Setelah kecelakaan hari itu, santer terdengar kabar bahwa kecelakaan tragis yang memakan korban jiwa itu adalah ulah dari ke usilan makhluk ghoib penunggu jembatan tanjakan itu yang meminta wadal/tumbal.
Berbagai sisi komentar mengenai kejadian itu sangatlah beragam. Ada yang berkata bahwa sopirnya mengantuk, ada yang berkata jembatan tanjakan itu meminta wadal/tumbal, ada juga yang berkata truknya kelebihan beban. Tapi lebih banyak yang beranggapan bahwa penunggu di sana meminta tumbal, berupa darah manusia.
Di desa itu memang kental dengan kemistisan nya, setiap tempat memiliki penghuni dan setiap tempat memiliki sisi cerita mereka masing - masing.
"Ti, uti kenapa??" Jingga sedang memijat kaki utinya yang kini rebahan karena sakit.
Sejak kemarin badan nenek Rumi panas dan lemah, dia hanya bisa rebahan di ranjang nya. Kaki nya bengkak sebelah dan semakin sulit berjalan, padahal nenek Rumi tidak jatuh sama sekali tapi kaki nya mendadak membesar dan merah seakan di dalam nya terdapat banyak cairan.
Jingga sangat sedih melihat kondisi nenek nya, apalagi nenek Rumi sudah sangat tua. Dia takut terjadi hal yang tak di inginkan pada sang nenek.
"Uti sudah tua, nak. Gampang capeknya badan uti, jadinya sakit." Sahut nenek Rumi, dengan suara lemah.
"Ke dokter ya, ti? Biar di obatin dokter." Ujar Jingga.
"Nggak usah, ini cuma penyakit tua saja, nak. Uti jadi belum masak buat kamu." Ujar nenek Rumi.
"Nggak apa - apa, Jingga juga bisa. Uti mau makan sesuatu? Mau beli buah?" Tawar Jingga.
"Boleh, uti pengen makan semangka." Ujar nenek Rumi.
"Ya sudah, Jingga beli dulu. Uti jangan kemana mana, ya? Tunggu sampai jingga balik kalau mau sesuatu." Ujar Jingga.
"Iya, nak." Sahut nenek Rumi.
Jingga hendak bangun, tapi tiba - tiba nenek Rumi mencekal tangan Jingga, dan berkata dengan nada serius..
"Kamu spesial, Jingga.. Kalo ada yang nanya wetonmu, jangan di kasih tau ya, nak." Ujar nenek Rumi tiba - tiba.
"Kenapa, ti?" Tanya Jingga bingung.
"Karena mereka bisa menyakitimu, lewat hari lahirmu." Ujar nenek Rumi dengan serius.
"Iya, ti." Sahut Jingga, meskipun bingung.
"Ingat baik - baik, nak." Ujar nenek Rumi, dan Jingga mengangguk.
Jingga lantas bangun dan memastikan segala yang di butuhkan nenek nya dekat dari jangkauan. Karena nenek nya sakit kaki, Jingga menyiapkan ember kecil untuk nenek nya pakai buang air kecil juga. Setelah itu Jingga juga membuka Jendela kamar agar kamar itu terang dan ada sirkulasi udara.
"Jingga pergi dulu, ti. Asalamualaikum." Ujar Jingga.
"Wa'alaikumsalam." Sahut nenek Rumi dengan mata terpejam.
Jingga berjalan keluar, dan setelah dia sudah berdiri di halaman rumah nya, ia menengok ke belakang dan menatap rumah nya. Asap hitam itu mengerumuni atap rumah Jingga, Jingga pun bergegas pergi dari sana.
Rupanya Jingga tak hanya membeli semangka yang uti nya minta, dia juga mampir di sebuah rumah dan seperti orang yang terburu - buru.
"Asalamualaikum, pak Ustad." Jingga mengucap salam pada seorang pemuka agama yang tampak sudah berumur, bernama Ustad Soleh.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut Ustad Soleh, dia terkejut dengan kedatangan Jingga.
