EPS. 16. 7 Hari kemudian..

Setelah 7 hari mendiang nenek Rumi, kini Jingga akhirnya harus pergi dari rumah nya dan ikut Delima ke Jakarta. Delima tampak hampir tiba dengan mobil mewah nya dan juga sudah banyak tetangga Jingga yang menonton atau ingin melihat kepergian Jingga.

Sementara Jingga sendiri, kini ia berada di kamar nenek nya dan duduk dengan wajah sedih menatap foto dirinya bersama mendiang ayah dan nenek nya.

"Uti, ayah.. Jingga di angkat menjadi anak majikan ayah dan tinggal di jakarta setelah ini, doa in Jingga ya ti, ayah.." Ujar nya.

Jingga memeluk salah satu kain jarit batik yang selalu uti nya pakai sehari - hari, lalu mencium nya.

"Uti, Jingga bawa kain nya uti, ya.. Supaya kalau Jingga kangen uti, bisa terobati sama kain ini." Ujar Jingga lagi.

"KRRIET!!"

Tiba - tiba saja pintu lemari tua tempat nenek Rumi menyimpan pakaian terbuka sedikit, Jingga bangun dari duduk nya dan menghampiri lemari itu lalu menutupnya. Tapi saat Jingga berbalik, pintu lemari itu kembali terbuka..

"KRRIET!"

Jingga kembali berbalik menatap pintu itu lalu membukanya untuk mengecek pintu lemari tua itu, rupanya engselnya terlepas dari kayu lemarinya. Jingga membetulkan engsel pintunya dan saat Jingga hendak menutupnya lagi, Jingga melihat sebuah tali hitam kecil yang menggantung, ia pun menariknya.

"Kalung?" Gumam Jingga, saat mendapati tali itu rupanya sebuah kalung dengan bandul berbentuk seperti bambu kuning kecil.

"Uti punya kalung? Kenapa aku nggak pernah lihat?" Gumam nya, sambil tersenyum.

Jingga mengambil kalung itu lalu ia iseng mengikat kan nya di leher, Jingga melihat pantulan dirinya di kaca kecil dan tersenyum karena kalungnya bagus.

"Jingga pakai ya, ti." Ujar nya, seolah ijin dengan nenek nya.

Jingga mendengar keramaian di luar, ia pun menjadi berdebar sekarang karena itu pasti Delima dan Airlangga yang akan menjemputnya dan membawanya ke jakarta.

"Doain Jingga ya, ti.. ayah.. bunda.. Jingga akan pergi ke Jakarta." Ujar Jingga, lalu keluar dari kamar nenek Rumi.

Ketika Jingga keluar, lemari yang tadi Jingga betulkan kembali terbuka dan terlihat sebuah kepala keris kecil yang bersinar ke emasan dari tempat yang sama saat Jingga menarik kalung tadi.

Berpindah ke luar, Delima tampak tersenyum dan menghampiri Jingga yang kini berdiri di teras rumah lalu memeluknya.

"Sudah siap, nak?" Tanya Delima.

"Sudah, bu." Sahut Jingga.

"Pak Tono, tolong bawa barang - barang nya Jingga." Ujar Delima pada supir nya.

"Nggak usah bu, Jingga bawa sendiri saja." Ujar Jingga, ia hanya memeluk satu ransel kecil pakaian nya.

"Cuma ini, nak?" Tanya Delima terkejut.

"Iya, baju Jingga nggak banyak kok bu." Ujar Jingga polos. Delima tersenyum dan mengusap kepala Jingga.

"Nggak apa - apa, kasih pak Tono saja." Ujar Delima.

Akhirnya supir Delima meraih tas Jingga dengan sopan sambil berucap..

"Kasih pak Tono saja, non." Ujar supir Delima. Jingga pun langsung membungkuk mengucap terimakasih.

"Makasih pak Tono." Ujar Jingga, dia merasa tak enak menyuruh orang yang lebih tua darinya.

Para tetangga di sana ada yang menatap iri kearah Jingga, karena Jingga sangat beruntung menurut mereka. Ibunya Gani tiba di sana bersama suaminya untuk mengantar kepergian Jingga juga, ia sedih karena tidak bisa menolong Jingga, nyatanya ekonominya juga susah.

