"Perkenalkan, Ma. Dia, Mbak Saroh namanya. Maaf sebelumnya kalau aku enggak bilang Mama dulu soal kedatangan Mbak Saroh," ucap Adib.
Lantas ia pun menjelaskan pada Arumi ketika semalam mendapat izin dari Arumi untuk menggandakan kunci rumah, maka dengan cepat ia langsung menghubungi Mbak Saroh dan memesankan tiket pesawat untuk datang ke kota tempat mereka berada saat ini.
Bahkan Adib juga menyuruh kerabatnya yakni tetangga Arumi membantunya untuk memanggilkan tukang agar segera membenahi gudang yang ada di dekat dapur Arumi. Gudang tersebut akan dibersihkan serta diisi dengan perlengkapan kamar tidur untuk pembantu. Sebab, Mbak Saroh akan menjadi pembantu di rumah Arumi.
Di halaman belakang juga masih terdapat sedikit lahan yang akhirnya Adib juga menyuruh kerabatnya tersebut membuat bangunan kecil untuk gudang. Di rumah Arumi sebenarnya terdapat empat buah kamar tidur. Namun selama ini hanya tiga kamar yang digunakan untuk tidur. Sedangkan satu kamar dijadikan gudang.
Kamar utama digunakan oleh Arumi. Satu kamar rencananya untuk anak. Luas kamar untuk anak hampir sama dengan ukuran kamar Mbak Saroh, tepatnya berada di samping kamar Arumi. Namun saat ini kamar untuk anak telah digunakan oleh Bu Retno.
Satu kamar tamu digunakan oleh Wulan dan Bambang. Kamar mandi hanya ada dua. Satu kamar mandi luar berada dekat dapur dan satu kamar mandi dalam yang ada di kamar utama.
"Jadi urusan belanja ke pasar, memasak untuk makan Mama sehari-hari, dan juga beberes pekerjaan rumah, mulai detik ini Mama enggak boleh kerjakan lagi. Enggak boleh capek-capek. Kalau ada perlu apa-apa, Mama bilang langsung ke Mbak Saroh. Deal?"
Ia lagi-lagi harus menelan salivanya dalam-dalam sebelum menjawab sang suami dengan gugup.
"Ehmm..." Arumi bergumam dengan suara tak jelas. Ia berusaha mengusir rasa gugup dan malunya.
"Bang, jangan panggil aku Mama di depan orang lain." Arumi berbisik lirih di telinga Adib.
"Terus, aku harus panggil Mama apa? Sayang, cinta, my sweety, my lovely, my honey, ehm... atau my wifey?" balas Adib yang ikut berbisik mesra di telinga Arumi.
"Ih, Abang! Orang serius kok malah bercanda," gerutu Arumi. Namun ia berusaha menggunakan nada serendah mungkin agar Mbak Saroh tidak mendengarnya.
Akan tetapi, mereka bertiga hanya berjarak cukup dekat. Otomatis suara Arumi dan Adib walaupun berbisik, masih dapat didengar oleh Mbak Saroh. Ia hanya tersenyum melihat tingkah lucu kedua majikannya tersebut.
"Sudah, nurut saja kata suami. Mama itu panggilan terkeren di abad ini pokoknya. Kalau masih bandel, tak cium di depan Mbak Saroh loh." Adib pun sengaja mengancam.
Walaupun sebenarnya ia juga tidak akan melakukan ciuman bibir dengan Arumi jika sang pemilik belum mengizinkannya. Terlebih di depan orang lain baik Mbak Saroh maupun yang lainnya. Tentu saja tidak akan dilakukannya. Ia tetap akan sabar menunggu untuk hal itu.
Arumi yang mendengar ancaman tersebut dari Adib, hanya bisa memutar bola matanya jengah. Namun semburat merah tak dapat ia tutupi di wajahnya. Adib pun tersenyum tipis melihatnya. Arumi segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Bumil gemesin banget sih. Kalau enggak lagi hamil, pasti sudah aku ajak tanding main billiard di atas kasur. Setelah pemanasan, langsung tancap terus dapat golden break. Aku yang menang. Dia terkapar nikmat. Yeah..." batin Adib bersorak.
☘️☘️
Arumi pada akhirnya menyerah dan mengalah. Lebih baik Adib memanggil dirinya dengan sebutan 'Mama' daripada panggilan lainnya seperti sayang dan sebagainya yang disebutkan tadi. Rasa malu dan canggung masih mendominasinya. Sebab, ini pertama kali diperlakukan seperti ini.
Dahulu bersama mendiang Yuda, ia hanya memanggil dengan sebutan 'Mas'. Sedangkan Yuda tetap memanggil dia dengan namanya yakni Arumi. Tanpa embel-embel panggilan sayang yang lainnya.
Arumi dan Mbak Saroh selesai berkenalan. Dan kini waktunya perpisahan antara pengantin baru yang belum genap 24 jam keduanya menyandang status sebagai suami istri.
Kesedihan tampak dalam wajah Adib. Sedangkan hati Arumi tengah berkecamuk resah dan merasa ketakutan. Seolah-olah ia begitu takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Namun Adib berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia akan pulang dengan selamat. Janji Adib pada Arumi.
"Jangan pernah berjanji jika Abang tak bisa menepatinya. Aku selalu mendoakan Abang semoga sehat di mana pun berada," ucap Arumi lirih seraya menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba...
Cup...
Sebuah kecupan hangat tiba-tiba mendarat di kening Arumi dari bibir Adib.
"Love you," bisik Adib. Hangat dan penuh cinta.
Dua kata yang dibisikkan Adib, sangat mendebarkan hati dan jantung Arumi detik ini juga. Ia pun perlahan mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya yang tersenyum padanya.
Ia segera meraih tangan Adib dan menciumnya penuh takzim.
"Hati-hati di jalan, Bang. Kabari aku kalau Abang dan Mama sudah sampai di sana," ucap Arumi.
Adib pun menganggukkan kepalanya seraya mengusap lembut kepala Arumi dengan tangannya. Setelah itu, Arumi juga mencium tangan Nyonya Elsa dengan takzim dan dibalas pelukan hangat oleh ibu mertuanya tersebut.
Lambaian tangan baik Adib dan Arumi menandakan keduanya bersiap menjalani pernikahan ini untuk sementara dengan jalan L D R an. Mobil yang membawa suami dan ibu mertuanya telah pergi meninggalkan area komplek perumahannya menuju bandara.
Arumi dan Mbak Saroh segera masuk ke dalam rumahnya. Arumi baru saja masuk ke dalam kamarnya. Namun belum ada sekian detik Arumi merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba ia mendengar teriakan dan kegaduhan di luar kamarnya.
"SIAPA KAMU? MALING?"
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Golden Break ( Billiard ) :
Golden break , dalam sembilan bola , adalah pukulan break yang mengakibatkan bola 9 dimasukkan tanpa melakukan pelanggaran apa pun. Golden break disebut emas karena pemain penembak benar-benar memenangkan permainan dalam satu pukulan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
dasar benalu pd plng 😡
2024-09-27
2
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
2024-09-08
1
Dewa Dewi
😍😍😍😍😍😍
2024-09-08
1