CTHK 2~ Kenapa Harus Dia

Perfect. Benar-benar lengkap masalah yang Dara rasakan hari ini. Dengan kesibukan kerjanya, ditambah penghianatan kekasih dan adik tirinya, sekarang dia harus berada di tengah kemacetan kota Jakarta.  

Tiinn.

Gadis itu menekan klakson panjang karena motor yang baru saja menyalip di depan. Beruntung ia sigap dengan menginjak rem kalau tidak sudah pasti tertabrak, ujung-ujungnya ia akan tertahan di tempat itu dan walaupun si motor yang terbukti salah dengan menyalip, ia juga harus memperbaiki mobilnya.

“Bagus,” gumam Dara menatap lampu lalu lintas menunjukan ia harus berhenti.

Saat ini menunjukkan pukul lima sore, waktu sibuk jam pulang kerja. Sambil memijat pelan dahinya yang terasa nyeri. Bukan hanya adegan tadi yang menjadi beban pikirannya sekarang, ia harus mengingat terus kejadian itu ketika bertemu Citra dan besok … ia harus datang sendiri. Padahal bunda sudah senang waktu dirinya mengatakan akan datang bersama kekasih. Umurnya sudah dua puluh delapan dan bunda selalu mengingatkan kalau ia sudah pantas untuk menikah dan berkeluarga.

Dunia begitu kejam. Tiga kata itu yang muncul di benaknya. Seakan mendukung apa yang sedang ia rasakan dan Dara tidak ingin menangis meratapi nasibnya saat ini. Ia berteriak kencang dalam mobilnya yang berhenti karena terjebak macet.

“Aku tidak pantas untuk Harsa, dia memang cocok dengan Citra. Sama-sama murahan.”

Pertemuan dengan keluarga calon suami bunda, Citra kemungkinan akan membawa Harsa. Ia harus mempersiapkan hatinya untuk tegar. Menunjukan kesedihan hanya membuat pasangan itu tertawa diatas penderitaannya.

Namun, dibalik kenyataan yang ia rasakan saat ini. Ada rasa syukur karena selama berhubungan dengan Harsa, Dara masih bisa menjaga diri dan kehormatannya atau karena alasan itu yang membuat Harsa memilih berkhianat. Harsa adalah pria dewasa dan normal, umurnya sudah tiga puluh tiga tahun. Tidak sekali dua kali pria itu menuntut lebih dari hubungan mereka, dengan janji mereka akan berakhir di pelaminan.

Entah bagaimana hancurnya Dara saat ini, jika saat itu kalah dengan bujuk rayu playboy cap obat nyamuk. Terdengar dering ponsel. Dara menoleh ke samping, tasnya ada di atas kursi di samping kemudi. Tetap saat berhenti karena lampu lalu lintas. Ternyata panggilan dari Harsa dan direspon dengan decakan. Blokir kontak adalah solusi terbaik, Dara juga menghapus semua foto bersama pria itu yang tersimpan di galeri ponselnya dan ia menyadari kalau selama ini jarang mengabadikan kebersamaan bersama pria itu.

“Elo, gue, End.”

***

“Iya, Bun,” sapa Dara saat menjawab telepon lalu menguap, bahkan matanya kembali terpejam.

“Jangan lupa, kita ada pertemuan sambil makan siang. Jangan buat bunda malu, besok kami akan menikah tapi kamu belum pernah bertemu dengan calon suami Bunda dan keluarganya.”

“Iya,” sahut Dara lagi. Teringat kejadian kemarin, gadis itu langsung membuka matanya. “Citra, apa dia ikut hadir?”

“Tentu saja, dia sudah menjadi keluarga kita dan jangan berulah apalagi menunjukan kalau kalian tidak akur.”

Dara terkekeh, entah Bunda akan membela siapa kalau ia cerita kejadian kemarin. Citra dan Harsa yang begitu … memuakkan.

“Oh iya, pacar kamu jadi datang?”

“Tidak Bun, kami sudah putus.”

“Hah, kamu ini gimana Dara. Gimana kalian bisa ke jenjang pernikahan kalau pacaran tidak pernah serius. Ingat umur, Dara.”

“Bun, setiap pacaran aku selalu serius. Memang belum jodoh saja dan untuk yang ini aku bersyukur walaupun sempat kecewa karena dia hanya lelaki bangs4t, pencundang dan … sudahlah.” Selama ini ia baru tiga kali berpacaran. Saat di SMA, mungkin hanya cinta monyet. Saat kuliah dan dengan Harsa.

Terdengar decakan di ujung sana. “Ingat, jangan terlambat dan jangan buat Bunda malu.”