Jingga menghampiri ibunya Gani sambil tersenyum lalu menyalimi tangannya, ibunya Gani pun tak bisa menahan air matanya dan memeluk Jingga.

"Maafin Bu de ya, nak.." Ujar nya pada Jingga.

"Kenapa bu de yang minta maaf? Kan bu de nggak salah." Ujar Jingga polos.

"Bu de nggak bisa nolong Jingga." Ujar ibunya Gani.

"Nggak apa - apa, bu de.. Jingga yang makasih karena bu de sudah baik sekali sama Jingga." Ujar Jingga.

"Maafin Jingga ya bu de, kalau Jingga punya salah. Jingga mau pergi ke Jakarta hari ini, kalau Jingga bikin kesalahan yang di sengaja atau tidak, maafin ya bu de." Ujar Jingga.

"Iya nak." Sahut ibunya Gani dengan suara bergetar karena menangis.

Suasana menjadi haru di sana, setelah Jingga menyalimi ibunya Gani, Jingga lantas menghampiri ayah Gani dan menyalimi nya juga. Terlihat raut merasa bersalah dari wajah ayah Gani, karena dia tidak bisa menampung Jingga menjadi anak angkat nya.

"Pak de, maafin Jingga ya.." Ujar Jingga dengan senyuman.

"Maafin pak de juga ya, nak. Maaf pak de nggak bisa nolongin kamu." Ujar ayah nya Gani.

"Nggak apa - apa, pak de." Sahut Jingga.

Jingga lantas menyalimi semua orang yang ada di sana, ia tak bertemu dengan Gani karena Gani sekolah. Padahal Jingga ingin sekali mengucap selamat tinggal pada Gani, tapi tampak nya tidak bisa.

Para tetangga ada yang ikut sedih, ada juga yang biasa saja. Setelah semua orang yang datang di sana sudah Jingga salimi, Jingga pun kembali ke tempat Delima dan berdiri di tengah - tengah antara Delima dan Airlangga.

"Ibu - ibu, bapak - bapak, terimakasih sudah mengantar kepergian Jingga. Saya berjanji akan membesarkan Jingga dan menyekolahkan Jingga sampai dia menjadi orang sukses nanti." Ujar Airlangga.

"Kami permisi." Timpal Delima.

Delima merangkul Jingga dan menggiring Jingga masuk kedalam mobil, Airlangga duduk di samping supir sementara Delima dan Jingga duduk di tengah. Mobil pun perlahan melaju pergi meninggalkan rumah Jingga, Jingga menatap rumah tempat tinggal nya dengan sedih dari jendela kaca mobil.

Semua kenangan di rumah itu tidak akan Jingga lupakan, sedih, tangis, canda, tawa, semuanya.. Meski rumah itu gubuk dan dia hidup sangat sederhana, tapi Jingga tidak pernah mengeluh sedikitpun.

"Jangan sedih, nak." Ujar Delima.

"Tidak, bu." Sahut Jingga, walau hatinya sebenarnya sedih.

Mobil pun melaju semakin jauh, Jingga melewati semua jalan yang selalu dia lewati saat berjualan.

Jingga tidak melihat anak laki - laki yang mengayuh sepedanya dengan cepat dan berteriak memanggil namanya, karena mobil semakin keluar ke jalan besar maka kecepatan nya pun makin bertambah. Gani, dia mengejar Jingga dari belakang mobil.

"JINGGA!!" Teriak Gani.

"JINGGA!!" Gani terus berteriak sambil mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi.

"JINGGA, TUNGGU!!" Gani sampai terengah - engah, tapi Jingga tidak mendengarnya karena dia melamun.

Sampai pak Tono menyadari bahwa Gani berteriak mengikutinya, baru dia memberi tahu Airlangga.

"Tuan, sepertinya anak kecil di belakang mengikuti mobil ini, anak itu berteriak memanggil non Jingga." Ujar pak Tono.

Jingga yang mendengar itu pun langsung menoleh kebelakang, ia terkejut melihat Gani.

"Pak tolong berhenti pak! Itu teman Jingga." Ujar Jingga.

"Menepi, pak." Ujar Airlangga, pak Tono pun menepikan mobilnya. Gani tersenyum ketika mobil itu berhenti, dan langsung menghampiri Jingga.

"Bu, gimana cara buka pintunya?" Tanya Jingga, dia tidak pernah naik mobil mewah sebelumnya.

