Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah

"Maaf, Mbak. Perkenalkan nama saya, Saroh. Saya di sini disuruh Pak Adib untuk membantu Bu Arumi di rumah ini," jawab Mbak Saroh dengan sopan pada Wulan dan Bu Retno.

"Oh, kamu ba bu di sini." Wulan semakin menatap sinis Mbak Saroh mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Namun Wulan sedikit aneh melihat penampilan Mbak Saroh yang tak seperti pembantu pada umumnya. Biasanya pembantu seringnya berpakaian daster atau baju sederhana rumahan.

Dominan gadis desa yang dijadikan pembantu, rambutnya panjang dan kadang-kadang dikuncir kuda atau digelung.

Akan tetapi, saat ini Mbak Saroh terlihat berbeda di mata Wulan. Mbak Saroh tengah memakai pakaian motif batik yakni kemeja lengan pendek dan celana panjang sehingga terlihat lebih rapi. Namun tetap santai karena dikenakan di dalam rumah. Mbak Saroh tengah memegang sapu. Rambut Mbak Saroh pun tampak pendek cenderung cepak.

"Mencurigakan. Pembantu kok bajunya rapi kayak sekretaris saja. Rambutnya juga cepak mirip tentara wanita," batin Wulan yang terus menatap Mbak Saroh dengan seksama seraya tangannya menggendong bayinya dan satu tangan lainnya membawa paper bag yang berisikan belanjaannya.

Tiba-tiba...

PLUG...

Tas belanjaan miliknya, sengaja Wulan taruh sedikit kasar ke lantai. Namun tetap isinya tidak sampai berantakan atau berceceran.

"Hei, ba bu. Bawakan semua belanjaan ini ke dalam kamarku dan juga kamar ibuku," perintah Wulan.

Mbak Saroh hanya bisa tersenyum tipis mendengar perintah wanita yang ia tahu bernama Wulan. Sebab, sang majikan yakni Adib sudah menyampaikan padanya tentang nama dan karakter para penghuni rumah Arumi.

"Maaf, Mbak. Saya di sini digaji dan disuruh bekerja hanya untuk keperluan Bu Arumi saja. Bukan untuk mengerjakan keperluan orang lain. Jika saya harus melakukan pekerjaan di luar isi perjanjian kontrak sebagai pembantu Bu Arumi, maka saya harus mendapatkan dua gaji. Satu dari suami Bu Arumi dan satu lagi gaji dari Anda," jawab Mbak Saroh dengan lugas dan penuh percaya diri.

"Eh, kamu itu pembantu. Jangan belagu atau semaumu sendiri ! Kalau kamu pembantu di rumah ini artinya majikanmu bukan hanya Arumi. Ada aku, ibuku dan juga suamiku yang jadi majikanmu juga. Paham kamu !!" bentak Wulan dengan rahang mengeras seraya menatap tajam Mbak Saroh. Sedangkan yang ditatap bersikap biasa saja.

"Loh tadi kan jelas toh, Mbak. Gaji saya kan sesuai perjanjian kerja hanya untuk melayani Bu Arumi. Saya tidak melayani urusan penghuni lainnya di rumah ini. Baik penghuni yang terlihat jelas oleh mata maupun penghuni tak kasat mata alias ded3mit," ucap Mbak Saroh seraya menyindir Wulan di ujung kalimatnya.

"Sudah, Wulan. Enggak perlu berdebat sama pembantu murahan macam dia. Buang-buang energi saja. Lebih baik langsung tanyakan ke majikannya," ucap Bu Retno berusaha menenangkan emosi putrinya yang ia yakini sudah berada di ubun-ubun.

Seketika Wulan berpikir dan benar juga dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia langsung memberikan bayinya pada gendongan ibunya.

"Bawa bayiku ke kamar, Bu. Biar urusan ba bu belagu ini aku selesaikan sama Arumi sialan itu!"

Bu Retno yang tengah kecapekan pun akhirnya lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar Wulan dengan menggendong bayi Bimo. Ia sedang malas berdebat.

Sedangkan Bambang sedang tidak bersama istri dan ibu mertuanya. Sebab, pagi-pagi sekali Bambang pergi dan berpamitan pada Wulan. Ia beralasan ada proyek dadakan bersama temannya sambil menunggu proyek baru dari kantor.

☘️☘️

Wulan pun melangkah dengan cepat menuju kamar Arumi.

DOR...DOR...DOR...

Wulan tidak mengetuk pintu secara lumrahnya. Akan tetapi wanita ini tanpa basa-basi langsung menggedor dengan kencang pintu kamar utama.

"Arumi !!"

"Buka pintunya !" teriak Wulan.

Sontak hal itu membuat Arumi langsung kaget dan matanya yang mulai terpejam, mendadak terbuka. Padahal ia ingin tidur sejenak karena letih berbelanja dengan Adib dan Nyonya Elsa beberapa saat yang lalu.