“Masih subuh Bun, nggak mungkin aku terlambat.”

“Subuh dari mana, ini sudah jam sepuluh, Daraaaa!”

Dara berdecak pelan dan menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan dari ujung sana. “Iya bu, iya. Bye.”

Wajar saja kalau hari ini ia kesiangan. Semalam ia curhat dengan Vio, sahabat dan rekan kerjanya entah sampai jam berapa. Meski hanya lewat telpon, tapi Dara seakan meluapkan kekesalannya. Ia berteriak, mengumpat dan menangis. Semua itu didengarkan oleh Vio dengan sabar.

Termasuk pertemuan hari ini, Vio juga tahu dan sudah ada pesan masuk dari wanita itu yang menyarankan agar Dara datang dengan penampilan tidak mengecewakan. Harus terlihat cantik, kalau perlu gunakan jasa MUA untuk make over.

“Vio, apaan sih. Aku dibandingkan dengan Citra, ya jelas cantikan aku ke mana-mana dong,” ucap Dara bangga dan pongah.

Hampir pukul dua belas saat Dara mematut dirinya di cermin, memastikan dress dan polesan make up juga tatanan rambutnya sudah … sempurna.

“Oke, cukup. Mau diapain juga, tetap cantik,” gumam Dara lalu terkekeh. Memakai heels dan meraih tas juga kunci mobil agak tergesa, khawatir ia terlambat.

Tidak sampai dua puluh menit mobilnya sudah terparkir rapi di sebuah restoran mewah. Melirik jam tangan, masih  ada sepuluh menit sebelum pertemuan membuatnya menghela lega. Ternyata pertemuan diadakan di private room, setelah menanyakan pada bagian informasi Dara diantar ke ruangan.

Sudah ada Bunda dan Citra di sana,  juga seorang pria paruh baya.

“Sayang, kamu datang,” ujar Bunda yang berdiri menyambutnya. Mau tidak mau ia tersenyum, lalu mencium pipi wanita itu.

“Aku tidak telat, ‘kan?”

“Hm. Mas Surya, kenalkan ini putri sulungku. Dara, dia bekerja di Grand Season hotel,” ungkap Bunda mengenalkan Dara pada pria itu.

“Siang Om, aku Dara,” sapanya lalu mencium tangan pria itu, tanda ia menghormatinya.

“Siang Dara. Setelah ini kamu jangan panggil Om lagi, tapi Papa.”

Dara hanya tersenyum tipis dan mengangguk, sempat melirik Citra yang menatapnya sinis. Kemala memintanya duduk. Seharusnya Dara duduk disamping Kemala, tapi Citra sudah menempatinya dan tidak ingin bergeser padahal Kemala sudah memberi perintah dengan kedipan mata.

“Aku di sana saja, Bu,” ujar Dara tidak ingin membuat kesan tidak baik dengan langsung berperang dengan Citra, meskipun dengan senang hati ia ingin melakukannya.

Meja makan itu berbentuk persegi panjang bisa digunakan untuk banyak orang, dengan Kemala di ujung sisi kiri dan Surya duduk berhadapan dengan kemala. Citra berada di tengah antara kemala dan Dara.

Terdengar ketukan pintu.

“Sepertinya itu putraku,” ujar Surya.

Karena posisi duduk Dara membelakangi pintu masuk, ia harus menunggu putra Surya sampai ke hadapannya.

“Selamat Siang, maaf saya terlambat.”

Tunggu, suaranya seperti aku kenal.

“Tidak apa, kita belum mulai. Oh iya, kenalkan putri sulung tante, namanya Dara," tutur Bunda. Pria itu berjalan dan berdiri tepat di samping Surya duduk menatap ke arah Dara.

Deg.

Bukan hanya Dara saja yang terkejut, tapi juga Harsa.

Aku kira dunia sesempit daun kelor hanya sebuah istilah, tapi kenyataannya memang begitu. Dari dua ratus tujuh puluh lima juta penduduk negara ini, kenapa harus Harsa yang menjadi putra pria itu. 

Terpopuler

Comments

✨️ɛ.

✨️ɛ.

yaiyalah mepet² mak tiri, calon suaminya sultan, kan mayan kecipratan juga..

2024-12-22

0

Gibran Khalfani

Gibran Khalfani

FC Barcelona yang tidak dapat dipisahkan dengan

2025-01-28

0

✨️ɛ.

✨️ɛ.

maunya kamu rekam, Ra..

