Malam hari pun tiba, saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arumi tengah berada di rumah sendirian. Bu Retno, Wulan dan Bambang bersama bayi Bimo sedang pergi keluar untuk jalan-jalan. Tiba-tiba...
Bip...
"Aaaa !!" jerit Arumi di dalam kamarnya yang mendadak gelap gulita.
Arumi memiliki fobia akan gelap atau yang biasa disebut Nyctophobia. Akan tetapi sudah lama hal itu tidak kambuh. Namun sejak kematian Yuda, fobia itu sempat beberapa kali menyambangi dirinya.
Sehingga saat ini keringat dinginnya seketika membanjiri di sekujur tubuhnya. Arumi tadi berencana akan keluar kamar untuk mengunci pintu utama rumahnya.
Belum sempat ia keluar kamar, tiba-tiba semua sudah gelap gulita. Penyebabnya apa, ia pun tak tahu. Kemungkinan besar karena sekring listrik di rumahnya sedang drop atau turun. Sebab di rumah lainnya yakni milik tetangganya dalam kondisi baik-baik saja. Listrik tetap menyala tanpa ada kendala.
Seorang lelaki berusia matang dengan postur tubuh yang terlihat jelas tinggi tegap nan gagah tengah duduk di teras rumah salah satu tetangga Arumi. Lelaki ini sempat terkejut mendengar teriakan barusan.
"Siapa yang teriak tadi? Apa dari dalam rumah yang lampunya mati itu?" gumamnya seraya pandangannya langsung tertuju di kediaman Arumi yang tampak gelap.
Kebetulan dirinya sedang bosan dengan perbincangan para kerabat dengan sang ibu di dalam rumah milik salah satu keluarga jauhnya. Dikarenakan selalu membahas kapan dirinya menikah. Usianya yang sudah matang sayangnya hingga detik ini kekasih atau calon istri saja tidak tampak hilalnya.
Padahal banyak wanita yang mendekatinya untuk dijadikan istri, namun semua ia tolak. Kharismanya sebagai lelaki idaman jelas tersemat di bahunya. Pekerjaan yang mapan dengan jabatan mentereng yang disandangnya serta silsilah keluarganya yang berasal dari orang berpunya, para wanita di luar sana tentu tak akan menolak jika diminta menjadi istrinya. Terlebih dirinya adalah seorang anak tunggal. Semakin membuat banyak wanita meliriknya karena semua hal itu.
Alhasil ia keluar dan duduk di teras sendirian untuk mendinginkan pikiran dan hatinya. Suasana perumahan tersebut di area luarnya sedang sepi. Dominan para warga sedang berada di dalam rumah masing-masing karena jam sudah mendekati waktu istirahat malam.
Ia dan ibunya sengaja bertandang jauh-jauh ke kota ini karena lama tak berjumpa dengan kerabat jauh mereka. Secara kebetulan bertepatan dengan momen halalbihalal juga.
Dia bernama Kapten Laut (E) Adib Pratama Hadijoyo. Ia berdinas di Lantamal kota lain yang cukup jauh dari kota tempat kerabatnya yang sekarang tengah ia kunjungi yakni tetangga Arumi.
Bergegas Adib berdiri lalu berjalan perlahan menuju rumah Arumi yang tampak gelap gulita. Ketika kakinya berada di depan pintu utama, ia mendengar suara tangisan seorang wanita.
Tok...tok...tok...
"Apa ada orang di dalam? Apa Anda butuh bantuan?" tanya Kapten Adib seraya mengetuk pintu dengan sopan.
"To_long," sahut Arumi terbata-bata dari arah dalam rumah. Ia mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumahnya. Maka dengan segera Arumi meresponnya. Berharap orang tersebut bisa menolong dirinya yang tengah ketakutan saat ini.
Terutama listrik tengah padam di rumahnya sehingga membuat udara di dalam begitu panas. Terlebih kondisi Arumi tengah hamil tua. Otomatis sering merasa kegerahan jika pendingin ruangan di rumahnya mendadak mati seperti sekarang ini.
