Jingga memicingkan matanya, haruskah dia percaya dengan apa yang Kaisar katakan? Entahlah rasanya Jingga belum bisa percaya lagi sepenuhnya dengan Kaisar.
"Kenapa menatap kakak begitu?" Jingga hanya menggeleng kan kepalanya.
"Gak percaya? " tanya Kaisar.
"Percaya sama kamu itu musyrik kak" kata Jingga.
"Kakak memang tau sedikit cara mengendalikan mata istimewa itu"
"Gimana?"
"Konsentrasi dan fokus jangan sampai emosi menguasai mu" kata Kaisar.
"Itu juga yang daddy katakan dan sampai sekarang itu tidak berhasil" Jingga menunduk sedih.
"Perlahan aja jangan jadikan itu beban" Kaisar menenangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaisar dan Jingga memutuskan untuk kembali ke rumah sakit setelah seseorang mengabarkan bahwa ayah Barra sudah sampai di rumah sakit.
Ceklek
"Ayah... "
"Jingga.. "
"Mana yang sakit yah? " ayah hanya terkekeh melihat Jingga yang khawatir.
Kaisar yang melihat interaksi orang tua nya dan Jingga pun hati nya menghangat sesaat kemudian Kaila datang dan berbisik pada nya.
"Nyesel kan karena menolak Jingga dulu? pastilah tidak ada di dunia ini yang lebih baik dari Jingga. Aku pun kalau laki-laki pasti dengan mudah jatuh cinta pada gadis bodoh itu " Kaila menunjuk Jingga dengan dagunya.
Pletak
" Apa otak mu sudah gila, jangan bilang kamu sudah tidak normal? " Kaisar menyentil kening Kaila adik bar-barnya.
"Sakit bang, kira-kira dong kalau kening aku lecet gimana? kecantikan aku itu satu-satunya aset berharga dalam hidup aku" Kaila meringis karena keningnya mendapat sentilan dari Kaisar.
"Lagian kamu ngatain Jingga gadis bodoh tadi, abang gak terima yah"
"Kenapa gak terima kak ? dia memang gadis bodoh karena tetap mencintai kamu walaupun kamu sudah menyakitinya begitu dalam"
Kaisar terdiam mendengar sindiran dari Kaila, hatinya mengiyakan namun dia berjanji pada dirinya sendiri Kaisar akan menebus kebodohannya dengan membahagiakan nya seumur hidupnya.
"Kalian sedang apa sih bisik-bisik disitu? " tanya bunda yang sudah menyadari kehadiran anak-anaknya.
"Abang ngalangin jalan bun" Kaisar melotot mendengar tuduhan dari Kaila.
"Mana ada, jalan segitu lebarnya bahkan gajah pun muat kalau mau lewat" sungut Kaisar.
"Mana ada gajah masuk rumah sakit"
"Astaga Kaila misalkan Kai, kamu tau misalkan nggak sih?" kesabaran Kaisar yang memang setipis tisu dibuat geregetan oleh tingkah adik nya.
"Kalian kenapa malah berantem sih, kapan akurnya udah pada gede juga ? " bunda Aretha geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anaknya yang gak pernah akur.
Kaisar dan Kaila hanya menggedik kan bahunya kompak.
"Ayah baik-baik aja kan? wanita laknat itu gak ngapa-ngapain ayah kan? " tanya Kaisar.
"Ayah gak apa-apa untung saja anak buah Arka datang tepat waktu" kata ayah Barra.
Kaisar melirik kearah Jingga yang pura-pura tidak tau, padahal sebenarnya anak buah Jingga lah yang menyelamatkan ayah Barra. Hati Kaisar semakin sesak penuh dengan penyesalan. Andaikan Jingga mau dia bisa bilang kalau dialah yang menyelamatkan ayah nya, namun Jingga malam memilih pura-pura tidak tau karena Jingga tidak pernah haus akan pujian. Dan bodoh nya Kaisar telah menyia-nyiakan wanita setulus Jingga.
"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘈𝘳𝘬𝘢" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳.
"Yah, bun Jingga pamit dulu ya, ayah harus banyak istirahat bunda juga" kata Jingga.
"Siap bu dokter "
"Kaila jangan mengejek ku" Jingga mencebik kan bibir nya, sedangkan ayah dan yang lain nya tertawa melihat tingkah Jingga yang menggemaskan.
"𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘦𝘵𝘩𝘢.
Jingga pun keluar dari ruangan rawat ayah Barra .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat menuju ruang kerjanya tiba-tiba ada seseorang yang menegur Jingga.
