Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)

Beberapa bulan sejak Arumi bertemu Yuda akibat kejadian tersebut, hubungan keduanya yang lama tak berjumpa menjadi dekat dan intens berkomunikasi walaupun melalui udara. Sebab, Yuda berdinas di kota lain yang cukup jauh sehingga mereka tidak bisa sering bertemu.

"Ehem, gimana Rum rasanya dideketin dua cowok kece?" tanya Dina seraya tersenyum-senyum lucu kala melihat Arumi tengah sibuk menatap ponselnya. Ia tengah berkirim pesan singkat dengan Yuda.

"Apaan sih, Din! Aku dan Mas Yuda itu cuma tetangga desa saja kok. Dulu, dia sering jadi ketua karang taruna desa. Aku cuma anggota di sana. Gak seberapa aktif juga. Soalnya dulu masih sibuk sekolah sama bantu orang tuaku," jawab Arumi.

"Aku lihat-lihat si Yuda itu sepertinya suka sama kamu loh, Rum."

"Apaan sih, Din. Ngaco kamu!"

Arumi menggerutu sebal pada Dina karena memang di hatinya enggak ada perasaan cinta dengan Yuda.

"Aku cuma anggep dia abangku saja, Din. Kan kamu tahu aku anak tunggal, enggak punya kakak atau adik. Kesepian deh. Apalagi aku punya hutang budi padanya karena dia sudah nolongin aku waktu itu," tutur Arumi.

"Aku cuma mau ingetin kamu saja sih, Rum. Kan kamu tahu kalau aku ini dulu sebelum ketemu Mas Hendra, jadi cewek yang suka gonta-ganti pacar. Pengalaman pacaranku sudah menggunung. Mungkin kalau ditulis sudah jadi satu judul novel. Haha..."

"Dasar playgirl!" sewot Arumi seraya tangannya meraup muka Dina hanya sekedar saling bercanda. Keduanya pun akhirnya tertawa bersama.

"Ya, aku tahu saja Rum. Mana cowok yang naksir kita dan mana cowok yang hanya berteman biasa. Soalnya kaum Adam itu kalau naksir kaum Hawa, mereka pasti mengeluarkan sinyal-sinyal khusus. Beda pokoknya, Rum. Kamu harus lebih peka," tutur Dina.

Arumi pun tampak terdiam dan berpikir sejenak dengan apa yang disampaikan Dina barusan padanya.

"Terus tadi maksudmu apa? Yang kamu bilang, aku dideketin dua cowok. Satunya siapa memangnya?" tanya Arumi seraya berpikir tentang laki-laki mana yang mendekatinya selain Yuda. Namun otaknya tengah buntu karena banyak hal lain yang dipikirkan terutama kesehatan bibinya.

"Lah cowok iseng jaket parlente, berkacamata hitam yang hobinya pakai masker terus padahal C O V I D sudah pulang kampung. Yang ngajakin kamu eyel-eyelan waktu itu. Jangan lupakan dia dong, Rum. Dia sudah dua kali datang entah sengaja atau tidak dalam hidupmu. Terutama di dermaga ini. Pertama, perkara tiket dan yang kedua perkara ban kempes. Dia kan datang di kehidupanmu di dermaga ini lebih dulu daripada si Yuda itu. Aku yakin yang ketiga kalinya kalau kalian berdua berjumpa lagi, pasti tuh cowok iseng bakal ucapin kata cinta. Dari gelagatnya saja aku tahu sebenarnya dia ada hati sama kamu. Cuma mungkin dia bingung untuk memulai pembicaraan serius itu. Bisa jadi dia takut kamu tolak. Haha..."

"Haishhh!! Pikiran kamu terlalu jauh, Din. Aku sebel sama dia pokoknya. Gara-gara dia aku kena semprot Pak Dadang!" gerutu Arumi.

"Tapi, apa kamu dihukum sama Pak Dadang seperti potong gaji atau kena skors gara-gara kasus tiket itu? Enggak kan,"

"Iya memang enggak. Cuma tuh cowok bikin sebel saja. Mentang-mentang kelas VIP di kapal terus tiketnya hilang ujungnya jalan mulus enggak sesuai aturan. Eh, sama Pak Dadang aku yang disalahin terus dia malah dispesialkan." Arumi tak terima.

