Setelah Delima pergi, Jingga pun kembali bersiap pergi ke kebun, tiba - tiba saja Jingga bersenandung lagu jawa yang semalam di nyanyikan oleh sosok perempuan mengerikan itu. Nenek Rumi pun tertegun dan melirik ke arah Jingga dengan tatapan takut..
"Tak lelo, lelo, lelo, ledhung.. Tak lelo, lelo, lelo, ledhung.." Hanya bagian itu nya saja yang Jingga ingat.
"Ti, lagu yang semalam uti nyanyiin gimana sih? Lagunya bagus, tapi itu bahasa apa?" Tanya Jingga.
"Jangan di nyanyikan lagi ya, nak." Ujar nenek Rumi dengan tatapan serius.
"Kenapa??" Jingga heran, padahal utinya sendiri yang menyanyikan nya semalam.
"Tidak apa - apa, tapi tolong jangan di nyanyikan lagi." Ujar nenek Rumi.
"Hmm?? Uti aneh, tapi ya sudah lah, Jingga berangkat ya, ti. Assalamualaikum.." Ujar Jingga.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut nenek Rumi.
Nenek Rumi jadi ketakutan sekarang, itu berarti sosok semalam itu nyata dan Jingga mendengarkan tembang jawa itu juga.
Jingga mengayuh sepedanya menuju ke kebun pisang miliknya, di sana dia akan memanen pisang lagi dan akan menjual nya juga. Saat di persimpangan jalan, Jingga berpapasan dengan seorang kakek yang berpakaian serba hitam, berambut gondrong dan menatap Jingga dengan tatapan aneh.
Jingga pun heran dengan orang itu yang menatapnya seperti melihat hantu, tapi Jingga tidak hiraukan dan melaju saja melewati orang itu.
"Anak itu, akan di makan!" Ujar kakek - kakek tadi.
"Siapa kung?" Tanya anak muda yang muncul dari bawah kaki kakek - kakek itu, yang rupanya adalah Gani.
"Dia, jiwa nya akan di makan jika tidak di tolong." Ujar kakek - kakek itu lagi.
Gani menatap kemana arah kakek itu menatap, tapi dia tidak melihat Jingga karena Jingga sudah berbelok. Gani pun tak mempedulikan ucapan kakek nya itu dan langsung duduk di boncengan.
"Ayolah kung, rantainya sudah jadi." Ujar Gani, rupanya dia baru membenarkan rantai sepeda yang lepas.
"Lain kali pakai sepeda ayahmu, sepeda ini rantai nya copotan terus." Ujar kakek itu menggerutu.
"Iya kung.." Sahut Gani sambil terkekeh.
Singkat cerita, Jingga sudah selesai memanen buah pisang nya. Karena kebun pisang yang ini agak jauh dari rumah nya, Jingga tidak pulang dulu dan akan langsung menjual nya pada orang di pasar karena tidak ada yang pesan.
Jingga tak hanya mengambil buah nya, dia juga mengambil daun yang bagus - bagus untuk dia jual juga. Dan Jingga pun pergi dari kebun menuju pasar.
'Semoga ada yang beli, Bismillah.' Batin Jingga, dia pergi dari kebun.
Tak lama, Jingga sampai di pasar dan dia berhenti di pinggiran jalan yang ramai di lalui orang. Jingga dengan lihai menggelar alas untuk pisang - pisang nya lalu dia duduk menunggu pembeli.
"Pisang bu, asli masak pohon ini, baru manen." Ujar Jingga, ia menawarkan pisang nya.
Saat Jingga menunggu pembeli, matanya melihat sosok yang tak asing yang akhir - akhir ini sering datang ke rumah nya, Airlangga.
"Itu kan.. Pak Airlangga." Gumam Jingga.
Airlangga terlihat sedang berbicara dengan para pria - pria yang masing - masing membawa ransel di punggung nya. Tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Airlangga memasukan mereka kedalam mobil seperti mini bus.
Tapi Jingga tiba - tiba melihat asap hitam yang sama yang seperti dia lihat saat di pemakaman ayah nya, asap itu berada di atas mobil dan ikut pergi dengan mobil itu setelah Airlangga menepuk belakang mobil itu.
'Astaghfirullah.. Kenapa aku melihat asap itu lagi?' Batin jingga, dia langsung memalingkan wajahnya.
"Dek, beli pisang nya." Ujar seorang ibu - ibu.
"Oh, iya bu silahkan pilih, ini matang asli dari pohon bu, tanpa karbit." Ujar Jingga.
"Oh, pantes gede - gede, minta dua sisir ya, dek." Ujar ibu - ibu itu.
"Iya, bu." Sahut Jingga.
Jingga pun antusias mengikat dua sisir pisang itu dengan tali dan memasukan nya kedalam kantong lalu memberikan nya pada ibu - ibu itu. Tanpa menyebut harga, ibu - ibu itu memberikan uang lebih pada Jingga, karena Jingga menjual memang tidak mematok harga (Seikhlasnya).
"Makasih banyak, bu." Ujar Jingga senang.
"Dek, jualan nya pindah ke sana aja." Ujar ibu - ibu itu.
"Kenapa bu?" Tanya Jingga heran.