"Enak banget ya kamu dokter Jingga, seharian kerjaan nya ngelayap terus gak peduli dengan semua pasien yang menjadi tanggung jawab kamu" sindir Friska.
Jingga menghela nafas sebelum kemudian dia bicara, Jingga sudah bisa menebak sebenarnya arah pembicaraan dokter nyinyir yang ada di hadapan nya itu.
"Masalah nya buat anda apa dokter Friska? aku bahkan sudah meminta ijin pada pemilik rumah sakit "
Friska mengepalkan tangan nya, dia tidak menyangka kalau Jingga akan berani menjawabnya. Biasanya Jingga hanya diam jika Friska mengatai nya apapun itu.
"Jangan bicara omong kosong dokter Jingga, memang nya kamu tau pemilik rumah sakit ini? "
"Yang pasti bukan anda dokter Friska" Jingga menyeringai menatap wajah sinis Friska.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘧𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 ?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢.
"Maksud kamu apa dokter Jingga? "
"Aku tau dokter Friska sebenarnya kamu sedang pura-pura sebagai anak pemilik rumah sakit kan? " Jingga tersenyum miring melihat Friska yang menahan malu karena ketahuan berbohong, tapi masih berusaha mengelak.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku anak pemilik rumah sakit, itu asumsi mereka saja"
"Tapi kamu seolah membenarkan asumsi itu dokter Friska"
Friska hanya diam saja dengan tangan terkepal menahan amarah , karena yang dikatakan Jingga itu benar hanya saja Friska tidak mau mengakuinya.
"Aku tidak pernah merasa punya masalah dengan mu dokter Friska, tapi seperti nya kamu sedang berusaha menjelekkan aku di depan semua orang"
Ini bukan yang pertama kalinya Friska bertingkah seenaknya, Jingga juga tau Friska sering menjelek-jelekan Jingga pada staf yang lain tapi Jingga belum menganggap ini serius dia akan lihat sejauh apa Friska mengusiknya.
"Kamu sudah merebut dokter Angkasa dari ku dokter Jingga, dan kamu bilang kamu tidak punya masalah apapun dengan ku? "
"Merebut bagaimana maksud mu? "
"Kamu selalu caper pada dokter Angkasa, kamu juga terus menempel padanya padahal kamu tau kan kalau aku suka sama dokter Angkasa dari dulu? "
Jingga dan Friska sebenarnya cukup dekat dulu sewaktu kuliah karena kebetulan Jingga , Friska dan Angkasa mengambil kelas yang sama. Friska bilang pada Jingga kalau dia menyukai Angkasa, tentu saja Jingga senang karena menurut Jingga Friska dan Angkasa itu cocok.
Tapi suatu hari Friska mendengar Angkasa mengobrol dengan temannya kalau dia menyukai Jingga. Friska merasa sakit hati karena merasa di khianati Jingga. Padahal Jingga tidak tau kalau Angkasa menyukainya kalau tau sekalipun memangnya apa salah Jingga kalau Angkasa menyukainya?
Sejak saat itu Friska membenci Jingga. Friska slalu berusaha membuat nama Jingga jelek di depan semua orang.
"Yang caper siapa? coba jelaskan lebih spesifik lagi bagian mana yang kamu sebut caper? "
Friska hanya diam tak tau harus menjawab apa.
"Aku tegaskan sekali lagi padamu dokter Friska aku tidak ada hubungan apapun dengan dokter Angkasa, kami hanya berteman. Entah bagian mana yang kamu sebut aku caper aku juga tidak tau. Kalau kamu suka sama dokter Angkasa, kamu bilang padanya atau tunjukkan padanya, jangan malah sibuk menyalahkan orang lain, itu akan buang-buang waktu "
Jingga kemudian berlalu dari hadapan dokter Friska.
"Kurang ajar , tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu dokter Jingga"
Friska mengepalkan tangannya kemudian menelpon seseorang.
"Hallo aku butuh bantuan mu" Friska tersenyum smirk entah apa yang dia rencanakan.
Next
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣
Like dan komen. Jangan lupa bintang 5 nya . Terima kasih.
Follow juga instagram aku ya 'Kikan dwi'.
Friska
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Rita
ya krn sifatmu Fris makanya Angkasa jg g lht kmu
2024-07-14
1
Dewi Payang
Angkasa aja ga naksir elo, gimana sih🤭
2024-06-26
1
Dewi Payang
Ada yg ngiri😄
2024-06-26
1