Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)

"Hiks...hiks...hiks..." tangis Arumi pun pecah seketika. Mata Arumi terpejam namun ia menangis dan meluapkan perasaan serta emosinya yang selama ini tertahan.

Tangan Adib yang awalnya masih menggantung karena terkejut dan tak menduga jika Arumi mendadak memeluk tubuhnya, pada akhirnya ia pun membalas dekapan Arumi. Ia tetap diam dan membiarkan Arumi menangis guna mengeluarkan segala uneg-uneg di hatinya seraya mengelus lembut punggung istrinya tersebut. Berharap ia dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Arumi.

"Aku takut, Mas. Hiks...hiks...hiks..."

"Takut kenapa?"

"Takut nasib Mas Adib seperti Mas Yuda. Aku ini pembawa sial," ucap Arumi seraya sesenggukan.

Adib pun langsung melepaskan pelukan Arumi. Ia menarik dagu Arumi yang terus setia menunduk sambil terisak pilu tanpa mau memandangnya.

"Hei, lihat aku Rum. Kamu itu sebuah anugerah terindah yang dengan susah payah sudah dilahirkan oleh orang tuamu di dunia ini. Lantas kenapa menyebut dirimu sendiri dengan kalimat bodoh seperti itu? Tidak ada di dunia ini orang yang dikatakan pembawa sial atau biang sial," ujar Adib menatap Arumi secara serius namun tetap penuh kelembutan yang memang menjadi ciri khasnya jika bersama wanita yang ia cintai ini.

Arumi pun menyeka air matanya. Lantas ia bercerita bahwa keluarga mendiang Yuda menyebutnya sebagai pembawa sial. Setelah ia menelisik lebih dalam lagi, dirinya baru menyadari bisa jadi kalimat sarkas tersebut memang benar adanya.

Arumi pun teringat dengan kenangan masa kecilnya dan tanpa disadarinya ia pun akhirnya menceritakan hal itu pada Adib.

Arumi yang saat itu masih duduk di bangku SMP, merengek minta dibelikan sebuah boneka di pasar malam pada orang tuanya. Alhasil ayahnya yang kala itu baru saja gajian, lantas mengajak ibunya naik motor untuk membelikan Arumi boneka tersebut tanpa memberitahunya. Kedua orang tuanya berniat memberi kejutan untuk dirinya.

Namun naas, motor yang digunakan oleh kedua orang tua Arumi ditabrak oleh sebuah truk di jalan. Keduanya tewas di tempat kejadian. Sejak itu Arumi menjadi yatim piatu dan diasuh oleh bibinya yang seorang janda tanpa anak. Arumi dibawa oleh bibinya meninggalkan desa dan tinggal di sebuah kota besar.

Akan tetapi bibinya juga tak berumur panjang. Dikarenakan saat usia Arumi menginjak 20 tahun, sang bibi akhirnya meninggal dunia karena sakit yang memang sudah lama diidapnya. Namun sang bibi merahasiakan penyakitnya tersebut dari Arumi. Sehingga Arumi pun terlambat tahu.

Ia baru mengetahui penyakit bibinya beberapa bulan sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya.

☘️☘️

Di sebuah kota J yang terkenal dengan julukan kota besar dan pusat segala hiruk-pikuk baik orang-orang yang mencari pekerjaan hingga menimba ilmu. Arumi yang awalnya berasal dari desa yang sama dengan Yuda Kusuma, sejak orang tuanya meninggal dunia, ia pun dibawa oleh bibinya ke kota J.

Setelah lulus SMA, Arumi bekerja serabutan mulai dari tukang bersih toilet umum hingga penjaga toko. Semua ia lakukan demi sesuap nasi dan juga membalas budi baik bibinya yang telah sudi membesarkannya selama ini.

Tak lama, ia mendapatkan sebuah pekerjaan dari seorang kawan yakni menjadi pengecek tiket masuk di pelabuhan yang cukup besar di kota J. Pelabuhan yang dijuluki banyak orang sebagai dermaga tersibuk dan terpadat di kota tersebut. Walaupun statusnya masih sebagai pegawai kontrak, Arumi akhirnya menerima pekerjaan tersebut karena gajinya lebih baik daripada ia harus menjadi penjaga toko terus-menerus.

Hanya saja karena pelabuhan tersebut cukup jauh dari rumah kontrakan bibinya, maka dari itu Arumi dengan terpaksa nge-kos. Sebab, jika ia pulang-pergi naik motor dari pelabuhan ke rumah bibinya, selain biaya bensin yang boros, hal ini juga beresiko tinggi untuk dirinya. Jika ia pulang larut malam dengan jarak yang begitu jauh, tentu sangat rawan.

"Hai, Din. Gimana semalam? Rame apa enggak?" tanya Arumi pada rekan kerjanya yang bernama Dina.

"Rame banget, Rum. Huft, capek juga ternyata shift malam. Kapok deh, aku."

Dina pun menggerutu sebal karena ia pertama kali kena shift malam dan hasilnya sungguh melelahkan. Kebetulan banyak jadwal penyeberangan yang terjadi semalam di pelabuhan saat ia berjaga. Otomatis penumpang juga membludak karena bersamaan dengan libur panjang.

"Hari ini kamu libur?" tanya Arumi.

"Aku libur, Rum. Pengin rebahan seharian," ujar Dina seraya selonjoran di atas kasur. Keduanya merupakan rekan kerja sekaligus satu kamar kosan.

Demi menghemat biaya, Arumi dan Dina sepakat menyewa satu kamar kos untuk diisi berdua.

"Dasar kebo!" ledek Arumi.

