CTHK 9 ~ Kita Saudara

Kalau punya jurus menghilang, Dara sepertinya akan memanfaatkan hal itu sekarang juga. Bagaimana tidak, ia menjadi pusat perhatian karena seperti melihat hantu. Sedangkan Pandu dengan gaya bersedekap masih masih menatap datar ke arahnya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Surya.

“Belum.”

“Hm.”

Jawaban yang keluar dari mulut Dara dan Pandu serempak, tapi berbeda. Membuat aneh yang mendengar dan Jaya lagi-lagi terkekeh melihat tingkah pasangan itu.

“Kalau melihat respon kalian, sepertinya sudah saling kenal,” ujar Jaya. “Apa sudah siap?” tanya Jaya pada orang yang berdiri tidak jauh darinya. “Oke, kita makan siang dulu sambil ngobrol-ngobrol karena kita sekarang keluarga,” ujar Jaya yang berdiri dibantu oleh pengawalnya menuju meja makan.

Citra yang sejak tadi menyaksikan interaksi itu, mengumpat dalam hati. Seharusnya ia bisa lebih sabar untuk mendapatkan ikan besar dari lautan, bukan ikan dalam kolam seperti Harsa. Selain Pandu tampak lebih muda dan tampan, posisi di keluarga Mahendra adalah putra kedua. Tentu saja hak dan porsinya lebih banyak dibandingkan Harsa, karena hanya mendapat bagian dari hak Surya.

“Ayo dan jangan cemberut begitu. Jangan bikin malu, ada Pak Jaya,” bisik Kemala.

Meja yang ditempati berbentuk bundar, Jaya duduk diantara Pandu dan Surya. Sedangkankan Kemala di sisi Surya lalu Harsa di sebelah Pandu. Dara bingung hendak duduk di mana, kalau boleh ia memilih pamit dan langsung berlari keluar dari ruangan itu untuk menghindar dari … Pandu.

Citra memilih duduk di samping Harsa dengan cepat, bahkan sempat beradu bahu saat melewati Dara. Tanpa mereka tahu kalau interaksi itu disaksikan oleh Jaya. Akhirnya Dara duduk di samping Ibunya. Jaya memulai percakapan semua menyimak, berbeda dengan Dara yang hanya menunduk dan semakin bingung memikirkan nasibnya.

Pantas saja Pandu bertingkah bahkan menjadi member eksekutif di Grand Season. Sempat mengatakan setiap ke Jakarta akan tinggal di sana, seakan kamar hotel yang dimaksud adalah rumah sendiri. Ternyata Pandu bukan sekedar anak Sultan, tapi The Real Sultan.

“Nasib, nasib,” gumam Dara lirih.

“Bukan begitu Dara?” tanya Jaya. Kemala sampai menyenggol lengan Dara dan berbisik menyadarkan lamunan putrinya.

“Opa bertanya,” ujar Kemala lirih.

“Iya, kenapa Opa? Maaf tadi aku tidak fokus,” ujar Dara sambil senyum.

Bukannya marah, Jaya malah terkekeh. “Setiap bertemu dan berkenalan dengan orang baru, baru kali ini ada yang seperti Dara,” ujar Jaya. “Biasanya orang akan serius dan berusaha mencari perhatian Opa, tapi kamu … malah Opa yang harus cari perhatian.”

“Kamu tidak nyaman berada di tengah keluarga ini? Tidak masalah, perlu penyesuaian diri. Jangan seperti bocah ini,” ujar Jaya lagi lalu menepuk bahu Pandu membuat pria itu berdecak. “Keluarga, tapi seperti bukan keluarga. Bahkan kalau datang ke Jakarta malah senang tidur di hotel daripada di rumah.”

“Pih,” ucap Pandu.

“Opa, Dara kerja di hotel loh,” sela Citra, entah apa maksudnya mengatakan hal tersebut.

“Benarkah? Hotel mana?”

“Grand Season, Opa,” jawab Dara.

Jaya terdiam lalu menatap Pandu dan tergelak.

“Pih, inget umur,” ejek Pandu.

“Hari ini Papi bahagia dan banyak tertawa. Dara, kamu kenal dengan bocah ini di hotel?” Dara meringis lalu mengangguk pelan, tidak berani menjawab apalagi Pandu juga menatapnya.

“Pi, kita makan,” ajak Surya.

Makan siang sambil lanjut berbincang, didominasi oleh Jaya, Surya dan Pandu. Sesekali Harsa ikut bicara, juga Kemala menjawab pertanyaan Jaya. Berbeda dengan Dara yang memilih diam, makanan yang dikunyah seakan sulit untuk ditelan. Bagaimana jika Jaya tahu dia sudah memukul hidung Pandu sampai berdarah bahkan menjambak rambut kesayangan pria itu.