2024-12-22

0

lihat semua
Episodes
1 CTHK 1 ~ Kita ... Putus
2 CTHK 2~ Kenapa Harus Dia
3 CTHK 3 ~ Tinggal Bersama
4 CTHK 4 ~ Kamar 2807
5 CTHK 5 ~ Kepalamu
6 CTHK 6 ~ Mau Coba
7 CTHK 7 ~ Orang Yang Salah
8 CHTK 8 ~ Dunia Vs Daun Kelor
9 CTHK 9 ~ Kita Saudara
10 CTHK 10 ~ Tragis
11 CTHK 11 ~ Tukang Ngadu
12 CTHK 12 ~ Tukang Ngadu (2)
13 CTHK 13 ~ Balas Dendam
14 CTHK 14 ~ Rahasia
15 CTHK 15 ~ Di mana Kamu?
16 CTHK 16 ~ Ancaman Pandu
17 CTHK 17 ~ Ada Apa Denganku?
18 CTHK 18 ~ Dasar Tandu!
19 CTHK 19 ~ Pandu dan Dara (1)
20 CTHK 20 ~ Pandu - Dara (2) Apa Mungkin ....
21 CTHK 21 ~ KUA
22 CTHK 22 ~ Bidadari
23 CTHK 23 ~
24 CTHK 24 ~ Menggoda
25 CTHK 25 ~ Kecewa
26 CTHK 26 ~ Dasar Om-om
27 CTHK 27 ~ Waktunya Menikah
28 CTHK 28 ~ Gara~ gara Katro
29 CTHK 29 ~ Kamu Tidak Berhak
30 CTHK 30 ~ Menyelinap (Lagi)
31 CTHK 31 ~ Jodoh Pilihan Bunda (1)
32 CTHK 32 ~ Jodoh Pilihan Bunda (2)
33 CTHK 33 ~ Siapa Dia?
34 CTHK 34 ~ Panda Jatuh Cinta
35 CTHK 35 ~ Hanya Satu Macam
36 CTHK 36 ~ Rahasia (1)
37 CTHK 37 ~ Rahasia (2)
38 CTHK 38 ~ Miss You Panda
39 CTHK 39 ~ Nasihat Dara
40 CTHK 40 ~ Ijab Qabul, yuk!
41 CTHK 41 ~ Siap Lahir dan Batin
42 CTHK 42 ~ Orang Yang Salah
43 CTHK 43 ~ Sudah Gil4
44 CTHK 44 ~ Aku Dijebak
45 CTHK 45 ~ Aku Bersedia
46 CTHK 46 ~ Rencana Besok
47 CTHK 47 ~ Nanti Saja
48 CTHK 48 ~ Yang Terbaik
49 CTHK 49 ~ kenapa ?
50 CTHK 50 ~ Tempat Untuk Pulang
51 CTHK 51 ~ Sekarang
52 CTHK 52 ~ Diseruduk Panda
53 CTHK 53 ~ I'm Coming
54 CTHK 54 ~ I Love You, Panda
55 CTHK 55 ~ Bayi Panda
56 CTHK 56 ~ Usaha Membuat Bayi Panda
57 CTHK 57 ~ Lupa !!
58 CTHK 58 ~ Gagal
59 CTHK 59 ~ Resepsi (Masih)
60 CTHK 60 ~ Obrak Abrik Panda
61 CTHK 61 ~ Ada Apa Dengan Panda ? AADP
62 CTHK 62~ Bedrest (Bayi Panda)
63 CTHK 63 ~ Pacul
64 CTHK 64 ~ Serangan
65 CTHK 65 ~ Tunggu Aku
66 CTHK 66 ~ Temani Aku
67 CTHK 67 ~ Lembur
68 CTHK 68 ~ Serangan (2)
69 CTHK 69 ~ Aku Datang
70 CTHK 70 ~ Nostalgia
71 CTHK 71 ~ Ngidam
72 CTHK 72 ~ Rambut (Lagi)
73 CTHK 73 ~ Jenguk Bayi
74 CTHK 74 ~ Bayi Panda OTW
75 CTHK 75 ~ Baby Boy
76 CTHK 76 ~ Kapan Selesai?
77 CTHK 77 ~ Coba Lagi
78 CTHK 78 ~ Kejutan
79 CTHK 79 ~ Keinginan Pandu
80 CTHK 80 ~ Emosi
81 CTHK 81 ~ Baik-baik Saja
82 CTHK 82 ~ Pandu Sachet
83 CTHK 83 ~ Yang Berikutnya
84 CTHK 84 ~ Hantu Cilik
85 CTHK 85 ~ Mungkinkah ? (Empat) ~ END
Episodes

