Bab 7 - Saling Bertukar Kata

Setelah beberapa detik tanpa sengaja ia memandang Adib yang ternyata dalam kondisi tengah bertelanjang dada dan hanya memakai handuk dari pinggang hingga ke bagian lututnya saja, seketika Arumi menundukkan pandangannya kembali ke arah lantai.

Jantungnya mendadak berdegup kencang dan canggung melihat pemandangan roti sobek nan gagah milik Adib. Padahal dirinya bukan gadis kemarin sore. Bukan juga seorang pe*rawan. Tentu dirinya sangat tahu pemandangan serupa yang pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan pernah ia ja*mah ketika resmi menjadi istri Yuda.

Namun kondisi dahulu dengan sekarang berbeda. Ia dan Yuda saling mencintai. Bahkan sudah berpacaran selama lima tahun dan saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan pernikahannya saat ini dengan Adib, penuh keterpaksaan. Ia juga belum mengenal lebih dalam kehidupan Adib dan keluarganya.

"Aku di sini, Rum. Bukan di lantai," ucap Adib seraya berjalan perlahan menuju lemari tempat kopernya berada. Ia sangat tahu Arumi pasti malu dan canggung bersamanya.

"Maaf, Mas. Aku masih belum terbiasa kita bersama dalam satu ruangan seperti ini," jawab Arumi lirih dan masih setia menundukkan pandangannya ke bawah.

Adib pun paham dan tak ingin memaksa Arumi. Akhirnya ia membuka koper dan mengambil satu kaos serta boxernya. Tanpa basa-basi Adib langsung melepaskan handuknya dan mengganti baju tak jauh dari tempat Arumi duduk. Adib sengaja tak mengganti baju di kamar mandi karena ingin Arumi pelan-pelan terbiasa dengan kehadirannya.

Sedangkan Arumi yang tahu Adib tengah berganti baju di dekatnya, langsung memejamkan matanya karena masih malu. Setelah itu Adib berjalan dan mendaratkan b0kongnya di samping Arumi.

"Kita kenalan dulu yuk," ajak Adib tiba-tiba mengulurkan tangannya ke hadapan Arumi. Senyum menawan tampak di wajah Adib saat ini.

Otomatis Arumi mendongakkan kepalanya dan menghadap ke arah Adib dengan wajah keheranan.

"Loh, tadi di rumah kan kita sudah kenalan, Mas."

"Iya, tapi hanya sebatas nama dan formalitas saja di depan banyak orang. Sekarang kita kenalan dengan benar," jawab Adib.

"Yang di rumah tadi jadinya palsu alias enggak benar begitu? Apa ada yang Mas sembunyikan dari aku? Apa aku ini istri kedua Mas Adib?" cecar Arumi seraya menelisik dengan tatapan tajam pada Adib.

"Bhuaahahaaa..."

"Ternyata istriku ini bisa main lawak juga. Aku pikir kamu orangnya pendiam, Rum." Adib tertawa lepas seraya meledek Arumi dengan sengaja. Ia ingin mencairkan suasana yang masih tampak canggung. Faktanya ia sangat tahu bahwa Arumi bukanlah orang pendiam.

"Jangan tertawa, Mas! Enggak lucu deh! Aku enggak mau hidup di atas penderitaan wanita lain. Jika memang aku ini istri kedua, lebih baik Mas cer_" ucapan Arumi seketika tertahan dan tak berlanjut karena Adib memberhentikan ucapan Arumi dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri.

"Jangan pernah meminta atau mengatakan hal itu karena aku tidak akan pernah mengabulkannya. Kecuali maut yang memisahkan kita," tegas Adib.

Adib sangat tahu bahwa Arumi akan mengatakan perihal perceraian. Dan sampai kapan pun Adib tak akan menceraikan atau berpisah dari Arumi kecuali maut. Seketika Arumi pun hanya bisa diam dan mematung. Raut wajahnya berubah menjadi ketakutan karena ini pertama kalinya melihat Adib seakan marah padanya. Padahal sebelumnya tadi suaminya ini tampak ceria.