Toilet. Entah mengapa hari ini Dara menyukai tempat itu. Sudah dua kali ia berada di sana untuk … sembunyi. Setelah makan siang beres, Jaya masih berbincang hanya berpindah ke sofa. Melihat ada kesempatan tentu saja Dara memilih menghindar.

“Alasan apa ya, biar bisa cabut dari sana. Mukanya si tandu serem banget, lebih seram dari film horor yang lagi viral. Padahal ganteng, apalagi kalau senyum pasti makin ganteng."

Belum menemukan alasan untuk menghindar, Dara memutuskan mengakhiri persembunyiannya dan keluar dari toilet.

“Astagfirullah.”

Saat membuka pintu dan berbelok sudah ada Pandu bersandar pada dinding, masih dengan gaya cool yaitu bersedekap.

“Udah kayak hantu penunggu toilet aja, bikin kaget orang." Dara bersungut melihat ada Pandu di sana.

“Udah beres semedi di dalam, atau cari wangsit untuk ….”

“Sstt,” ujar Dara menghentikan kalimat Pandu. “Jangan ngomong, nanti malah bikin aku emosi. Nggak mungkin ‘kan aku jambak rambut kamu lagi. Bisa diseret keluar sama Bunda.”

“Loh, ada disini.” Pandu dan Dara menoleh.

“Mas Pandu, Opa tadi sempat kecarian loh. Ayo balik ke dalam,” ajak Citra dengan wajah ramah dan senyum cemerlang gaya iklan pasta gigi.

“Urusan kita belum selesai,” ujar Pandu pada Dara.

Citra langsung menatap Dara dan menghampiri setelah Pandu perlahan menjauh. “Urusan apaan?” tanya Citra.

“Ih, kepo.”

“Eh, jangan aneh-aneh. Kamu mau dekati Pandu ‘kan?” tanya Citra sambil menahan dengan mencengkram bahu Dara.

“Lepasin tangan kamu. Mau aku dekat dengan siapa bukan urusan kamu.”

Citra masih ingin bicara, tapi Dara segera menghentak tangan Citra dan meninggalkan perempuan itu yang masih berteriak memanggil namanya. Sampai di ruangan ternyata Jaya sudah pergi, tentu saja Dara menghela lega dan bisa segera cabut dari tempat itu. ia menghampiri Kemala dan Surya untuk pamit dan mendengar obrolan kerabat dari pihak Surya.

“Pandu dan Surya memang bersaudara, tapi dari ibu berbeda. Kalian lihat saja perbedaan umur mereka agak jauh. Bahkan Harsa saja lebih tua dibandingkan Pandu.”

Satu lagi kenyataan yang baru Dara tahu dan membuat kepalanya pening. Menurutnya, Bunda menikah dengan keluarga yang salah. Salah karena ia harus berurusan dengan keluarga itu.

“Eh.” Dara sempat memekik pelan, kala tangannya ada yang menarik. “Oh, Om Pandu,” ujarnya sambil tersenyum mengejek.

“Kamu bilang apa tadi?”

“Apa? Om Pandu?” tanya Dara kembali mengulang panggilan yang tidak disukai Pandu.

“Ck,mulutmu itu.”

Dara terkekeh. “Bener dong, aku ‘kan sudah jadi putri sambungnya Papa Surya dan kamu adiknya Papa Surya, jadi aku manggilnya Om.”

“HE-he-he.” Pandu mengejek tawa Dara. “Kita lihat saja besok, apa kamu masih bisa tertawa. Kita ketemu lagi di Grand Season,” ancam Pandu lalu berbalik meninggalkan Dara.

“Tunggu, tunggu. Om, masalah kemarin lupakan ajalah. Opa bilang kita keluarga,” pinta Dara mengekor langkah Pandu. “Ya, Om. Ya. Please.”

Pandu mengabaikannya, Dara hanya bisa menghentakan kaki karena tidak dapat mengejar langkah pria itu.

“Dara! Ternyata yang murahan bukan aku saja, tapi kamu juga.”

“Hah.”