"Sesekali perlu, Rum. Soalnya kata pacarku badanku terlalu kurus. Siapa tahu kalau aku ngebo seharian, jadi lebih berisi. Haha..."

"Ya sudah, Mbak Kebo. Aku berangkat dulu ya," ucap Arumi seraya tertawa kecil. Dirinya sudah rapi dan tengah bersiap untuk berangkat kerja.

"Hati-hati di jalan cantik. Jangan sampai ketemu cowok iseng itu lagi ya hari ini," ledek Dina.

"Enggaklah. Dia kan sudah nyeberang ke pulau yang jauh. Jadi enggak mungkin balik ke kota ini dengan cepat. Kalau perlu enggak balik-balik saja sekalian. Dasar ganggu banget!" gerutu Arumi.

"Ya, kali saja doi kembali ke kota ini naik pesawat terbang Rum. Aku lihat dari jauh kayaknya tuh cowok kantongnya tebel. Pasti banyak duit. Jaketnya saja keren dan kelihatan mahal gitu. Hati-hati Rum, jangan benci-benci banget sama doi. Nanti kamu bisa jatuh cinta loh sama dia. Soalnya cinta sama benci itu beda tipis," ucap Dina.

"Ih, males banget. Aku agak alergi sama cowok tajir, Din. Aku sadar diri siapa aku ini, Din."

"Jodoh enggak ada yang tahu, Rum. Kalau misal doi mau jadi pacar cadanganku sih, aku welcome saja. Haha..." tawa Dina.

"Terus ayank Hendra mau kamu taruh di mana, bestie?"

"Ya, tetap di hatiku lah. Piye toh kamu, Rum. Hehe..."

"Ckckck..." Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dina.

"Mas Hendra tetep jadi pacar utamaku, Rum. Soalnya aku kadung cinta sama doi," ucap Dina seraya terkekeh sendiri.

Hari ini Arumi masuk shift siang dan terjadwal selesai bekerja pukul sepuluh malam. Namun biasanya ia baru keluar sekitar jam sebelas malam karena harus melakukan kalkulasi dan pencocokan terlebih dahulu.

☘️☘️

Jam dua belas malam, Dermaga Kota J.

Arumi baru saja keluar dari kantor pelabuhan setelah ia melakukan absen pulang. Malam ini dirinya sedikit tidak fokus karena bibinya tengah sakit dan butuh banyak biaya. Alhasil ia pulang sangat over time.

Terkadang ia juga mengambil kerja tambahan saat libur yakni sebagai tukang cuci piring dan bersih-bersih di restoran atau cafe.

Malam ini mendadak bulu kuduk Arumi berdiri alias merinding ketika melewati salah satu area dermaga yang sangat sepi. Jarak parkiran motornya dengan kantor dermaga cukup jauh sehingga ia harus berjalan kaki.

Hanya karyawan tetap yang bisa parkir kendaraannya di halaman kantor dermaga. Untuk pekerja kontrak maupun harian lepas harus parkir di area lain yang terbilang sangat jauh dari kantor.

"Tumben malam ini sepi banget. Padahal kemarin pas Dina shift malam, rame banget. Mana udaranya dingin, eh jaketku ketinggalan di jok motor. Lengkap sudah penderitaanku," gumam Arumi.

Tiba-tiba...

Grepp...

Mulut Arumi dibekap oleh seseorang tak dikenalnya dari belakang tubuhnya. Arumi tak bisa berontak atau menjerit karena pelaku berjumlah dua orang. Mereka melakukan hal itu padanya dengan sangat cepat tanpa ia duga.

Lantas Arumi diseret secara paksa hingga berada di area yang sepi di antara peti kemas atau kontainer yang berukuran sangat besar dan tangannya diikat.

"TOLONG !!" jerit Arumi ketika bekapan tangan pelaku lepas dari mulutnya.

"Haha... menjerit saja cantik. Ini sudah larut malam dan area di sini sangat sepi. Tak akan ada orang yang mendengar teriakanmu," ujar si pelaku seraya tertawa di depan Arumi.

Sontak Arumi pun semakin ketakutan. Ingin kabur juga enggak bisa karena tangan dan kakinya diikat. Tubuhnya tergeletak di atas aspal. Suasana di sana minim pencahayaan sehingga terlihat remang-remang cenderung gelap. Karena cahaya lampu jalan tertutup dengan tumpukan peti kemas.

"Ambil uangku atau ponselku, silahkan. Tapi aku mohon, lepaskan aku. Kasihani lah aku. Bibiku sakit keras. Hiks...hiks...hiks..." tangis Arumi seketika pecah di depan para penjahat tersebut. Dirinya benar-benar ketakutan.

"Kami memang akan mengambil itu semua darimu, cantik. Tapi yang pasti kami ingin mencicipi tubuhmu terlebih dahulu," ujar salah satu penjahat yang sudah mupeeeng.

Laki-laki itu pun mendekati Arumi yang terseok-seok dan merambat. Arumi berusaha mundur dan menjauh dalam kondisi tangan serta kaki yang masih terikat tali. Sedangkan penjahat satunya sedang mengecek isi tas selempang milik Arumi.

"Aaaaaaa !!" jerit Arumi. Seketika...

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

emak e Rainnathan

emak e Rainnathan

klu suami Arumi angkatan Laut,suamiku pelaut,dan dia bekerja di kapal tanker sejak thn 94,,,

2024-07-08

4

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

apa itu awal pertemuan atau akhir...kan tadi Dina bilang kalau ada cowok pengganggu...

2024-05-10

4

Yunia Afida

Yunia Afida

itu pertemuan pertama Ama adib atau Yuda ya

2024-05-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!