EPS. 2. Setelah 7 Hari.

Jingga bangun dan membuka matanya, ia melihat wajah sang nenek yang sedang khawatir dan juga wajah Ustad yang sedang mengoles sesuatu pada tubuh Senja.

"Uti.." Panggil Jingga pada nenek nya.

"Nak, akhirnya kamu bangun juga. Uti sudah takut kamu pingsan nya lama sekali, kamu kenapa nak?" Tanya nenek Rumi sambil mengusap - usap kepala Jingga yang berkeringat.

"Tadi Jingga melihat kepala, Uti. Kepala nya di lantai situ dan melihat kearah Jingga." Ujar Jingga, baik Ustad dan nenek Rumi pun terkejut.

Untung nya tahlilan sudah selesai, hanya para pria - pria yang akan berjaga malam ( melek) yang ada di sana, jadi tak banyak yang mendengar itu hanya beberapa orang tetangga nenek Rumi saja. Para tetangga pun menjadi takut dengan yang Jingga ucapkan, karena Jingga memang terkenal aneh.

"Tadi Jingga juga melihat ayah, Uti." Ujar Jingga, nenek Rumi pun berkaca - kaca mendengar nya.

"Ayah nya Jingga sudah tenang di rumah Allah, nak." Ujar nenek Rumi.

"Tidak Uti, ayah sedang minta tolong. Ayah sedang menangis kesakitan di sana." Ujar Jingga.

"Apa maksud nya, nak.." Ujar nenek Rumi sambil menangis.

"Tidak apa - apa, Jingga tadi cuma mimpi. Mimpi itu bunga tidur, jadi jangan Jingga pikirkan ya.. Ayah nya Jingga sudah tenang." Ujar Ustad, Jingga pun mengangguk.

"Iya pak de." Ujar Jingga, Jingga selalu memanggil Ustad itu dengan sebutan pak de (paman).

Dan waktu pun berlalu, Jingga sudah tidur di kamar nya dan nenek Rumi pun kembali keluar menghampiri Ustad. Ustad itu melihat kearah nenek Rumi lalu bangun dari duduk nya menghampiri nenek Rumi.

"Kenapa nek?" Tanya Ustad.

"Pak Ustad, pak Ustad kan dekat dengan Raden sejak kecil, saya juga sudah anggap pak Ustad seperti keluarga. Tolong lah Jingga, pak Ustad." Ujar nenek Rumi.

"Kalau nenek sudah anggap saya keluarga, kenapa panggil saya pak Ustad? (sambil terkekeh) Panggil saja saya dengan nama kecil saya seperti dulu, nek." Ujar Ustad itu, nenek Rumi pun sedikit berat.

"Tak pantas rasanya, karena bagaimanapun kan kamu sudah menjadi Ustad." Ujar nenek Rumi.

"Ustad juga manusia, nek. Panggil saja saya dengan nama saya, saya lebih nyaman saat nenek memanggil saya dengan nama." Ujar Ustad, nenek Rumi tampak menghembuskan nafas nya lalu mengangguk.

"Baiklah.. Nak Ali." Ujar nenek, menyebut nama asli ustad itu.

"Tolonglah Jingga, nak. Saya rasa Jingga bisa melihat hal yang tidak bisa semua orang lihat." Ujar nenek Rumi, Ustad Ali tampak sejenak terdiam.

"Maksud nenek?" Tanya Ustad. Nenek Rumi mendekat dan berbisik pada Ustad Ali.

"Jingga.. dia sepertinya bisa melihat setan!" Bisik nenek Rumi. Mendengar itu sang Ustad pun tersenyum.

"Indigo, nek." Ujar Ustad Ali.

"Ya! Tolonglah Jingga Nak. Jingga masih kecil, dia selalu di anggap aneh dan terkutuk oleh semua orang karena kelahiran nya yang tidak lazim. Sekarang dia sering berkata aneh - aneh, saya takut Jingga sendirian sampai besar nanti." Ujar nenek Rumi.

"Itu adalah kelebihan yang Jingga miliki, nek. Allah memberikan itu pada Jingga pasti bukan tanpa sebab." Ujar Ustad.

