Beberapa bulan sejak Arumi bertemu Yuda akibat kejadian tersebut, hubungan keduanya yang lama tak berjumpa menjadi dekat dan intens berkomunikasi walaupun melalui udara. Sebab, Yuda berdinas di kota lain yang cukup jauh sehingga mereka tidak bisa sering bertemu.
"Ehem, gimana Rum rasanya dideketin dua cowok kece?" tanya Dina seraya tersenyum-senyum lucu kala melihat Arumi tengah sibuk menatap ponselnya. Ia tengah berkirim pesan singkat dengan Yuda.
"Apaan sih, Din! Aku dan Mas Yuda itu cuma tetangga desa saja kok. Dulu, dia sering jadi ketua karang taruna desa. Aku cuma anggota di sana. Gak seberapa aktif juga. Soalnya dulu masih sibuk sekolah sama bantu orang tuaku," jawab Arumi.
"Aku lihat-lihat si Yuda itu sepertinya suka sama kamu loh, Rum."
"Apaan sih, Din. Ngaco kamu!"
Arumi menggerutu sebal pada Dina karena memang di hatinya enggak ada perasaan cinta dengan Yuda.
"Aku cuma anggep dia abangku saja, Din. Kan kamu tahu aku anak tunggal, enggak punya kakak atau adik. Kesepian deh. Apalagi aku punya hutang budi padanya karena dia sudah nolongin aku waktu itu," tutur Arumi.
"Aku cuma mau ingetin kamu saja sih, Rum. Kan kamu tahu kalau aku ini dulu sebelum ketemu Mas Hendra, jadi cewek yang suka gonta-ganti pacar. Pengalaman pacaranku sudah menggunung. Mungkin kalau ditulis sudah jadi satu judul novel. Haha..."
"Dasar playgirl!" sewot Arumi seraya tangannya meraup muka Dina hanya sekedar saling bercanda. Keduanya pun akhirnya tertawa bersama.
"Ya, aku tahu saja Rum. Mana cowok yang naksir kita dan mana cowok yang hanya berteman biasa. Soalnya kaum Adam itu kalau naksir kaum Hawa, mereka pasti mengeluarkan sinyal-sinyal khusus. Beda pokoknya, Rum. Kamu harus lebih peka," tutur Dina.
Arumi pun tampak terdiam dan berpikir sejenak dengan apa yang disampaikan Dina barusan padanya.
"Terus tadi maksudmu apa? Yang kamu bilang, aku dideketin dua cowok. Satunya siapa memangnya?" tanya Arumi seraya berpikir tentang laki-laki mana yang mendekatinya selain Yuda. Namun otaknya tengah buntu karena banyak hal lain yang dipikirkan terutama kesehatan bibinya.
"Lah cowok iseng jaket parlente, berkacamata hitam yang hobinya pakai masker terus padahal C O V I D sudah pulang kampung. Yang ngajakin kamu eyel-eyelan waktu itu. Jangan lupakan dia dong, Rum. Dia sudah dua kali datang entah sengaja atau tidak dalam hidupmu. Terutama di dermaga ini. Pertama, perkara tiket dan yang kedua perkara ban kempes. Dia kan datang di kehidupanmu di dermaga ini lebih dulu daripada si Yuda itu. Aku yakin yang ketiga kalinya kalau kalian berdua berjumpa lagi, pasti tuh cowok iseng bakal ucapin kata cinta. Dari gelagatnya saja aku tahu sebenarnya dia ada hati sama kamu. Cuma mungkin dia bingung untuk memulai pembicaraan serius itu. Bisa jadi dia takut kamu tolak. Haha..."
"Haishhh!! Pikiran kamu terlalu jauh, Din. Aku sebel sama dia pokoknya. Gara-gara dia aku kena semprot Pak Dadang!" gerutu Arumi.
"Tapi, apa kamu dihukum sama Pak Dadang seperti potong gaji atau kena skors gara-gara kasus tiket itu? Enggak kan,"
"Iya memang enggak. Cuma tuh cowok bikin sebel saja. Mentang-mentang kelas VIP di kapal terus tiketnya hilang ujungnya jalan mulus enggak sesuai aturan. Eh, sama Pak Dadang aku yang disalahin terus dia malah dispesialkan." Arumi tak terima.
