PMR 19

"Ra, tunggu!" panggil Edgar ketika langkah Kinara semakin cepat. Edgar berusaha mensejajarkan langkahnya dengan gadis mungil yang tengah merajuk itu. Pasalnya Edgar kekeh dengan pendiriannya jika ia ingin ikut kerumah sakit menemui Ardav mertuanya.

Namun Kinara tak menginginkan dengan dalih jika Ardav akan mencaci makinya karena sudah membohonginya hingga menyebabkan koma.

"Apaan sih, Ed?" sentak Kinara berbalik menatap Edgar yang tengah setengah berlari ke arahnya.

"Kamu kecil tapi cepet juga jalannya." papar Edgar hingga membuat Kinara mendengus sebal.

 Kinara tak menggubrisnya, gadis itu kembali berjalan di koridor rumah sakit dengan bersedekap dada. Ia takut akan reaksi Ardav nantinya ketika dirinya membawa sosok Edgar yang sudah membuatnya jatuh sakit.

Ataukah Ardav akan marah atau malah mengusirnya pikir Kinara.

Ceklek....

Kinara membuka ruangan bernuansa putih itu dengan penuh kerinduan. Tatapannya langsung tertuju pada satu titik, dimana disana sudah ada Ardav dan Daffa yang tengah menunggunya.

Dengan selang infus yang menggantung ditambah selang oksigen yang ada pada hidungnya. Ardav menampilkan senyumannya ketika tau siapa yang sudah membuka pintunya .

"Nara, kamu itu nak!" ucap Ardav mencoba bangun dari tidurnya. Ia sangat rindu pada buah hatinya , setelah sadar hanya nama Nara-lah yang selalu dipertanyakan olehnya.

"Papa!" seru Kinara berlari kearah Ardav yang sudah merentangkan tangannya. Pria paruh baya itu berusaha kuat didepan putrinya.

"Bagiamana kabarmu, Nak? kenapa kamu terlihat kurusan dan pucat?! Apa cucu Papa yang membuatmu seperti ini?" cecar Ardav ketika Kinara sudah di pelukannya, pria itu mengusap punggung gemetar Kinara.

Deg...

Jantung Kinara berdegup kencang ketika pertanyaan itu berhasil terucap dari bibir Ardav. Kinara tak menjawab bahkan tiba- tiba tenggorokan terasa tercekat, entahlah ia berasa tak sanggup membuka mulutnya saat ini. Hingga di detik kemudian terdengarlah tapak kaki seseorang yang sudah berhasil membuka pintu ruangan tersebut. Ketiga orang yang berada di dalam sana melonggok kearah pintu dengan dahi mengkerut kecuali Kinara. Mereka bingung, siapa pria disana apalagi hingga nampak senyuman dari pria itu.

"Selamat siang!"

"Kau! Bukannya kau Tuan muda Regantara." tunjuk Daffa pada pria itu dengan tatapan bingungnya.

"Ya, itu aku. Suami dari Kinara," ucap Edgar dengan mantap.

 Daffa dan Ardav terdiam, keduanya nampak saling pandang dengan sosok pria yang kini tengah berdiri disana.

"Suami! berarti dia yang menghamili anakku." Ardav membatin ketika netranya mengarah pada sosok itu.

"Nara, Apa benar dia suami mu?" tanya Ardav pada Kinara sembari melerai pelukannya. Kenapa wajahnya berbeda dengan seseorang yang bertandang kerumahnya? Pikir Ardav.

"I-ya, Pa." sahut Kinara dengan rasa gugupnya.

"Lalu, Apa kamu yakin jika anak yang berada di dalam kandungan Kinara adalah darah dagingmu," cecar Ardav yang masih bingung dengan situasi yang ada. Meskipun ia tau Kinara adalah gadis baik- baik, ia hanya berusaha meyakinkan diri jika pria itu memang pantas untuk putri kecilnya .

"Pa, jangan bahas itu," ujar Kinara menghentikan ucapan Ardav. Ia tak mau mendengar Ardav mengorek informasi tentang Edgar tentunya.

"Saya yakin, anda tidak perlu cemas akan hal itu." ungkap Edgar sembari menunduk.

"Apa kamu sudah mencintai anak saya. Terlebih kalian bersatu bukan karena cinta," tanya Ardav tanpa mendengarkan apa yang diucapkan Kinara .

"Sangat, saya sangat mencintai Kinara," jelas Edgar membuat mata Kinara spontan mengarah padanya . Namun, semua itu hanyalah sementara karena mata Kinara bersitubruk dengan mata tajam Edgar disana.

"Kau yakin!"

"Sangat yakin." sahut Edgar dengan mantap.

"Terimakasih sudah mau mengakui darah dagingmu, Nak. Maaf jika Kinara masih terlalu kaku menjadi istrimu." papar Ardav , pasalnya berita yang diterimanya dulu hanyalah perkara obat perangsang hingga membuat Kinara hamil diluar nikah. Ardav masih bersyukur jika lelaki yang menikahi putri bungsunya masih mau menerima anak yang ada didalam kandungan Kinara.

"Sebenarnya__"

"Pa, papa istirahat dulu ya. Jangan banyak berfikir apalagi bergerak. Papa, baru saja siuman dan Nara gak mau Papa sakit lagi." timpal Kinara memotong ucapan Edgar.

"Baiklah, Sayang. Ternyata putri papa sudah dewasa ya. Ingat, Nara! Dengarkan kata suamimu jangan pernah membangkang ucapannya." ungkapnya menatap Kinara dan Edgar bergantian.

Kinara tak menjawab namun wanita menoleh ke arah Edgar yang masih setia berdiri disana. Hingga didetik berikutnya hanya sebuah anggukan kepala yang ditujukan Kinara pada Ardav.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

yunidarwanti2

yunidarwanti2

kinara ank penrut psti ndengerin kata papa ardav

2024-07-12

1

Andariya 💖

Andariya 💖

kinara, itu dengarkan kata papa kamu😘

2024-05-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!