Bab 17 - Sebuah Panggilan

Nyonya Elsa terus tersenyum memandangi putra dan menantunya dari kaca spion tengah atau center mirror mobil. Adib dan Arumi duduk di bangku bagian tengah. Sedangkan dirinya duduk di bangku depan samping sopir.

Ia melihat beberapa perubahan ke arah yang baik pada pengantin baru tersebut sejak keluar dari kamar hotel. Adib dengan setia menggandeng tangan Arumi begitu mesra dan hangat. Bak sepasang suami istri yang saling mencintai, khas pengantin baru pada umumnya. Arumi juga membiarkan Adib menggandeng tangannya. Tanpa penolakan.

Arumi yang tengah hamil tua memang sering mengantuk. Alhasil di dalam mobil, ia tertidur di pundak Adib. Lantas tak lama Adib pun memeluk Arumi. Dan istrinya tersebut tertidur dalam dekapannya sepanjang perjalanan.

Arumi tak menolak skinship yang dilakukan Adib padanya. Entah mengapa, ia pun tak tahu. Ia hanya merasa tubuhnya tak menolak seakan Adib memberikan kenyamanan dan sebuah perlindungan untuknya. Senyum pun terus terpancar di wajah Kapten Laut (E) Adib Pratama Hadijoyo.

"Semoga kalian berdua berbahagia selalu hingga akhir hayat. Aamiin..." batin Nyonya Elsa seraya tulus mendoakan kebahagiaan pernikahan Adib dan Arumi.

☘️☘️

Sebelum mereka pergi meninggalkan hotel, di dalam kamar, Adib meminta sesuatu hal pada Arumi.

"Mas Adib mau minta sesuatu apa?" tanya Arumi lirih seraya melirik suaminya sepintas lalu menundukkan pandangannya kembali.

Jantungnya selalu berdebar jika lama-lama menatap Adib. Entah mengapa seperti ini, ia pun tak tahu. Namun hal seperti ini dirinya seakan pernah merasakannya di masa lalu ketika bersama seseorang. Tetapi bukan dengan Yuda, mendiang suaminya.

Pertemuan singkat yang mampu mendebarkan jiwa dan hatinya. Padahal kala itu laki-laki tersebut tak mengucapkan cinta padanya. Namun takdir yang membuat Arumi tak bisa berlama-lama berada di kota J. Pada akhirnya terpaksa ia harus pergi jauh tanpa sempat berpamitan. Bahkan ia terlupa meminta maaf pada laki-laki tersebut. Nomor telepon laki-laki itu pun ia tak punya.

"Aku sama sekali tidak akan menyuruhmu melupakan cintamu untuk mendiang suamimu. Masa lalumu adalah milikmu. Tetapi masa depanmu adalah milikku dan tanggung jawabku. Aku juga tidak akan memaksamu untuk bisa mencintaiku. Tapi satu yang perlu kamu tahu, bahwa kamu istriku sejak kemarin, esok, dan selamanya. Aku akan berusaha membahagiakanmu serta mencintaimu dengan caraku. Mulai detik ini percayalah bahwa di dalam hati ini hanya ada nama Arumi Safitri," ucap Adib penuh keseriusan dan sangat jelas cinta yang begitu besar hanya untuk Arumi.

Deg...

"Mas," ucap Arumi lirih. Ia tertegun mendengar penuturan Adib barusan. Arumi menatap Adib dengan serius dan sama sekali dalam mata sang suami tak ada kebohongan. Hanya ada kejujuran dan cinta yang ia lihat.

"Satu hal yang aku minta tadi, bolehkah mulai detik ini kamu memanggilku Abang? Jangan panggil aku, Mas. Aku boleh kan enggak ingin sama dengan mendiang suamimu," pinta Adib yang menunjukkan dengan sangat jelas rasa posesifnya.

Adib seakan tak ingin menahan rasa cemburunya lagi. Ia ingin Arumi tahu bahwa dirinya benar-benar mencintainya dengan tulus. Tentu setiap manusia tak ingin disamakan dengan manusia lainnya. Terlebih suami baru dengan mendiang suami yang telah meninggal dunia. Hal tersebut masih dalam batas wajar dan lumrahnya.

Yang terpenting dalam sebuah biduk rumah tangga yakni menjaga komunikasi dua arah yang bersinergi. Bukan komunikasi satu arah saja yang jika dibiarkan terus-menerus maka bisa berujung bad communication alias komunikasi yang buruk.

Utarakan apa yang kamu mau pada pasanganmu. Selain hati lega, hal itu juga mampu membuat pasangan kita tahu tentang apa isi hati kita. Daripada menyimpan atau memendam sesuatu di hati yang nantinya menjadi bom waktu. Sangat berbahaya.

Senyum pun terbit di wajah Arumi tanpa disadarinya. Ia paham jika saat ini Adib tengah memberikan sinyal cemburunya pada mendiang Yuda.