"Tapi dia jadi tidak punya teman, semua orang tua melarang anak nya bermain dengan Jingga, karena sedari Jingga lahir selalu di katai terkutuk." Ujar nenek Rumi dengan sedih.

Ustad Ali tampak sedikit berpikir, lalu kembali menatap nenek Rumi.

"Sebenarnya Jingga memiliki kelebihan itu sejak dia lahir, nek. Dia bisa melihat mereka yang tak terlihat sejak Jingga mulai bisa melihat dunia, jadi Jingga tidak bisa membedakan yang mana manusia dan yang mana.. ghoib." Ujar Ustad.

"Ghoib? Kenapa saya tidak tahu?" Tanya nenek Rumi, dia terkejut.

"Almarhum Raden yang meminta agar tidak di beri tahukan pada siapapun, termasuk nenek. Karena Raden tidak mau nenek jadi takut juga, Jingga itu spesial nek, bukan aneh." Ujar Ustad itu.

"Mana mungkin saya takut, dia cucu saya. Tolonglah Jingga, nak Ali... Karena semakin besar dia semakin sering berteriak dan pingsan sendiri." Ujar nenek Rumi.

"Kalau begitu, saya akan mencoba menutup mata batin Jingga. Semoga setelah mata batin nya di tutup Jingga bisa hidup dengan damai." Ujar Ustad.

"Iya, tutup saja. Kasihan dia, selalu ketakutan." Ujar nenek Rumi, ustad pun mengangguk.

"Setelah tujuh hari nya Raden, kita akan menutup mata batin Jingga, nek." Ujar Ustad.

Lalu tujuh hari kemudian..

Jingga sedang duduk di teras rumah nya sore itu, rumah Jingga terletak memisah dari keramaian karena rumah itu berada ujung kampung yang sepi. Jarak dari rumah itu dengan tetangga nya pun lumayan jauh, karena masih jarang ada rumah di sana.

"Jingga." Panggil sebuah suara.

DEG!

Jingga langsung meremang, karena dia takut kejadian di malam tahlilan terulang.

"Jingga." Lagi suara itu memanggil, tapi Jingga tidak menoleh sama sekali.

Sampai tiba - tiba sebuah tangan menepuk pundaknya, Jingga pun terlonjak kaget.

"Kok melamun? Pak de panggil - panggil dari tadi." Ujar ustad Ali.

Ternyata yang memanggil Jingga adalah Ustad Ali, Jingga menghembuskan nafas nya lega lalu tersenyum sesaat kemudian. Ustad Ali lantas duduk di samping Jingga dan ikut melihat pemandangan di samping rumah itu.

"Pak de ngagetin, biasanya kan pak de ucap salam dulu." Ujar Jingga, ustad Ali hanya tersenyum.

"Kamu sedang apa? Kenapa duduk sendirian?" Tanya Ustad Ali.

"Sedang menunggu pak de, kata uti pak de mau bantu Jingga supaya sembuh, memang nya Jingga sakit apa, pak de?" Tanya Jingga.

"Assalamualaikum."

DEG!!

Tiba - tiba terdengar suara ustad Ali yang mengucap salam dari arah depan rumah, Jingga pun pias seketika setelah melihat ustad Ali yang berdiri di depan rumah nya, lalu siapa yang sebelumnya mengajak Jingga bicara??

Jingga perlahan melirik kesampingnya, di tempat ustad Ali yang dia ajak bicara itu duduk. Dengan ekor matanya, Jingga bisa melihat sosok yang duduk di samping nya itu kini berubah menjadi menjadi sosok yang mengerikan yang dia lihat di makam ayah nya.

Tiba - tiba nenek Rumi muncul dan sosok itu pun tidak terlihat lagi oleh Jingga, dengan cepat Jingga berlari menyusul nenek Rumi yang berjalan menuju keluar.

"Wa'alaikumsalam." Sahut nenek Rumi.