"Menurutku perkara itu, kamu dan cowok iseng itu sama-sama salah. Walaupun kalian berdua enggak salah sepenuhnya juga. Kan kamu tahu waktu itu selama enam bulan lebih sistem berubah ke manual semua karena masih perbaikan dan memang mau diganti juga. Ya, dia teledor karena tiketnya enggak sengaja hilang. Terus diburu waktu karena dia mepet datang ke dermaga ini dan kapal sudah mau berangkat. Eh, ketemu penjaga tiketnya macam kamu yang super duper disiplin tinggi. Lurus lempeng gak bisa diganggu gugat apalagi diajak belok maupun disogok. Padahal tuh laki rela bayar denda sesuai aturan. Cuma kamunya sudah terlanjur sewot sama dia. Jadinya masalah yang bisa pendek akhirnya jadi panjang lebar kali tinggi sampai ke Pak Dadang. Kasihan juga tuh cowok harus ketinggalan kapal," ucap Dina.
Karena perkara tersebut, Pak Dadang yang menjabat sebagai manajer operasional dermaga kala itu harus turun tangan langsung.
"Ah, sebel aku. Kamu bukan temenku, Din. Belain saja terus tuh cowok iseng!" omel Arumi seraya membalikkan tubuhnya menghadap tembok.
Keduanya hari ini sedang libur kerja. Sehingga pagi ini keduanya masih rebahan di atas kasur dan belum juga mandi. Menghabiskan waktu dengan saling mengobrol santai dan tertawa bersama.
"Aku tetap belain kamu kok, Rum. Hanya saja kalau dilihat dari sudut pandang tuh cowok. Aku juga kasihan. Saat semuanya berkumpul di ruang khusus sama Pak Dadang, dia kan bilang mau pulang kampung karena enggak dapat tiket pesawat jadi dapatnya tiket kapal laut. Kebetulan dia pulang karena ingin menemani ibunya di hari peringatan kematian ayahnya. Katanya setiap tahun dia selalu pulang kampung saat momen penting tersebut. Datang ke dermaga mepet karena kejebak macet. Kasihan juga akhirnya ia melewatkan hari bersejarah itu," ujar Dina terdengar sendu.
Sebuah helaan napas berat menyergap Arumi. Seketika rasa bersalah tengah bercokol di hatinya yang tertuju untuk laki-laki yang sedang ia bahas bersama Dina. Ia pun tahu alasan tersebut karena memang laki-laki itu sudah menyampaikan hal itu di depan Pak Dadang, Dina, dan juga dirinya kala itu.
Arumi membalikkan tubuhnya. Kini ia dalam posisi telentang dan tengah melihat langit-langit kamar kosnya dengan perasaan yang berkecamuk.
"Ya, aku salah Din. Hanya saja kamu tahu pekerjaan kita sering kejadian orang-orang seperti itu. Suka bohong demi lolos masuk kapal dengan berbagai alasan. Ujungnya kita kena hukuman atau potong gaji. Itu yang membuat aku enggak mudah percaya sama model penumpang kayak dia," ucap Arumi.
"Tapi enggak setiap penumpang begitu, Rum. Jangan main pukul rata. Sesekali kita harus pakai insting tajam. Penumpang ini bohong apa enggak. Walaupun cowok iseng itu enggak kasih bukti lengkapnya dengan alasan privasi keluarganya. Ya wajar juga sih. Kan kita orang lain dan bukan siapa-siapanya. Enggak mungkin dia sembarangan kasih data keluarganya ke orang lain. Pokoknya kalau kamu bertemu dia kembali, entah kapan pun itu, wajib kamu harus minta maaf sama dia."
"Siap, Bu Bos Dina. Puaskah, Anda?"
"Haha... iya puas banget. Gitu dong. Enggak ada salahnya buat minta maaf. Harga diri kita juga enggak akan jatuh walaupun kita meminta maaf lebih dulu kok. Lebih enak saling memaafkan dan enggak berantem lagi. Damai itu indah," ucap Dina.
Arumi pun hanya bisa terdiam dan merasa semakin bersalah pada laki-laki itu usai mendengar nasehat dari Dina barusan.
"Maafkan aku. Semoga kelak jika kita bertemu lagi, kamu bisa memberi maaf untukku." Arumi hanya bisa mengucapkan dalam hati rasa bersalah dan permintaan maafnya tersebut.
Bersambung...
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Yunia Afida
semoga arumi bisa ingat kalo itu bang adib
2024-05-12
5
Yunia Afida
pertemuan ketiga arumi minta maaf g ya, atau malah berdebat
2024-05-12
2
Yunia Afida
itu bang adib ni
2024-05-12
1