Bab 12 - Nafkah

Deg...

Jantung Arumi semakin berdegup kencang kala melihat Adib sudah berdiri tepat di depannya dengan jarang yang sangat dekat. Kepalanya sedikit mendongak. Sebab postur tubuh Adib jauh lebih tinggi daripada dirinya.

Kedua pasang mata itu saling bersirobok dalam satu pandangan garis lurus yang sama. Keduanya masih terdiam dan saling memandangi satu sama lain. Hal itu semakin memacu jantung keduanya tanpa disadarinya.

"Duduklah di situ, Rum. Sini aku bantu keringkan rambutmu. Kalau kelamaan nanti bisa masuk angin loh," ucap Adib yang tiba-tiba bersuara dan memberi perintah pada Arumi.

"Hah," Arumi pun hanya bisa membeo secara spontan karena mendadak linglung. Otaknya sudah berpikiran Adib akan melakukan hal yang intim padanya. Namun ternyata tidak.

"Duduklah," perintah Adib dengan penuh kelembutan.

"I_ya, Mas." Arumi pun segera mengiyakan dengan sedikit terbata-bata. Ia langsung duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati berkualitas apik yang ada di sebelahnya.

Adib mengambil handuk kecil dan sebuah hair dryer yang ada di dalam lemari. Kemudian ia berjalan ke tempat duduk Arumi dan langsung melakukan tugasnya untuk membantu mengeringkan rambut istrinya yang masih basah tersebut.

Arumi merasa tak enak hati diperlakukan spesial seperti ini oleh Adib.

"Mas, duduk saja. Biar aku yang keringkan sendiri rambutku. Aku bisa kok," ucap Arumi.

"Enggak apa-apa. Sudah, kamu diam saja." Adib tak mengindahkan permintaan Arumi tersebut. Dengan cekatan tangannya terus bekerja mengeringkan rambut istrinya.

Suara hair dryer memenuhi kamar pengantin tersebut di pagi hari.

"Tadi Mas pergi ke mana? Kok pas aku bangun, sudah enggak ada di kamar." Arumi memberanikan diri bertanya langsung pada Adib. Hatinya masih diliputi rasa cemas dan bersalah pada suami barunya tersebut.

"Aku pergi minum kopi sebentar sambil cari udara pagi. Maaf, aku lupa meninggalkan pesan untukmu. Pasti kamu kepikiran," jawab Adib apa adanya seraya masih berfokus memegang hair dryer. Dirinya memang minum kopi di kamar sebelah bersama ibunya sambil membahas Arumi.

"Bukan Mas Adib yang harus meminta maaf. Justru aku yang minta maaf sama Mas. Maaf, aku terlambat bangun. Seharusnya, aku tadi bangun lebih awal dari Mas Adib dan membuatkan teh atau kopi untukmu. Hal itu sudah tugasku sebagai istri Mas. Maafkan aku," ucap Arumi yang tertunduk lesu dengan rasa bersalahnya.

"Enggak apa-apa, Rum. Santai saja. Hal itu bukan perkara yang besar. Aku sengaja tidak membangunkanmu karena kulihat tidurmu sangat nyenyak. Ibu hamil butuh banyak istirahat. Jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Kamu tak perlu meminta maaf juga untuk hal itu. Aku tidak mempermasalahkannya," tutur Adib.

"Ini pertama kalinya aku menginap di hotel semewah dan sebagus ini. Mungkin kasurnya terlalu empuk, jadi aku enggak terasa kalau Mas Adib sudah bangun lebih dulu. Lain kali Mas bawa aku ke hotel biasa saja. Maklum aku agak udik. Mungkin tubuhku enggak cocok berada di tempat mahal begini," cicit Arumi seraya terkekeh sendiri sembari mengusir hawa gugup yang masih menyelimutinya.

Suasana seketika mencair dan senyum pun terbit di wajah Adib mendengar uneg-uneg dari Arumi yang seakan mengalun indah di telinganya.

Bip...

"Nah, sudah selesai. Kamu bisa segera pakai bajumu,"

"Makasih banyak, Mas."

"Hem,"

"Kamu berganti saja di sini. Aku akan ganti baju di kamar mandi. Setelah itu kita turun untuk sarapan karena Mama menunggu kita di restoran," ucap Adib.

"Iya, Mas."

Ia sangat memahami bahasa tubuh Arumi yang masih belum terbiasa dengannya bila berganti baju di ruangan yang sama. Akhirnya ia lebih memilih untuk mengalah dan masuk ke dalam kamar mandi.

☘️☘️

Arumi dan Adib sudah tampak rapi dengan pakaian masing-masing. Sebelum pergi ke restoran, Adib meminta Arumi duduk sejenak di sofa yang ada di dalam kamar mereka. Adib pun mendaratkan b0kongnya di samping Arumi.

Ia mengeluarkan sebuah kartu platinum yang tertera logo sebuah bank ternama dari dalam sakunya. Ia pun menyerahkan kartu tersebut pada Arumi.

"Pakailah ini untuk kebutuhanmu sehari-hari. Jika ingin membeli sesuatu entah skincare atau apapun, belanja lah dengan kartu ini. Di dalamnya sudah terisi seratus juta rupiah. Tiap bulan aku akan selalu rutin mengisinya untukmu," ucap Adib seraya menyerahkan kartu tersebut pada Arumi.

Arumi hanya bisa terpelongo mendengar ucapan Adib barusan mengenai isi kartu debit yang sekarang sudah berada di tangannya. Seumur-umur ia belum pernah memegang uang ratusan juta. Walaupun uang itu tersimpan di dalam sebuah kartu.

