KE ESOKAN HARINYA..
Jingga sedang sendirian di rumah karena ibu - ibu tetangga masih belum datang ke rumah nya, Jingga merasa kesepian dan merindukan sang nenek yang biasanya selalu di temani oleh nya.
"KRRIEET.."
Tiba - tiba terdengar suara pintu yang terbuka, Jingga tertegun dan bangun, ia mengira itu mungkin ibu - ibu tetangga nya yang sudah datang. Tapi setelah di lihat tidak ada siapapun di sana, jika pun ada pasti mereka akan memanggil Jingga. Jingga kembali hendak duduk tapi..
"KRRIEET BRAK!!"
"Huah!!" Jingga terkejut.
Rupanya suara pintu itu berasal dari kamar almarhumah nenek Rumi.
Jingga pun berjalan perlahan menuju kamar nenek nya, ia keheranan apa gerangan yang ada di dalam. Jika itu maling, tidak mungkin juga karena Jingga sangat miskin dan rumahnya bahkan paling jelek di desa itu.
Perlahan Jingga membuka pintu kamar itu, dan masuk ke dalam nya. Kamar nenek nya yang selalu menjadi tempat ternyaman itu kini terasa mencekam, dan memang tidak ada siapa - siapa di dalam nya. Jingga pun berjalan menuju jendela dan membuka jendela kamar itu, tiba - tiba Jingga merasa seperti ada yang sedang berdiri di belakangnya persis.
Tubuhnya meremang satu badan karena merasa merinding. Jingga mencium bau anyir yang teramat sangat, ia pun memejamkan matanya dan berdoa dalam hatinya.. Tak lama, bau anyir itu hilang dan Jingga tidak merasa merinding lagi.
"Astaghfirullah.." Jingga langsung berbalik badan dan keluar dari kamar nenek nya.
Jingga mulai membersihkan rumah nya dan semakin siang tetangga nya mulai berdatangan di rumah Jingga, termasuk ibunya Gani. Jingga senang karena rupanya masih ada tetangga nya yang peduli dengan dirinya, tak hanya membantu memasak untuk tahlilan, banyak dari mereka memberikan santunan pada Jingga.
"Jingga, ada yang nyari kamu nak." Ujar ibunya Gani,
"Siapa, bu de?" Tanya Jingga.
"Bu de nggak tau juga, belum pernah liat beliau." Ujar ibunya Gani.
Tiba - tiba seorang perempuan menyerobot masuk dan meneriakan nama Jingga dengan sedih.
"Jingga, ya ampun nak.." Ujarnya, lalu dia langsung memeluk Jingga sambil menangis.
"Bu Delima??" Ujar Jingga, sambil kebingungan di dalam pelukan Delima.
Ya, perempuan itu adalah Delima, dia datang bersama Airlangga menggunakan mobil yang berbeda lagi. Kali ini mereka menggunakan mobil hitam mewah dengan pintu sledding di kanan kirinya.
"Apa yang terjadi, Jingga.. Kenapa dengan nenek mu?" Tanya Delima dengan nada suara sedih.
"Uti meninggal, bu." Sahut Jingga, Jingga pun kembali bersedih.
"Anak malang.." Ujar Delima sambil mengecup kepala Jingga berulang kali.
Semua yang melihat itu sangat terharu, terlihat betapa Delima sangat menyayangi Jingga dari cara Delima memperlakukan Jingga.
Dan akhirnya disinilah mereka semua, duduk berkumpul di ruang tamu Jingga yang kini masih beralaskan tikar karena masih di gunakan untuk tahlil dan Yasin. Banyak tetangga yang selama ini penasaran dengan sosok Delima ini, yang selalu datang menggunakan mobil mewah yang macam - macam jenis nya duduk ikut mengobrol jadinya.
"Jadi.. Ibu dan bapak adalah majikan nya mendiang pak Raden?" Tanya Ibunya Gani.
"Iya, saya sering datang kemari akhir - akhir ini. Dulu Raden bekerja di salah satu kebun saya, karena saya sering survei ke tempat jadi saya mengenal mendiang Raden dengan baik." Sahut Airlangga, tetangga nya pun hanya meng "oh." kan saja ucapan Airlangga.
"Beliau orang yang ulet dalam bekerja, dan bercita - cita ingin menyekolahkan anak nya setinggi mungkin agar memiliki kehidupan lebih baik. Oleh karena nya kami merasa sangat bersalah pada Jingga karena kecelakaan kerja di kebun saya, Jingga jadi kehilangan ayahnya." Timpal Airlangga.
"Tapi kan itu sudah takdir, pak. Bukan salah bapak juga kalau Almarhum kecelakaan." Sahut salah satu tetangga Jingga.
"Itu memang benar, istri saya juga berkata demikian, hanya saja saya tetap merasa bersalah. Jadi saya dan istri saya memutuskan untuk menebus rasa bersalah kami dengan menyekolahkan Jingga setinggi mungkin." Ujar Airlangga.
"MashaAllah, baik sekali bapak dan ibu ini.." Ujar yang lain.
"Iya, jarang ada majikan yang peduli dengan keluarga karyawan nya, bapak sama ibu ini pasti orang dermawan." Ujar yang lain nya.
"Jingga mau ya, kami angkat jadi anak?" Bujuk Delima lagi.
"Terima saja Jingga, lagi pula kamu nggak punya siapa - siapa lagi, dari pada kamu hidup sengsara sendirian." Ujar tetangga Jingga.