Ceklek...
Adib pun memutuskan membuka pintu utama yang ternyata sedang tidak dikunci. Ia berjalan perlahan dalam gelap menuju sebuah kamar yang tak jauh dari pintu utama dalam kondisi pintunya setengah terbuka. Ia mengeluarkan ponsel yang ada di dalam sakunya. Lalu ia menyalakan lampu dari ponselnya dan berjalan menuju tempat Arumi yang sedang duduk di atas ranjang.
"Anda baik-baik saja?" tanya Adib seraya menelisik pada sosok wanita yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu tak lain yakni Arumi Safitri. Seketika...
Grepp...
Plug...
Ponsel milik Adib pun tanpa sengaja terjatuh di atas ranjang Arumi. Secara refleks ia terkejut mendapat pelukan hangat yang mendadak datang ke tubuhnya dari seorang wanita yang belum ia lihat dengan jelas wajahnya ini. Bahkan namanya juga ia tidak tahu karena belum kenalan. Namun ketika ia mendengar suara Arumi, seakan telinga dan hatinya tak asing. Begitu familiar.
Ya, Arumi langsung berdiri dan memeluk orang yang ada di depannya. Padahal Arumi tak tahu dan tak kenal siapa sosok yang masuk ke dalam rumahnya. Entah mengapa hatinya mengatakan bahwa orang ini baik. Sehingga ia merasa bisa berlindung pada orang tersebut.
"Sa_ya takut ge_lap. To_long bawa saya keluar," ucap Arumi yang masih terbata-bata seraya memeluk Adib tanpa sadar.
"Oh, oke-oke. Saya akan bawa Anda keluar dari sini. Sepertinya sekring listrik di rumah Anda sedang drop. Sebab di rumah lainnya tidak ada masalah karena listrik masih menyala kok," ucap Adib seraya tanpa sadar membalas pelukan Arumi di tubuhnya. Entah mengapa ia merasa nyaman bersama wanita yang belum bisa ia lihat wajahnya tersebut. Alhasil keduanya berpelukan tanpa saling menyadarinya.
"Ada rumah teman dekat saya bernama Yuni. Hanya berjarak tiga rumah dari sini. Tolong antarkan saya ke sana saja untuk sementara," pinta Arumi lirih dengan nada yang masih terdengar ketakutan.
"Saya akan bawa Anda ke sana," ucap Adib mengiyakan permintaan Arumi.
"Terima kasih," ucap Arumi.
"Hem,"
Tiba-tiba suasana yang gelap, sepi, dan nyaman barusan, mendadak riuh dengan teriakan seseorang di depan pintu kamar Arumi.
"Pasangan me*sum !!"
"Tangkap mereka !!"
Di dalam kamar, Adib dan Arumi pun langsung terkejut mendengar teriakan tersebut. Alhasil keduanya segera melepaskan pelukannya.
☘️☘️
Dalam sekejap rumah Arumi pun akhirnya riuh oleh kedatangan para warga yang seakan melakukan penggrebekan. Bahkan wajah Adib terdapat memar akibat pukulan yang dilakukan Bambang dan beberapa warga lainnya.
Bu Retno dan Wulan yang berjalan ke rumahnya usai berbelanja, seketika dibuat terkejut melihat kepungan warga di depan rumah Arumi. Mereka berdua begitu terkejut dan tak menyangka setelah mengetahui dari Bambang dan para warga bahwa Arumi melakukan tindak asusila saat rumah dalam kondisi sepi penghuni.
"Dasar mantu gatel !!" maki Bu Retno seraya menatap tajam Arumi yang tengah duduk di ruang tamu. Listrik kediaman Arumi sudah berhasil dinyalakan.
Adib dan Arumi tengah duduk berdekatan di ruang tamu. Pihak RT maupun para warga sudah berkumpul di kediaman Arumi. Mereka seakan hendak melakukan persidangan untuk Adib dan Arumi.
