Arumi bingung tak karuan ketika ia tak mendapati Adib di dalam kamar hotel. Bahkan nomor ponsel suami sendiri saja, ia pun tak tahu. Ia begitu merutuki dirinya saat ini.
"Ya ampun, mungkin cuma aku di dunia ini yang jadi seorang istri tapi enggak tahu nomor ponsel suaminya sendiri. Ya Tuhan, bodohnya aku sampai terlupa menanyakan hal penting ini sama Mas Adib. Bagaimana aku bisa hubungi dia sekarang?" keluh Arumi tertunduk lesu.
Sedangkan orang yang tengah dicemaskan oleh Arumi, sedang bercengkerama santai dengan ibunya di kamar sebelah.
"Haha... astaga Adib, Adib. Mama sampai punya pikiran yang aneh-aneh. Tumben putra Mama yang keras kepala soal cinta dan pernikahan, paling susah kalau dijodohkan sama wanita mana pun, yang konon katanya sudah kadung bucin sama seorang wanita yang fotonya saja enggak punya tapi pengakuan secara frontal dari Kapten Adib bahwa wanitanya itu cantik dan manis orangnya. Eh, mendadak menerima pernikahan penuh keterpaksaan sama seorang janda muda yang tengah hamil besar. Mama pikir kamu kesambet, Dib. Ternyata dia toh wanita itu," ledek Nyonya Elsa Hadijoyo seraya tersenyum pada putra semata wayangnya yang tengah tersipu malu.
Dahulu ketika Adib menolak perjodohan yang Nyonya Elsa berikan, putranya tersebut menyampaikan bahwa ia mencintai wanita lain. Sehingga di hatinya hanya ada nama wanita itu. Tak ada tempat untuk yang lain.
Berulang kali Nyonya Elsa merayu Adib untuk menerima perjodohan dari sekian banyaknya calon tetap ditolak oleh putranya. Dan pada akhirnya Nyonya Elsa hanya bisa berpasrah diri atas takdir dan jodoh putra semata wayangnya itu.
Ia tak ingin memaksa Adib. Karena sebagai ibu, ia sangat tahu watak putranya tersebut. Mirip seperti mendiang suaminya. Sekali jatuh cinta pada seseorang, akan tetap tertuju pada orang tersebut. Tak bisa berpindah ke lain hati.
☘️☘️
"Ah, Mama. Sudah deh. Dari tadi ledekin Adib terus," gerutu Adib seraya mengerucutkan bibirnya di depan sang Mama.
"Jangan dimajukan bibirnya gitu dong. Inget umur, Adib. Kamu bukan abege lagi, tapi sudah tua. Haha..." ledek Nyonya Elsa seraya tertawa lepas.
"Mama, ih. Calon Mayor masih klimis dan ganteng begini, masak disebut tua sih. Abege dong, Ma. Casing boleh matang tapi jiwaku akan selalu tetap muda dan tahan banting. Gempur Arumi di atas ranjang buatin cucu untuk Mama sampai sepuluh ronde juga masih sanggup kok," ucap Adib seraya membusungkan dadanya di depan ibunya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Masalahnya, Arumi mau digempur sama kamu apa enggak? Hehe..."
"Ya pelan-pelan dong, Ma. Kalau terburu-buru nanti dia bisa jantungan dapat serangan mendadak dari perjaka gagah nan tampan seperti aku ini," ujar Adib seraya terkekeh sendiri.
"Astaga putra Mama ini kalau sama anak didik dan anak buahnya garangnya minta ampun. Mereka bilang komandan itu dingin kayak kulkas sepuluh pintu, Bu. Tapi kalau soal Arumi, kayak masih abege dan banyak tertawanya. Pesona janda muda itu benar-benar luar biasa,"
"The one I love the most, Arumi Safitri. Hanya dia," ucap Adib dengan nada penuh cinta.
"Ya, semoga Arumi bisa membalas cintamu. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selalu. Jangan lupa segera ungkapkan perasaanmu padanya. Agar dia tahu kalau suaminya ini betul-betul mencintainya bukan hanya omong kosong," tutur Nyonya Elsa.
"Siap laksanakan. Grakkk !" jawab Adib seraya memberi hormat ala-ala militer pada ibunya. Senyum pun terbit di wajah Nyonya Elsa.
"Andai Papamu masih hidup. Dia pasti bangga sama kamu, Nak." Seketika mata Nyonya Elsa berembun mengingat almarhum suaminya yakni ayah kandung Adib.
"Ah, Mama. Jangan sedih dong. Kita cukup kirimkan doa terbaik untuk Papa di sana. Semoga almarhum Papa bisa ikut berbahagia melihat pernikahanku dengan Arumi," ucap Adib seraya memeluk sang ibu yang duduk di sampingnya.
"Aamiin..." jawab Nyonya Elsa.