 

Terpopuler

Comments

DozkyCrazy

DozkyCrazy

😁😁😁👍

2025-02-12

0

Ratna RM

Ratna RM

gila harta nih cewek

2024-12-05

1

YuWie

YuWie

palingan Harsa

2024-11-07

0

lihat semua
Episodes
1 CTHK 1 ~ Kita ... Putus
2 CTHK 2~ Kenapa Harus Dia
3 CTHK 3 ~ Tinggal Bersama
4 CTHK 4 ~ Kamar 2807
5 CTHK 5 ~ Kepalamu
6 CTHK 6 ~ Mau Coba
7 CTHK 7 ~ Orang Yang Salah
8 CHTK 8 ~ Dunia Vs Daun Kelor
9 CTHK 9 ~ Kita Saudara
10 CTHK 10 ~ Tragis
11 CTHK 11 ~ Tukang Ngadu
12 CTHK 12 ~ Tukang Ngadu (2)
13 CTHK 13 ~ Balas Dendam
14 CTHK 14 ~ Rahasia
15 CTHK 15 ~ Di mana Kamu?
16 CTHK 16 ~ Ancaman Pandu
17 CTHK 17 ~ Ada Apa Denganku?
18 CTHK 18 ~ Dasar Tandu!
19 CTHK 19 ~ Pandu dan Dara (1)
20 CTHK 20 ~ Pandu - Dara (2) Apa Mungkin ....
21 CTHK 21 ~ KUA
22 CTHK 22 ~ Bidadari
23 CTHK 23 ~
24 CTHK 24 ~ Menggoda
25 CTHK 25 ~ Kecewa
26 CTHK 26 ~ Dasar Om-om
27 CTHK 27 ~ Waktunya Menikah
28 CTHK 28 ~ Gara~ gara Katro
29 CTHK 29 ~ Kamu Tidak Berhak
30 CTHK 30 ~ Menyelinap (Lagi)
31 CTHK 31 ~ Jodoh Pilihan Bunda (1)
32 CTHK 32 ~ Jodoh Pilihan Bunda (2)
33 CTHK 33 ~ Siapa Dia?
34 CTHK 34 ~ Panda Jatuh Cinta
35 CTHK 35 ~ Hanya Satu Macam
36 CTHK 36 ~ Rahasia (1)
37 CTHK 37 ~ Rahasia (2)
38 CTHK 38 ~ Miss You Panda
39 CTHK 39 ~ Nasihat Dara
40 CTHK 40 ~ Ijab Qabul, yuk!
41 CTHK 41 ~ Siap Lahir dan Batin
42 CTHK 42 ~ Orang Yang Salah
43 CTHK 43 ~ Sudah Gil4
44 CTHK 44 ~ Aku Dijebak
45 CTHK 45 ~ Aku Bersedia
46 CTHK 46 ~ Rencana Besok
47 CTHK 47 ~ Nanti Saja
48 CTHK 48 ~ Yang Terbaik
49 CTHK 49 ~ kenapa ?
50 CTHK 50 ~ Tempat Untuk Pulang
51 CTHK 51 ~ Sekarang
52 CTHK 52 ~ Diseruduk Panda
53 CTHK 53 ~ I'm Coming
54 CTHK 54 ~ I Love You, Panda
55 CTHK 55 ~ Bayi Panda
56 CTHK 56 ~ Usaha Membuat Bayi Panda
57 CTHK 57 ~ Lupa !!
58 CTHK 58 ~ Gagal
59 CTHK 59 ~ Resepsi (Masih)
60 CTHK 60 ~ Obrak Abrik Panda
61 CTHK 61 ~ Ada Apa Dengan Panda ? AADP
62 CTHK 62~ Bedrest (Bayi Panda)
63 CTHK 63 ~ Pacul
64 CTHK 64 ~ Serangan
65 CTHK 65 ~ Tunggu Aku
66 CTHK 66 ~ Temani Aku
67 CTHK 67 ~ Lembur
68 CTHK 68 ~ Serangan (2)
69 CTHK 69 ~ Aku Datang
70 CTHK 70 ~ Nostalgia
71 CTHK 71 ~ Ngidam
72 CTHK 72 ~ Rambut (Lagi)
73 CTHK 73 ~ Jenguk Bayi
74 CTHK 74 ~ Bayi Panda OTW
75 CTHK 75 ~ Baby Boy
76 CTHK 76 ~ Kapan Selesai?
77 CTHK 77 ~ Coba Lagi
78 CTHK 78 ~ Kejutan
79 CTHK 79 ~ Keinginan Pandu
80 CTHK 80 ~ Emosi
81 CTHK 81 ~ Baik-baik Saja
82 CTHK 82 ~ Pandu Sachet
83 CTHK 83 ~ Yang Berikutnya
84 CTHK 84 ~ Hantu Cilik
85 CTHK 85 ~ Mungkinkah ? (Empat) ~ END
Episodes