"Iya, Abang Adib. Benar begini, Bang?"

"Hehe... iya Rum. Makasih ya," jawab Adib seraya terkekeh sendiri melihat Arumi melakukan apa yang dia mau tanpa penolakan maupun bantahan. Arumi pun menganggukkan kepalanya.

Keduanya seketika saling memandang sambil tersenyum dan tertawa kecil. Bak abege yang tengah tersipu malu.

"Selfie yuk," ajak Adib tiba-tiba. Ia segera mengeluarkan ponsel ternama miliknya yang berlogo buah apel kena gigit yang harganya cukup menguras kantong bagi kaum mendang-mending di luar sana.

"Malu, Bang." Arumi menolak secara halus.

Ia memang tak terbiasa berpose atau melakukan foto baik selfie maupun bersama-sama. Sebab selama bersama Yuda baik pacaran hingga menikah, keduanya terbilang sangat jarang melakukan foto berdua.

"Masak sudah menikah enggak punya foto bini. Apa kata dunia, Rum? Nanti kalau aku kangen, gimana?" rengek Adib yang mendadak manja. Sangat jauh berbeda dengan Adib ketika menjadi komandan di depan anak buahnya.

Jika hal ini diketahui anak buahnya, bisa jadi Adib disarankan pergi ke dokter oleh mereka semua. Karena komandan yang terkenal garang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat ketika bersama Arumi, istrinya.

Dan pada akhirnya Arumi mengalah dan menyerah.

"Yeah," batin Adib bersorak.

"Tiga kali saja, Bang. Enggak perlu banyak-banyak fotonya. Nanti memori ponsel Abang, penuh." Arumi masih terlihat canggung.

"Khusus foto istri, unlimited. Memorinya dijamin enggak akan penuh kok," ucap Adib dengan cepat dan penuh keyakinan pada Arumi.

Akhirnya keduanya pun melakukan foto berdua hingga entah berapa jumlah jepretan yang berhasil dilakukannya.

Cekrek...

Cekrek...

Cekrek...

"Sudah, Bang. Fotonya sudah banyak. Ayo kita keluar. Mama pasti sudah nungguin," ucap Arumi yang merasa tak enak dengan ibu mertuanya sekaligus rasa malu dan canggung tengah melebur menjadi satu saat ini bersama Adib dalam kamar.

"Mama pasti paham pengantin baru ngapain saja kalau lama di dalam kamar. Satu lagi pose penutup. Please," pinta Adib yang seakan tak mau melepaskan Arumi. Terlebih keduanya akan berpisah cukup lama karena tugas negara sudah menanti.

☘️☘️

Padahal keduanya sudah berpose cukup banyak hingga bertukar posisi juga. Tetapi bagi Adib masih kurang. Bahkan yang awalnya Adib mengatakan hanya selfie saja, berujung tidak seperti itu. Modus.

Ketika Arumi mengiyakan, selain ponsel, Adib pun mengambil tripod dalam tas ranselnya. Dan terjadilah pose-pose menakjubkan yang sebelumnya tidak ada dalam benak Arumi. Pose berdiri sambil memeluk Arumi hingga pose-pose yang lain di berbagai sudut kamar hotel, mereka lakukan juga.

Hanya cukup menggunakan remote kecil yang Adib pegang untuk mengendalikan ponsel pintarnya yang berada di tripod. Arumi hanya bisa tertegun tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun melihat aksi suaminya bersama benda-benda yang ia yakini harganya terbilang mahal.

"Oke, satu lagi. Abang janji?" desak Arumi yang ingin menyudahi acara foto dadakan ini.

"Iya, Ma. Siap grakk," jawab Adib.

Deg...

Arumi seketika menelan salivanya dalam-dalam. Mendadak ia kesulitan berkonsentrasi maupun berpikir. Bulu kuduknya langsung ikut meremang. Hanya karena telinganya mendengar Adib memanggil dirinya dengan sebutan 'Ma'.

Hal ini sontak menimbulkan gelenyar atau desir tak biasa yang secara otomatis memenuhi raga dan batinnya. Jantungnya semakin tak terkendali karena ikut berdegup kencang.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Adib mesra amat ya 🥰