"Iya benar, kamu beruntung bertemu majikan ayahmu, lho.." Ujar yang lain lagi.
Banyak orang yang menjunjung Delima dan Airlangga dengan niat baik mereka, padahal mereka bahkan baru mengenal Delima dan Airlangga. Mereka bahkan tidak memikirkan apa yang ada di kepala Jingga sekarang, Jingga sangat kebingungan, bagaimanapun dia hanya anak berusia 11 tahun.
"Ibu - ibu, jangan begitu.. Biar Jingga yang putuskan sendiri." Ujar ibunya Gani.
"Memang nya apa lagi yang harus di pertimbangkan? Jingga kan memang sebatang kara sekarang, kalau dia tidak mau ikut juga dia mau tinggal dengan siapa? Sendirian??" Ujar ibu - ibu tetangga.
"Iya, kita kan juga punya kehidupan masing - masing, nggak melulu bisa bantuin Jingga." Ucap yang lain lagi.
Ibunya Gani pun terdiam, dia sendiri tidak berani buka suara untuk menampung Jingga karena semalam suaminya sudah mengatakan keberatan jika harus mengadopsi Jingga, karena itu berarti beban nya bertambah.
Semalam, ibunya Gani berdiskusi dengan suaminya untuk mengangkat Jingga menjadi anak mereka, tapi ternyata tanggapan suaminya sangat di luar dugaan. Jika hanya menolong masih boleh tapi untuk mengangkat Jingga sebagai anak, suaminya keberatan. Bagaimanapun mata pencaharian ayah Gani hanya petani biasa.
Jingga menatap ibunya Gani yang kini beraut sedih, Jingga tahu ibunya Gani mungkin tidak bisa menolong nya juga, dia semakin merasa tersisih sekarang.
'Bu de juga pasti tidak bisa menolongku..' Batin Jingga.
"Kalau saya jadi Jingga, tentu saya ikut. Bisa sekolah dan hidup nyaman, kenapa tidak mau?" Timpal yang lain.
"Jingga, mau ya nak??" Ujar Delima, sembari mengusap kepala Jingga.
"Kalau Jingga mau, Jingga akan punya abang di sana, dan satu adik laki - laki. Mereka juga pasti senang jika memiliki saudari perempuan." Timpal Airlangga.
Merasa buntu.. Jingga akhirnya mengangguk walau sebenarnya hatinya bertolak belakang. Jingga juga tidak mau terus menerus menjadi beban bagi tetangga sekitarnya, ia tidak mau terus merepotkan mereka terutama ibunya Gani yang sudah sangat baik kepadanya.
"Sungguh, nak!?" Delima berbinar melihat anggukan kepala Jingga.
"Iya." Sahut Jingga. Delima langsung memeluk Jingga dengan terharu, Airlangga pun sama langsung ikut memeluk Jingga dan istrinya.
"Pilihan bagus, Jingga. Kamu pasti akan jadi anak hebat suatu hari nanti." Ujar tetangga Jingga.
Ibunya Gani menatap Jingga dengan sedih, padahal awalnya dia sudah berharap bisa mengangkat Jingga menjadi anaknya, tapi rupanya takdir tak berpihak padanya.
"Ikut kami ke Jakarta, ya nak?" Ujar Delima.
"Apa boleh Jingga perginya setelah Uti tujuh hari, bu?" Tanya Jingga.
"Boleh, nak.. Kalau semua di sini sudah selesai, baru Jingga ikut ibu ke Jakarta. Sementara itu, ibu akan mengurus surat prosedur pengangkatan kamu menjadi anak adopsi kami." Ujar Delima.
"Terimakasih, bu." Ujar Jingga.
"Ibu yang terimakasih sama kamu, karena kamu mau menjadi anak ibu. Kami akan menebus rasa bersalah kami pada mendiang ayahmu." Ujar Delima.
Para ibu - ibu tetangga di sana bertepuk tangan, karena mereka menganggap bahwa Jingga sangat beruntung.
Lalu malam harinya..
Malam nya mereka tetap melakukan tahlil dan Yasin untuk mendoakan mendiang nenek Rumi, tapi di pikiran Jingga juga ada rasa berat untuk meninggalkan rumah itu nantinya. Sampai Yasin an selesai, Gani berjalan mendekati Jingga yang tampak seperti orang melamun.
"Jingga, emang kamu mau pindah ke Jakarta, ya?" Tanya Gani.
"Iya, Ni." Sahut Jingga.
"Ciiee.. Selamat ya Jingga, kamu bakalan jadi orang kota. Jangan lupain aku, ya?" Ujar Gani.
"Jakarta tuh kaya apa si, Ni?" Tanya Jingga, dia belum pernah melihat seperti apa Jakarta itu.
"Yee.. Malah nanya aku. Ya aku nggak tau, kan aku juga belom pernah ke Jakarta, Ngga." Ujar Gani sambil terkekeh.
"Semoga kamu betah di sana, terus semoga nggak lupa sama kampung ini." Ujar Gani.
"Aku nggak akan lupa, ini tempat kelahiranku." Ujar Jingga, dan Gani tersenyum.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
airmata kadallll....
mobilnya ganti lagi karna nambah lagi korbannya🤬
2025-02-01
1
Shyfa Andira Rahmi
baik karna ada maunya x...
2025-02-01
1
El Vita
delima yg santet uti jingga
2025-01-19
1