Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana

Lima bulan kemudian.

"ARUMI !!" pekik Bu Retno.

"Ya ampun, kamu jadi ibu hamil kok jorok banget sih!" gerutu Bu Retno.

"Maaf, Bu. Perutku mendadak mual habis belanja di pasar barusan. Sudah enggak tahan, jadi muntah di sini. Biar Rumi bersihkan dulu, Bu. Maaf sebelumnya," ucap Arumi sambil menyeka mulutnya dengan tisu karena habis muntah di ruang tamu. Tak lupa ia tetap meminta maaf dengan baik pada ibu mertuanya tersebut.

"Ya tentu saja kamu yang harus bersihkan. Masak urusan beginian harus ibu yang turun tangan. Yang muntah siapa, eh yang bersihkan siapa. Dasar mantu menjijikkan!" hardik Bu Retno seraya berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

Arumi yang mendengar makian dari ibu mertuanya tersebut, hanya bisa diam dan menahan nyeri di hatinya. Ia sama sekali tak membalas ucapan menyakitkan dari ibu mertuanya. Ia masih berusaha menghormati Bu Retno sebagai ibu kandung Yuda.

Langkah kaki Bu Retno berhenti di depan pintu kamarnya. Lantas ia menoleh pada Arumi dan menatap sinis menantunya yang tengah mengandung cucunya tersebut.

"Jadi wanita hamil itu yang menjaga kebersihan. Jangan membuat orang lain di sekitar kita jadi enggak nyaman. Contoh itu Wulan, adik iparmu sendiri. Dia selama hamil enggak pernah tuh merepotkan ibu. Bahkan mual dan ngidam yang aneh-aneh saja enggak pernah. Lahiran pun juga mudah banget. Wulan enggak ngerasain sakit sama sekali. Niatnya mau operasi caesar, eh malah kontraksi lebih awal jadi lahiran secara normal. Sampai rumah sakit langsung mbr0jol. Gak perlu induksi dan sebagainya. Tuhan baik banget sama Wulan," sindir Bu Retno seraya berusaha membanggakan Wulan di depan Arumi. Seketika...

BRAKK !!

Pintu ditutup secara kencang oleh Bu Retno setelah masuk ke dalam kamarnya. Hal itu sempat membuat Arumi terkejut. Bahkan ia mengelus perutnya penuh kelembutan. Berharap calon jabang bayinya tidak kaget mendengar suara kencang dari gebrakan pintu kamar yang dilakukan oleh Bu Retno.

"Baik-baik di dalam sana ya, Nak. Sabar ya sayang," batin Arumi seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat sangat buncit. Ia mengajak berkomunikasi dengan jabang bayinya yang ada di dalamnya.

Arumi pun bergegas menuju dapur dengan menaruh belanjaannya. Lalu ia mengambil kain pel untuk membersihkan lantai yang terdapat bekas muntahannya.

Sedangkan di teras rumah Arumi, Yuni yang mendengar bentakan Bu Retno barusan, sungguh membuat hatinya dongkol. Ia bermaksud mengantarkan rujak untuk Arumi karena semalam ibu hamil itu mendadak mengirim pesan singkat ke ponselnya bahwa sedang ngidam ingin makan rujak buah dengan kuah manis asam khas buatan Yuni.

Dengan senang hati Yuni membuatkan rujak tersebut pagi ini untuk Arumi. Rumah Arumi dan Yuni hanya berjarak beberapa meter saja. Keduanya tinggal di perumahan umum yang tak jauh dari Lantamal. Ketika mengantarkan rujak tersebut dan pintu utama kebetulan sedikit terbuka, alhasil Yuni mendengar omelan Bu Retno pada Arumi.

"Dasar mertua !blis!"

"Mereka semua sudah numpang hidup ke Arumi, eh masih belagu dan jadi penindas ibu hamil. Tuh ibu mertua mungkin amnesia kali ya. Dia lupa kalau putri yang dibanggakan tadi eh kelakuannya minus. Hamil di luar nikah kok bangga. Ya sama Tuhan dikasih mudah hamilnya sampai lahiran. Nikmat sebagai ibu hamil sudah dicabut sama Tuhan. Ih amit-amit jabang bayi," gerutu Yuni seraya mengelus perutnya sendiri walaupun ia sedang tidak hamil saat ini.

Sejak kematian Yuda, Bu Retno, Wulan dan Bambang memutuskan untuk tinggal di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Yuda dan Arumi di kota besar. Selama ini mereka sekeluarga tinggal di desa.

Bu Retno beralasan pada Arumi bahwa rumah peninggalan mendiang ayah kandung Yuda dan Wulan telah ia jual. Dikarenakan mendiang suaminya sempat sakit cukup lama sebelum akhirnya meninggal dunia. Sehingga untuk biaya berobat, Bu Retno banyak berutang di tetangga.