"Dari kaca saja ya nak." Ujar Delima, lalu membuka kaca jendela di samping Gani.

"Jingga! Akhirnya kamu denger juga." Ujar Gani dengan nafas terengah - engah.

"Gani, kenapa kamu ngejar mobil? Kamu nggak sekolah?" Tanya Jingga.

"Aku bolos, aku nunggu kamu di jalan sana tadi." Ujar Gani, Jingga terkejut.

"Aku mau ngucapin selamat jalan, Jingga. Jangan lupa nanti pulang main kemari, ya?" Ujar Gani, Jingga pun mengangguk sambil berkaca - kaca.

"Jangan nangis dong, masa mau jadi orang jakarta nangis." Hibur Gani, tapi Jingga malah makin menangis, bagaimanapun Gani adalah satu - satunya teman nya yang tidak pernah menganggapnya aneh.

"Makasih Gani." Ujar Jingga.

Gani mengacak rambut Jingga sambil tersenyum, lalu melambaikan tangan nya.

"Hati - hati ya, Jingga. Semoga kita bisa ketemu lagi suatu hari nanti." Ujar Gani..

"Umm.. Iya." Sahut Jingga sambil menangis.

"Ya sudah, jalan.. Makasih ya bu, sudah mau jagain Jingga. Jingga anak hebat kok bu, dia nggak pernah nyusahin orang, pasti dia juga nggak akan nyusahin ibu di jakarta." Ujar Gani pada Delima.

"Kamu pasti teman baik nya Jingga, ya?" Ujar Delima.

"Bukan cuma teman, tapi abang." Ujar Gani sambil tersenyum.

"Kami pergi ya, nak.." Ujar Delima dan Gani mengangguk.

"Dadah Jingga." Ujar Gani, sambil melambaikan tangan. Jingga juga melambaikan tangan nya sambil menangis.

Mobil pun kembali melaju pergi, Gani terus melambaikan tangan nya walau mobil itu sudah jauh, dan setelah semakin tak terlihat barulah Gani meneteskan air matanya.

"Selamat jalan, Jingga. Semoga kamu bahagia di sana, suatu hari nanti kita pasti bertemu lagi, dan saat itu.. aku akan menjadi laki - laki dewasa yang mampu melindungimu." Gumam Gani.

Gani lantas menghapus air matanya yang entah mengapa justru semakin deras saat mobil yang Jingga naiki tak terlihat lagi.

BERSAMBUNG..

Terpopuler

Comments

Liani purnafasary☺

Liani purnafasary☺

😭😭😭😭😢😢😢smoga suatu saat mereka dewasa ketemu lg, dannmnjadi spasang kkasih ya.

2024-12-20

1

Santi Rizal

Santi Rizal

😭😭😭

2025-03-29

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

aamiin...

2025-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 EPS. 1. PEMAKAMAN.
2 EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3 EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4 EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5 EPS. 5. Majikan ayah.
6 EPS. 6. Majikan ayah 2.
7 EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8 EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9 EPS. 9. Kecelakaan.
10 EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11 EPS. 11. Mencekam.
12 EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13 EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14 EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15 EPS. 15 Delima datang lagi.
16 EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17 EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18 EPS. 18. Kamar Raka.
19 EPS. 19. Adik Raka.
20 EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21 EPS. 21. Kemarahan Delima.
22 EPS. 22. Jingga Sekolah.
23 ESP. 23. Raka tukang marah.
24 EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25 EPS. 25. Ika Meninggal.
26 EPS. 26. Adiknya Delima.
27 EPS. 27. Sosok perempuan
28 EPS. 28. Curhatan Sari.
29 EPS. 29. Jingga sakit perut.
30 EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31 EPS.31. Jingga di Jaga.
32 EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33 EPS.33. Banyak keanehan.
34 EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35 EPS. 35. Riki yang aneh.
36 EPS. 36. Ketegangan.
37 EPS. 37. Mimpi Raka.
38 EPS. 38. Rasa penasaran.
39 EPS. 39. Sudah takdirnya.
40 EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41 EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42 EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43 EPS. 43. Firasat Raka.
44 EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45 EPS. 45. Pesugihan
46 EPS. 46. Delima di serang.
47 EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48 EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49 EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50 EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51 EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52 EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53 EPS. 53. Tulah..
54 EPS. 54. Sangat menjijikan.
55 EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56 EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57 EPS. 57. Maaf Raka.
58 EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59 EPS. 59. Teror
60 EPS. 60. Airlangga Depresi.
61 EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62 EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63 EPS. 63. Membayar hukuman.
64 EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65 EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66 EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67 EPS. 67. Hantu Stela.
68 EPS. 68. Gani
69 EPS. 69. Mengantar Stela..
70 EPS. 70. Akhirnya..
71 PENGUMUMAN!
Episodes