Ustad Ali melihat Jingga yang seakan ketakutan, Ustad Ali lalu melirik ke asal mula Jingga dan nenek Rumi muncul, tapi tidak ada apapun. Bahkan Ustad Ali juga melirik kesana kemari dan akhirnya ia melihat setengah wajah perempuan terbakar yang mengintip di jendela, yang juga menatap kearah nya.

'Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa mereka terus mengikuti Jingga.' Batin Ustad Ali.

Dan singkat nya kini mereka sudah masuk kedalam rumah nenek Rumi dan duduk di ruang tamu. Rumah yang sederhana itu juga hanya memiliki kursi tua sebagai tempat duduk mereka.

"Pak de, katanya Jingga mau di sembuhin, ya? Memang nya Jingga sakit apa?" Tanya Jingga polos.

"Jingga tidak sakit, nak." Ujar Ustad Ali.

"Kalau tidak sakit, kenapa Jingga mau di obati?" Tanya Jingga lagi, Ustad Ali tersenyum dan mengusap kepala Jingga.

"Nanti kamu akan tahu, sekarang pak de mau tanya - tanya dulu, boleh?" Tanya Ustad Ali, Jingga pun mengangguk sambil tersenyum.

"Jingga, apa Jingga melihat makhluk dengan wajah terbakar?" Tanya Ustad, seketika Jingga tertegun.

"Jangan takut, pak de tahu kamu melihat nya. Apa dia mengganggumu?" Tanya Ustad Ali.

"Dia terus memanggil nama Jingga, pak de. Jingga baru kali ini melihat yang seram seperti itu, dulu tidak." Ujar Jingga.

"Ada berapa yang sudah Jingga lihat?" Tanya Ustad Ali.

"Banyak, Jingga tidak bisa menghitung nya. Mereka datang dan pergi, tapi yang dulu tidak seram. Ayah bilang.. mereka juga ciptaan Allah, Jingga bahkan berteman dengan bibi cantik." Ujar Jingga.

Nenek Rumi yang mendengar itu sangat terkejut, ia sama sekali tidak tahu apapun yang sudah Jingga lihat selama ini.

"Bibi cantik?" Tanya Ustad Ali.

"Iya, tapi bibi cantik tidak kelihatan lagi, sudah dua minggu bibi cantik tidak muncul. Sekarang yang muncul bibi jelek yang menyeramkan." Ujar Jingga. Yang Jingga maksud adalah wanita dengan wajah terbakar yang terus mengikutinya.

"Jingga juga melihat asap hitam di atas kuburan ayah, dan juga ada satu bibi lagi yang juga seram." Ujar Jingga.

Ustad Ali seakan mencerna ucapan Jingga, ia pun menghembuskan nafas nya lalu tersenyum pada Jingga.

"Jingga.. kalau pak de buat Jingga tidak melihat mereka lagi, Jingga mau?" Tanya ustad Ali.

"Mau.. tapi nanti Jingga tidak bisa melihat bibi cantik selamanya dong?" Ujar Jingga.

"Pak de panggil dia, mau? Yang Jingga lihat itu bukan rupa aslinya, Jingga harus melihat rupa asli bibi itu." Ujar ustad Ali.

"Mau, Jingga kangen bibi cantik." Ujar Jingga.

"Tunggu nanti selepas sholat isya, pak de datang lagi ya.." Ujar Ustad Ali.

"Iya pak de." Sahut Jingga.

'Raden, sebenarnya apa penyebabmu meninggal..' Batin Ustad Ali.

...BERSAMBUNG.....

Terpopuler

Comments

𝙵𝚑𝚊𝚗𝚒𝚊 🦂🦂 🦂

𝙵𝚑𝚊𝚗𝚒𝚊 🦂🦂 🦂

nah iya.. knpa orang indigo di anggap aneh hanya krna bsa melihat "mereka"??? nggak hbis fikir smpe sekarang