Perlahan Adib mengubah mimik wajahnya. Karena ia tahu Arumi ketakutan melihatnya. Namun mimik wajahnya masih terlihat datar.

"Maafkan aku. Bukan maksudku membentak atau berucap dengan nada tinggi padamu barusan," ucap Adib tulus meminta maaf pada Arumi dengan penuh kelembutan seperti di awal.

"Tidak apa, Mas. Bukan salah Mas juga. Maaf jika aku salah berucap tadi," ucap Arumi.

"Apa wajahku ini terlihat seperti seorang laki-laki yang punya istri lebih dari satu? Atau kamu masih enggak percaya kalau aku baru menikah pertama kalinya yakni denganmu?" tanya Adib seraya terkekeh di depan Arumi.

"Bukan begitu, Mas. Kalau dilihat dari usia Mas di K T P, kebanyakan usia segitu pasti dominan sudah pernah menikah."

Pendapat yang diutarakan oleh Arumi pada Adib terbilang lumrah. Karena memang usia Adib sudah sangat matang. Dominan di usia Adib sekarang banyak laki-laki di luar sana pasti sudah menikah dan punya satu anak bukan menyandang status sebagai bujangan. Jarak usia Adib dan Arumi berbeda delapan tahun. Namun cinta dan takdir tak memandang jarak usia yang terbentang.

"Statusku di K T P kan sudah kamu lihat tadi dengan jelas kalau masih belum kawin. Tentu saja faktanya aku memang belum pernah menikah sebelumnya," jelas Adib.

"Iya, tadi aku sudah baca dengan jelas status Mas Adib di K T P. Hanya saja dari pengalaman hidup, aku pernah melihat K T P punya teman yang sudah menikah secara sah baik agama dan negara selama beberapa tahun tetapi statusnya masih tertera belum kawin karena ia sengaja tak mengurus K T P baru ke dinas yang terkait," tutur Arumi.

"Wah, temanmu perlu aku ajak traktir makan cilok nih. Enak banget sudah kawin tapi status masih belum kawin terus. Haha..." ledek Adib seraya tertawa terbahak-bahak. Senyum pun ikut terbit di wajah Arumi.

Akhirnya malam itu mereka gunakan untuk saling bertukar kata satu sama lain. Mulai dari pekerjaan Adib dan kehidupan sehari-hari keduanya. Sebab, sejak tadi Adib sudah membaca dengan jelas raut wajah Arumi yang penasaran padanya sejak istrinya tersebut tiba di hotel bintang lima, tempat mereka menginap saat ini.

Ya, dalam hati Arumi sudah menaruh rasa curiga jati diri keluarga dan pekerjaan Adib. Ia hanya bisa terpelongo saat kakinya memasuki lobby hotel bintang lima di kota tempatnya tinggal bersama Yuda selama ini yang tak pernah ia kunjungi.

Dahulu ketika bersama Yuda, ia hanya sebatas pernah menginap di hotel bintang tiga untuk bulan madu yang terbilang singkat karena Yuda harus segera kembali bertugas.

"Jadi Mas Adib ini juga prajurit angkatan laut?"

"Iya, Rum. Hanya saja aku dinas di kota lain dan cukup jauh dari sini. Apa ada masalah?" tanya Adib seraya menelisik wajah Arumi yang seakan cemas terhadap sesuatu. Namun hal apa itu, Adib belum bisa menebaknya.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Dewa Rana

Dewa Rana

bukan dominan Thor, mayoritas lebih tepat

2024-11-01

1

Arya Aya

Arya Aya

definisi jodoh ngak kemana, gk dpt gadisnya dpt jandanya 🤭🥰

2024-09-19

2

Mira Lusia

Mira Lusia

bang adib..umurnya berapa siihhh..😘😘

2024-08-09

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!