Padahal faktanya, Bu Retno menjual rumah di desa karena didesak oleh Wulan. Sebab, putrinya itu butuh uang cepat dalam jumlah yang sangat banyak. Wulan harus mengembalikan uang arisan milik para warga yang dipakai untuk kepentingan pribadinya sendiri. Jika tidak, maka Wulan akan masuk bui.

Alhasil Bu Retno yang kasihan pada Wulan dan tak mau menanggung malu di desanya, dengan terpaksa menjual rumah tersebut. Harta satu-satunya yang ia miliki.

Arumi memang tahu perihal utang untuk biaya berobat mendiang ayah mertuanya dari Yuda sewaktu mereka masih pacaran. Sehingga lima tahun mereka pacaran barulah Yuda bisa melamar dan menikahinya.

Sebab, Yuda pernah mengatakan padanya bahwa ia harus melunasi utang mendiang ayahnya dan juga membiayai keluarganya di desa. Arumi tak pernah mempermasalahkan hal itu karena ia sangat tahu bahwa Yuda sebagai tulang punggung di keluarganya. Akan tetapi, yang ia tahu perihal utang tersebut sudah lunas sesuai informasi dari Yuda sendiri ketika masih hidup.

Namun yang terjadi sekarang, ibu mertuanya mengatakan menjual rumah di desa demi membayar utang tersebut. Sehingga tak punya tempat tinggal lagi dan menumpang di rumahnya. Arumi yang tak mau ambil pusing karena takut dipojokkan oleh keluarga mertuanya, ia pun memilih diam dan menerima kehadiran mereka semua di kediamannya.

Rumah tersebut memang sudah dibeli sejak lama oleh mendiang Yuda untuk dijadikan tempat tinggal ketika sudah menikah dengan Arumi. Saat ini masih tersisa cicilan untuk jangka selama lima tahun ke depan rumah tersebut pada bank yang belum lunas.

☘️☘️

Bu Retno, Wulan dan bayinya yang berjenis kela*min laki-laki itu pun siang ini sedang pergi ke rumah sakit untuk melakukan imuni*sasi. Arumi tengah berada di dapur untuk memasak. Tiba-tiba ia dikejutkan pelukan seseorang dari belakang tubuhnya.

Grepp...

"Harum sekali tubuhmu, Rum. Senjataku sudah on fire nih," bisiknya di telinga Arumi.

Seketika...

Arumi melepas paksa dekapan tersebut lalu secepat kilat ia berbalik badan dan menatap tajam wajah si pelaku yang baru saja berbuat m3sum padanya. Tanpa basa-basi Arumi pun melayangkan tendangan cukup keras dengan kakinya pada bagian inti lelaki tersebut yang tak lain suami dari adik iparnya.

BUGH !!

"Auchh !" jerit Bambang seraya menahan nyeri di area s3lang kangannya.

"Jangan pernah sedikit pun kamu berpikir kalau seorang Arumi Safitri itu janda yang lemah dan mudah kamu perdaya. Jangan melampaui batasanmu sebagai ipar. Jika tidak, aku bisa mencincang habis senjata masa depanmu itu sampai tak bersisa. Cepat pergi!" ancam Arumi seraya menodongkan pisau dapur yang ia pegang pada Bambang.

"Dasar janda sialan! Lihat saja akan aku adukan kelakuanmu pada Wulan dan ibu mertua. Mereka pasti lebih membelaku daripada kamu," balas Bambang tak terima atas penolakan Arumi padanya. Sebab, ia sejak lama sebenarnya sudah menyukai Arumi ketika Yuda masih berstatus sebagai kekasih Arumi.

"Silahkan saja kamu mengadu. Bahkan ke polisi sekali pun aku juga tidak takut. Kamu jangan lupa jika di sudut sana ada cctv yang memantau kegiatan kita sejak awal hingga akhir. Dia saksinya siapa yang bersalah. Aku atau kamu," ucap Arumi dengan santai seraya melirik ke arah sudut cctv yang terpasang di dalam rumahnya.

Dalam hati, ia sangat bersyukur pada mendiang suaminya. Walaupun rumah mereka minimalis, tetapi Yuda sengaja memasang cctv demi keamanan Arumi ketika ditinggal tugas. Hanya Yuda dan Arumi yang bisa mengakses cctv tersebut.

"Sialan! Wanita ini pintar juga rupanya. Aku pikir dia bodoh seperti Wulan. Lihat saja, suatu saat nanti pasti aku bisa menikmati tubuhmu, Arumi." Bambang menggerutu dalam hati.

Bersambung...

🍁🍁🍁

*Lantamal\= Pangkalan Utama T N I Angkatan Laut.

Terpopuler

Comments

Indah Martin

Indah Martin

setiap episode harus ya pake iklan

2024-11-13

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

dasar ular kudung tendang aja biar mati sekalian tuh barang

2024-09-26

2

Dia Amalia

Dia Amalia

uuuhhh jd parasit y 3 ulat sagu🤭🤭🤭

2024-07-16

6

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!