"Kematian Bang Yuda belum genap enam bulan, eh kamu sudah pengin dibelai laki-laki lain. Dasar menjijikkan!" hardik Wulan.
"Tutup mulutmu, Lan! Jangan asal menuduh jika kamu tak tahu fakta yang sebenarnya terjadi," geram Arumi pada adik iparnya tersebut.
Yuni hanya bisa menatap Arumi dari kejauhan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak diizinkan masuk oleh Wulan. Yuni pun tak bisa berbuat banyak karena suaminya juga sedang tidak di rumah.
"Ya, Tuhan. Kasihan sekali nasibmu, Rum. Maafin aku yang enggak bisa bantu kamu," batin Yuni sendu dan merasa bersalah.
Ia sangat yakin hal ini hanya salah paham semata. Ia percaya bahwa Arumi bukan orang yang seperti dituduhkan oleh para warga.
Sedangkan Nyonya Elsa Hadijoyo selaku ibu kandung Adib, saat ini sedang tidak sadarkan diri di kediaman kerabatnya. Nyonya Elsa begitu syok setelah mengetahui kabar bahwa putra semata wayangnya tengah diadili oleh para warga yang menuduh Adib berbuat tindakan asusila bersama seorang janda yang sedang hamil tua.
Bambang tersenyum smirk melihat Arumi yang terpojok.
"Terima balasanku, Arumi. Berani-beraninya kamu menolakku. Sebentar lagi kamu pasti diusir sama warga di sini dan jadi gelandangan. Lalu kamu akan mengemis padaku atau Wulan agar tetap diizinkan tinggal di sini. Haha..." batin Bambang yang menertawakan kondisi Arumi saat ini.
Ya, Bambang yang sengaja masuk ke rumah terlebih dahulu ketika Wulan dan ibu mertuanya masih sibuk di mini market depan komplek. Niatnya ia ingin mengintip Arumi dari celah jendela kamar. Entah mengapa melihat Arumi dalam kondisi hamil tua selalu membuat li*bidonya meningkat drastis.
Padahal dirinya punya Wulan, istri sah yang bisa ia jadikan lahan basah untuk menyalurkan hasratnya secara cuma-cuma. Tapi justru dengan Wulan ia sama sekali tak berhasrat. Terlebih bentuk tubuh Wulan banyak berubah setelah melahirkan bayi Bimo.
Tanpa sengaja Bambang mendengar pembicaraan Arumi dengan seorang laki-laki. Kebetulan pintu kamar Arumi setengah terbuka, sehingga dengan mudah ia mendengar jelas dan bisa menebak apa yang terjadi pada Arumi serta laki-laki tersebut di dalam kamar.
Sebenarnya tidak terjadi apa pun. Namun Bambang sengaja membuat tuduhan palsu tersebut. Sebelumnya, ia sudah menghubungi dengan cepat beberapa warga yang sangat dekat dengannya untuk membuat Arumi dan laki-laki itu semakin terpojok. Bambang memberikan sejumlah imbalan pada mereka dan berhasil.
Setelah dilakukan rundingan oleh RT dan beberapa pengurus, akhirnya disepakati bahwa masalah ini akan dianggap selesai jika Adib dan Arumi menikah malam ini juga.
"APA !! Menikah? Enggak mungkin itu, Pak. Kami berdua tidak melakukan apa pun. Semua itu hanya fitnah. Lagi pula saya tidak mengenal laki-laki ini. Dia hanya menolong karena fobia gelap saya mendadak kambuh. Hanya itu saja, tidak lebih." Arumi menolak dengan tegas permintaan Pak RT dan para warga.
"Kalian berdua harus tetap menikah. Titik !" seru warga lainnya menyahuti dan semakin membuat Arumi terpojok.
Bersambung...
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
bibuk duo nan
dihhh rencananya gak sesuai ekspektasi lu Bambang,
2024-12-24
0
Dewa Rana
kasih lihat CCTV nya, arumi
2024-11-01
1
Ita Mariyanti
nm jg Bambangsat ide liciknya buat dptin Arumi 😡😡😡
2024-10-16
2