2024-09-27

3

Abie Mas

Abie Mas

ok ma

2024-07-19

4

WaTea Sp

WaTea Sp

kayanya rumi dului dah punya rasa ma adib

2024-06-14

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Tragedi Memilukan
2 Bab 2 - Tabur Bunga
3 Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4 Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5 Bab 5 - Terpaksa Menikah
6 Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7 Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8 Bab 8 - Merasa Dejavu
9 Bab 9 - Permintaan Arumi
10 Bab 10 - Sebuah Janji
11 Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12 Bab 12 - Nafkah
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14 Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15 Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16 Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17 Bab 17 - Sebuah Panggilan
18 Bab 18 - Pulang ke Rumah
19 Bab 19 - Pembantu
20 Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21 Bab 21 - Semakin Menjadi
22 Bab 22 - Bapak Sakit
23 Bab 23 - Gelayut Mendung
24 Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25 Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26 Bab 26 - Pertemuan Pertama
27 Bab 27 - Petuah Dina
28 Bab 28 - Pertemuan Kedua
29 Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30 Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31 Bab 31 - Operasi
32 Bab 32 - Koma
33 Bab 33 - Sudah Sadar
34 Bab 34 - Keputusan Arumi
35 Bab 35 - Sebuah Mimpi
36 Bab 36 - Mengikhlaskan
37 Iklan Sejenak
38 Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39 Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40 Bab 39 - Pisah Sementara
41 Bab 40 - Minta Hadiah
42 Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43 Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44 Bab 43 - Reaksi Arumi
45 Bab 44 - Kamar Rahasia
46 Bab 45 - Kangen
47 Bab 46 - Semua Karena Cinta
48 Bab 47 - Meriang
49 Bab 48 - Melawan Phobia
50 Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51 Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52 Bab 51 - Berbanding Terbalik
53 Bab 52 - Belum Juga Hadir
54 Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55 Bab 54 - Sangat Miris
56 Bab 55 - Sebuah Insiden
57 Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58 Bab 57 - Tragis ( Karma )
59 Bab 58 - Sebuah Permintaan
60 Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61 Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62 Bab 61 - Pemakaman
63 Bab 62 - Ngidam
64 Bab 63 - Ending
65 Promo Novel Baru
66 PROMO KARYA BARU
67 PROMO KARYA BARU
68 PROMO KARYA BARU
69 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Tragedi Memilukan
2
Bab 2 - Tabur Bunga
3
Bab 3 - Ibu Mertua Kejam dan Ipar Durjaaana
4
Bab 4 - Tangkap Mereka !!
5
Bab 5 - Terpaksa Menikah
6
Bab 6 - Benalu Tak Tahu Malu (Keluarga Toxic)
7
Bab 7 - Saling Bertukar Kata
8
Bab 8 - Merasa Dejavu
9
Bab 9 - Permintaan Arumi
10
Bab 10 - Sebuah Janji
11
Bab 11 - The One I Love The Most (Yang Paling Aku Cintai)
12
Bab 12 - Nafkah
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu
14
Bab 14 - Cerita Masa Lalu (Part 1)
15
Bab 15 - Cerita Masa Lalu (Part 2)
16
Bab 16 - Cerita Masa Lalu (Part 3~End)
17
Bab 17 - Sebuah Panggilan
18
Bab 18 - Pulang ke Rumah
19
Bab 19 - Pembantu
20
Bab 20 - Mantan Adik Ipar Kembali Berulah
21
Bab 21 - Semakin Menjadi
22
Bab 22 - Bapak Sakit
23
Bab 23 - Gelayut Mendung
24
Bab 24 - Awan Hitam (Duka)
25
Bab 25 - Sekedar Balas Budi
26
Bab 26 - Pertemuan Pertama
27
Bab 27 - Petuah Dina
28
Bab 28 - Pertemuan Kedua
29
Bab 29 - Jatuh Terhempas Ke Dasar Jurang Cinta
30
Bab 30 - Tak Sadarkan Diri
31
Bab 31 - Operasi
32
Bab 32 - Koma
33
Bab 33 - Sudah Sadar
34
Bab 34 - Keputusan Arumi
35
Bab 35 - Sebuah Mimpi
36
Bab 36 - Mengikhlaskan
37
Iklan Sejenak
38
Bab 37 - Baby Blues Syndrome
39
Bab 38 - Mendatangi Psikiater
40
Bab 39 - Pisah Sementara
41
Bab 40 - Minta Hadiah
42
Bab 41 - Bertemu Setelah Sekian Lama
43
Bab 42 - Berkunjung ke Rumah Sahabat
44
Bab 43 - Reaksi Arumi
45
Bab 44 - Kamar Rahasia
46
Bab 45 - Kangen
47
Bab 46 - Semua Karena Cinta
48
Bab 47 - Meriang
49
Bab 48 - Melawan Phobia
50
Bab 49 - Rasa Pertama Kali
51
Bab 50 - Tak Bisa Berhenti
52
Bab 51 - Berbanding Terbalik
53
Bab 52 - Belum Juga Hadir
54
Bab 53 - Ngabotram Yang Tak Biasa
55
Bab 54 - Sangat Miris
56
Bab 55 - Sebuah Insiden
57
Bab 56 - Kejadian Satu Malam
58
Bab 57 - Tragis ( Karma )
59
Bab 58 - Sebuah Permintaan
60
Bab 59 - Gejolak Rasa di Pagi Hari
61
Bab 60 - Aku Sudah Hamil
62
Bab 61 - Pemakaman
63
Bab 62 - Ngidam
64
Bab 63 - Ending
65
Promo Novel Baru
66
PROMO KARYA BARU
67
PROMO KARYA BARU
68
PROMO KARYA BARU
69
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!