Bab 8 - Merasa Dejavu

Arumi hanya bisa terdiam seraya terus menundukkan kepalanya dan sesekali terlihat mengalihkan pandangannya dari Adib. Hal itu jelas terlihat di mata Kapten Laut (E) Adib Pratama Hadijoyo. Namun Adib tak mau memaksa agar Arumi buka suara.

Sebab, ia sudah mengetahui kejadian yang menimpa Arumi di masa lalu yakni kematian Yuda. Dan beberapa cerita dari kerabatnya yang bertetangga dengan Arumi perihal kehidupan janda dari Yuda Kusuma tersebut setelah kematian suaminya.

Namun ada satu karakter yang belum Adib ketahui tentang Arumi. Istrinya tersebut walaupun memiliki sikap tegas, tetapi Arumi termasuk tipikal introvert alias pribadi yang tertutup.

Introvert adalah salah satu jenis kepribadian yang lebih senang meluangkan waktu sendiri untuk mengumpulkan energinya. Merasa lebih nyaman berfokus pada pemikiran dan batin mereka sendiri, dan menikmati menghabiskan waktu dengan satu atau dua orang saja yang cukup dekat dengannya. Tak mudah menerima orang baru dalam kehidupannya dan selalu berusaha penuh kehati-hatian dalam memutuskan sesuatu di hidupnya.

Dan setelah kematian Yuda, sikap introvert Arumi semakin membumbung tinggi daripada ketika ia masih belum menikah.

"Kok diam. Kamu kenapa, Rum?" tanya Adib.

Hening.

Arumi masih setia terdiam dengan kecamuk rasa dalam batinnya saat ini. Sehingga bibirnya masih terkunci dan belum mampu menjawab pertanyaan Adib barusan. Namun pada akhirnya ia pun menjawab pertanyaan suaminya tersebut.

"Enggak apa-apa, Mas." Arumi pun menjawab singkat dan lirih dengan kondisi kepala tertunduk.

"Enggaknya lama. Sepertinya kamu butuh proses panjang untuk berpikir dahulu sebelum menjawab kata 'enggak' barusan. Dan aku yakin pasti kenapa-kenapa. Bukan enggak apa-apa," ujar Adib menjabarkan apa yang ia rasakan dari jawaban Arumi barusan padanya dengan nada yang terdengar begitu manja.

Arumi semakin canggung tak karuan mendengar ucapan Adib yang begitu manja padanya. Seakan terdengar seperti seorang suami yang hendak meminta jatah bercinta di atas ranjang namun harus bersabar karena istrinya sedang menggunakan skincare malam.

Hari ini begitu banyak kejutan tak terduga yang membuat detak jantung Arumi mendadak terindikasi tidak stabil. Arumi berusaha menarik napasnya sejenak.

"Apa malam ini Mas tidur di sini?" tanya Arumi berusaha mengalihkan perhatian Adib.

"Tergantung izin istri. Kalau disuruh bobo di sini ya alhamdulillah. Kalau harus bobo di luar, sejujurnya sih enggak mau. Tapi kalau memang itu yang terbaik, akan aku lakukan. Daripada istriku nangis sepanjang malam atau ketakutan sekamar denganku, ya lebih baik aku yang mengalah," jawab Adib.

Hening kembali tercipta di antara keduanya. Jari-jemari Arumi saling tertaut satu sama lain tanda bahwa ia gugup, resah, bercampur kebingungan. Namun Adib segera mengambil langkah cepat karena hari sudah larut malam. Ia tak ingin istrinya yang sedang hamil tua ini kurang istirahat. Adib pun berdiri lalu berjalan untuk mengambil satu bantal dari atas tempat tidur.

"Ganti baju dan tidurlah, Rum. Ibu hamil enggak boleh begadang. Tidurlah di ranjang dan aku akan tidur di sofa," ucap Adib dengan lembut.

Arumi hanya bisa terdiam sambil melihat gerak-gerik suami barunya tersebut. Adib pun kini sudah berada di atas sofa dan dalam posisi telentang seraya memejamkan matanya. Namun sesungguhnya ia belum lah tidur.

Setelah beberapa menit keheningan terjadi di kamar pengantin baru tersebut, akhirnya Arumi memberanikan diri bersuara kembali karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.

"Mas Adib apa sudah tidur?" tanya Arumi lirih.

"Hem. Ada apa, Rum? Apa kamu lapar malam-malam begini? Mau makan?" tanya Adib yang seketika terbangun dan duduk. Dirinya dilanda panik khawatir jika Arumi yang tengah hamil tua, mungkin saja saat ini ingin makan tengah malam atau mengidam sesuatu.

Walaupun ia minim atas pengalaman bersama ibu hamil karena belum pernah menikah, akan tetapi Adib sering mendengar rekan kerjanya berkeluh kesah padanya saat istri-istri mereka sedang hamil.

"Enggak, Mas. Aku enggak lapar kok. Tapi, apa aku boleh meminta sesuatu sama Mas Adib?" cicit Arumi lirih namun masih terdengar jelas oleh Adib.

Seketika Adib berdiri dan duduk kembali di samping Arumi yang masih setia berada di tepi ranjang.

"Ada apa, Rum? Bicaralah padaku. Jangan kamu pendam sendirian,"

Sebuah helaan napas berat keluar dari bibir Arumi. Adib sangat memahami kondisi Arumi saat ini dan terbuka bersama orang baru pasti tidak lah mudah dengan sederet luka dan trauma di masa lalu. Cinta yang begitu besar untuk Yuda Kusuma dan kebahagiaan pernikahan yang telah lama didambakan Arumi seketika sirna oleh takdir kematian yang tak terduga.

Belum lagi keluarga mendiang suaminya yang membuat hidupnya semakin pelik saat dirinya berjuang sendirian dalam kondisi hamil. Beruntung kewarasan masih menaungi Arumi dengan baik.

"Ingatlah bahwa sekarang ini, aku suamimu. Anggap saja aku seperti teman yang selalu setia di sisimu. Bukan sekedar teman biasa tetapi teman hidup. Walaupun pernikahan ini penuh paksaan, tetapi kita sebagai manusia terkadang lupa akan kuasa Tuhan yang sudah menetapkan garis takdir yang enggak bisa kita cegah, Rum."

Deg...

"Kata-kata ini? Sepertinya aku enggak asing dengan kalimat barusan. Siapa dia sebenarnya?" batin Arumi berkecamuk resah. Ia seakan merasa dejavu.

Bersambung...

🍁🍁🍁

*Dejavu adalah perasaan bahwa apa yang dialami sekarang pernah terjadi pada masa lampau.

Terpopuler

Comments

werdi kaboel

werdi kaboel

alhamdulillah, Adib sangat pengertian.

2024-11-07

1

Bintang Gatimurni

Bintang Gatimurni

Outhor kan doyan ngprank, jadi gk berani duga2 akh.../Grin/

2024-10-23

1

Abie Mas

Abie Mas

sesorang di masa lalu

2024-07-19

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!