Kolonel Laut (P) Hadijoyo Prakoso yakni ayah kandung Adib telah lama meninggal dunia. Ia berpulang ketika menjalankan tugas negara saat membantu dalam misi perdamaian di luar negeri. Garis keturunan keluarga besar Adib banyak berkecimpung di dunia angkatan laut. Mendiang kakeknya juga berprofesi yang sama. Bahkan pangkat terakhir yang disandang oleh sang kakek yakni Laksamana T N I.
Selain itu, Nyonya Elsa Hadijoyo juga bukan orang sembarangan. Mendiang orang tuanya adalah pengusaha yang cukup ternama di bidang konveksi yang ada di daerahnya. Kini perusahaan warisan orang tuanya dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Sebab, Adib selaku pewaris tunggal lebih berfokus sebagai prajurit angkatan laut.
Namun keduanya sesekali tetap memantau usaha warisan keluarga. Agar semuanya tetap berjalan sesuai koridornya.
☘️☘️
Ceklek...
Pintu kamar inap Adib dan Arumi perlahan terbuka. Langkah kaki Adib perlahan menuju ke kamar tidur. Arumi yang tengah berada di depan lemari dan akan berganti baju, tak menyadari kedatangan suaminya. Tak lama ia begitu terkejut mendapati suaminya yang ternyata sudah berdiri tak jauh dari belakang tubuhnya.
Deg...
"Mas Adib," cicit Arumi lirih seraya memandang suaminya dari kaca lemari baju.
Sedangkan Adib mendadak harus menelan salivanya dalam-dalam. Ia tak menyangka akan melihat pemandangan pagi yang indah seperti ini. Sampai-sampai membuat sesuatu di bawah sana yang awalnya tertidur, seketika menggeliat dan terbangun hingga terasa sesak di dalam celananya.
Rambut Arumi basah. Kini istrinya itu hanya mengenakan handuk yang menutupi area bagian dada hingga paha dan tak sampai ke lututnya. Perut buncitnya terlihat jelas di balik handuk yang dipakai. Membuat Arumi semakin terlihat se*xy di mata Kapten Adib.
Padahal di dalam ada jubah mandi yang bisa Arumi kenakan selepas mandi. Namun benda itu tak digunakan oleh istrinya.
Ya, Arumi memutuskan mandi dan keramas. Rencananya setelah selesai bersiap, ia berniat mengunjungi kamar ibu mertuanya yang ada di sebelah. Jika suaminya masih belum kembali ke kamar. Namun hal itu urung dilakukannya, karena suaminya sudah ada di hadapannya.
"Maaf, Mas. Tadi aku lupa bawa baju ganti ke kamar mandi. Maafkan aku," ucap Arumi yang merasa tak enak hati pada Adib. Ia merasa malu dan canggung dilihat Adib dalam kondisi seperti ini.
Ia khawatir jika Adib berpikiran yang tidak-tidak padanya. Misal Adib berpikiran bahwa dirinya tengah menggoda laki-laki itu. Padahal jika pun Adib digoda oleh istrinya sendiri juga sah-sah saja. Mereka berdua berstatus suami istri yang sah. Walaupun pernikahan yang dilakukan serba dadakan dan penuh paksaan.
Jika Arumi tak memakai sehelai benang pun di depan Adib begitu pun sebaliknya, sesungguhnya hal itu lumrah terjadi pada sepasang suami istri pada umumnya di luar sana. Dan bukan menjadi sebuah polemik atau hal yang memalukan.
Akan tetapi Arumi tetap merasa kurang nyaman. Karena ia belum mengenal sosok suaminya tersebut secara menyeluruh.
Adib pun berjalan menuju tempat Arumi yang tengah berdiri di depan lemari baju. Arumi menelan ludah dengan gugup. Handuk yang ia pakai, semakin dirapatkannya. Seolah-olah ia takut handuk itu melorot.
Dentuman keras menyergap jantung Arumi. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan ia tak merasakan desir ini ketika bersama mendiang Yuda. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya demi mengurangi rasa gugupnya.
Langkah kaki Adib berhenti di depan Arumi yang masih setia memejamkan mata. Senyum pun terbit di wajah tampan itu.
"Benar-benar menggemaskan," batin Adib.
Arumi yang tak mendengar langkah kaki Adib, ia pun perlahan memberanikan diri untuk membuka matanya. Hatinya penasaran. Seketika...
Bersambung...
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Ikha Ranni
ngebayangin laki2 yg ngomongnya pake..mama, ih.. perawakannya kayak apa umur nya brp.. 🤔😅
2024-07-02
6
Mahmudah Mahmudah178
Arumi sudah bersuami masih ingin tinggal sama mantan mertuwo lucu ceritane piye thor
2024-05-25
4
Zuhril Witanto
kayak Juna...pede🤭
2024-05-10
1