Tabungannya bersama mendiang Yuda jika digabungkan, tidak mencapai setengah dari nilai nominal kartu yang diberikan Adib padanya. Dunia Arumi benar-benar banyak mengalami kejutan sejak menikah dengan Adib.

"Pencatatan pernikahan kita secara negara maupun di kesatuanku, sudah dalam proses oleh orang kepercayaanku. Nanti akan aku kabari padamu lebih lanjut jika sudah beres," tegas Adib.

Hening tercipta dan tak ada respon dari Arumi. Adib pun lantas menoleh dan memandang dengan seksama wajah Arumi yang sedang tertegun.

"Kamu kenapa, Rum? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Adib.

"Eh, enggak Mas." Arumi langsung tersadar dari lamunannya.

"Mas enggak perlu kasih kartu ini ke aku. Tabunganku masih ada kok untuk hidup sehari-hari. Lagi pula nominal kartu ini terlalu banyak untukku. Takutnya nanti aku malah boros karena pegang banyak uang. Lagi pula setiap bulan, Mas sudah keluar uang dua juta untuk ibu mendiang Mas Yuda. Aku rasa untukku, Mas enggak perlu repot-repot." Arumi merendah. Ia merasa sungkan dengan kebaikan Adib padanya.

"Kamu lupa aku ini siapa sekarang, Rum?"

Arumi hanya terdiam seraya memandang wajah Adib yang terlihat tampan dan penuh ketegasan.

"Aku ini suamimu, Rum. Sudah sepantasnya aku memberikan nafkah untukmu. Jadi, wajib kamu terima ya. Ini nafkah lahir dariku untukmu. Dan aku tidak menerima penolakan," ucap Adib seraya berdiri dari tempat duduknya.

Arumi masih terbengong dan tak percaya dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini.

"Bukankah Mas Adib juga prajurit angkatan laut. Walaupun pangkatnya di atas Mas Yuda, tapi kenapa uangnya banyak sekali?" batin Arumi.

"Mas," panggil Arumi lirih.

"Ya, kenapa Rum?" tanya Adib seketika menoleh kembali pada Arumi.

"Ini uang halal kan?" tanya Arumi dengan wajah tegas namun nada suaranya terdengar sedikit cemas dan ketakutan. Hal itu terbaca jelas oleh Adib.

"Maksudmu?" tanya Adib dengan santai. Ia sangat memahami kegelisahan Arumi.

"Mas Adib kan sama seperti mendiang Mas Yuda. Sama-sama prajurit angkatan laut. Walaupun pangkat Mas Adib lebih tinggi daripada Mas Yuda. Hanya saja dengan uang sebanyak ini, aku takut kalau-kalau_" ucapan Arumi seketika terhenti karena Adib menutup bibirnya dengan menempelkan jari telunjuknya sebagai kode agar Arumi tidak melanjutkan kalimatnya.

Ia pun mendudukkan Arumi kembali. Adib sudah paham ke mana arah pembicaraan dan maksud Arumi barusan. Lantas, Adib bercerita secara singkat bahwa ia adalah putra tunggal di keluarganya. Kakek dari pihak Papanya yakni seorang Laksamana T N I. Sedangkan kakek-nenek dari pihak Mamanya dari kalangan pengusaha konveksi ternama di daerahnya.

Otomatis uang yang dimiliki olehnya bukan hanya dari gaji prajurit saja, melainkan dari keuntungan perusahaan warisan keluarganya tersebut dan juga ada beberapa investasi yang dijalaninya secara pribadi. Adib juga menceritakan pada Arumi bahwa ia memiliki usaha sebuah cafe dan juga rumah kos-kosan dari saku pribadinya selama ini yang berhasil ia kumpulkan sejak muda.

Adib menyampaikan hal ini pada Arumi bukan bermaksud ingin menyombongkan harta yang ia miliki pada istrinya tersebut. Tetapi ia hanya ingin terbuka dan menyampaikan apapun mengenai kehidupannya pada istrinya tersebut. Karena di dalam harta suami ada hak seorang istri.

Ia sangat mengenal watak Arumi yang tak akan silau akan harta. Sebab, di masa lampau ia pernah sekali mengetes wanitanya ini. Dan Arumi sama sekali tidak tertarik dengan golongan orang-orang kaya dan berduit. Padahal jika Arumi mau, paras cantiknya bisa ia manfaatkan untuk menggaet laki-laki berkantong tebal ketika dirinya masih single alias belum menikah.

Hal itu semakin membuat Adib tak mampu berpaling dari pesona seorang Arumi Safitri. Wanita ini lebih memilih untuk mandiri di kakinya sendiri daripada memanfaatkan kekayaan orang lain. Arumi bagaikan mutiara cantik yang tersembunyi. Kemilaunya menggetarkan hati dan jiwanya secara menyeluruh.

"Ayo, Mama sudah menunggu kita di bawah."

"Iya, Mas."

Tiba-tiba tangan Adib menggandeng tangannya. Desir itu mendadak singgah kembali di jantung Arumi.

"Ya Tuhan, kondisikan jantungku. Kenapa aku merasa tidak asing dengannya?" batin Arumi.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

kalo uang bulanan ku segini bisa jd juragan kos2an sama buka toko kelontong biar uang nya tetep muter 🤣

2025-02-22

0

bibuk duo nan

bibuk duo nan

typo kak bukan jarang tp jarak mungkin ya thor

2024-12-24

0

Dewa Rana

Dewa Rana

harta yg diperoleh sebelum menikah tetap jadi milik masing2, Thor, kecuali mereka membuat perjanjian yg sebaliknya

2024-11-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!