"Pindah saja, ya." Ujar ibu - ibu itu sambil menepuk Jingga, lalu pergi begitu saja.
Jingga kebingungan dengan ibu - ibu tadi, tapi Jingga pun akhirnya patuh dan mengemas pisang - pisang nya, ia pindah ke titik yang di sebut ibu - ibu tadi. Dan rupanya di sana pembeli nya sangat ramai, Jingga di borong oleh orang baik dan bahkan mendapat uang lebih karena orang itu kasihan dengan Jingga.
"Alhamdulillah.." Jingga senang dan mengucap syukur.
"AWAS! AWAS! REM BLONG! REM BLONG!" Tiba - tiba terdengar teriakan ramai yang menyuruh orang minggir.
"KYA!!!"
"Ya Allah! Astaghfirullah!!"
"AWAS!! REM TRUK NYA BLONG!!" Teriak bapak - bapak.
Terlihat truk bermuatan pasir yang mundur dari tanjakan dengan kecepatan tinggi, truk itu oleng ke kanan dan kekiri sampai akhirnya menabrak pengendara motor di belakang nya bahkan ada yang tergilas.
Jingga langsung memalingkan wajahnya saat insiden itu terjadi, kaki nya gemetaran sampai lemas saat melihat korban yang tergilas.
"AAA!!! YA ALLAH!" Teriak orang - orang yang juga melihat.
"BRAK!!!"
Truk itu berakhir menabrak sebuah toko supermarket yang berada tak jauh dari tanjakan itu dan membuat kerusakan parah, pasir yang di muat pun berhamburan di jalanan dan membuat kemacetan parah seketika.
"Astaghfirullah.." Gumam Jingga, ia lantas melihat ke arah truk itu dan ke arah jasad yang tergilas.
Ada tiga korban yang meninggal di tempat kejadian, dua wanita dan satu pria yang kebetulan berada di belakang truk itu dan ada sekitar 9 orang yang luka - luka. Saat itu juga Jingga melihat ruh mereka yang berdiri kebingungan sambil menangis melihat apa yang terjadi pada tubuh mereka masing - masing.
'Kasihan sekali mereka, ya Allah.' Batin Jingga, Jika saja dia belum pindah, maka yang tergilas oleh truk itu adalah dirinya.
"Bapak!!! Ya Allah, bapak!!" Tangis seorang wanita yang menangisi suaminya yang tewas di tempat.
"Ya Allah, dia anak nya tetanggaku." Ujar yang lain melihat gadis yang tewas tergilas sampai kepala dan isi perut nya terburai.
Jingga melihat asap hitam yang dia lihat sebelumnya dia lihat di makam ayah nya mengerubungi jasad para korban yang meninggal di tempat.
"Sebenarnya asap apa itu, kenapa aku sering melihat asap itu." Gumam Jingga.
Keadaan di amankan oleh polisi di bantu warga setempat, para korban di bawa menggunakan ambulance dan truk yang menabrak pun di evakuasi. Jingga juga akhirnya pulang masih dengan bayangan mengerikan yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, sampai kakinya juga masih lemas memikirkan nya.
Sesampainya di rumah, nenek Rumi terkejut melihat Jingga yang pulang dengan wajah sedih, dia pun bertanya..
"Loh, kenapa nak?? Kok sedih??" Tanya nenek Rumi.
"Asalamualaikum, ti." Ujar Jingga, tak lupa ia mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam.. kenapa sedih, nak?" Tanya nenek Rumi lagi.
"Tadi ada kecelakaan ti, di pasar. Ada tiga orang yang meninggal, kondisinya mengerikan semua." Ujar Jingga, dia duduk di sebelah nenek Rumi.
"innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Untung kamu tidak kenapa - kenapa, nak." Ujar nenek Rumi.
"Jingga tadi lihat ruh mereka yang meninggal, ti. Kasihan.. mereka menangis kebingungan." Ujar Jingga, entah mengapa dia malah makin sedih dan menangis sekarang.
"Cup.. Cup.. Cup.. itu takdir mereka, nak. Semua orang sudah di gariskan takdirnya sendiri - sendiri, dan Allah juga sudah mengatur bagaimana mereka semua akan berpulang." Ujar nenek Rumi.
"Kamu mandi saja ya, biar lebih segar jadi tidak sedih lagi." Ujar nenek Rumi, Jingga pun mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Semoga kita saat berpulang nanti dalam keadaan baik - baik saja ya, ti." Ujar Jingga, dia masih saja membayangkan ruh - ruh yang dia lihat.
"Amin ya Allah.." Sahut nenek Rumi, Jingga pun bangun dan masuk kedalam.
Tapi saat masuk di dalam rumah, Jingga merasa rumah nya berkabut. Rumahnya terasa gelap dan tidak seperti biasanya..
'Kenapa ini, ya Allah..' Batin Jingga.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Liani purnafasary☺
mungkin kh kecelakaan itu bukan murni kecelakaan, to ada campur tangan ghaib nya.
ada apa sebenarnya asap hitam itu, apakah pertanda, atau sosok peliharaan majikan ayh jingga ❓
2024-12-20
1
Shyfa Andira Rahmi
wahhh....semakin meyakinkan ini
2025-01-31
1
Shyfa Andira Rahmi
ya Allah....🥺🥺
2025-01-31
1