"Astaga, ada apa lagi sih!" gerutu Arumi.

Ia berusaha bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamarnya yang sebelumnya telah dikunci olehnya.

Ceklek...

Pintu pun terbuka. Di depannya menampilkan Wulan yang tengah menatapnya secara tajam.

"Ada apa?" tanya Arumi dengan santai.

"Oh, enak sekali sang majikan mau beristirahat tapi rumah dalam kondisi berantakan begini."

Arumi yang aneh mendengar penuturan Wulan barusan, ia pun berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya. Matanya berkeliling melihat ruang tamu dan dapur yang tampak rapi dan bersih. Di depan pintu utama, Mbak Saroh tengah berdiri memegang sapu.

"Apa maksudmu rumah berantakan? Kamu lihat sendiri kan kalau ruang tamu dan dapur, bersih kok. Tuh Mbak Saroh bawa sapu buat bersihkan sisanya. Aku yang ngantuk kok kamu yang ngelindur," ucap Arumi seraya menguap di depan Wulan.

Skakmat !!

Wulan menggeram dengan kesal.

"ARUMI !!" bentak Wulan.

"Apaan sih! Di sini itu rumah, Wulan. Bukan di hutan. Enggak perlu teriak-teriak begitu. Kupingku masih sehat," tegas Arumi.

Oek...oek...oek...

Suara tangis bayi Bimo mendadak terdengar cukup kencang. Di dalam kamar, Bu Retno kerepotan untuk menenangkan cucunya tersebut.

"Lihat! Gara-gara teriakanmu barusan, bayimu sampai terbangun dan nangis. Cepat kamu su*sui sana. Daripada kamu marah-marah enggak jelas," ucap Arumi.

"Jangan mengalihkan perhatian deh, Rum. Aku cuma ingin kamu bilang ke ba bu sialan dan sok belagu itu, bahwa aku, ibu, dan Mas Bambang juga termasuk majikannya di rumah ini. Kami bertiga wajib ia layani seperti dia melayani kamu," tegas Wulan seraya jarinya menunjuk ke arah Mbak Saroh.

"Jadi, kamu ganggu tidurku cuma buat hal sepele dan enggak penting seperti ini. Astaga Wulan, Wulan." Arumi tak habis pikir dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Apa kamu bilang? Sepele?" tanya Wulan menatap tajam Arumi.

Ia tak terima dengan penuturan Arumi barusan yang seakan menyudutkan dan merendahkan dirinya. Terlebih di hadapan Mbak Saroh yang cuma pembantu.

"Iya," jawab Arumi singkat.

"Ini hal penting dan prinsip, Arumi! Dia itu cuma pembantu di sini tapi lagaknya sudah kayak majikan saja. Gayanya sungguh menjijikkan. Semaunya sendiri. Aku suruh bantu masukin tas belanjaanku yang banyak itu ke kamar, eh dia tolak mentah-mentah. Pecat saja dia!" omel Wulan seraya kedua tangannya bersedekap di depan dadanya.

"Apa yang dia lakukan, sudah benar kok. Suamiku membayar dirinya hanya untuk membantuku. Majikan dia cuma dua yakni melakukan perintah suamiku dan melayani aku, bukan yang lain. Lagi pula kamu kan punya tangan dan kaki. Masak bisa belanja banyak tapi masukin barang ke kamar saja nyuruh pembantu orang lain. Dasar aneh!"

Wulan semakin geram dengan Arumi yang justru lebih membela Mbak Saroh ketimbang dirinya.

"Satu hal lagi yang perlu kamu tahu, Lan. Tolong jaga sikapmu di rumah orang. Ingatlah bahwa di rumah ini tuan rumahnya aku, bukan kamu." Arumi pun membalikkan badannya hendak masuk ke dalam kamar.

Ia malas berdebat terlalu lama dengan mantan adik iparnya itu. Terlebih badannya tengah letih ingin istirahat.

"Tunggu, Rum."

Seketika langkah kaki Arumi terhenti usai mendengar Wulan memanggilnya kembali.

Lalu ia memposisikan arah badannya untuk kembali menghadap Wulan.

"Ada apa lagi?" tanya Arumi menatap Wulan dengan serius.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

bibuk duo nan

bibuk duo nan

jangan jangan mbak Saroh ini aslinya kowad ya ditugaskan komandan Adib buat jagain istrinya yaitu Arumi

2024-12-24

0

Erviana Erastus

Erviana Erastus

ribet tinggal usir aza mantan mertua sama ipar apa susahx sih rum

2025-02-27

0

Ita Mariyanti

Ita Mariyanti

tumben banget Arumi bs teges sm Wulan.... mantab rum 👍👍👍

2024-10-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!