Updated 85 Episodes

1
CTHK 1 ~ Kita ... Putus
2
CTHK 2~ Kenapa Harus Dia
3
CTHK 3 ~ Tinggal Bersama
4
CTHK 4 ~ Kamar 2807
5
CTHK 5 ~ Kepalamu
6
CTHK 6 ~ Mau Coba
7
CTHK 7 ~ Orang Yang Salah
8
CHTK 8 ~ Dunia Vs Daun Kelor
9
CTHK 9 ~ Kita Saudara
10
CTHK 10 ~ Tragis
11
CTHK 11 ~ Tukang Ngadu
12
CTHK 12 ~ Tukang Ngadu (2)
13
CTHK 13 ~ Balas Dendam
14
CTHK 14 ~ Rahasia
15
CTHK 15 ~ Di mana Kamu?
16
CTHK 16 ~ Ancaman Pandu
17
CTHK 17 ~ Ada Apa Denganku?
18
CTHK 18 ~ Dasar Tandu!
19
CTHK 19 ~ Pandu dan Dara (1)
20
CTHK 20 ~ Pandu - Dara (2) Apa Mungkin ....
21
CTHK 21 ~ KUA
22
CTHK 22 ~ Bidadari
23
CTHK 23 ~
24
CTHK 24 ~ Menggoda
25
CTHK 25 ~ Kecewa
26
CTHK 26 ~ Dasar Om-om
27
CTHK 27 ~ Waktunya Menikah
28
CTHK 28 ~ Gara~ gara Katro
29
CTHK 29 ~ Kamu Tidak Berhak
30
CTHK 30 ~ Menyelinap (Lagi)
31
CTHK 31 ~ Jodoh Pilihan Bunda (1)
32
CTHK 32 ~ Jodoh Pilihan Bunda (2)
33
CTHK 33 ~ Siapa Dia?
34
CTHK 34 ~ Panda Jatuh Cinta
35
CTHK 35 ~ Hanya Satu Macam
36
CTHK 36 ~ Rahasia (1)
37
CTHK 37 ~ Rahasia (2)
38
CTHK 38 ~ Miss You Panda
39
CTHK 39 ~ Nasihat Dara
40
CTHK 40 ~ Ijab Qabul, yuk!
41
CTHK 41 ~ Siap Lahir dan Batin
42
CTHK 42 ~ Orang Yang Salah
43
CTHK 43 ~ Sudah Gil4
44
CTHK 44 ~ Aku Dijebak
45
CTHK 45 ~ Aku Bersedia
46
CTHK 46 ~ Rencana Besok
47
CTHK 47 ~ Nanti Saja
48
CTHK 48 ~ Yang Terbaik
49
CTHK 49 ~ kenapa ?
50
CTHK 50 ~ Tempat Untuk Pulang
51
CTHK 51 ~ Sekarang
52
CTHK 52 ~ Diseruduk Panda
53
CTHK 53 ~ I'm Coming
54
CTHK 54 ~ I Love You, Panda
55
CTHK 55 ~ Bayi Panda
56
CTHK 56 ~ Usaha Membuat Bayi Panda
57
CTHK 57 ~ Lupa !!
58
CTHK 58 ~ Gagal
59
CTHK 59 ~ Resepsi (Masih)
60
CTHK 60 ~ Obrak Abrik Panda
61
CTHK 61 ~ Ada Apa Dengan Panda ? AADP
62
CTHK 62~ Bedrest (Bayi Panda)
63
CTHK 63 ~ Pacul
64
CTHK 64 ~ Serangan
65
CTHK 65 ~ Tunggu Aku
66
CTHK 66 ~ Temani Aku
67
CTHK 67 ~ Lembur
68
CTHK 68 ~ Serangan (2)
69
CTHK 69 ~ Aku Datang
70
CTHK 70 ~ Nostalgia
71
CTHK 71 ~ Ngidam
72
CTHK 72 ~ Rambut (Lagi)
73
CTHK 73 ~ Jenguk Bayi
74
CTHK 74 ~ Bayi Panda OTW
75
CTHK 75 ~ Baby Boy
76
CTHK 76 ~ Kapan Selesai?
77
CTHK 77 ~ Coba Lagi
78
CTHK 78 ~ Kejutan
79
CTHK 79 ~ Keinginan Pandu
80
CTHK 80 ~ Emosi
81
CTHK 81 ~ Baik-baik Saja
82
CTHK 82 ~ Pandu Sachet
83
CTHK 83 ~ Yang Berikutnya
84
CTHK 84 ~ Hantu Cilik
85
CTHK 85 ~ Mungkinkah ? (Empat) ~ END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!