"Menurutku perkara itu, kamu dan cowok iseng itu sama-sama salah. Walaupun kalian berdua enggak salah sepenuhnya juga. Kan kamu tahu waktu itu selama enam bulan lebih sistem berubah ke manual semua karena masih perbaikan dan memang mau diganti juga. Ya, dia teledor karena tiketnya enggak sengaja hilang. Terus diburu waktu karena dia mepet datang ke dermaga ini dan kapal sudah mau berangkat. Eh, ketemu penjaga tiketnya macam kamu yang super duper disiplin tinggi. Lurus lempeng gak bisa diganggu gugat apalagi diajak belok maupun disogok. Padahal tuh laki rela bayar denda sesuai aturan. Cuma kamunya sudah terlanjur sewot sama dia. Jadinya masalah yang bisa pendek akhirnya jadi panjang lebar kali tinggi sampai ke Pak Dadang. Kasihan juga tuh cowok harus ketinggalan kapal," ucap Dina.

Karena perkara tersebut, Pak Dadang yang menjabat sebagai manajer operasional dermaga kala itu harus turun tangan langsung.

"Ah, sebel aku. Kamu bukan temenku, Din. Belain saja terus tuh cowok iseng!" omel Arumi seraya membalikkan tubuhnya menghadap tembok.

Keduanya hari ini sedang libur kerja. Sehingga pagi ini keduanya masih rebahan di atas kasur dan belum juga mandi. Menghabiskan waktu dengan saling mengobrol santai dan tertawa bersama.

"Aku tetap belain kamu kok, Rum. Hanya saja kalau dilihat dari sudut pandang tuh cowok. Aku juga kasihan. Saat semuanya berkumpul di ruang khusus sama Pak Dadang, dia kan bilang mau pulang kampung karena enggak dapat tiket pesawat jadi dapatnya tiket kapal laut. Kebetulan dia pulang karena ingin menemani ibunya di hari peringatan kematian ayahnya. Katanya setiap tahun dia selalu pulang kampung saat momen penting tersebut. Datang ke dermaga mepet karena kejebak macet. Kasihan juga akhirnya ia melewatkan hari bersejarah itu," ujar Dina terdengar sendu.

Sebuah helaan napas berat menyergap Arumi. Seketika rasa bersalah tengah bercokol di hatinya yang tertuju untuk laki-laki yang sedang ia bahas bersama Dina. Ia pun tahu alasan tersebut karena memang laki-laki itu sudah menyampaikan hal itu di depan Pak Dadang, Dina, dan juga dirinya kala itu.

Arumi membalikkan tubuhnya. Kini ia dalam posisi telentang dan tengah melihat langit-langit kamar kosnya dengan perasaan yang berkecamuk.

"Ya, aku salah Din. Hanya saja kamu tahu pekerjaan kita sering kejadian orang-orang seperti itu. Suka bohong demi lolos masuk kapal dengan berbagai alasan. Ujungnya kita kena hukuman atau potong gaji. Itu yang membuat aku enggak mudah percaya sama model penumpang kayak dia," ucap Arumi.

"Tapi enggak setiap penumpang begitu, Rum. Jangan main pukul rata. Sesekali kita harus pakai insting tajam. Penumpang ini bohong apa enggak. Walaupun cowok iseng itu enggak kasih bukti lengkapnya dengan alasan privasi keluarganya. Ya wajar juga sih. Kan kita orang lain dan bukan siapa-siapanya. Enggak mungkin dia sembarangan kasih data keluarganya ke orang lain. Pokoknya kalau kamu bertemu dia kembali, entah kapan pun itu, wajib kamu harus minta maaf sama dia."

"Siap, Bu Bos Dina. Puaskah, Anda?"

"Haha... iya puas banget. Gitu dong. Enggak ada salahnya buat minta maaf. Harga diri kita juga enggak akan jatuh walaupun kita meminta maaf lebih dulu kok. Lebih enak saling memaafkan dan enggak berantem lagi. Damai itu indah," ucap Dina.

Arumi pun hanya bisa terdiam dan merasa semakin bersalah pada laki-laki itu usai mendengar nasehat dari Dina barusan.

"Maafkan aku. Semoga kelak jika kita bertemu lagi, kamu bisa memberi maaf untukku." Arumi hanya bisa mengucapkan dalam hati rasa bersalah dan permintaan maafnya tersebut.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Yunia Afida

Yunia Afida

semoga arumi bisa ingat kalo itu bang adib

2024-05-12

5

Yunia Afida

Yunia Afida

pertemuan ketiga arumi minta maaf g ya, atau malah berdebat

2024-05-12

2

Yunia Afida

Yunia Afida

itu bang adib ni

2024-05-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!