2025-02-07

1

Liani purnafasary☺

Liani purnafasary☺

ko dtutupi sih, Ga seru dong

2024-12-20

2

evi

evi

wah matinya janggal ya

2024-11-05

1

lihat semua
Episodes
1 EPS. 1. PEMAKAMAN.
2 EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3 EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4 EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5 EPS. 5. Majikan ayah.
6 EPS. 6. Majikan ayah 2.
7 EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8 EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9 EPS. 9. Kecelakaan.
10 EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11 EPS. 11. Mencekam.
12 EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13 EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14 EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15 EPS. 15 Delima datang lagi.
16 EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17 EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18 EPS. 18. Kamar Raka.
19 EPS. 19. Adik Raka.
20 EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21 EPS. 21. Kemarahan Delima.
22 EPS. 22. Jingga Sekolah.
23 ESP. 23. Raka tukang marah.
24 EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25 EPS. 25. Ika Meninggal.
26 EPS. 26. Adiknya Delima.
27 EPS. 27. Sosok perempuan
28 EPS. 28. Curhatan Sari.
29 EPS. 29. Jingga sakit perut.
30 EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31 EPS.31. Jingga di Jaga.
32 EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33 EPS.33. Banyak keanehan.
34 EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35 EPS. 35. Riki yang aneh.
36 EPS. 36. Ketegangan.
37 EPS. 37. Mimpi Raka.
38 EPS. 38. Rasa penasaran.
39 EPS. 39. Sudah takdirnya.
40 EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41 EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42 EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43 EPS. 43. Firasat Raka.
44 EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45 EPS. 45. Pesugihan
46 EPS. 46. Delima di serang.
47 EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48 EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49 EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50 EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51 EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52 EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53 EPS. 53. Tulah..
54 EPS. 54. Sangat menjijikan.
55 EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56 EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57 EPS. 57. Maaf Raka.
58 EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59 EPS. 59. Teror
60 EPS. 60. Airlangga Depresi.
61 EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62 EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63 EPS. 63. Membayar hukuman.
64 EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65 EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66 EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67 EPS. 67. Hantu Stela.
68 EPS. 68. Gani
69 EPS. 69. Mengantar Stela..
70 EPS. 70. Akhirnya..
71 PENGUMUMAN!
Episodes

Updated 71 Episodes

1
EPS. 1. PEMAKAMAN.
2
EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3
EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4
EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5
EPS. 5. Majikan ayah.
6
EPS. 6. Majikan ayah 2.
7
EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8
EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9
EPS. 9. Kecelakaan.
10
EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11
EPS. 11. Mencekam.
12
EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13
EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14
EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15
EPS. 15 Delima datang lagi.
16
EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17
EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18
EPS. 18. Kamar Raka.
19
EPS. 19. Adik Raka.
20
EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21
EPS. 21. Kemarahan Delima.
22
EPS. 22. Jingga Sekolah.
23
ESP. 23. Raka tukang marah.
24
EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25
EPS. 25. Ika Meninggal.
26
EPS. 26. Adiknya Delima.
27
EPS. 27. Sosok perempuan
28
EPS. 28. Curhatan Sari.
29
EPS. 29. Jingga sakit perut.
30
EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31
EPS.31. Jingga di Jaga.
32
EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33
EPS.33. Banyak keanehan.
34
EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35
EPS. 35. Riki yang aneh.
36
EPS. 36. Ketegangan.
37
EPS. 37. Mimpi Raka.
38
EPS. 38. Rasa penasaran.
39
EPS. 39. Sudah takdirnya.
40
EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41
EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42
EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43
EPS. 43. Firasat Raka.
44
EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45
EPS. 45. Pesugihan
46
EPS. 46. Delima di serang.
47
EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48
EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49
EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50
EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51
EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52
EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53
EPS. 53. Tulah..
54
EPS. 54. Sangat menjijikan.
55
EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56
EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57
EPS. 57. Maaf Raka.
58
EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59
EPS. 59. Teror
60
EPS. 60. Airlangga Depresi.
61
EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62
EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63
EPS. 63. Membayar hukuman.
64
EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65
EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66
EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67
EPS. 67. Hantu Stela.
68
EPS. 68. Gani
69
EPS. 69. Mengantar Stela..
70
EPS. 70. Akhirnya..
71
PENGUMUMAN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!