggung semuanya sendiri.' Batin nenek Rumi, lalu dia kembali menangis.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Nenek Rumi terbatuk - batuk.

Jingga melaju dengan sepeda nya, dan sepanjang jalan menuju ke rumah Gani dia melewati jalanan sepi. Entah mengapa Jingga merasa ada yang mengikutinya dari belakang, tapi saat Jingga menengok ke belakang tidak ada siapapun.

Jingga sempat berhenti sejenak untuk minum air, tapi perasaan nya tidak enak.. Dia melirik kesana kemari tapi memang tidak ada siapapun di sana, akhirnya Jingga menutup botol air nya dan kembali melanjutkan perjalanan dengan sepedanya.

"Jinggaaa.."

DEG!!!

Tiba - tiba Jingga mendengar bisikan yang sudah lama tidak dia dengar, tubuhnya pun meremang seketika. Dengan cepat Jingga mengayuh sepedanya agar cepat sampai di rumah Gani, ia benar - benar ketakutan sekarang.

Singkat cerita, akhirnya Jingga pun tiba di rumah Gani, rupanya ayah nya Gani akan mengadakan hajatan, mungkin itu sebab nya ayah nya Gani memesan pisang sangat banyak dari Jingga.

"Assalamualaikum.." Jingga mengucap salam.

"Wa'alaikumsalam, eh Jingga." Sahut anak remaja dengan suara pecah nya, Jingga pun tersenyum.

"Gani, aku nganter pisang pesanan ayahmu." Ujar Jingga.

"Oh.. sebentar ya, aku panggil ayah dulu." Ujar Gani, lalu pergi.

Gani adalah satu - satunya teman baik Jingga, dia satu tahun lebih tua dari Jingga tapi mereka satu kelas saat di sekolah dasar. Sekarang Gani menempuh pendidikan selanjutnya ( SMP) Sementara Jingga tidak.

Tak lama muncul ayah Gani, dia tersenyum melihat Jingga. Jingga menyalimi tangan ayah Gani, sebuah keharusan bagi yang lebih muda menyalimi orang tua.

"Pak de, Jingga anter pisang pesanan pakde." Ujar Jingga.

"Iya nak, wah.. pisang nya cantik - cantik ya, kayak Jingga." Ujar ayah nya Gani, Jingga dan Gani pun terkekeh.

"Masa Jingga di samain sama pisang, pak de." Ujar Jingga sambil terkekeh.

Tak lama ibunya Gani juga keluar, Jingga menyalimi tangan ibunya Gani yang selalu baik padanya itu.

"Jingga, ini uang bayar pisang nya, di buka nanti di rumah, ya." Ujar ibunya Gani.

"Iya bu de, makasih." Ujar Jingga.

"Kok lebih satu, nak?" Tanya ayah Gani saat menghitung pisang pesanan nya yang berjumlah 13.

"Uti bilang itu bonus buat pak de." Ujar Jingga.

"Wahh.. Salam untuk uti ya, terimakasih banyak bonus nya." Ujar ayah nya Gani.

"Iya pak de."

Setelah pisang di bongkar dari bakul bambu Jingga, akhirnya Jingga pun pamit karena hari semakin siang. Dengan hati bahagia dia mengayuh sepedanya dan lupa dengan kejadian menyeramkan yang dia alami di jalan, ia ingin segera sampai dan memberikan hasil penjualan pisang nya pada nenek nya.

Jingga sampai di rumah dan langsung memarkir sepedanya lalu berlari masuk kedalam.

"Assalamualaikum.." Salam Jingga.

Jingga merasa aneh saat masuk kedalam rumah nya, padahal itu siang hari tapi rasa nya sangat seram. Jingga melihat kesekitar ruangan rumah nya, ia merasa dirinya seperti sedang di awasi tapi tidak ada siapapun.

"Wa'alaikumsalam." Sahut nenek Rumi dari dalam dapur, Jingga pun masuk ke dapur.

"Uti, ini uang dari ayah nya Gani." Ujar Jingga.

"Wah, Alhamdulillah nak. Ayo makan, uti sudah masak jantung pisang kesukaan kamu." Ujar nenek Rumi.

"Iya, ti." Ujar Jingga, lalu duduk di meja makan, tapi hati dan pikiran nya masih tidak enak.

BERSAMBUNG..

