Mentari terus melesatkan tembakannya sedangkan Gerhana berusaha melindungi Icha yang sedikit kaget mendengar suara tembakan. Apa lagi ia sempat kaget ketika penjahat itu mengarahkan pistol kepadanya.
"Lo tidak apa-apa kan?" Tanya Gerhana memperhatikan Icha dari atas sampai bawah. Sedangkan mentari terus melawan penjahat itu yang berani mengusik kaka iparnya.
Gerhana menepuk keningnya melihat adik iparnya terus melawan penjahat. "Astaga mentari tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
"Lo tunggu disini. Gue harus bantu adik gue." Ucap Gerhana yang diangguki Icha.
"Mentari sangat hebat melawan para penjahat itu. Dia perempuan tapi kekuatannya setara dengan laki-laki bahkan diatasnya." Batin Icha menatap kagum Mentari yang sangat lincah menghadapi penjahatnya.
"Berhenti atau wanita ini akan mati ditanganku." Ucap penjahat itu menodongkan pisau tajam keleher Icha.
Sementara Gerhana sangat panik dan merasa bersalah karena gagal melindungi calon istrinya. Ia sangat tahu Icha selalu menjaga batasannya pada seorang laki-laki yang bukan muhrimnya.
"Bunuh ajah kalau lo mampu." Mata Gerhana melotot mendengar perkataan Mentari. "Gue tidak peduli sama wanita itu." Lanjutnya.
Mentari berjalan santai menghampiri penjahat itu yang mau menggores leher Icha. Icha meringis merasakan lehernya terluka. Sedangkan Gerhana mengepalkan tangannya karena tidak bisa berbuat apa-apa. kalau ia nekat maju bisa-bisa Icha dalam bahaya. Tanpa mereka sadari Bintang sudah berada dibelakang penjahat itu karena penjahat itu hanya fokus pada Mentari.
Penjahat itu lengah dengan Gerakan cepat Mentari menembak lengan penjahat itu sehingga penjahat itu menjatuhkan senjatanya. dan Mentari menarik Icha agar menjauh dari penjahat membiarkan Bintang dan Gerahana mengurusnya. Apalagi perutnya keram.
"Kamu kenapa?" Tanya Icha khawatir melihat Tari meringis dan memegang perutnya.
"Tari Darah..." Kaget Icha yang melihat darah keluar menetes kepaha Mentari.
Icha sangat panik melihat keadaan Mentari yang meringis menahan sakit diperutnya bahkan bibirnya sudah pucat. "Apa kamu tidak apa-apa?"
Mentari tersenyum kearah Icha. "Gue tidak apa-apa." Ucap Mentari berusaha menenangkan Icha. "Bertahanlah Nak, sebentar lagi kita akan kerumah sakit." Lanjutnya dalam hati.
"Tolong hubungi Nomor yang bernama Zen di Hp Gue." Mentari memberikan ponselnya pada Icha karena ia harus membantu Gerhana dan Bintang untuk mengalahkan penjahat.
Dor
Dor
Dor
Mentari terus menembaki semua tanpa henti. Mentari harus menyelesaikan secepatnya karena perutnya sangat sakit. Ia juga tidak mau anaknya sampai kenapa-napa didalam perutnya. Mentari mengeluarkan sebuah jarum. Jarum itu memeng terlihat kecil namun mematikan. Dengan gerakan cepat mentari menusukkan satu persatu pada penjahat sampai semua penjahat terkapar dan mentari pun ikut jatuh pingsang membuat Bintang dan Gerhana panik.
"Sayang... Bangun..." Bintang berusaha membangunkan mentari namun mentari tetap tidak bangun bahkan mukanya sudah pucat.
"Kak mentari harus secepatnya bawah kerumah sakit. Tadi ada darah menetes dekat pahanya." Ucap Icha.
Bintang menatap dekat paha Metari dan benar saja ada darah yang mengalir dekat pahanya. Bintang menggendong mentari alah bridal Style menuju mobilnya. Sedangkan Gerhana dan Icha mengikutinya dari belakang menggunakan mobilnya sendiri.
"Semoga lo tidak apa-apa Queen, Gue akan merasa bersalah sampai lo kenapa-napa hanya karena menolong gue dan calon istriku." Batin Gerhana.
"Kak, Ini ponsel Kak Tari." Icha memberikan ponsel Tari ke Gerhana.
"Kenapa bisa ada di lo?" Tanya Gerhana tanpa menoleh kearah Icha karena ia fokus menyetir.
"Kak Tari menyuruhku menghubungi Zen."
"Apa lo sudah menghubunginya.?" Tanya Gerhana.
"Tidak Kak, orang itu tidak mengangkatnya." Gerhana mengambil ponsel Tari dan menghubungi Zen. Seusai permintaan Tari. "Kerumah sakit sekarang." Ucap Gerhana yang langsung mematikan telpon secara sepihak yang membuat disebrang telpon mengumpan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Febby Fadila
semoga tari sama calon anaknya baik2 saja
2024-10-31
0