"Pak Ustad, tolong uti, pak Ustad." Ujar Jingga dengan panik.
"Kenapa uti nya, nak?" Tanya Ustad, terkejut.
Dan singkatnya, Jingga berhasil membawa Ustad Soleh datang. Ustad Soleh membawa sepeda dan mengikuti Jingga dari belakang menuju ke rumah Jingga, dan kini mereka sampai di depan rumah Jingga.
"Astaghfirullah.." Ustad Soleh langsung mengucap istigfar.
"Pak Ustad, apa pak Ustad juga melihat ada banyak asap di atas rumah uti?" Tanya Jingga.
"Asap??" Ustad Soleh bingung karena dirinya tak melihat asap, kemungkinan asap itu hanya bisa di lihat dengan mata lain (batin).
"Iya, di atas rumah uti ada asap hitam nya." Sahut Jingga.
"Kita masuk ke dalam dulu ya, nak.." Ujar Ustad Soleh, dia tak mau Jingga takut.
"Iya pak Ustad." Ujar Jingga, mereka akhirnya masuk kedalam rumah Jingga.
Saat masuk kedalam rumah, mulut Ustad Soleh langsung membaca doa sambil melihat kesekitar, rumah itu terasa sangat mencekik dan suram padahal masih siang hari. Jingga lantas mengantar nya masuk ke dalam kamar nenek Rumi dan Ustad Soleh semakin terkejut melihat isi kamar nenek Rumi. Ustad itu melihat aura iblis di dekat nenek Rumi yang sedang tidur.
"Asalamualaikum." sapa Ustad Soleh, tapi nenek Rumi tidak terbangun.
Jingga mengambilkan sebuah kursi untuk Ustad Soleh duduk, dan Ustad Soleh pun duduk di depan nenek Rumi yang sedang tidur.
"Jingga keluar dulu ya, nak." Ujar Ustad nya, menyuruh Jingga keluar dari kamar.
"Jingga mau nemenin uti, pak ustad." Sahut Jingga.
"Jingga ambil wudhu, terus baca surah Yasin di luar kamar uti, ya.. Nanti kalau pak Ustad panggil, Jingga baru masuk." Ujar Ustad Soleh. dengan berat hati akhirnya Jingga pun mengangguk dan keluar.
Jingga menutup pintunya lalu dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah nya Jingga memakai mukena nya yang usang dan duduk di depan kamar utinya lalu membuka Al Quran yang dia peluk.
"A'uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim, bismillahirrahmanirrahim.."
Jingga membaca surah Yasin, sementara di dalam kamar nenek Rumi, pak Ustad juga sedang menatap nenek Rumi yang sepertinya tidak benar - benar tidur.
"Hehehe.." Tiba - tiba nenek Rumi terkekeh dengan mata terpejam, tapi tiba - tiba terbuka dan melirik tajam kearah Ustad.
"Kenapa kamu mendiami raga nenek Rumi?" Tanya Ustad Soleh, seakan tahu itu bukan nenek Rumi.
"Lah ngopo?? Opo urusane karo awakmu?" Ujar sosok yang mendiami nenek Rumi balik dengan bahasa Jawa.
"Siapa yang mengirimmu!?" Tanya Ustad.
"Koe! Gak! Perlu! Ngerti! HAHAHA!!" Tiba - tiba nenek Rumi tertawa dengan keras setelah berucap menggunakan bahasa Jawa.
Suara tawa nya campuran antara suara laki - laki dan perempuan, mengerikan. Jingga yang mendengar itu sejenak terhenti dari lantunan nya, tapi kemudian ia langsung melanjutkan lagi baca an nya.
"Hihihihi...." Kini sosok yang mendiami nenek Rumi terkikik.
Ustad Soleh langsung membacakan doa - doa, dan sosok itu mulai terganggu dengan lantunan ayat suci Al Quran. Sosok yang mendiami nenek Rumi tidak bisa bangun dan mengendalikan tubuh nenek Rumi, karena sosok itu adalah pocong hitam bertaring.
