Jingga menangis meronta saat nenek Rumi mencekik dengan sangat keras tanpa perasaan, tatapan nya sangat tajam tanpa berkedip bahkan mulut nenek Rumi menghitam perlahan dan tersenyum mengerikan.
Ustad tadi kembali membacakan Ayat Kursi sambil menatap tajam nenek Rumi yang sedang mencekik Jingga, wajah Jingga sampai membiru perlahan karena kesulitan mendapat oksigen.
"U- uti.. sak- kit, ti!" Ujar Jingga dengan susah payah dan meronta mencoba melepaskan cekikan tangan nenek nya yang begitu kuat.
"Hehehehe.." Nenek Rumi terkekeh mendengar Jingga kesakitan.
Tapi sejenak kemudian nenek Rumi merasakan panas ketika Ustad itu semakin keras membaca Ayat Kursi mengalungkan tasbih nya di lehernya.
"AAAAAA!!!" Nenek Rumi teriak kesakitan dan melepas cekikan nya dari Jingga.
Jingga langsung beringsut mundur menjauh dari sang nenek dengan cepat, ia menangis ketakutan melihat nenek nya menjadi begitu mengerikan.
"AARRGGHH... Wes!! Ampun!! Panas awak ku!" Teriak nenek Rumi menggunakan bahasa Jawa.
Tak mendengarkan ucapan nenek Rumi, pak Ustad itu terus melantunkan ayat Kursi dan surah - surah lain nya untuk mengusir sosok yang mendiami tubuh nenek Rumi.
Nenek Rumi kesakitan dan kepanasan, dia berteriak bahkan mengacak - acak isi ranjang nya. Tak berselang lama asap hitam tampak keluar dari tubuh nenek Rumi, nenek Rumi pun terkapar pingsan di atas ranjang.
"Uti.." Jingga menangis melihat kondisi Uti nya.
Singkat cerita, Jingga sudah merapihkan posisi nenek Rumi agar lebih nyaman, entah mengapa Jingga merasa tubuh nenek Rumi sangat dingin, dia pun menyelimuti tubuh nenek Rumi dengan beberapa kain jarit batik milik neneknya.
Sementara Ustad itu sedang mencipratkan air - air yang sudah dia bacakan ruqyah ke seluruh sisi rumah Jingga untuk pemagaran, dan tak lama setelah nya dia kembali kedalam kamar nenek Rumi.
"Jingga, kalau bisa Jingga ngaji terus ya, di dekat uti. Terus kalau bisa Jingga jangan sendirian, minta teman Jingga untuk menemani Jingga." Ujar pak Ustad.
"Jingga nggak punya teman, pak Ustad." Ujar Jingga, Ustad itu pun terkejut dan merasa iba.
"Ya sudah, nanti pak Ustad minta anak - anak mushola untuk mengaji di rumah Jingga. Pak Ustad pulang dulu ya, karena sudah lewat waktu Ashar dan sebentar lagi Maghrib." Ujar Ustad itu.
"Iya pak Ustad, terimakasih sudah menolong uti." Ujar Jingga.
"Sama - sama, nak. Asalamualaikum." Pamit ustad itu.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut Jingga.
Ustad itu pun pulang dan Jingga melihat sampai ustad itu tidak terlihat dari halaman nya, barulah dia masuk kedalam rumah. Jingga menatap ruangan rumah nya, ia merasa rumah nya menjadi sangat suram, sunyi dan menyeramkan.
Jingga yang sedang memikirkan apa yang terjadi tiba - tiba di kejutkan oleh tepukan tangan di pundaknya.
"Astaghfirullah, ya Allah!" Jingga terkejut, ia pun menengok kebelakang dan rupanya itu adalah Gani.
"Kenapa si, Ngga? Di panggilin dari tadi nggak nengok nggak apa malah terkejut." Gani keheranan.
"Ya Allah, Ni! Kamu ngagetin aku, tau nggak!" Ujar Jingga.
"Makanya jangan ngelamun, udah mau Maghrib malah ngelamun." Ujar Gani.
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Jingga heran.
"Tadi ketemu pak Ustad di depan, kata pak Ustad suruh nemenin kamu dulu katanya. Ada apa si, Ngga?" Tanya Gani.
"Uti, Ni.." Sahut Jingga.
"Kenapa utimu?" Tanya Gani.
"Sakit." Sahut Jingga, dia tak menceritakan apa yang terjadi.
"Ya sudah aku temani dulu, sampai pak Ustad datang." Ujar Gani, dia tak menaruh curiga sedikitpun.
Gani dengan santainya duduk di kursi sambil membuka toples berisi rengginang kesukaan Jingga lalu memakan nya. Jingga ingat dengan perkataan Ustad tadi untuk terus mengaji di dekat utinya, dia pun menghampiri Gani.
"Bantuin aku yuk, Ni." Ajak Jingga.
"Bantu apa?" Tanya Gani sambil mengunyah.
"Ngaji, buat uti." Ujar Jingga, Gani pun mengernyit kebingungan.