Terpopuler

Comments

Roewina

Roewina

Thor jingga itu cewe pa cowo?🤔🤭

2024-12-09

1

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

apa sekarang jingga bisa liat lagi gegara darahnya...

2024-07-25

2

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

mungkin dengan darah Jingga yg tercecer ituh, bikin mata bathin Jingga terbuka lagi yaaa

2024-07-08

2

lihat semua
Episodes
1 EPS. 1. PEMAKAMAN.
2 EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3 EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4 EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5 EPS. 5. Majikan ayah.
6 EPS. 6. Majikan ayah 2.
7 EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8 EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9 EPS. 9. Kecelakaan.
10 EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11 EPS. 11. Mencekam.
12 EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13 EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14 EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15 EPS. 15 Delima datang lagi.
16 EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17 EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18 EPS. 18. Kamar Raka.
19 EPS. 19. Adik Raka.
20 EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21 EPS. 21. Kemarahan Delima.
22 EPS. 22. Jingga Sekolah.
23 ESP. 23. Raka tukang marah.
24 EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25 EPS. 25. Ika Meninggal.
26 EPS. 26. Adiknya Delima.
27 EPS. 27. Sosok perempuan
28 EPS. 28. Curhatan Sari.
29 EPS. 29. Jingga sakit perut.
30 EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31 EPS.31. Jingga di Jaga.
32 EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33 EPS.33. Banyak keanehan.
34 EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35 EPS. 35. Riki yang aneh.
36 EPS. 36. Ketegangan.
37 EPS. 37. Mimpi Raka.
38 EPS. 38. Rasa penasaran.
39 EPS. 39. Sudah takdirnya.
40 EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41 EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42 EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43 EPS. 43. Firasat Raka.
44 EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45 EPS. 45. Pesugihan
46 EPS. 46. Delima di serang.
47 EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48 EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49 EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50 EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51 EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52 EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53 EPS. 53. Tulah..
54 EPS. 54. Sangat menjijikan.
55 EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56 EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57 EPS. 57. Maaf Raka.
58 EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59 EPS. 59. Teror
60 EPS. 60. Airlangga Depresi.
61 EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62 EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63 EPS. 63. Membayar hukuman.
64 EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65 EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66 EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67 EPS. 67. Hantu Stela.
68 EPS. 68. Gani
69 EPS. 69. Mengantar Stela..
70 EPS. 70. Akhirnya..
71 PENGUMUMAN!
Episodes

Updated 71 Episodes

1
EPS. 1. PEMAKAMAN.
2
EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3
EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4
EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5
EPS. 5. Majikan ayah.
6
EPS. 6. Majikan ayah 2.
7
EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8
EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9
EPS. 9. Kecelakaan.
10
EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11
EPS. 11. Mencekam.
12
EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13
EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14
EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15
EPS. 15 Delima datang lagi.
16
EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17
EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18
EPS. 18. Kamar Raka.
19
EPS. 19. Adik Raka.
20
EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21
EPS. 21. Kemarahan Delima.
22
EPS. 22. Jingga Sekolah.
23
ESP. 23. Raka tukang marah.
24
EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25
EPS. 25. Ika Meninggal.
26
EPS. 26. Adiknya Delima.
27
EPS. 27. Sosok perempuan
28
EPS. 28. Curhatan Sari.
29
EPS. 29. Jingga sakit perut.
30
EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31
EPS.31. Jingga di Jaga.
32
EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33
EPS.33. Banyak keanehan.
34
EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35
EPS. 35. Riki yang aneh.
36
EPS. 36. Ketegangan.
37
EPS. 37. Mimpi Raka.
38
EPS. 38. Rasa penasaran.
39
EPS. 39. Sudah takdirnya.
40
EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41
EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42
EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43
EPS. 43. Firasat Raka.
44
EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45
EPS. 45. Pesugihan
46
EPS. 46. Delima di serang.
47
EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48
EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49
EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50
EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51
EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52
EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53
EPS. 53. Tulah..
54
EPS. 54. Sangat menjijikan.
55
EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56
EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57
EPS. 57. Maaf Raka.
58
EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59
EPS. 59. Teror
60
EPS. 60. Airlangga Depresi.
61
EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62
EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63
EPS. 63. Membayar hukuman.
64
EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65
EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66
EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67
EPS. 67. Hantu Stela.
68
EPS. 68. Gani
69
EPS. 69. Mengantar Stela..
70
EPS. 70. Akhirnya..
71
PENGUMUMAN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!