Updated 71 Episodes

1
EPS. 1. PEMAKAMAN.
2
EPS. 2. Setelah 7 Hari.
3
EPS. 3. Menutup mata batin Jingga.
4
EPS. 4. 2 Tahun berlalu..
5
EPS. 5. Majikan ayah.
6
EPS. 6. Majikan ayah 2.
7
EPS. 7. Jingga bukan Jingga?
8
EPS. 8. Sosok mengerikan di dekat Jingga.
9
EPS. 9. Kecelakaan.
10
EPS. 10. Kiriman teluh pocong hitam.
11
EPS. 11. Mencekam.
12
EPS. 12. Hanya tinggal Jasad.
13
EPS. 13. Pemakaman nenek Rumi.
14
EPS. 14. Mimpi buruk Berturut.
15
EPS. 15 Delima datang lagi.
16
EPS. 16. 7 Hari kemudian..
17
EPS. 17. Sampai di Jakarta.
18
EPS. 18. Kamar Raka.
19
EPS. 19. Adik Raka.
20
EPS. 20. Getih wangi. (Darah wangi.)
21
EPS. 21. Kemarahan Delima.
22
EPS. 22. Jingga Sekolah.
23
ESP. 23. Raka tukang marah.
24
EPS. 24. Sosok perempuan di kolam renang.
25
EPS. 25. Ika Meninggal.
26
EPS. 26. Adiknya Delima.
27
EPS. 27. Sosok perempuan
28
EPS. 28. Curhatan Sari.
29
EPS. 29. Jingga sakit perut.
30
EPS. 30. Menstruasi pertama Jingga.
31
EPS.31. Jingga di Jaga.
32
EPS. 32. Mata batin nya terbuka lagi.
33
EPS.33. Banyak keanehan.
34
EPS. 34. Hantu anak laki - laki itu bernama Jonah.
35
EPS. 35. Riki yang aneh.
36
EPS. 36. Ketegangan.
37
EPS. 37. Mimpi Raka.
38
EPS. 38. Rasa penasaran.
39
EPS. 39. Sudah takdirnya.
40
EPS. 40. Hotel baru Airlangga.
41
EPS. 41. PERESMIAN HOTEL & RESORT.
42
EPS. 42. MIMPI TAPI RASA NYATA
43
EPS. 43. Firasat Raka.
44
EPS. 44. Semakin banyak keanehan.
45
EPS. 45. Pesugihan
46
EPS. 46. Delima di serang.
47
EPS. 47. Teman Baru Jingga.
48
EPS. 48. Jingga akan di tumbalkan.
49
EPS. 49. Jingga bertemu Ustad Sholeh.
50
EPS. 50. Mengubur asal jasad pelayan tua.
51
EPS. 51. RAKA MENCARI JINGGA.
52
EPS. 52. Kenyataan untuk Raka.
53
EPS. 53. Tulah..
54
EPS. 54. Sangat menjijikan.
55
EPS. 55. MASIH FLASHBACK DELIMA.
56
EPS. 56. PUKULAN BESAR BAGI RAKA
57
EPS. 57. Maaf Raka.
58
EPS. 58. Semua perbuatan akan mendapat balasan.
59
EPS. 59. Teror
60
EPS. 60. Airlangga Depresi.
61
EPS. 61. Pemain api, terkuak.
62
EPS. 62. Sari menemui Jingga.
63
EPS. 63. Membayar hukuman.
64
EPS. 64. Hukuman untuk pelaku pesugihan.
65
EPS. 65. Sakaratul Maut Airlangga.
66
EPS. 66. 5 TAHUN kemudian.
67
EPS. 67. Hantu Stela.
68
EPS. 68. Gani
69
EPS. 69. Mengantar Stela..
70
EPS. 70. Akhirnya..
71
PENGUMUMAN!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!