"Emang uti kamu sakit apa? Kok harus di ngaji in segala?" Tanya Gani bingung.
"Ayo cepet, nanti aku ceritain." Ujar Jingga, dia langsung menarik tangan Gani lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Gani juga nurut saja, dia sudah anggap nenek Rumi seperti mbah putri nya juga, jadi dia tidak keberatan di suruh mengaji untuk nenek Rumi. Setelah sudah selesai mengambil wudhu, Jingga pun masuk kedalam kamar nenek Rumi dengan pelan - pelan.
Gani terkejut melihat kondisi nenek Rumi yang sangat memprihatinkan, wajah nya pucat dengan rambut putih yang terurai berantakan. Padahal biasanya nenek Rumi sangat rapih dan selalu tersenyum adem di pandang.
"Uti nya kenapa, Ngga?" Bisik Gani.
"Sakit. Ayo bantu aku ngaji." Ujar Jingga, Gani pun mengangguk.
Akhirnya kedua anak itu mengaji sore itu. Mereka menunggu yang lain datang untuk mengaji, sementara nenek Rumi masih terus tak sadarkan diri sepanjang Jingga dan Gani mengaji. Jingga dan Gani menyelesaikan ngaji nya saat Maghrib tiba, mereka berencana untuk bergantian Sholat dulu baru lanjut mengaji.
"Aku Sholat dulu, Ngga." Ujar Gani, Jingga mengangguk sambil masih terus mengaji.
Gani pun keluar dari kamar nenek Rumi untuk sholat di tempat sholat Jingga, tempat nya berada di dekat dapur. Gani agak ngeri dengan rumah Jingga yang penerangan nya sangat minim, tak seperti di rumah nya yang terang benderang. Gani kembali mengambil wudhu lalu dia langsung menunaikan Sholat.
Selesai Sholat, Gani lantas melipat sajadah nya dan berbalik untuk lanjut mengaji, tapi dia melihat nenek Rumi sedang berdiri dengan tubuh bongkok nya menghadap ke sudut dapur.
"Ti?? Uti kok bangun?" Tanya Gani, tapi dia masih mendengar Jingga yang mengaji di dalam kamar nenek Rumi.
"Haus.." Ujar nenek Rumi.
"Oh.. Gani ambilin air, sebentar ti." Ujar Gani, Gani lantas berjalan ke meja makan dan mengambil gelas sambil menggerutu.
"Jingga gimana, sih. Utinya bangun masih lanjut aja ngaji nya, kasihan utinya sampe keluar kehausan." Gerutu Gani sambil menuang air.
Gani tak melihat nenek Rumi yang di lihatnya tadi kini perlahan berdiri dengan tegak dan tidak bongkok, tulang - tulang nya berbunyi seperti tulang - tulang yang patah dan kini kepalanya perlahan memutar melihat ke arah Gani.
Wajah nya biru kehitaman dengan mata yang berwarna hitam legam keseluruhan, dia tersenyum meringis kearah Gani dengan gigi - gigi hitam nya. Gani yang sudah selesai menuang air kini berbalik untuk memberikan nya pada nenek Rumi, tapi di terkejut ketika melihat Jingga ada di belakang nya.
"Hua!!" Gani terkejut sampai gelas di tangan nya jatuh. Untung dapur rumah Jingga masih tanah, gelas itu tidak pecah berantakan.
"Lama banget, Ni. Gantian aku juga mau sholat." Ujar Jingga.
"Ish! Kamu ngagetin. Kamu aneh banget si, uti nya keluar minta minum tapi kamu masih lanjut ngaji aja." Ujar Gani.
"Ha!? Uti masih di ranjang, Ni. Dari tadi juga aku masih lihat uti di ranjang, kamu lama banget." Ujar Jingga. Gani tentu terkejut mendengar nya.
"Ha?? Terus yang tadi minta minum, siapa??" Ujar Gani. Kini Jingga yang kebingungan dengan ucapan Gani.
"Halusinasi kamu, itu. Tolong jaga uti ya, aku sholat dulu." Ujar Jingga, lalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Gani kebingungan sekarang, dia jelas - jelas melihat nenek Rumi berdiri menghadap sudut dapur tadi, tapi Jingga bilang nenek Rumi masih berbaring di ranjang.
Gani pun langsung masuk kedalam kamar, dan benar saja.. Nenek Rumi masih belum berubah dari posisi nya semula. Gani menatap lamat - lamat wajah nenek Rumi yang masih belum sadar itu, rasa ada yang aneh dengan nenek Rumi.
"Asalamualaikum." Tiba - tiba terdengar salam dari luar, Gani pun keluar dari kamar nenek Rumi.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Gani.
Saat Gani keluar, nenek Rumi membuka matanya lalu tersenyum mengerikan dan tiba - tiba duduk.
"Hihihi.." Nenek Rumi terkikik sendirian.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Liani purnafasary☺
iishh jahil bngt ya, serem pula😱😱
2024-12-20
1
Dita Maryani
iya sampai tegang yang baca ne
2024-08-20
3
Zuhril Witanto
bikin deg degan...
2024-08-03
1