Updated 85 Episodes

1
CTHK 1 ~ Kita ... Putus
2
CTHK 2~ Kenapa Harus Dia
3
CTHK 3 ~ Tinggal Bersama
4
CTHK 4 ~ Kamar 2807
5
CTHK 5 ~ Kepalamu
6
CTHK 6 ~ Mau Coba
7
CTHK 7 ~ Orang Yang Salah
8
CHTK 8 ~ Dunia Vs Daun Kelor
9
CTHK 9 ~ Kita Saudara
10
CTHK 10 ~ Tragis
11
CTHK 11 ~ Tukang Ngadu
12
CTHK 12 ~ Tukang Ngadu (2)
13
CTHK 13 ~ Balas Dendam
14
CTHK 14 ~ Rahasia
15
CTHK 15 ~ Di mana Kamu?
16
CTHK 16 ~ Ancaman Pandu
17
CTHK 17 ~ Ada Apa Denganku?
18
CTHK 18 ~ Dasar Tandu!
19
CTHK 19 ~ Pandu dan Dara (1)
20
CTHK 20 ~ Pandu - Dara (2) Apa Mungkin ....
21
CTHK 21 ~ KUA
22
CTHK 22 ~ Bidadari
23
CTHK 23 ~
24
CTHK 24 ~ Menggoda
25
CTHK 25 ~ Kecewa
26
CTHK 26 ~ Dasar Om-om
27
CTHK 27 ~ Waktunya Menikah
28
CTHK 28 ~ Gara~ gara Katro
29
CTHK 29 ~ Kamu Tidak Berhak
30
CTHK 30 ~ Menyelinap (Lagi)
31
CTHK 31 ~ Jodoh Pilihan Bunda (1)
32
CTHK 32 ~ Jodoh Pilihan Bunda (2)
33
CTHK 33 ~ Siapa Dia?
34
CTHK 34 ~ Panda Jatuh Cinta
35
CTHK 35 ~ Hanya Satu Macam
36
CTHK 36 ~ Rahasia (1)
37
CTHK 37 ~ Rahasia (2)
38
CTHK 38 ~ Miss You Panda
39
CTHK 39 ~ Nasihat Dara
40
CTHK 40 ~ Ijab Qabul, yuk!
41
CTHK 41 ~ Siap Lahir dan Batin
42
CTHK 42 ~ Orang Yang Salah
43
CTHK 43 ~ Sudah Gil4
44
CTHK 44 ~ Aku Dijebak
45
CTHK 45 ~ Aku Bersedia
46
CTHK 46 ~ Rencana Besok
47
CTHK 47 ~ Nanti Saja
48
CTHK 48 ~ Yang Terbaik
49
CTHK 49 ~ kenapa ?
50
CTHK 50 ~ Tempat Untuk Pulang
51
CTHK 51 ~ Sekarang
52
CTHK 52 ~ Diseruduk Panda
53
CTHK 53 ~ I'm Coming
54
CTHK 54 ~ I Love You, Panda
55
CTHK 55 ~ Bayi Panda
56
CTHK 56 ~ Usaha Membuat Bayi Panda
57
CTHK 57 ~ Lupa !!
58
CTHK 58 ~ Gagal
59
CTHK 59 ~ Resepsi (Masih)
60
CTHK 60 ~ Obrak Abrik Panda
61
CTHK 61 ~ Ada Apa Dengan Panda ? AADP
62
CTHK 62~ Bedrest (Bayi Panda)
63
CTHK 63 ~ Pacul
64
CTHK 64 ~ Serangan
65
CTHK 65 ~ Tunggu Aku
66
CTHK 66 ~ Temani Aku
67
CTHK 67 ~ Lembur
68
CTHK 68 ~ Serangan (2)
69
CTHK 69 ~ Aku Datang
70
CTHK 70 ~ Nostalgia
71
CTHK 71 ~ Ngidam
72
CTHK 72 ~ Rambut (Lagi)
73
CTHK 73 ~ Jenguk Bayi
74
CTHK 74 ~ Bayi Panda OTW
75
CTHK 75 ~ Baby Boy
76
CTHK 76 ~ Kapan Selesai?
77
CTHK 77 ~ Coba Lagi
78
CTHK 78 ~ Kejutan
79
CTHK 79 ~ Keinginan Pandu
80
CTHK 80 ~ Emosi
81
CTHK 81 ~ Baik-baik Saja
82
CTHK 82 ~ Pandu Sachet
83
CTHK 83 ~ Yang Berikutnya
84
CTHK 84 ~ Hantu Cilik
85
CTHK 85 ~ Mungkinkah ? (Empat) ~ END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!