Sosok nya keluar dari tubuh nenek Rumi dan mencoba meludahi Ustad Soleh, untung nya Ustad Soleh langsung menyingkir dan tidak terkena ludah dari pocong itu. Sebab jika Ustad Soleh terkena ludah dari pocong itu, maka tubuh sang Ustad akan berbau bangkai, bahkan lebih menyengat dari bangkai.
"Aku tidak akan keluar dari tubuh wanita ini! Kau takan bisa mengeluarkan aku! Sebab aku tidak akan keluar sebelum dia MATI!!" Ujar sosok itu, lalu kembali masuk kedalam tubuh nenek Rumi.
"Astaghfirullah.. Tega sekali orang yang mengirim kiriman seperti ini pada nenek Rumi." Gumam Ustad.
"Coba saja kau keluarkan aku, paling wanita ini yang langsung mati." Ujar sosok itu, dengan mata merendahkan sang Ustad dan terkekeh.
Ustad Soleh kembali membaca Ayat Kursi dan surah lain nya, pocong itu kesakitan dan kepanasan, tapi dia tidak juga mau lepas dari tubuh nenek Rumi. Nenek Rumi tiba - tiba menangis meminta tolong sambil merintih..
"Tolong Ustad, tolong saya.. huhuhu.." Nenek Rumi menangis, suaranya sudah bukan suara mengerikan itu lagi.
Tapi Ustad Soleh tahu itu masih bukan nenek Rumi yang sebenarnya, Ustad Soleh terus membacakan ayat - ayat suci Al Quran. Nenek Rumi menangis, dia meterus menangis dalam ketidak berdayaan nya.
"Apa tujuanmu di kirim sebenarnya?" Tanya sang Ustad, akhirnya.
"Pak Ustad, ini saya.. nenek Rumi." Ujar nya dengan suara lemah seperti nenek Rumi asli.
"Tolong saya pak Ustad, kaki saya membengkak." Ujar nya lagi.
"Jingga.. Tolong Uti, nak." Ujar nenek Rumi pada Jingga.
Di luar kamar Jingga mendengar itu, tapi dia masih terus melanjutkan mengaji nya, hati Jingga berkata bahwa nenek nya sedang dalam bahaya besar sekarang.
"Jingga.." Panggil nenek Rumi lagi.
"Lanjutkan mengaji nya, nak. Jangan dengarkan dia, dia bukan utimu." Ujar pak Ustad.
Jingga mengaji sambil menahan tangis, dia terus membaca ayat demi ayat agar dia bisa menolong uti nya. Dia takut tapi dia harus terus melakukan nya.
"JINGGA!!" Teriak nenek Rumi..
"Huhuhu.. Jingga, kamu tidak sayang uti lagi, nak? Uti kesakitan, nak." Ujar nenek Rumi sambil menangis.
Jingga masih terus melanjutkan mengaji nya, dan tak lama nenek Rumi terdiam dan tak bergerak. Suasana suram yang sebelumnya menyelimuti kamar nenek Rumi pun hilang, pak Ustad pun ikut berhenti membaca doa.
"Shodaqallahul Adzim.." Jingga juga selesai mengaji.
"Jingga, kemari nak." Panggil sang Ustad.
Jingga pun bergegas bangun dan masuk, kedalam kamar nenek Rumi. Terlihat kondisi nenek Rumi yang memprihatinkan dengan rambut putih nya yang berantakan.
"Uti.." Panggil Jingga dan langsung menghampiri nenek Rumi.
"Jingga, Jangan!!" Ustad Soleh melarang Jingga tapi terlambat..
"Ukh!!!" Nenek Rumi tiba - tiba bangun dan mencekik Jingga dengan matanya yang melotot tajam menatap Jingga.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
pioo
ngapain dipanggil deh ustadd sijingganya jadi dicekek kan😭
2024-10-15
1
niex
tu biar uti meninggal trs jingga jd mau diajak ke jakarta...hmmmm
2024-08-10
2
Zuhril Witanto
setanya kuat
2024-08-03
1